**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Tamparan Pertama di Pesta
"Ya," jawab Kayla. "Aku perempuan dari toko kecil di Bekasi itu."
Vanessa tidak menyangka ia akan mengaku tanpa malu. Senyumnya goyah sesaat.
Para tamu di dekat meja minuman mulai melambatkan percakapan. Dua perempuan bergaun mahal saling berbisik. Seorang pria mengangkat gelas ke bibir, tetapi tidak benar-benar minum.
Tidak ada yang ingin kehilangan pertunjukan.
Vanessa memulihkan senyumnya. "Setidaknya kau jujur. Banyak orang akan berusaha menyembunyikan keluarga dengan toko sembako kalau sudah menikah dengan laki-laki seperti Adrian."
"Mengapa harus disembunyikan? Toko itu menjual kebutuhan sehari-hari dengan cara halal."
"Tetap saja, dunia kalian berbeda."
Kayla mengangguk. "Benar. Di duniaku, orang dinilai dari apa yang mereka kerjakan. Mungkin itu sebabnya aku kesulitan memahami dunia yang menilai orang dari toko milik orang tuanya."
Bisikan kecil terdengar di sekitar mereka.
Vanessa mengencangkan pegangan pada gelas. "Aku hanya tidak ingin kau kaget. Keluarga Gunawan punya standar. Mereka tidak menerima siapa saja sebagai menantu."
"Syukurlah aku menikah dengan Adrian, bukan dengan seluruh keluarga Gunawan."
"Kau benar-benar mengira pernikahan kilat membuatmu setara dengannya?"
"Tidak." Kayla mengambil segelas air putih dari meja. "Pernikahan membuat kami menjadi pasangan. Kesetaraan kami berasal dari fakta bahwa kami sama-sama orang dewasa yang memilih sendiri."
Seorang perempuan di belakang mereka menutup senyum dengan kipas.
Vanessa mendengar tawa kecil itu. Wajahnya mulai memerah.
"Memilih sendiri?" katanya. "Semua orang tahu Ema Lanny sudah lama mencari pasangan yang pantas untuk Adrian."
"Dan dia tetap memilihku."
Kalimat sederhana itu mengenai sasaran lebih tepat daripada hinaan panjang.
Tatapan Vanessa berubah tajam. "Kau tidak tahu siapa yang seharusnya berdiri di sisinya."
"Kalau maksudmu dirimu, kurasa jawabannya sudah cukup jelas dari buku nikah kami."
Beberapa tamu benar-benar tertawa kali ini.
Vanessa melangkah mendekat. "Jangan terlalu bangga. Perempuan sepertimu biasanya hanya menarik bagi laki-laki kaya karena terlihat berbeda. Setelah bosan, mereka kembali kepada orang yang setara."
"Perempuan sepertiku? Dokter yang bekerja untuk membayar hidupnya sendiri?"
"Anak toko yang kebetulan mendapat gelar."
"Dan kau?" Kayla bertanya tenang. "Anak konglomerat yang kebetulan lahir di rumah besar?"
Vanessa tersentak.
"Kelahiran bukan prestasi," lanjut Kayla. "Jadi aku tidak malu pada tempatku dibesarkan, dan kau seharusnya tidak terlalu bangga pada sesuatu yang tidak kau usahakan sendiri."
Ruangan di sekitar mereka senyap.
Selina yang berdiri beberapa langkah jauhnya menahan napas. Bukan hanya wajah Kayla yang terasa dikenal. Cara perempuan muda itu menolak dipermalukan membuat dadanya dipenuhi kebanggaan yang tidak berhak ia rasakan.
Reyner menatap adik angkatnya. "Vanya, cukup."
"Ko Reyner membelanya?"
"Aku menyuruhmu berhenti mempermalukan diri sendiri."
Vanessa berbalik kepadanya, dan gerakan itu membuat minuman di gelasnya tumpah ke bagian depan gaunnya sendiri.
Tawa yang tadi ditahan pecah dari beberapa arah.
Vanessa memucat.
Kayla mengambil tisu dari meja dan mengulurkannya. "Hati-hati. Noda seperti itu lebih sulit dihilangkan kalau dibiarkan terlalu lama."
Memberikan bantuan setelah menang membuat penghinaan terasa dua kali lebih tajam.
Vanessa menepis tisu itu. "Tidak perlu berpura-pura baik."
"Aku dokter. Refleksku memang membantu orang dalam keadaan buruk."
Adrian tiba di sisi Kayla sebelum Vanessa menemukan jawaban. Ia melihat noda di gaun Vanessa, para tamu yang mengerumun, lalu wajah istrinya yang tetap tenang.
"Ada masalah?"
"Tidak ada," jawab Kayla.
"Istrimu tidak mengerti aturan di lingkungan ini," kata Vanessa.
