Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Kecil
Sore mulai merambat ketika kegiatan TK Tunas Arunika hampir selesai. Maya keluar dari ruang guru sambil menyampirkan tas ke bahunya. Ia berniat pulang lebih awal karena beberapa pekerjaan rumah sudah menunggunya. Namun baru beberapa langkah menuju gerbang, ia sudah melihat mobil yang sudah sangat dikenalnya berhenti di depan sekolah.
"Pak Danendra?" Sapa Maya saat melihat Danendra turun dari balik kemudi.
Danendra membalas sapaan Maya dengan senyum tipis, "Bu Maya."
Mereka memang beberapa kali bertemu, tetapi tidak pernah benar-benar berbincang.
"Niken masih di dalam?" tanya Danendra yang dijawab gelengan kepala oleh Maya.
"Saya belum melihat Niken setelah istirahat tadi, Pak. Oh, atau mungkin masih di kelasnya, saya coba panggil Niken dulu ya, Pak." Kata Maya sambil ingin pergi memanggil Niken di kelasnya.
"Belum melihat setelah istirahat?" tanya Danendra yang membuat langkah Maya terhenti kemudian kembali menolehnya.
"Iya." Jawab Maya mulai merasa heran.
Danendra melihat jam tangannya. "Bukannya sehabis istirahat tadi, Niken pergi sebentar sama Bu Maya?"
Maya terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "dengan saya?"
"Iya," ucap Danendra sambil menggangguk santai. "Niken bilang akan kembali ke sekolah sebelum saya jemput."
Mata Maya melirik kanan kiri, ia hendak menjawab namun dari arah jalan terdengar kendaraan umum berhenti yang membuatnya menoleh bersamaan dengan Danendra.
Niken tampak turun dari kendaraan tersebut. Langkahnya terhenti dengan wajah yang seketika berubah begitu melihat Danendra dan Maya di sana.
Danendra pun terdiam, pandangannya berpindah dari Niken lalu ke kendaraan umum yang baru saja ditinggalkannya, kemudian kembali lagi kepada Niken. "Niken?"
Niken berjalan mendekat dengan langkah yang terasa kaku. "Mas..."
Maya masih berdiri di dekat mereka. "Nik, kamu...?"
Niken menatap Maya yang tampak sedang kebinggungan
"Aku kira kamu masih di dalam," ucap Maya yang tidak langsung mendapat jawaban dari Niken.
Danendra memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tadi kamu bilang mau pergi sama Maya."
Niken menelan ludah dengan susah payah, sebelum akhirnya menjawab. "Iya."
"Terus kenapa kamu pulang naik kendaraan umum?" tanya Danendra yang membuat Niken terdiam.
Sementara Maya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Sebentar," ia menatap Niken. "Kamu tadi pergi sendiri?"
Niken mengangguk kecil.
Maya semakin bingung. "Kenapa kamu bilang sama suamimu mau pergi sama aku?"
Niken meremas tali tasnya sambil menundukan wajah. "Maaf, May."
Danendra menatap istrinya beberapa detik, lalu beralih ke arah Maya. "Jadi Bu Maya tidak tahu?"
Maya langsung menggeleng. "Tidak, Pak. Saya benar-benar tidak tahu soal kemana Niken pergi."
Danendra mengangguk pelan. "Baik."
Maya merasa suasana mulai tidak nyaman. "Kalau begitu saya pulang dulu."
"May..." ucap Niken seolah ingin meminta perlindungan.
Namun Maya yang masih belum membaca pesan dari Niken, melangkah pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja, karena tak ingin terlibat.
Danendra menunggu hingga Maya cukup jauh, barulah ia menatap Niken. "Kamu mau jelaskan?"
Niken meremas tali tasnya semakin kuat. "Aku sebenarnya memang pergi."
"Ke mana?" tanyanya yang tidak dijawab oleh Niken. Ia lalu menghela napas sebelum kembali bertanya. "Kenapa harus berbohong soal Maya?"
Niken masih menunduk, tanpa memberi jawaban.
Kemudian Danendra kembali melanjutkan, masih dengan suara tenang. "Tadi kamu pamit mau pergi sebentar bersama Maya, lalu sekarang aku melihatmu turun dari kendaraan umum. Kalau memang punya urusan kenapa kamu tidak bilang saja?"
"Aku pulang ke rumah Ibu, Mas." Katanya akhirnya.
"Ke rumah Ibu?" tanya Danendra yang dijawab anggukan pelan oleh Niken.
"Iya, Mas."
Danendra terdiam sejenak. "Kenapa tidak langsung bilang?"
Niken menarik napas panjang, kemudian berkata jujur. "Tadi, saat istirahat Ibu menelepon, kata Ibu, Mas Rangga bikin masalah." Niken lalu menceritakan semuanya kepada suaminya.
Danendra terdiam cukup lama, sebelum akhirnya kembali bicara. "Kenapa tadi kamu tidak bilang saja?"
