Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ma... Rani masak dulu sebentar ya." pamit ku.
"Yang, Mama bawa ke dapur sekalian. Berisik kalau disini. Abang nggak bisa tidur." adu Bang Rengga.
"Udah, Abang tidur aja. Biar di temenin sama Mama." jawabku.
"Mau masak apa, Ran?" tanya Mama Sofie.
"Masak soto, Ma. Tadi Abang request, pengen dimasakin soto." jawabku.
"Mama bantuin ya. Males Mama lihat bayi gedhe kayak Abang." ucap Mama sambil ikut melangkah di belakangku.
Setelah sampai di dapur, segera aku ambil panci ukuran sedang dan kecil, keduanya ku isi dengan air. Lalu kuletakkan di atas kompor, sambil menunggu air panas aku mencuci ayam. Untuk bumbu tadi aku sudah membeli bumbu instan, karena di market dekat tempat kerja ku tidak berjualan bumbu yang di racik sendiri seperti di pasar.
"Mama bantu apa ini, Ran?"
"Minta tolong Mama cuci berasnya ya, belum masak nasi kayaknya Abang tadi."
Mama Sofie hanya mengangguk lalu melangkah mengerjakan apa yang aku minta tadi.
Setelah kulihat air bergolak, kumasukkan ayam yang sudah ku cuci tadi, tidak lama air di panci yang agak besar mulai bergolak. Ku ambil sedikit air panas tersebut untik ku siramkan pada mi soun yang sudah aku siapkan di wadah anti panas.
Ku cek ayam yang kurebus dengan bumbu bumbu instan yang tadi kubeli karena kupikir biar lebih cepat siap dan bang Rengga bisa segera makan, setelah kurasa ayam cukup matang segera aku angkat dan aku tiriskan si ayam tadi. Kemudian ku tambahkan santan instan kental dalam panci tempat merebus ayam, setelah tercium aroma sedap tinggal koreksi rasa saja. Setelah kurasa pas, aku angkat dan kuganti dengan penggorengan. Kebetulan ayam ku sudah siap di goreng.
Sambil menunggu minyak panas, aku tiriskan mi soun yang ku rendam tadi lalu kumasukkan di mangkok kecil. Lanjut, goreng ayam yang tadi karena minyak sudah panas.
"Kamu biasa masak sendiri Ran?" tanya Mama Sofie yang tadi sudah kuminta duduk sambil menikmati puding yang tadi aku beli di market dekat kantor.
"Iya, Ma. Seneng aja pas lihatin Ibu masak. Lama-lama jadi penasaran iseng-iseng masak sendiri. Cuma kalau sama Ibu paling anti pakai bumbu instan. Tadi Rani beli yang instan biar cepet siap aja, Ma." jawabku sambil mencuci alat bekas masak yang sudah tidak terpakai
Mama Sofie hanya mengangguk sambil terus menikmati puding di depannya.
Tidak lupa kurebus telor, sebagai pelengkap. Daun sledri, dan juga sayur, tidak lupa aku siapkan karena Bang Rengga suka soto dengan banyak sayur. Meski bukan kerupuk udang, tapi di dapur Bang Rengga sudah ada kerupuk dalam toples. Semua kutata di meja makan sambil menunggu ayam selesai ku goreng.
Setelah semua siap, aku kembali ke depan. Bang Rengga nampak tertidur di sofa panjang tadi.
Aku duduk di sampingnya yang kebetulan masih ada space untuk duduk. "Bang, bangun. Makan dulu ya." ucapku pelan sambil sedikit menggoyang lengannya.
"Mama udah pulang, Yang?" tanya nya dengan suara khas bangun tidur saat sudah membuka mata.
"Mama udah nungguin di meja makan. Yuuk, bangun dulu. Kita makan sama-sama."
"Masih pusing, Yang." jawab Bang Rengga.
"Bangun pelan-pelan. Sini aku pegangin, jalan dikit aja ke meja makan ya." ucapku sambil membantu lelaki bertubuh besar yang ternyata jika sakit manjanya seperti anak kecil.
"Assalamu'alaikum,"
Terdengar suara lelaki mengucapkan salam di depan pintu saat aku membantu Bang Rengga bangun dari sofa. Ternyata Papa Adam.
"Waalaikum salam," jawabku dan Bang Rengga bersama.
"Dih, ngapain itu pakai di papah segala. Kayak orang jompo aja." ledek Papa Adam.
"Nih sakit gara-gara kejar target dari Papa." jawab Bang Rengga.
"Halah, modus aja itu. Badan gedhe, sakit gitu aja manja."
Bang Rengga hanya cemberut mendengar ucapan Papanya.
"Pa, mari makan. Mama sudah nunggu di meja makan." ucapku.
"Siapa yang masak? Kan kalau Sabtu Bi Inah kamu suruh libur."
"Calon mantu Papa yang masak. Udah, yuk Abang udah lapar." ucapnya sambil melangkah pelan ke arah meja makan.
"Wah, aromanya bikin cacing perut makin semangat demo ini." ucap Papa Adam ketika sudah duduk di kursi yang ada ruang makan.
