Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 03 - Kavling Makam
Bambang tidak langsung pulang.
Ratna menunggu dari sore sampai magrib, dari magrib sampai isya. Nasi di magic com sudah dua kali ia aduk agar tidak kering. Sayur bening di panci sudah dingin. Tempe goreng yang tadi renyah berubah lembek.
Ia tidak makan.
Ponsel Bambang dibawanya ke kamar. Kotak besi disimpan di atas meja rias, tidak lagi disembunyikan. Ratna duduk di tepi ranjang, memandangi benda itu seperti memandangi seseorang yang datang membawa kabar kematian.
Mungkin memang begitu.
Hari ini ada sesuatu yang mati.
Bukan Bambang. Bukan Sari. Bukan pernikahan mereka di mata hukum.
Yang mati adalah kepercayaan Ratna.
Pukul sembilan lewat, Bambang mengirim pesan.
Bambang: Aku ada urusan. Pulang agak malam. Jangan tidur dulu kalau mau bicara.
Ratna membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Ia ingin menelepon. Ia ingin bertanya, "Urusan apa? Dengan siapa? Di mana?"
Tapi ia menahan diri.
Puluhan tahun menjadi dokter membuatnya terbiasa menunggu gejala jelas sebelum memberi diagnosis. Sakit kepala bisa karena kurang tidur, tekanan darah, atau tumor. Demam bisa karena infeksi ringan atau sesuatu yang lebih berat. Kalau hanya menebak, orang bisa salah obat.
Malam ini ia tidak ingin salah obat.
Ia ingin bukti.
Ratna mengambil kuitansi kavling makam dari amplop. Di bagian bawah ada nomor telepon kantor pemasaran.
Jarinya berhenti di atas layar ponsel pribadinya.
Malam sudah larut. Tidak pantas menelepon kantor saat ini.
Tapi ada akun WhatsApp bisnis tertera di kuitansi.
Ratna menyimpan nomor itu dengan nama "Makam". Lalu ia mengirim pesan.
Ratna: Selamat malam. Maaf mengganggu. Saya ingin menanyakan pembayaran kavling makam atas nama Bambang Santoso. Apakah masih bisa dibantu?
Ia tidak berharap dibalas.
Namun beberapa menit kemudian, tanda centang berubah biru.
Makam Nirwana: Selamat malam, Ibu. Untuk pengecekan data, mohon nama lengkap dan nomor pemesanan.
Ratna mengetik nomor yang tertera di kuitansi.
Balasan datang cepat.
Makam Nirwana: Baik, Ibu. Data ditemukan. Kavling pasangan Blok Melati B-17 dan B-18. Atas nama Bapak Bambang Santoso dan Ibu Sari Handayani.
Ratna menutup mata.
Pasangan.
Kata itu lebih tajam dari pisau dapur.
Ia membalas.
Ratna: Saya istri sah Bambang Santoso. Nama saya Ratna Wulandari. Saya ingin tahu status pembayaran.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu pesan masuk.
Makam Nirwana: Mohon maaf, Ibu. Untuk data detail kami hanya bisa berikan kepada pemesan atau kontak pendamping yang terdaftar.
Ratna menatap layar.
Kontak pendamping yang terdaftar.
Sari.
Ia mengetik lagi.
Ratna: Apakah kontak pendampingnya Sari Handayani?
Makam Nirwana: Betul, Ibu. Mohon maaf, apakah Ibu Sari ingin melakukan perubahan data?
Ratna hampir menjatuhkan ponsel.
Mereka mengira ia Sari.
Barangkali karena nomor Bambang sudah menghubungi sebelumnya. Barangkali karena di data mereka, perempuan yang berhak bertanya memang Sari.
Istri sahnya tidak ada di mana pun.