"Aku takut kalau Mas ikut terbebani."
"Niken, aku merasa lebih terbebani kalau kamu berbohong seperti ini daripada kamu jujur sejak awal."
"Aku hanya..."
"Aku tahu kamu berniat baik, tapi jangan putuskan sendiri apa yang boleh dan tidak boleh aku hadapi bersamamu."
Niken mengangkat wajah, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Maaf."
Danendra menatapnya beberapa detik, kemudian ia membuka pintu mobil untuk Niken. "Masuk."
Niken menangguk patuh, kemudian Danendra pun masuk ke kursi pengemudi.
Sebelum mobil bergerak, Niken menatap Danendra kemudian ia berkata pelan. "Aku benar-benar minta maaf, Mas."
"Kita pulang dulu," kata Danendra sambil menyalakan mesin yang membuat Niken tidak berani membantahnya.
Beberapa menit mobil melaju meninggalkan TK Tunas Arunika, belum ada percakapan diantara mereka. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, Danendra memikirkan solusi untuk kakak iparnya, sementara Niken justru mengira bahwa suaminya sedang kecewa kepadanya, sehingga Niken tidak berani membuka obrolan.
Danendra belum mengetahui banyak tentang kakak iparnya. Namun dari penjelasan Niken, masalahnya jelas bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan sekadar memberikan sejumlah uang.
Danendra mengembuskan napas perlahan, ia mulai memikirkan beberapa kemungkinan. Kalau hutangnya terlalu besar, memberikan uang begitu saja mungkin justru akan membuat Rangga semakin bergantung. Ia merasa perlu tahu dari mana hutang itu berasal, kepada siapa saja, dan berapa jumlah sebenarnya. Barangkali ada cara lain, atau mungkin sebagian bisa dinegosiasikan. Bahkan mungkin juga ada aset atau pekerjaan yang bisa membatu Rangga melunasinya. Namun satu hal yang terpenting bagi Danendra adalah membuat Rangga berhenti menambah masalah.
Sementara di kursi sebelahnya, Niken melihat wajah Danendra yang begitu serius yang membuatnya menahan semua pertanyaan, akhirnya ia memilih diam. Ia tidak berani membuka obrolan karena merasa bersalah dan mengira bahwa suaminya sedang sangat kecewa kepadanya.
Beberapa saat setelah itu, ponsel yang tergenggam di tangannya bergetar pelan, menampilakan pesan Maya di sana.
"Nik, maaf banget. Aku baru lihat pesanmu, tadi HP-ku masih di dalam tas dan aku nggak sempat buka."
Niken membaca pesan itu, lalu pesan berikutnya pun kembali masuk.
"Aku benar-benar nggak tahu rencanamu, makanya waktu Pak Danendra datang aku bingung."
Niken tersenyum tipis, kemudian ia segera membalasnya. "Nggak apa-apa, May. Aku yang minta maaf karena sudah bikin kamu jadi bingung."
Maya membalasnya seketika. "Kamu baik-baik saja?"
Niken terdiam sejenak, jemarinya berhenti di atas layar. Ia ingin membalas, namun tidak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya ia hanya mengetik. "Nanti aku ceritakan."
Pesan terkirim, kemudian Niken mematikan layar ponselnya. Ia mencuri pandang, dan Danendra tampak masih terdiam dengan wajah serius. Kemudian Niken menghela napas panjang lalu memberanikan diri membuka suara.
"Mas...."
Danendra menoleh sekilas, "kenapa?"
Niken langsung mengurungkan niatnya. "Tidak jadi."
"Kalau ada yang mau kamu katakan, bilang saja." Katanya tanpa melihat Niken.
Niken menggeleng kecil. "Mas lagi mikirin soal tadi, kan?"
"Iya," jawab Danendra sambil tersenyum tipis.
Niken kembali menundukkan wajah. "Maaf, karena tadi aku bohong."
"Aku memang sedang memikirkan sesuatu." Ucapnya santai, "tapi bukan memikirkan bagaimana menghukum kamu."
Niken menatapnya bingung. "Maksud Mas?"
Danendra tidak langsung menjawab, ia sengaja membiarkan Niken menunggu kalimat selanjutnya. Kemudian ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara tenang. "Aku sedang memikirkan bagaimana kita bisa membatu keluargamu."
Niken terdiam menatapnya, kemudian Danendra melirik sekilas sebelum akhirnya melanjutkan. "Aku belum tahu masalahnya secara detail, jadi aku belum mau mengambil keputusan."
"Mas nggak marah sama aku?"
"Aku kecewa kamu tidak jujur," ia menjeda ucapannya beberapa saat. "Tapi aku tidak mau kita bertengkar karena itu."
Niken menggenggam ponselnya lebih erat, rasa bersalah merayap ke dadanya. Ia menyadari sesuatu, tidak ingin merepotkan suaminya karena takut membebani, namun justru bagi lelaki itu membantu bukanlah sebuah beban, tapi bagian dari menjadi suaminya.
...****************...