"Rani lho, Pa yang masak. Wes.... sat set nggak pakai lama ini tadi. " ucap Mama Sofie sambil mengambilkan makanan untuk Papa Adam. Baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
"Yang, suapin ya... "
"Eh, Bang. Jangan lebay, Papa tahu Abang cuma modus aja. Nggak kasihan apa, Rani juga pasti lapar lho. Pasti tadi pulang kerja langsung ke sini ngurusin Abang. Makan sendiri." titah Papa Adam.
"Heeem..." jawab Bang Rengga.
Aku hanya tersenyum sambil mengambilkan makanan untuk Bang Rengga. "Segini cukup, Bang?" tanyaku.
"Iya, segitu aja dulu. Nanti Abang nambah lagi kalau kurang. Masih agak mual, Yang."
Aku mengangguk, kuletakkan satu porsi soto yang uapnya masih mengepul di depan Bang Rengga. Baru setelah itu, aku mengambil makanan untuk ku sendiri.
"Masya Allah, benar-benar enak masakan kamu, Ran. Papa sampai nambah lho." puji Papa Adam setelah selesai makan.
"Iya, Mama juga jadi lupa kalau lagi diet." ucap Mama Sofie sambil terkekeh.
"Padahal kan yang pengen Abang. Kenapa jadi Papa sama Mama yang habiskan."
"Abang, apa sih ngomongnya kayak gitu." ucapku memperingatkan. "Ma.. Pa.. Boleh Rani bereskan sekarang piringnya?" tanyaku ketika melihat Papa Adam dan Mama Sofie sudah selesai menikmati makanan.
"Udah, biar Mama aja. Tadi kan sudah kamu yang masak semuanya." jawab Mama Sofie sambil berdiri dan mulai mengambil piring kotor di atas meja.
"Biar Rani aja, Ma." jawabku sambil meraih piring kotor di tangan Mama Sofie.
Setelah itu ku bawa ke wastafel dan kucuci, setelah itu kuletakkan di rak pengering.
Aku kembali ke depan, lalu pamit pulang karena sudah sore juga, dan ada saudara Ibu yang sudah datang dari Tulung Agung.
"Ma... Pa.. Rani pamit pulang dulu ya. Ada saudara Ibu yang sudah datang dari desa. Mama sama Papa nginap di sini kan? Nemenin Abang?"
"Iyalah, Ran. Mana mau Abang nginap di rumah kalau nggak terpaksa." jawab Mama Sofie.
"Ya, alhamdulillah. Berarti Abang ada temannya." ucapku.
"Bang, aku pulang dulu ya. Abang cepet istirahat nanti habis sholat. Biar besok udah segar, udah sehat lagi."
"Nggak nginep di sini aja, Yang. Nemenin Abang." ucap Bang Rengga.
"Ihhh, mulutnya." jawabku.
"Ma.. Pa.. Nanti kalau masih mau soto nya ada di panci di atas kompor ya. Tinggal manasin bentar aja."
"Iya, hati-hati ya sayang. Jangan ngebut. Salam buat Bapak sama Ibu mu." ucap Mama Sofie.
"Iya, InsyaAllah nanti Rani sampaikan. Rani pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam." jawab mereka bertiga. Papa dan Mama segera berlalu masuk ke kamar yang biasa mereka tempati saat menginap di rumah Bang Rengga.
"Hati-hati, Yang. Pelan-pelan aja nyetirnya. Nanti telpon Abang kalau sudah sampai ya... " pinta Bang Rengga.
"Iya, aku pulang dulu Bang."
Lelaki itu mengangguk. "Abang nggak antar ke depan ya,"
"Iya, nanti biar aku tutup pintu sama gerbangnya. Abang langsung istirahat lagi. Jangan lupa minum obat sama vitamin. Udah aku siapin di meja dekat Abang tidur tadi." ucapku.
Setelah memastikan Bang Rengga kembali istirahat di sofa yang tadi dia tempati karena malas masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua. Aku segera pulang.
*****
"Darimana, Mbak. Tumben pulang sore, kan hari Sabtu biasanya setengah hari aja." tanya Azka saat melihatku turun dari motor yang sudah ku parkir di teras.
"Iya. Ke tempat Abang dulu, sakit orangnya." jawabnya.
"Terus sekarang gimana? Gawat, besok kan acaranya pagi." ucap Azka.
"Udah enakan tadi pas Mbak Pulang. Ada Mama sama Papanya juga nemenin tadi." jawabku. "Budhe udah nyampe, Dek?"
"Udah. Lagi istirahat di ruang tengah. Udah di gelar karpet sama kasur lantai. Nggak mau kasur empuk, panas katanya." jelas Azka sebelum aku tanya lebih jauh.
"Ya udah, Mbak masuk dulu ya. Ketemu sama Budhe."
"Iya," jawab Azka.
"Assalamu'alaikum, Budhe." sapaku sambil meraih tangan kedua tangan kakak Ibuku. "Kalih sinten Budhe? Nembe dugi nopo?" (sama siapa budhe? Baru datang kah?"
