Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 " Beee......
" Bee.....!!! " dengan sedikit berteriak Erick memanggil Biel.
Biel yang sudah berada lumayan jauh dari pintu unitnya sontak menghentikan langkahnya dan menoleh.
keningnya berkerut menatap Erick di belakang sana.
" ada apa ?! " jawab Biel kemudian, walau ia sedikit merasa heran ketika laki laki itu juga tahu namanya.
Tapi ia memilih abai.
" boleh aku memanggilmu seperti itu ?! Seperti teman temanmu memanggilmu " jawab Erick dengan masih berada di tempatnya berdiri.
" terserah...." jawab Biel acuh
" jika kita bertemu lagi di kemudian hari, apa kau akan menyapaku ?! " tanya Erick lagi dengan cepat ketika Biel hendak melanjutkan langkahnya kembali.
Biel menatap Erick jengah,
" heh....
jika tidak ada yang penting jangan menggangguku,
aku sibuk !! " sentak Biel karena merasa terganggu dengan panggilan dan ucapan ucapan Erick yang menurutnya tidak penting.
Ia pun bergegas memutar tubuhnya dan kembali melanjutkan langkah menuju lift.
" namaku Erick, Erick.......!! Kau bisa memanggilku Erick jika kita bertemu lagi nanti !!! " teriak Erick lagi kepada Biel, tapi sekarang teriakannya tak lagi mendapatkan respon dari Biel.
Gadis itu terus melenggang dan akhirnya masuk ke dalam lift.
Di belakang sana,
Erick mengusak kasar rambutnya, ia bingung dengan dirinya sendiri....
kenapa ia bisa senarsis itu di hadapan gadis itu.
Ia belum lama mengenalnya, tapi kenapa ia malah merasa begitu ingin selalu bersamanya.
" apa sekarang aku sudah mulai gila ?! Atau....
benar apa kata nenek,
aku......
sudah waktunya menikah....." cicitnya pada dirinya sendiri.
Beberapa jam telah berlalu,
Bee yang baru saja turun dari sebuah taksi nampak tergopoh gopoh masuk ke dalam area sebuah kafe.
" hei Be....!! " sapa beberapa orang yang telah berada lebih dulu di dalam ruangan yang kini ia juga berada.
" bos ada ?! " jawab Bee
" kau mencari ku ?! " seroang wanita cantik dengan penampilannya yang mempesona dan berusia lebih dewasa dari Biel nampak melangkah mendekat.
Biel sontak tersenyum meringis,
" kau datang terlambat lagi hemm.... ?! " tanya wanita itu kepada Biel.
Tangannya terulur menjewer telinga Biel.
Dia adalah Meta, pemilik kafe dan adalah kekasih Jokey.
" sorry mbk....." jawab Biel dengan wajah penuh sesal sembari meringis.
" ckk kau ini..... " ucap Meta dengan memberi kode isyarat kepada beberapa orang yang juga berada di ruangan itu untuk pergi meninggalkan ia dan Biel.
" bagaimana semalam ?!
kau berhasil ?! " tanya Meta ketika ruangan telah sepi dengan nada rendah.
Biel mengangguk,
Meta mendekat kepada Biel dan menepuk pundaknya,
" berhentilah Bee....
sudah saatnya kau hidup selayaknya perempuan.
kau juga berhak untuk hidup bahagia " bisik Meta lagi.
Biel tersenyum tipis,
" kau tahu aku membutuhkan banyak uang untuk kakakku mbk " jawab Biel
" kau terlalu berat mengambil tanggung jawab Bee,
ingatlah....
kau itu perempuan, berada di luar tengah malam sangat berbahaya untukmu meski aku yakin kau mampu menjaga diri "
" aku tak memiliki pilihan mbk, kakakku satu satunya yang ku miliki di dunia ini...
apapun akan aku lakukan untuknya, tak perduli meski masa depanku sebagai taruhannya " jawab Biel dengan wajah tegas.
Meta hanya bisa menarik nafas panjang,
" ok....
semoga kau selalu baik baik saja, oh ya....akan ada tamu VIP di meja tengah.
Dia adalah pelangganku di Brasco, Biasanya juga jika ia datang ke tempatku di sana dia selalu memberi tips pada orang yang melayaninya.