Ratna menatap foto pernikahannya dan Bambang yang tergantung di dinding kamar. Foto itu diambil hampir empat puluh tahun lalu. Ratna memakai kebaya putih sederhana, Bambang memakai jas pinjaman dari pamannya. Senyum mereka kaku. Waktu itu Ratna tidak terlalu mengenal Bambang, tetapi ia percaya pernikahan adalah jalan yang akan mereka pelajari bersama.
Ternyata ia belajar sendirian.
Ponsel di tangannya bergetar lagi.
Makam Nirwana: Bapak Bambang sempat menghubungi siang tadi untuk konfirmasi pelunasan tahap berikutnya. Apakah ada yang ingin dibantu, Ibu Sari?
Ratna menatap kalimat itu.
Siang tadi.
Jadi Bu Rini benar. Bambang pergi ke arah pasar kota bukan tanpa alasan.
Ratna mengetik pelan.
Ratna: Tidak. Terima kasih.
Ia menghapus nama kontak itu setelah menutup percakapan, tetapi tangkapan layar sudah ia simpan.
Pukul sepuluh lewat, suara motor Bambang akhirnya terdengar di halaman.
Ratna tidak bergerak dari kamar.
Pintu depan dibuka. Bambang masuk sambil batuk kecil, seperti biasa ketika ingin memberi tanda bahwa ia pulang. Dulu Ratna akan segera keluar, bertanya sudah makan atau belum. Malam ini ia tetap duduk.
"Rat?" panggil Bambang.
Tidak ada jawaban.
Langkahnya mendekat ke kamar.
Begitu Bambang membuka pintu, wajahnya berubah.
Matanya langsung tertuju pada kotak besi di atas meja rias.
"Kamu buka paketku?"
Suara itu bukan suara orang lelah. Itu suara orang tertangkap.
Ratna menatap suaminya.
Bambang masih memakai jaket cokelat. Rambutnya agak berantakan. Di lehernya ada bau parfum asing, samar tetapi jelas. Bukan minyak kayu putih, bukan sabun mandi rumah mereka.
"Iya," jawab Ratna.
Bambang melangkah cepat ke meja, mengambil kotak itu, membuka isinya dengan panik. Foto-foto diperiksa, amplop dihitung, seolah Ratna adalah pencuri yang mungkin mengambil sesuatu.
"Kenapa kamu buka? Aku sudah bilang jangan dibuka!"
Ratna berdiri pelan. "Karena kamu bilang jangan dibuka."
"Itu barang lama!"
"Kuitansi makam juga barang lama?"
Bambang terdiam.
Ratna mengambil ponselnya, membuka tangkapan layar dari Makam Nirwana, lalu memperlihatkannya.
"Blok Melati B-17 dan B-18. Atas nama Bambang Santoso dan Sari Handayani. Kavling pasangan."
Wajah Bambang memucat, lalu memerah.
"Kamu menghubungi mereka?"
"Aku istrimu. Aku berhak tahu kenapa suamiku menyiapkan makam dengan perempuan lain."
"Itu tidak seperti yang kamu pikir."
Ratna hampir tersenyum.
Kalimat itu ternyata benar-benar ada. Kalimat yang sering ia dengar di sinetron, di cerita pasien, di rumah tangga orang lain. Ia tidak pernah menyangka suatu hari Bambang akan mengucapkannya di kamar mereka.
"Lalu seperti apa?" tanyanya.
Bambang mengusap wajah. "Sari itu... dia tidak punya siapa-siapa. Suaminya sudah meninggal. Anaknya jauh. Dia takut nanti kalau meninggal tidak ada yang mengurus."
"Jadi kamu mengurus makamnya?"
"Aku hanya membantu."
"Dengan membeli dua kavling berdampingan?"
Bambang membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ratna melanjutkan, suaranya tetap pelan. "Dan makan malam tahun baru setiap tahun? Itu juga membantu?"
"Ratna."
"Kemeja biru yang aku setrika untuk reuni. Itu dipakai makan malam dengannya?"
Bambang menegang. "Kamu baca pesan?"
"Aku baca cukup banyak."
