Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Sepuluh Bohong
Ia terasa seperti lantai rapuh yang mulai retak di bawah kaki.
Bunga mematikan setrika, lalu duduk di lantai dengan blouse hijau tua terbentang di pangkuan. Bekas panas samar di kain itu membuat dadanya sesak. Bukan karena blouse mahal. Bukan juga karena ia takut dimarahi siapa pun.
Garis pucat itu terlihat seperti bukti bahwa satu detik panik bisa meninggalkan tanda.
"Balas pesannya," kata Rangga.
"Dengan apa? 'Halo Ratih, terima kasih sudah menemukan kebohonganku, besok aku datang bawa gorengan'?"
"Jangan menyebut gorengan dalam strategi krisis sosial."
"Itu satu-satunya bagian hidupku yang jujur."
Rangga diam sebentar. "Justru karena itu kita harus melindungi bagian yang jujur."
Bunga menatap ponsel. Undangan Ratih masih terbuka. Tea gathering kecil di rumah salah satu tante Ratih. Kata kecil di dunia mereka biasanya berarti cukup banyak orang untuk melihat seseorang dipermalukan, tetapi belum cukup besar untuk disebut kejam.
Ia membuka buku catatan bekas tempat ia biasa menghitung harga scarf. Halaman berikutnya masih kosong.
"Baik," katanya. "Ajari aku berbohong seperti orang kaya."
"Bukan berbohong seperti orang kaya. Bertahan seperti orang yang sedang diselidiki."
"Itu beda?"
"Orang kaya melakukannya dengan pengacara. Kamu melakukannya dengan kalimat."
Bunga mengambil pulpen.
Rangga mulai menyusun dengan suara yang lebih rapi daripada kamar kosnya.
"Pertama, jangan lagi memakai kalimat 'keluarga militer' sebagai klaim utama. Terlalu mudah diperiksa. Ubah menjadi 'lingkungan keluarga pernah dekat dengan purnawirawan'. Itu kabur, tetapi tidak sepenuhnya palsu karena Nenek Ratna memang punya latar latihan dan jaringan lama."
Bunga menulis: bukan keluarga militer, lingkungan purnawirawan.
"Kedua, jangan menyebut ayah atau ibu. Kalau ditanya, katakan urusan keluarga tidak rapi dan kamu tidak nyaman membawa nama orang yang sudah tidak ada."
Pulpen Bunga berhenti.
"Itu memanfaatkan orang mati."
"Itu melindungi orang mati dari orang hidup yang berbahaya."
Jawaban itu membuat Bunga ingin marah, tetapi tidak punya tempat untuk menaruh marahnya. Nenek Ratna memang sudah mati. Orang tua kandungnya bahkan tidak pernah punya wajah di hidupnya. Semua lubang itu sekarang bisa dijadikan dinding.
"Ketiga," lanjut Rangga, lebih pelan, "kalau Ratih minta kesatuan, jangan menjawab nomor atau nama yang bisa dicek. Jawab bahwa kamu tidak berhak membicarakan detail orang lain. Orang yang punya etika keluarga biasanya tidak memamerkan arsip tua."
Bunga menulis lagi.
"Keempat, kalau dia menekan dengan senyum, tekan balik dengan malu. Bukan marah. Katakan kamu datang untuk acara sosial, bukan sidang keluarga."
"Itu terdengar seperti aku."
"Bagus. Kebohongan paling aman adalah yang memakai suara asli."
Bunga mengangkat kepala. "Kamu terlalu ahli."
Rangga tidak langsung menjawab.
Di luar kamar, ada suara anak kos lain menyalakan motor. Bau minyak goreng dari warung sebelah masuk lewat celah jendela. Dunia kecil Bunga bergerak seperti biasa, sementara di dalam kepalanya seorang pria dari keluarga paling berkuasa yang pernah ia temui sedang mengajari cara menambal identitas palsu.
"Aku dulu bekerja di kepatuhan," kata Rangga akhirnya. "Setiap hari saya melihat orang mencoba menyembunyikan sesuatu. Yang mudah terbongkar bukan kebohongan besar, tetapi detail kecil yang terlalu percaya diri."
"Jadi jangan percaya diri?"
"Percaya diri. Tapi jangan murah hati dengan informasi."
Bunga mencatat kalimat itu.
Jangan murah hati dengan informasi.
Lucu. Seumur hidup ia miskin dalam hampir semua hal. Uang, pakaian, pilihan, keluarga. Baru sekarang ada hal yang harus ia hemat: cerita tentang dirinya sendiri.
Ponsel kembali bergetar. Melati.
Melati: Ratih undang kamu juga?
Bunga melirik Rangga.
"Jawab jujur untuk Melati," katanya.