"Sama Mas Zainal, sama Mas Zamzam juga. Belum dhuhur tadi budhe sudah nyampe. Kamu baru pulang kerja?" tanya budhe Husna.
"Sudah siang tadi sebenarnya pulang kerjanya, Budhe. Cuma tadi ke rumah Abang dulu, Abang sakit."
"Lhooo.. Sakit apa to, Nduk?" tanya Budhe Tika.
"Kecapekan aja Budhe. Sama masuk angin. Udah enakan kok tadi pas Rani tinggal pulang."
"Oalah, terus sama siapa? Kata Ibumu, calon suami mu itu udah punya rumah sendiri. Dia tinggal di rumahnya sendiri." tanya Budhe Husna.
"Tadi ada Mama sama Papanya nginep di rumahnya Abang."
"Ya wes kalau begitu. Kamu sudah sholat Ashar belum? Sana cepet sholat dulu kalau belum." ucap Budhe Tika.
"Iya, Rani masuk dulu ya budhe. Mau bersih-bersih terus sholat. Nanti ngobrol-ngobrol lagi njeh. Rani kangen sama Budhe."
"Iya, Budhe juga kangen sama kamu. Lama juga kamu nggak ke rumah Budhe." ucap Budhe Husna.
"Iya, mungkin bulan depan Rani ada rute ke sana. Sekalian kalau jadwalnya cocok mau bawa Abang sowan sama simbah."
"Alhamdulillah, ya sudah. Buruan sholat dulu. Keburu habis waktunya."
"Njeh Budhe. Rani masuk dulu njeh."
Kedua Budhe ku itu mengangguk. Aku segera masuk ke kamar, bersih-bersih lalu sholat. Baru setelah itu aku kembali bergabung dengan budhe. Tidak lupa ku ajak juga Putri. Selama ini, aku merasa dia segan jika harus berdekatan dengan keluarga dari Ibuku.
"Budhe... " sapa Putri.
Ku ambilkan kursi pendek yang sudah dilapisi bantalan agar tidak keras untuk Putri karena kondisi nya yang sudah hamil tua dan tidak mungkin ikut duduk lesehan.
"Iya, cah ayu. Pye... Sudah berasa kontraksi belum?" tanya Budhe Husna.
"Belum Budhe. Nyuwun doanya njeh. Biar diberi kelancaran nanti."
"Iyo pasti to, Nduk. Budhe pasti selalu berdoa buat kalian semua." jawab Budhe Tika. "Ran, itu tadi Budhe bawakan makanan kesukaan kamu. Ada geti, gethuk pisang, sale pisang sama rambak."
"Masya Allah, Budhe. Repot aja." jawabku. "Budhe datang aja, Rani sudah seneng banget. ini malah repot-repot bawa makanan."
"Nggak repot, Nduk. Seadanya aja ya, namanya juga oleh-oleh dari desa. Itu, sama Mas mu di taruh di pojokan itu." ucap Budhe Tika sambil menunjuk dia kardus besar di pojok ruang tengah.
"Ya Allah, nggak repot bawanya Budhe?"
"Nggak, Nduk. Kan naik travel. Nggak naik kereta. Sama Ibumu di telponkan temennya yang punya usaha travel itu."
"Oalah, njeh Budhe." ucapku sambil membuka dua kardus besar dan mengeluarkan beberpa isinya. Kusajikan di atas piring yang tadi sudah aku siapkan sebelum membuka kardus.
Kusajikan dalam tiga piring, lalu satu di antaranya kuletakkan di dekat Putri dan Budhe. Dua piring akan kubawa ke depan buat camilan para lelaki yang sedang ngobrol santai sambil menikmati nikotin di jari mereka.
"Put, kamu ngobrol sama Budhe dulu apa balik ke kamar?" tanyaku.
"Di sini aja Mbak. Nanti kalau capek aku masuk ke kamar."
"Oke. Mbak ke depan dulu ya. Antar makanan ini ke depan."
"Iya, Mbak." jawab Putri.
Setelah mendengar jawaban Putri, kuamb dua piring berisi camilan tersebut lalu kubawa ke depan.
"Assalamu'alaikum, Mas." sapaku pada kedua kakak ku.
"Waalaikumsalam," jawab keduanya.
"Pye... Wes wani tenan ki rabi?" goda Mas Zainal. (Gimana, udah berani beneran nikah?)
"Wani to Mas. Pye jal ra wani kie...."
(Berani dong Mas. Kenapa nggak berani?)
Keduanya seketika tertawa.
"Alhamdulillah, kamu sekarang udah berhijab , Mas seneng lihatnya. Mas denger calon suami kamu itu ganteng. Gagah juga. Pinter milihnya ternyata.... "
"Ya ganteng lah, Mas. Kan cowok, kalau cewek ya cantik."
Saat masih ngobrol dengan kedua kakak ku yang lumayan lama lah kami tidak bertemu, terdekat suara dering ponsel dari saku kemeja yang aku kenakan.
"Panjang umurnya, baru juga di omongin udah telpon aja orangnya." ucapku yang di jawab dengan tawa kedua kakak ku.