Dan tips yang ia berikan lumayan,
Jika kau mau ambillah ... " ucap Meta lagi dan Biel tersenyum sembari mengangguk.
" thanks mbak ...." jawab Biel, Meta selalu baik padanya.
Sepeninggal Meta,
Biel segera mengganti pakaiannya dengan seragam khas kafe ini.
Sementara bagian bawahnya ia tetap memakai celananya.
Biel sedikit meringis ketika ia melepas kaos oblong yang ia kenakan.
Punggungnya yang masih terbalut kain kasa terasa nyeri dan perih.
Dari apartemen Eric tadi ia memang langsung datang ke kafe ini.
Ia tak sempat untuk pulang lebih dulu karena jarak yang sangat jauh.
Dan lagi ....ia sudah sangat terlambat tadi.
Biel hendak memasukkan kaos yang ia pegang ke dalam locker ketika tiba tiba ia berhenti.
Di pandangnya sejenak kaos oblong itu, karena tergesa gesa ia tidak sadar jika ia sedang memakai pakaian orang lain.
Ya ia yakin itu adalah kaos .....
Erick.....
Desisnya pelan,
Biel menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia melipat dan memasukkan kaos itu ke dalam lockernya.
Rasanya ia malas hendak mengembalikan kaos itu kepada pemiliknya.
" hanya karena satu kaos yang tidak kembali, dia tidak akan menjadi miskinkan ?!! " cicitnya kemudian.
Tak lama,
Biel pun melenggang meninggalkan tempat ganti itu.
Biel kembali masuk ke dalam area belakang setelah mengantar beberapa pesanan.
Kafe sedang dalam keadaan lumayan rame di lantai bawah,
Tapi tidak dengan di lantai dua yang biasa di sebut meja tengah.
Tapi meski demikian...tetap saja di sana tidak sepi.
" Bee ...
mbak Meta bilang kau yang akan mengantar pesanan ke meja tengah nomor lima " kepala dapur memanggil Biel
" ih iya,
sudah siapkah kak ?! "
" ah belum....dia belum memesan makanan, hanya minuman saja tadi.
Tapi tadi pesannya minta di datangi setelah beberapa waktu untuk memesan makanan " jawab kepada dapur.
" jadi maksudnya aku hanya menanyakan saja apa pesanannya ?! " jawab Biel
" betul !! " jawab Kepala dapur dengan menunjukkan ibu jarinya ke hadapan Biel
" Ok...." jawab Biel dan tak lama kemudian ia melangkah keluar area belakang dan mulai melangkah menuju tempat yang ia tuju.
Meja tengah di lantai dua,
Lantai yang kerap di pilih oleh para orang orang yang memiliki kepentingan untuk berbisnis.
Biasanya mereka datang ke kafe ini dan memilih meja tengah untuk melakukan meeting atau semacam pertemuan penting dengan rekan bisnis mereka.
Dan benar saja,
berbeda dengan tatanan meja lantai bawah yang nampak santai,
Tatanan meja di lantai ini terkesan lebih formal dan kaku.
Sampai di lantai dua netra Biel sontak tertuju pada meja yang tadi di ucapkan oleh kepada dapur.
Di sana ia melihat beberapa orang duduk berhadapan dengan beberapa minuman di hadapan mereka masing masing.
Posisi dan beberapa orang di sana hanya terlihat punggung jika di lihat dari arah saat ini Biel datang.
Seorang wanita dengan dandanan yang nampak mewah walau di lihat dari belakang juga terlihat di meja itu.
Dan nampaknya wanita itu adalah yang paling di hormati.
hal itu dapat terlihat dari orang orang yang seolah memperhatikannya dengan seksama sejak tadi
Biel melangkah mendekat,
" permisi....
mohon maaf, mungkin sudah ada yang mau di pe....San.....?!! " ucapan Biel terdengar terpatah dan seolah hilang tertelan angin kala ia menatap wajah seseorang yang duduk di hadapannya.
Sama sepertinya,
seseorang di hadapannya itupun bereaksi sama,
Bahkan ia sampai berdiri seketika ketika netra keduanya bertemu.
" kau......!!! "