NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil

Sebuah serpihan kayu berputar-putar di antara ujung telunjuk dan ibu jari Yang Chan.

Serpihan itu adalah sisa pagar rumah mereka yang hancur berantakan siang tadi, akibat hantaman liar dari Li Hao.

Ia duduk bersila di atas ranjang kayu tipisnya yang sesekali berderit pelan.

Malam begitu sepi, namun isi kepala Yang Chan masih bising oleh reka ulang kejadian sore itu.

Bayangan kepalan tinju berlapis api emas milik tetua klan dan kabut beku luar biasa yang memancar dari jemari ibunya terus berputar di benaknya.

Ia meremas serpihan kayu keras itu tanpa sadar.

Serat kayu yang kuat itu mendadak hancur, berubah menjadi serbuk halus yang luruh melalui sela jarinya dan mengotori lantai tanah di bawah ranjang.

Ia menepis sisa debu di telapak tangannya dengan rahang yang sedikit mengeras.

"Kedamaian ini terlalu rapuh jika hanya berlindung di balik rok Ibu," gumam Yang Chan pelan, suaranya sarat akan tekad yang sunyi.

"Aku butuh akarku sendiri, setidaknya agar aku bisa mandiri untuk tidak tunduk pada orang-orang seperti mereka."

Ia tidak boleh terus-menerus menjadi penonton yang dilindungi.

Yang Chan mengembuskan napas panjang, lalu perlahan memejamkan kelopak matanya.

Ia menarik kesadarannya, menyelam jauh menembus kegelapan batin menuju dimensi rahasia miliknya.

Pandangannya yang semula gelap mendadak buyar, berganti dengan cahaya keperakan yang sangat terang dan menyejukkan.

Kedua telapak kaki telanjangnya mendarat dengan stabil di atas permukaan rumput spiritual yang terasa sejuk dan empuk.

Dimensi Taman Poket menyambut kesadarannya dengan kehangatan yang tidak biasa.

Tempat rahasia itu kini tampak jauh lebih rimbun dan melebar dari sebelumnya, seolah ikut tumbuh seiring perkembangan dirinya.

Di bagian tengah taman, aliran tiruan mata air kehidupan memancarkan uap padat keperakan yang mengambang rendah.

Yang Chan melangkah cepat, tidak ingin membuang waktu statis yang sangat berharga di tempat ini.

Ia berjalan mendekati ceruk air spiritual yang beriak tenang di bawah pancaran cahaya dimensi.

Dengan sekali jentikan pikiran, ia memanifestasikan Alat Serbaguna di genggamannya menjadi sebuah mangkuk logam kecil yang mengilat.

Ia menciduk air murni keperakan itu hingga penuh.

Tanpa ragu sedikit pun, ia meminum cairan berkilau itu dalam satu tegukan panjang yang bersih.

Rasa dingin yang murni langsung menjalar dari tenggorokannya, menyebar cepat ke seluruh rongga dada.

"Mari kita lihat, seberapa jauh esensi murni ini bisa mendorong batasku malam ini," ucapnya pelan sambil mengusap sisa air di sudut bibir.

Energi murni di dalam perutnya mendadak meledak, bergejolak hebat mencari jalan keluar.

Ia segera mengambil posisi teratai sempurna di atas tanah gembur, menyatukan ritme pernapasannya dengan denyut halus bumi dimensi tersebut.

Uap air keperakan mulai menguap keluar dari pori-pori kulitnya.

Uap itu berputar-putar, semakin lama semakin padat hingga membentuk kepompong energi tipis yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Sebuah dengung sonik berfrekuensi rendah mendadak bergema di seluruh penjuru taman.

Cahaya terang meledak halus dari dada Yang Chan, menghempaskan partikel debu dan rumput kering ke udara di sekitarnya.

Namun, ada sebuah anomali besar yang terjadi pada tubuh pemuda itu.

Tidak ada pekikan kesakitan, tidak ada keringat dingin, bahkan rahangnya sama sekali tidak mengatup rapat menahan siksaan layaknya para kultivator fana yang sedang menerobos batas.

Otot-otot wajahnya justru terlihat luar biasa rileks, seolah ia hanya sedang menikmati tidur siang yang nyenyak.

Tubuhnya bertindak bagaikan spons raksasa yang kehausan, menyerap limpahan Qi murni dari air spiritual tanpa sisa.