Adrian meletakkan satu tangan di pinggang Kayla dan menariknya setengah langkah lebih dekat. Gerakannya tenang, tetapi cukup jelas untuk dilihat semua orang.
"Kalau aturan lingkungan ini mengizinkan orang menghina istriku karena pekerjaan orang tuanya, berarti aturannya yang buruk."
"Adrian, aku hanya memperingatkan dia."
"Kau tidak punya posisi untuk memperingatkan istriku."
Wajah Vanessa kehilangan warna.
Adrian mengambil tisu yang ditolak tadi dan meletakkannya di meja. "Bersihkan gaunmu. Setelah itu minta maaf kepada Kayla atau tinggalkan acara."
"Kau mengusirku di depan semua orang?"
"Aku memberimu pilihan."
Winston akhirnya maju. "Vanessa, minta maaf."
"Papa!"
"Sekarang."
Vanessa menatap satu per satu wajah keluarganya. Tidak ada yang membelanya. Bahkan Selina berdiri lebih dekat kepada Kayla daripada kepadanya.
"Maaf kalau perkataanku menyinggung," katanya kaku.
"Itu bukan permintaan maaf," kata Reyner.
"Sudah cukup," Kayla memotong. "Aku tidak membutuhkan kata-kata yang tidak sungguh-sungguh."
Ia tidak ingin Vanessa menjadi pusat malamnya lebih lama.
Perempuan donor yang tadi berbicara dengan Kayla mendekat. "Dokter, saya ingin melanjutkan diskusi soal monitor portabel. Duduk dengan kami."
Kayla mengangguk. Adrian tetap berjalan di sisinya, telapak tangannya masih hangat di pinggang sampai mereka meninggalkan kerumunan.
"Aku bisa menanganinya," bisik Kayla.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa ikut campur?"
"Karena kau istriku. Kemampuanmu melawan tidak menghapus hakku berdiri di sebelahmu."
Kayla tidak menemukan jawaban cepat untuk itu.
Mereka meninggalkan gala setelah sesi donasi selesai. Di lobi, Selina sempat menghentikan Kayla.
"Kau tidak perlu malu pada Bekasi," katanya. "Kau menangani semuanya dengan sangat baik."
"Terima kasih, Tante."
Selina ingin mengatakan lebih banyak, tetapi Winston sudah memanggilnya. Ia hanya menggenggam tangan Kayla sesaat sebelum pergi.
Hangatnya sentuhan itu tertinggal lebih lama daripada seharusnya.
Di kursi belakang mobil, Adrian menunggu sampai hotel hilang dari pandangan sebelum bertanya, "Apa ucapan Vanessa menyakitimu?"
"Tidak sampai membuatku ingin menangis kalau itu yang kau khawatirkan."
"Aku tidak bertanya apakah kau menangis."
Kayla memandang lampu kota di balik jendela. "Aku sudah sering mendengar orang merendahkan toko Papa. Biasanya aku membiarkannya. Malam ini berbeda karena semua orang menunggu aku malu."
"Kau membuat Vanessa yang malu."
"Aku tahu." Senyum kecil muncul di wajah Kayla. "Bagian itu cukup menyenangkan."
Adrian ikut tersenyum tipis. "Jadwalku ke Denpasar punya waktu singgah satu malam. Kau libur dua hari, kan? Ikutlah."
"Kau menghafal jadwal jagaku?"
"Jadwalnya ada di papan dapur."
"Itu alasan yang terdengar terlalu siap."
"Aku hanya menawarkan perjalanan pendek. Kau belum pernah melihatku bekerja, dan setelah itu kita bisa makan malam di Bali sebelum kembali."
Kayla hendak mengatakan mereka belum sampai pada tahap liburan berdua. Namun bayangan seragam kapten, Bali setelah hujan, dan satu malam jauh dari dua keluarga yang terus mengejar terdengar menggoda.
"Baik," katanya. "Tapi aku membeli tiketku sendiri."
"Tiketnya sudah dipesan."
"Adrian."
"Kau bisa membayar makan malam."
Di dalam mobil, ponsel kerja Adrian berdering. Nama petugas dispatch Angkasa Timur muncul di layar.
"Kapten Adrian, ada perubahan jadwal," kata suara di seberang. "Dua hari lagi Anda ditugaskan untuk penerbangan Jakarta–Denpasar. Prakiraan menunjukkan potensi konveksi kuat menjelang waktu turun."
Adrian membuka berkas cuaca yang baru masuk. Garis merah dan kuning menutupi jalur menuju Bali.
"Saya terima. Kirim pembaruan setiap enam jam."
Ia menutup telepon.
Kayla melihat peta cuaca di layarnya. "Akan berbahaya?"
"Belum tentu. Tapi cuaca bisa berubah cepat."
Adrian menggenggam ponsel sedikit lebih erat.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Kayla akan berada di dalam pesawat yang ia terbangkan.