NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah tawaran pekerjaan.

Zalina masuk ke dalam kamar tidurnya yang cukup nyaman. Ruangan itu didominasi warna putih dan abu-abu, hampir sama seperti ruangan sebelumnya. Hanya ada meja, ranjang yang besar dan lemari pakaian berwarna senada.

Rumah ini tidak mendapatkan sentuhan tangan manusia di mana pun.

"Tapi, setidaknya ia punya ranjang yang empuk dan nyaman untuk ditiduri." gumamnya ketika duduk di atas ranjang itu.

Zalina menghela napas sejenak, lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Matanya seketika melebar, ketika menggeser pintunya. Ada banyak pakaian tergantung rapi di dalamnya. Mulai dari gaun pesta, piyama bahkan hingga gaun tidur yang sangat minimalis.

Zalina mengambil sehelai pakaian menerawang itu dan melihat bentuknya yang sangat minim kain.

"Memangnya siapa yang mau berkeliaran dengan pakaian seperti ini di rumah?"

Ia menatap gaun itu cukup lama, hingga wajahnya merona tanpa sadar. Entah apa yang sedang ia bayangkan di kepala mungilnya saat ini.

Dengan buru-buru, ia menggantungkan kembali pakaian itu di lemari. Ia lalu mengambil piyama sutra selutut yang terlihat normal dan nyaman untuk di pakai.

Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia berjalan ke arah pintu keluar, karena perutnya sudah mulai berbunyi sejak tadi.

Namun, ketika ia membuka pintu kamarnya, ia tersentak setelah melihat Kaiden juga keluar dari kamar di depannya. Ternyata, kamar tidur mereka saling berhadapan.

Pandangan keduanya terhenti untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Kaiden bersuara.

"Makanannya akan tiba sebentar lagi."

"Hmm... iya." sahut Zalina canggung.

Pria berkacamata itu lalu pergi dari hadapannya secepat mungkin. Di susul oleh Zalina yang tampak mengekor di belakangnya.

Ini benar-benar situasi yang canggung bagi keduanya. Di mana mereka harus mulai membiasakan diri untuk beradaptasi satu sama lain.

*

*

Kini, keduanya berada di ruang makan, menyantap makan malam mereka yang sempat tertunda karena perjalanan yang cukup lama.

Suasana di antara mereka begitu sunyi dan tenang. Sesekali, Zalina tampak melirik ke arah Kaiden yang tampak makan dengan tenang, seolah tidak ada rasa canggung di antara mereka.

Sementara Zalina tampak memainkan sendok, sembari mulutnya mengunyah makanan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia ragu untuk menyampaikannya pada pria berkacamata itu.

Kaiden yang menyadari tatapan itu akhirnya mengangkat wajahnya.

"Kenapa?"

Zalina sontak mengalihkan pandangan. "Tidak ada."

"Kalau tidak ada, kenapa dari tadi melihatku?"

Zalina terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya berkata.

"Apa... aku boleh kembali bekerja?" tanyanya ragu.

"Bekerja? Untuk apa?" tanya Kaiden balik, merasa heran.

"Aku butuh uang dan aku juga ingin tetap membantu Ayah." jelas Zalina dengan sorot mata yang sendu. "Karena kecelakaan kemarin, Ayah terpaksa harus kehilangan pekerjaannya karena terlalu banyak cuti. Pabrik tempatnya bekerja tidak bisa lagi memperkerjakan dirinya, karena sudah terlanjur menerima pegawai lain sebagai penggantinya."

Kaiden terdiam sejenak, mendengar setiap perkataannya dengan ekspresi wajah yang tenang.

"Jadi, aku perlu uang untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup Ayah."

Kaiden lalu menghela napas sejenak. "Kau tidak perlu memikirkan tentang uang. Nanti, setiap bulan aku akan mengirimkan sejumlah uang untuk Ayah. Dan... termasuk untukmu."

Zalina tertegun mendengarnya. "Untukku juga?" tanyanya bingung.

"Bukankah sekarang kau adalah istriku? Sudah tentu semua kebutuhanmu menjadi tanggung jawabku sepenuhnya mulai sekarang." ucapnya datar, namun terselip ketegasan yang mutlak.

"Dan satu lagi," lanjut Kaiden, membuat Zalina kembali menatapnya.

"Aku sudah meminta Papa dan Mama untuk mengajak Ayah untuk tinggal bersama mereka mulai sekarang."

Mata Zalina membulat seketika. "Apa?"

"Ayahmu tidak perlu memikirkan tentang biaya hidup untuk sementara waktu. Biarkan Papa dan Mama yang mengurusnya."