Denyut auranya bergetar hebat, lalu meledak lembut namun berturut-turut dengan ritme yang mengerikan.

Ranah Pengumpulan Qi tingkat dua terlewati dalam kedipan mata.

Lalu tingkat tiga.

Tingkat empat.

Tingkat lima.

Hingga akhirnya, gejolak energi itu terkunci dengan tajam dan kokoh di tingkat enam.

Udara di sekitar Yang Chan beriak kencang, memicu resonansi berlebih yang membuat tanah kosong di sekelilingnya mendadak ditumbuhi tunas-tunas bunga yang bermekaran secara instan.

Sebuah layar antarmuka berwarna hijau mendadak muncul di depan pandangannya.

[Peringatan: Resonansi Qi mencapai batas aman fisik saat ini. Tercapai: Ranah Pengumpulan Qi Tahap 6.]

Yang Chan membuka kelopak matanya perlahan.

Ia mengembuskan napas panjang, yang secara ajaib berwujud seperti panah udara tipis yang membelah embun di depannya.

"Enam lompatan seketika tanpa rasa sakit sedikit pun... Air ini curang sekali," gumam Yang Chan, matanya melebar karena terkejut.

Kepuasan yang luar biasa membuncah di dalam dadanya saat merasakan aliran tenaga baru yang mengalir deras di setiap sudut nadinya.

Di sekelilingnya, karpet bunga bercahaya kini terhampar luas hanya karena sisa napas kultivasinya yang bocor ke tanah.

Pemandangan indah itu perlahan memudar seiring dengan kembalinya kesadaran Yang Chan ke dunia nyata.

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu kamarnya yang rapuh.

Di atas nakas kayu lapuk sebelah ranjang, segelas air putih biasa yang diletakkan sejak semalam mendadak bergetar sangat kencang.

Air di dalam gelas itu menghasilkan riak-riak melingkar yang cepat dan tidak stabil, meskipun tidak ada getaran gempa bumi sama sekali di luar sana.

Kesadaran Yang Chan kembali sepenuhnya ke dalam tubuh fisiknya yang fana.

Begitu ia menarik napas pertamanya di pagi hari, udara di dalam kamar sempit itu mendadak tersedot paksa ke arahnya.

Tirai jendela yang kusam terkibas ke dalam dengan sangat keras akibat perubahan tekanan udara yang mendadak.

Ia membuka matanya lebar-lebar, langsung menyadari bahwa kekuatan barunya yang melonjak drastis telah bocor keluar dari kontrolnya.

"Sial," bisiknya dengan tegang.

Ia refleks menekan pusarnya dengan kedua tangan, menahan sirkulasi Qi yang bergejolak hebat di dalam dantin miliknya sekuat tenaga.

Ranjang kayu yang ia duduki mulai berderit parah dan bergetar hebat, hampir patah ditekan oleh tekanan aura tak kasat mata miliknya sendiri.

'Tahan... tahan. Kalau sampai ranjang ini patah, sandiwara miskin keluarga ini bisa hancur berantakan,' batin Yang Chan panik.

Keringat dingin kini benar-benar menetes di pelipisnya, bukan karena rasa sakit, melainkan karena takut rahasianya terbongbar oleh kedua orang tuanya yang luar biasa misterius itu.

Dengan perjuangan keras, ia berhasil menekan seluruh gejolak energinya kembali ke titik terdalam.

Riak di gelas air mendadak berhenti. Kamar itu kembali sunyi.

Tepat di bawah celah pintu kamarnya yang renggang, terlihat sepasang bayangan kaki yang berdiri tegak.

Itu adalah bayangan kaki ibunya, Bing Chan.

Bayangan itu sempat mematung selama beberapa detik di depan pintu, seolah sedang mendengarkan atau merasakan sesuatu dari dalam kamar.

Namun, tanpa bersuara sedikit pun, bayangan itu kembali bergerak menjauh, berjalan santai ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

Yang Chan menelan ludahnya dengan sangat lega, merasa baru saja lolos dari maut.

Ia perlahan membuka telapak tangan kanannya yang gemetar.

Di sana, sebuah resonansi spiritual berwarna hijau pekat menyala tipis, jauh lebih padat dan berbahaya dibandingkan dengan energi apa pun yang pernah ia miliki sebelumnya.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!