Bunga: Iya. Dia mau dengar cerita keluargaku di Jawa Tengah. Sepertinya bukan karena kangen.
Melati: Aku ikut.
Bunga menatap pesan itu cukup lama.
Bunga: Kamu tidak perlu ikut masuk kandang singa.
Melati: Kalau kamu masuk sendirian, singanya merasa lebih sopan.
Bunga tertawa pelan. Dadanya sedikit longgar.
Melati: Tapi serius. Aku gak suka cara dia nanya-nanya. Kalau kamu tidak mau datang, jangan datang.
Bunga menatap buku catatan. Ada empat poin strategi, semuanya rapi, semuanya masuk akal, semuanya membuatnya merasa kotor.
"Kalau aku tidak datang?" tanyanya.
"Ratih akan menganggap kamu takut dan membawa pertanyaannya ke tempat yang lebih ramai."
"Kalau aku datang?"
"Kamu punya kesempatan mengendalikan ruang sebelum dia memilih panggung."
Bunga menggigit ujung pulpen. "Semua pilihan jelek."
"Selamat datang di strategi."
Ia ingin membantah, tetapi telepon dari Melati masuk sebelum ia mengetik.
Bunga mengangkat.
"Kamu beneran baik-baik aja?" suara Melati langsung masuk tanpa basa-basi.
"Aku lagi belajar jadi orang misterius."
"Kamu sudah cukup misterius. Ratih sampai lembur."
"Dia lembur karena tidak punya hobi."
Melati terdiam sebentar. "Bunga, kalau ada hal yang kamu belum bisa ceritakan, aku tidak akan paksa. Tapi jangan sampai kamu sendirian pas dia menyerang."
Kata menyerang dari Melati terdengar terlalu lembut, tetapi tepat.
Bunga memandang plester di tangannya. "Aku tidak sendiri."
"Rangga?" tanya Melati bercanda, mengira itu nama aneh untuk nasib baik atau mungkin salah satu candaan Bunga.
Jantung Bunga tersentak.
Rangga berkata cepat, "Tenang."
Bunga memaksa tertawa. "Maksudku kamu. Jangan kepedean, tapi kamu berguna."
"Kurang ajar," kata Melati, tetapi ia tertawa lega.
Setelah panggilan berakhir, Bunga menutup wajah dengan kedua tangan.
"Itu hampir."
"Kamu memperbaikinya," kata Rangga.
"Hampir saja nama kamu keluar seperti rahasia yang lelah sembunyi."
"Maka kita tambah aturan kelima. Jangan memakai kalimat 'aku tidak sendiri' di dekat orang yang cerdas."
Bunga menulis dengan kesal: jangan sok puitis.
Rangga terdengar seperti ingin tertawa, tetapi menahannya.
Sore itu, mereka berlatih. Rangga bertanya seperti Ratih.
"Keluargamu dari kesatuan mana?"
"Saya kurang nyaman membawa nama orang yang sudah tidak ada, Ratih."
"Aneh, ya. Katanya keluarga militer, kok tidak ada yang kenal?"
"Saya tidak pernah bilang keluarga saya nama besar. Kalau Ratih mencari nama besar, wajar tidak ketemu."
"Lalu kamu siapa?"
Bunga berhenti.
Pertanyaan itu terlalu sederhana. Terlalu dekat.
Siapa ia kalau bukan anak dari cerita yang ia karang? Siapa ia kalau bukan gadis dari Desa Kemuning yang sedang memakai gaun pinjaman dan nama setengah palsu untuk mendekati pembunuh Nenek?
"Jawab," kata Rangga, tetapi suaranya tidak menekan.
Bunga menatap cermin kecil di dinding. "Saya Bunga Lestari. Itu saja yang perlu orang tahu sebelum mereka layak tahu lebih banyak."
Hening.
"Itu baik," kata Rangga.
"Itu bukan bohong."
"Karena itu kuat."
Bunga menurunkan pulpen. Di buku catatannya ada lima aturan, tiga jawaban, dan satu kalimat yang benar. Jumlahnya lebih banyak daripada yang ia harapkan hanya untuk menutupi satu kesalahan awal.
Ia membuka chat Ratih dan mulai mengetik.
Bunga: Datang. Tapi kalau mau dengar gosip keluarga saya, siap-siap kecewa. Keluarga saya tidak serapi daftar tamu.
Balasan Ratih datang kurang dari satu menit.
Ratih: Justru yang tidak rapi biasanya paling menarik.
Bunga menatap layar sampai huruf-hurufnya terasa bergerak.
"Satu bohong," gumamnya, "butuh sepuluh bohong untuk menjaganya tetap berdiri."
Rangga tidak membantah.
Dan besok, Bunga harus memakai sepuluh bohong itu seperti gaun pinjaman yang jahitannya mulai tertarik.