Zalina terdiam seketika, ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya, tetapi juga kebingungan karena semuanya terdapat begitu tiba-tiba.

"Tapi-"

"Belum selesai." potong Kaiden cepat, membuat Zalina kembali bungkam.

Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Zalina dengan. Sorot mata penuh keseriusan.

"Beberapa bulan kedepan, pabrik tekstil itu akan kembali dibuka dan diresmikan."

Zalina masih menatapnya dengan serius, mencoba mencerna perkataannya.

"Ayahmu akan menjabat sebagai Direktur utama dan kau-"

"Aku?"

Kaiden mengangguk.

"Kau akan ditempatkan sebagai wakil Direktur."

Zalina terdiam seketika.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa percakapan sederhana mengenai keinginannya untuk bekerja, malah berakhir dengan tawaran sebesar itu.

"Wakil Direktur? Tapi... aku belum punya pengalaman untuk bekerja di kantor sebesar itu? Bagaimana kalau aku mengacaukannya atau-"

"Kau bahkan belum mencoba, tapi sudah takut duluan." ucap pria itu sinis.

Zalina seketika menundukkan wajahnya, merasa malu mendengar perkataannya itu.

"Aku tau kau punya kemampuan. Jadi aku memberimu kesempatan untuk membuktikannya." lanjutnya tegas dan jelas.

"Tapi, aku tidak punya pengalaman menjadi wakil Direktur." ia tampak mengerucutkan bibirnya sedikit.

"Kalau begitu, belajar."

"Bagaimana jika aku gagal?"

"Aku sudah bilang, coba dulu baru tahu hasilnya."

Jawaban itu membuat Zalina terdiam.

Untuk pertama kalinya setelah mengenal Kaiden, ia baru tahu kalau pria itu ternyata bisa banyak bicara jika sedang membahas hal serius.

Tapi tetap saja menakutkan.

"Baiklah. Aku akan mencobanya." sahut Zalina akhirnya.

Walau di dasar hatinya, masih tersisa keraguan untuk menerima posisi tersebut.

Setelah selesai makan malam dan berbicara, Zalina dan Kaiden tampak masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka.

🥀🥀🥀

Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan diri di balik cakrawala. Langit masih dihiasi semburat warna jingga yang tipis, sementara suasana di apartemen tampak begitu sunyi.

Namun, Zalina tampak sibuk di dapur sejak tubuh tadi, seperti yang biasa ia lakukan.

Isi kulkas Kaiden ternyata dipenuhi dengan bahan makan mentah dan juga buah-buahan segar yang sepertinya baru saja dibeli.

Apa pria itu yang menyiapkannya, atau ibunya?

Dengan memakai gaun rumahan yang sederhana, rambut panjangnya diikat seadanya agar tidak mengganggu aktivitasnya, Zalina berdiri di depan kompor. Tangannya dengan cekatan mengaduk masakan yang sedang dimasaknya.

Aroma harum seketika memenuhi seluruh ruangan. Sesekali ia membuka tutup panci untuk memastikan masakannya telah matang dan sempurna. Setelah itu ia beralih untuk menyiapkan hidangan lainnya.

Ia memang terbiasa bangun pagi dan menyiapkan hidangan untuk ayahnya dulu. Baginya, memasak bukanlah pekerjaan yang merepotkan sama sekali. Justru ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang-orang di sekitarnya menikmati masakan yang ia buat.

Namun, kali ini ada satu orang yang membuatnya gugup.

Kaiden.

"Apa dia akan suka dengan masakanku? Aku jadi ragu." gumamnya pelan.

Zalina melirik jam di dinding.

"Mungkin sebentar lagi ia akan bangun."

Ia kembali berkonsentrasi pada masakannya yang hampir matang.

Tanpa ia sadari, sebuah langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk. Langkah itu semakin mendekat.

"Kau memasak?"

Zalina yang sedang menata makanan di atas piring tampak terkejut ketika mendengar suara berat dari balik punggungnya. Sendok yang ia pegang bahkan hampir jatuh dari tangannya.

Kaiden muncul dengan kaos tanpa lengan yang tampak sedikit basah dan celana olahraga. Ia tampak menyeka sisa peluh diwajah dengan handuk kecil yang dipegangnya.

Pria itu ternyata sudah bangun dan pergi berolahraga.

Pria itu memang tidak mungkin bangun siang, kan?

"Iya. Aku... memasak sarapan. Hmm... apa kau mau sarapan bersamaku?"

Kaiden tidak langsung menjawab.

Entah mengapa untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, apartemen yang biasanya terasa dingin dan sepi itu mulai terasa sedikit berbeda.

Ada aroma masakan, suara aktivitas dapur, dan seseorang yang membuatnya terasa seperti rumah.

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!