NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30: Keringat dan Ketulusan

Tiga hari berikutnya menjadi hari-hari paling melelahkan sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana sejak kejatuhan keluarganya. Kamar kosnya yang sempit kini dipenuhi oleh karung-karung beras yang baru dikirim oleh agen besar dan puluhan dus minyak goreng. Tidak ada waktu lagi untuk melamun atau meratapi masa lalu; dari pagi buta hingga larut malam, Kirana sibuk membungkus sembako ke dalam kantong-kantong kain ramah lingkungan yang disediakan oleh yayasan.

Kedua telapak tangannya kini dipenuhi guratan merah dan lecet akibat mengangkat karung-karung beras yang berat.

Punggungnya terasa pegal luar biasa, dan peluh tak henti-hentinya membasahi keningnya. Namun, setiap kali rasa lelah itu datang menyerang, Kirana selalu melihat ke arah foto almarhum ibunya di sudut ruangan, lalu mengucap syukur di dalam hati.

“Mas Aldi... andai kamu bisa melihatku sekarang,” bisik Kirana dalam hati sambil mengikat kantong sembako yang ke-150.

“Aku sedang bekerja keras menggunakan tenagaku sendiri, Mas. Aku tidak lagi mengemis kemewahan. Keringat ini rasanya jauh lebih terhormat daripada seluruh gengsi kosong yang dulu aku agung-agungkan di depanmu.”

Tepat pada hari keempat, sebuah truk boks besar milik Pratama Care Foundation tiba di depan gang. Pak Rahman datang kembali bersama tiga orang petugas lapangan untuk mengangkut seluruh pesanan yang sudah disiapkan dengan sangat rapi oleh Kirana.

"Luar biasa, Ibu Kirana. Semua bungkusannya sangat rapi, susunannya pas, dan kualitas berasnya benar-benar sesuai dengan spesifikasi premium yang kami minta. Anda bekerja dengan sangat jujur," puji Pak Rahman setelah memeriksa seluruh muatan di dalam truk boks.

"Sama-sama, Pak Rahman. Saya tidak ingin mengecewakan yayasan, apalagi ini untuk program bantuan sosial orang-orang yang membutuhkan. Kejujuran adalah modal utama saya sekarang," jawab Kirana sambil menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil kusam.

"Oh ya, Ibu Kirana," kata Pak Rahman sebelum naik ke dalam kabin truk. "Besok pagi adalah acara penyerahan simbolis paket-paket ini di balai warga kelurahan seberang. Karena Anda adalah salah satu mitra penyedia utama di wilayah ini, protokoler yayasan mengundang Anda untuk hadir sebagai perwakilan pedagang mikro. Kebetulan sekali, besok pimpinan tertinggi kami, Tuan Muda Aldi Pratama, akan datang langsung untuk meninjau lokasi penyaluran bantuan."

Mendengar kalimat terakhir Pak Rahman, Kirana seketika membeku di tempat. Gelas plastik berisi air mineral yang sedang dipegangnya hampir saja terlepas dari genggamannya. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang sangat cepat, memompa rasa gugup sekaligus kerinduan yang teramat dalam yang selama ini dia kubur dalam-dalam di dasar hatinya.

"M-Mas... maksud saya, Tuan Muda Aldi akan datang langsung besok, Pak?" tanya Kirana dengan suara yang bergetar hebat, mencoba memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

"Benar, Ibu Kirana. Beliau ingin memastikan sendiri bahwa program pemberdayaan warung kecil ini berjalan tepat sasaran di lapangan. Jadi, kami harap Ibu bisa hadir besok jam sembilan pagi ya. Sampai ketemu besok!" ucap Pak Rahman sambil melambaikan tangan, lalu truk boks itu perlahan bergerak pergi meninggalkan area gang.

Kirana berdiri mematung di pinggir jalan, menatap kepulan asap truk yang mulai menjauh. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Besok pagi. Setelah berbulan-bulan hanya bisa melihat wajah mantan suaminya dari balik kaca mobil yang gelap atau dari layar papan reklame jalanan raksasa, besok dia akan berada di bawah atap yang sama dengan Aldi Pratama.

Pergolakan batin kembali berkecamuk di dalam dada Kirana: apakah dia sanggup menatap mata pria yang telah dia hancurkan hatinya dulu, ataukah dia harus bersembunyi di balik kerumunan warga demi menjaga kedamaian hidup Aldi yang sekarang?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!