"Kamu keterlaluan. Itu ponselku."
Ratna menatapnya lama.
"Pernikahan kita juga hidupku, Bang."
Bambang terdiam lagi.
Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding terdengar. Tik. Tik. Tik.
Ratna menunggu. Mungkin masih ada penjelasan yang bisa menyelamatkan sesuatu. Mungkin Bambang akan meminta maaf. Mungkin ia akan berkata semuanya kesalahan besar dan berhenti.
Bambang justru berkata, "Kamu jangan membesar-besarkan. Di usia kita, orang butuh teman bicara. Aku dan Sari hanya saling menguatkan."
Ratna mengulang pelan, "Saling menguatkan."
"Iya."
"Selama sepuluh tahun?"
Bambang kaget. "Siapa bilang sepuluh tahun?"
Ratna membuka salah satu foto restoran paling lama yang ia temukan di chat. "Tanggalnya ada. Kamu pikir aku tidak bisa menghitung?"
Bambang membuang muka.
Ratna merasakan lututnya sedikit lemas, tetapi ia tidak duduk. Ia ingin berdiri ketika mendengar semua ini. Ia tidak mau terlihat seperti perempuan yang sedang meminta belas kasihan.
"Aku ini apa bagimu?" tanya Ratna.
Bambang tampak kesal. "Kamu istriku. Ibu dari anak-anakku. Tidak ada yang berubah."
"Tidak ada yang berubah?"
"Aku tetap pulang ke rumah. Aku tetap memberi uang."
Ratna tertawa pendek.
"Uang apa, Bang? Uang belanja yang bahkan tidak cukup kalau klinik tidak jalan? Uang rokokmu saja kadang dari laci dapur."
Wajah Bambang mengeras. "Jangan mulai menghina."
"Aku tidak menghina. Aku mengingatkan."
"Kamu selalu begini. Diam-diam menyimpan semua, lalu keluar seperti orang paling benar."
Ratna menatap suaminya seolah baru pertama kali melihatnya.
Selama ini Bambang jarang marah besar, tetapi kalau tersudut, ia selalu membalikkan keadaan. Ratna dulu memilih diam karena tidak suka ribut. Malam ini, diam terasa seperti ikut membantu kebohongan.
"Aku mau bertemu Sari," kata Ratna.
Bambang langsung menoleh. "Untuk apa?"
"Untuk mendengar dari mulutnya. Kalau kalian hanya saling menguatkan, tidak perlu takut."
"Jangan bikin malu."
"Malu pada siapa?"
"Pada orang-orang."
Ratna mengangguk pelan. "Jadi kamu tahu ini memalukan."
Bambang kehilangan kata.
Ratna berjalan ke lemari, mengambil satu map kosong, lalu memasukkan fotokopi kuitansi, tangkapan layar yang sudah ia cetak dari printer klinik kecil, dan beberapa foto lama yang paling jelas.
Bambang melihatnya dengan curiga.
"Mau kamu bawa ke mana itu?"
"Besok aku akan menemui Melati."
"Jangan libatkan anak-anak."
Ratna berhenti.
Ia berbalik.
"Saat kamu memakai uang rumah untuk Sari, kamu sudah melibatkan anak-anak. Saat kamu membuat ibunya terlihat bodoh selama bertahun-tahun, kamu sudah melibatkan mereka. Saat kamu menyiapkan makam dengan perempuan lain, kamu sudah mengubur aku hidup-hidup di depan keluarga ini."
Bambang menatapnya, tercengang.
Mungkin Bambang tidak pernah mendengar Ratna bicara sepanjang itu tanpa gemetar.
Ratna sendiri juga hampir tidak mengenali suaranya.
Tapi ia tidak menyesal.
"Besok aku bertemu Melati," ulangnya. "Setelah itu, Dimas dan Raka juga harus tahu."
"Ratna, jangan gila."
Ratna memegang map itu di depan dadanya.
"Aku justru baru waras malam ini."
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan