Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Yang Perlu Berobat Siapa
Dua minggu setelah pertemuan media, Renata duduk di ruang mediasi Pengadilan Negeri Jakarta dengan kedua tangan terlipat di atas meja.
Di sebelahnya, Gerald Tjahyadi membuka berkas gugatan cerai. Surat peringatan atas penolakan Nathan menjalankan perjanjian telah dikirim sejak lelaki itu merobek salinannya dan menyatakan tidak akan mengikuti aturan. Empat belas hari berlalu tanpa pencabutan pernyataan tertulis.
Rekaman pernikahan yang bocor kemudian membuat tujuan menjaga penampilan di depan keluarga semakin kehilangan arti. Setelah Nathan kembali mempermalukannya di depan kamera, Renata tidak melihat alasan untuk menunggu satu tahun.
Namun akta perjanjian masih sah. Itu pula sebabnya Vila Kenari belum bisa langsung ia bawa pergi.
Nathan masuk bersama pengacaranya tiga menit sebelum jadwal dimulai. Tatapannya singgah pada Renata, lalu pada berkas di depan Gerald.
“Kamu benar-benar mengajukan gugatan sekarang.”
“Surat panggilannya sudah menjelaskan.”
“Kita punya perjanjian satu tahun.”
Gerald menjawab datar, “Perjanjian yang Anda nyatakan tidak mau jalankan. Klien saya sudah memberi peringatan tertulis sesuai prosedur.”
“Aku merobek salinan, bukan membatalkan akta.”
Renata hampir tertawa. Ketika ia menjelaskan hal yang sama di Puri, Nathan menatapnya seolah ia sedang mencari celah. Sekarang lelaki itu memakai penjelasan tersebut untuk menahannya.
Mediator memasuki ruangan dan meminta semua pihak duduk. Ia memeriksa identitas, memastikan kuasa hukum, lalu menjelaskan bahwa mediasi wajib ditempuh sebelum perkara dilanjutkan. Percakapan bersifat tertutup dan keputusan berdamai tetap berada pada para pihak.
“Ibu Renata, apakah masih ada kemungkinan mempertahankan rumah tangga?” tanyanya.
“Tidak.”
Jawaban Renata cepat dan tenang.
Mediator beralih kepada Nathan. “Bapak Nathan?”
Nathan datang dengan keyakinan bahwa ia hanya perlu menyelesaikan formalitas. Ia bahkan sudah menyiapkan jawaban singkat di mobil.
Setuju berpisah. Selesaikan urusan rumah. Jangan ganggu pekerjaan masing-masing.
Namun di kepalanya muncul punggung Renata saat meninggalkan hotel dalam hujan. Muncul pula kursinya yang kosong, kalimatnya tentang pernikahan yang bukan paksaan, dan tatapan Renata ketika ia kembali memilih Cheryl.
“Saya...”
Renata menatapnya.
Nathan mengencangkan rahang. “Saya perlu waktu.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, ketenangan Renata retak.
“Waktu untuk apa?”
“Menilai semua keadaan.”
“Kamu punya tiga tahun.”
Mediator mengangkat tangan sebelum percakapan berubah menjadi pertengkaran. “Jika salah satu pihak belum mencapai keputusan, mediasi dapat dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Tetapi saya minta Bapak menjelaskan, apakah ada usulan yang nyata?”
Nathan tidak punya jawaban.
“Kalau Bapak meminta waktu,” lanjut mediator, “waktu itu akan digunakan untuk apa? Memperbaiki komunikasi, memenuhi kewajiban harta, atau sekadar menunda?”
Nathan menatap berkas di meja. “Saya akan menyelesaikan Vila Kenari.”
“Itu kewajiban perjanjian, bukan upaya memperbaiki perkawinan,” kata Gerald.
“Saya juga akan memastikan media tidak mengganggu keluarga Rena.”
Renata akhirnya menatap Nathan. “Mama sudah hampir didatangi orang asing karena rekaman dari gedungmu. Melindungi alamatnya bukan hadiah untukku.”
“Aku tahu.”
“Kamu baru tahu setelah semuanya tersebar.”
Nathan tidak bisa membantah. Ia selalu mengira Renata menuntut terlalu banyak, padahal daftar perempuan itu sangat pendek: rumah ibunya kembali, nama ibunya aman, dan hak untuk pergi.
Mediator memberi mereka waktu lima menit untuk berbicara langsung tanpa disela kuasa hukum.
“Kenapa harus sekarang?” tanya Nathan.
“Karena tiga tahun ternyata belum cukup membuatmu melihatku sebagai istri. Aku nggak mau menunggu satu tahun lagi hanya untuk mengulang hari yang sama.”
“Aku sedang mencoba memahami.”
“Memahami apa? Kenapa aku terluka setelah kamu melindungi Cheryl di depanku?” Renata menggeleng pelan. “Kalau hal sesederhana itu masih harus kamu pelajari, kita memang nggak punya apa-apa untuk diselamatkan.”
Kata-kata itu tidak diucapkan keras. Justru karena itulah Nathan tak bisa menganggapnya sebagai ledakan emosi yang akan berlalu.
Pintu diketuk dari luar. Seorang petugas menyampaikan bahwa anggota keluarga lanjut usia menunggu dan bersikeras ingin berbicara. Mediator sempat menolak, sampai Nathan menyebut nama Opa William dan meminta jeda singkat.
Mereka keluar ke ruang konsultasi di sebelah. Opa William berdiri di sana dengan tongkat, ditemani Bik Inah dan pengemudi keluarga. Napasnya berat, wajahnya merah karena marah.
“Opa seharusnya istirahat,” kata Nathan.
Tongkat menghantam lantai.
“Kalau Opa istirahat, kamu akan membuang istrimu setelah mempermalukannya di depan seluruh Indonesia!”
Beberapa orang di koridor menoleh. Gerald menutup pintu ruang konsultasi agar suara mereka tidak menyebar.
Opa William menghampiri Renata lebih dulu. “Kenapa tidak bilang kepada Opa?”
“Karena ini keputusan saya.”
“Opa tahu.” Kemarahan di wajah lelaki tua itu melunak sesaat. “Dan Opa tahu siapa yang membuatmu mengambil keputusan itu.”
Ia berbalik kepada Nathan.
“Tiga tahun kamu punya istri di rumah. Kamu nggak pernah melihatnya. Kamu percaya semua cerita orang lain, membiarkan keluargamu menuduhnya, lalu di depan kamera masih melindungi perempuan yang membuat rumah tanggamu hancur.”
“Cheryl hampir jatuh.”
“Dan Rena sudah jatuh berkali-kali karena kamu. Kapan kamu menahannya?”
Nathan terdiam.
Opa menunjuk berkas di tangan Gerald. “Pengadilan bukan milik Opa. Opa nggak bisa melarang Rena menggugat. Tapi kamu menandatangani perjanjian satu tahun. Jalankan dengan benar. Kembalikan Vila Kenari tepat waktu. Setelah satu tahun, kalau Rena masih ingin pergi, kamu nggak boleh menghalangi satu hari pun.”
Renata memandang Opa. Lelaki tua itu bukan sekadar menahan perceraian. Ia juga mengikat Nathan pada seluruh kewajibannya.
“Saya tidak mau satu tahun itu dipakai untuk menyakiti saya lagi,” katanya.
“Tidak akan.” Opa menatap Nathan tajam. “Kalau dia mengulanginya, Opa sendiri yang menjadi saksi untukmu.”
Gerald membungkuk sedikit ke arah Renata. “Keputusan tetap di tangan Anda.”
Renata menutup mata sesaat. Ia bisa memaksa perkara berjalan sambil membuka sengketa baru tentang akta, Vila Kenari, dan wanprestasi. Atau ia menagih perjanjian sampai selesai, dengan Opa kini berdiri sebagai pengawas terbuka.
“Satu tahun dihitung sejak tanggal akta,” katanya akhirnya. “Bukan mulai hari ini.”
Opa langsung mengangguk. “Benar.”
“Dan pengalihan Vila Kenari tetap tiga puluh hari sebelum gugatan.”
“Nathan akan melakukannya.”
Semua mata berpindah kepada Nathan.
“Aku akan melakukannya,” jawabnya.
Ketika mediasi dilanjutkan, kedua pihak menyampaikan bahwa mereka belum mencapai perdamaian dan meminta waktu sesuai proses. Mediator mencatatnya serta menjadwalkan pertemuan lanjutan. Gugatan tidak dicabut, tetapi keputusan akhir belum dibuat.
Opa membawa mereka langsung ke Kediaman Halim.
Fransisca, Yovita, dan beberapa kerabat sudah menunggu di ruang keluarga. Tak ada yang berani bertanya ketika Opa masuk dengan wajah gelap.
Di atas meja terdapat sebuah mangkuk keramik berisi cairan cokelat pekat. Bau akar, madu, dan rempah pahit memenuhi ruangan.
Bik Inah menyerahkannya kepada Nathan.
“Minum,” perintah Opa.
Nathan menatap mangkuk itu. “Apa ini?”
“Jamu.”
Fransisca berdeham. “Papa, kalau soal keturunan, seharusnya Rena yang diperiksa. Tiga tahun menikah dan belum...”
“Diam!” bentak Opa.
Ruangan langsung membeku.
“Tiga tahun ini kalian menyebut Rena mandul. Kalian menghitung kapan dia hamil, seolah kalian tidur di depan pintu kamar mereka.” Opa menunjuk Nathan dengan tongkat. “Tanya dia berapa malam dia pulang sebagai suami. Tanya dia bagaimana seorang istri bisa hamil kalau suaminya bahkan nggak menyentuh makanan di meja yang sama.”
Wajah Fransisca berubah kaku.
“Papa cuma membela Rena karena kasihan,” katanya, masih mencoba bertahan. “Punya penerus keluarga tetap penting.”
Opa William tertawa pendek tanpa kegembiraan. “Penerus keluarga bukan proyek yang dibebankan kepada satu tubuh perempuan. Kalau Nathan ingin anak, pertama-tama dia harus belajar menjadi suami.”
Bernard yang berdiri dekat jendela mengangguk. “Dokumen Vila Kenari juga harus segera disiapkan. Jangan sampai urusan itu dipakai lagi untuk menyerang Rena.”
“Notaris akan mulai proses sesuai tanggal akta,” jawab Nathan.
Renata menoleh kepadanya, sedikit terkejut karena kali ini ia tidak membantah. Namun Nathan tidak meminta penghargaan. Tatapan Opa membuat jelas bahwa memenuhi janji paling dasar bukan suatu jasa.
Renata mengepalkan jari di sisi tubuh. Ia tidak malu karena tidak memiliki anak. Namun mendengar seseorang akhirnya menyebut kebenaran di depan keluarga membuat dadanya terasa sesak.
Masalahnya tidak pernah berada di tubuhnya.
Pernikahan itu memang tidak pernah diberi kesempatan untuk hidup.
Opa menatap Nathan. “Yang selama ini perlu berobat itu kamu, bukan dia. Bukan karena dokter bilang kamu sakit. Karena kepala dan hatimu yang bermasalah.”
Yovita buru-buru menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
“Minum,” ulang Opa.
Nathan mengangkat mangkuk dan meneguk jamu itu. Rasa pahitnya menusuk lidah, disusul panas yang merambat ke tenggorokan. Beberapa kerabat memalingkan wajah, menahan reaksi.
Opa tidak memberinya kesempatan meletakkan mangkuk sebelum habis.
“Satu tahun lagi, baru bicara soal cerai,” katanya. “Selama itu, jangan paksa Rena mencintaimu. Buktikan dulu kamu pantas diperlakukan sebagai suami.”
Nathan meletakkan mangkuk kosong di meja.
“Dan periksa semua cerita lama yang kamu telan mentah-mentah,” lanjut Opa. “Tentang Cheryl, tentang siapa yang menolongmu dulu, tentang kenapa Rena selalu dianggap bersalah. Jangan lihat dengan mata yang sudah ditutup orang. Pakai otakmu.”
Nama Cheryl membuat Nathan mengangkat wajah.
“Apa yang Opa tahu?”
“Cukup banyak untuk tahu kamu terlalu gampang dibohongi. Belum cukup banyak untuk memberimu jawaban. Cari sendiri.”
Renata berdiri tak jauh darinya, tenang dan dingin. Ia tidak tampak lega karena perceraian tertunda. Ia juga tidak tampak berharap Nathan akan berubah.
Untuk pertama kalinya, ketidakpedulian itu menusuk Nathan lebih tajam daripada semua tuduhan media.
Ia memandangi sisa jamu di dasar mangkuk, lalu teringat betapa mudahnya ia mempercayai setiap air mata Cheryl dan mencurigai setiap penjelasan Renata.
Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani ia ajukan akhirnya muncul.
Bagaimana jika sejak awal, orang yang ia percaya dan orang yang ia salahkan telah tertukar?