NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Ancaman yang Datang Mengetuk Pintu

"Kami dari kepolisian. Buka pintunya."

Alexander Wijaya tidak langsung bergerak.

Ia berdiri di tengah kamar kos yang sempit, handuk masih tergantung di bahu, rambutnya setengah basah. Di meja lipat, dokumen "Kronologi Restoran" baru saja selesai dicadangkan. Ponselnya masih menyala, menampilkan folder bukti Anthony Wongso.

Ketukan kedua datang lebih keras.

"Pak Alexander Wijaya?"

Kali ini ada nada tidak sabar.

Alexander mengambil Lencana Advokat Herman Wijaya dari meja, memasukkannya ke saku bagian dalam, lalu merapikan kaus polosnya. Ia tidak memakai jas. Tidak perlu. Orang yang datang pagi-pagi bersama polisi biasanya ingin melihatnya panik, bukan rapi.

Ia membuka pintu.

Dua pria berdiri di lorong. Yang pertama mengenakan kemeja cokelat muda dengan kartu identitas kepolisian tergantung di dada. Yang kedua lebih muda, memegang map tipis dan ponsel. Di belakang mereka, Anthony Wongso berdiri dengan wajah pucat yang sudah dipaksa kembali sombong.

Beberapa penghuni kos membuka pintu sedikit. Sepasang mata muncul dari celah-celah kayu. Lorong yang biasanya hanya berbau sabun murah dan kopi sachet mendadak menjadi kaku dan sunyi.

"Alexander Wijaya?" tanya polisi pertama.

"Benar. Boleh saya lihat surat tugas dan dasar kedatangan Bapak?"

Pertanyaan itu membuat polisi muda mengangkat alis.

Anthony menyeringai. "Baru juga dibuka, sudah sok prosedural."

Alexander menatapnya sekilas. "Justru karena dibuka, prosedur harus jelas."

Polisi pertama mengeluarkan surat tugas. "Saya dari Unit Reskrim Polres Kota Cahaya. Ada laporan dugaan pemerasan dan pengancaman. Saudara Anthony Wongso melapor bahwa Anda meminta uang dengan ancaman membuka urusan pribadinya."

Bisik-bisik langsung meledak kecil di lorong.

"Pemerasan?"

"Pengacara itu?"

"Kemarin malam kayaknya pulang basah kuyup..."

Alexander membaca surat tugas itu sampai selesai. Nomor surat. Nama petugas. Tanggal. Ia mencatat semuanya dalam kepala, lalu mengembalikan dengan dua tangan.

"Terima kasih, Pak. Apakah ini undangan klarifikasi atau penangkapan?"

Polisi muda mendengus. "Banyak tanya sekali. Kalau tidak salah, ikut saja."

Alexander mengalihkan pandangan kepadanya. "Kalau Bapak datang untuk klarifikasi, saya kooperatif. Kalau penangkapan, saya berhak tahu surat perintah dan dasar bukti permulaannya. Itu bukan banyak tanya. Itu hukum acara."

Lorong mendadak lebih sunyi.

Anthony melangkah maju. "Jangan main kata-kata. Kau mengancam Priscilla. Kau bilang akan mempermalukan kami kalau tidak dibayar."

"Kapan?"

"Kemarin malam."

"Jam berapa?"

Anthony berhenti sepersekian detik. "Sekitar pukul sembilan."

Alexander mengangguk pelan. "Menarik. Pukul sembilan lewat dua belas menit, saya sedang berdiri di depan meja restoran, memotret cek yang kamu letakkan sendiri. Pukul sembilan lewat lima belas, manajer restoran menyatakan akan mengamankan CCTV. Pukul sembilan lewat dua puluh, saya sudah keluar. Ancaman yang mana?"

Anthony mengeluarkan ponsel. "Ini."

Ia memutar rekaman pendek.

Suara Alexander terdengar dari speaker, datar tetapi kasar karena potongan audio yang tidak utuh.

"...kalau tidak mau semua orang tahu... bayar... jangan salahkan aku..."

Beberapa penghuni kos menahan napas.

Polisi muda memandang Alexander dengan ekspresi seolah kasus sudah selesai. "Nah. Itu suara Anda, kan?"

Alexander tidak menjawab cepat. Ia mendengarkan gema rekaman itu dalam ingatannya. Ada jeda yang terlalu bersih setelah kata "bayar". Ada desis ruangan yang berubah mendadak sebelum frasa "jangan salahkan aku".

Di sudut pandangannya, panel biru berkedip.

Pengumpulan Bukti aktif.

Objek: rekaman audio pendek.

Indikasi: potongan multi-sumber; latar suara tidak konsisten; jeda digital pada detik 03 dan 07; konteks kalimat hilang.

Alexander mengangkat tangan. "Pak, boleh diputar sekali lagi?"

Anthony tertawa. "Mau cari alasan?"

"Saya mau mendengar bukti yang katanya membuat polisi datang ke kos saya pagi-pagi."

Polisi pertama menatap Anthony. "Putar lagi."

Rekaman itu diputar.

Kali ini Alexander menutup mata. Ia tidak mengandalkan telinga saja. Ia mengingat percakapan telepon lama dengan Priscilla, beberapa minggu sebelum putus. Saat itu Priscilla meminta uang untuk membeli hadiah ulang tahun temannya, dan Alexander menolak karena harus membayar SPP Nathan. Ia ingat kalimatnya.

Kalau uang kos dan SPP belum aman, aku tidak bisa bayar. Jangan salahkan aku kalau bulan ini aku harus menolak.

Kalimatnya dipotong.

Kata "semua orang tahu" berasal dari percakapan lain, saat Priscilla takut hubungan mereka diketahui teman-teman elitnya.

Anthony menggabungkannya.

Rapi, tetapi tidak cukup rapi.

Alexander membuka mata. "Rekaman ini hasil edit."

Anthony langsung membentak, "Fitnah lagi?"

"Bukan fitnah. Analisis awal." Alexander menatap polisi pertama. "Pak, pada detik ketiga ada perubahan noise latar. Sebelum kata 'bayar', suara ruangan lebih kosong, seperti panggilan di kamar. Setelahnya muncul gema restoran atau ruangan luas. Lalu di detik ketujuh, sebelum frasa 'jangan salahkan aku', ada jeda digital sangat pendek. Kalau Bapak kirim ke forensik digital, potongannya akan terlihat."

Polisi muda mengernyit, tetapi wajahnya tidak lagi seyakin tadi.

Anthony menunjuknya. "Kau bukan ahli forensik."

"Betul. Karena itu saya minta diperiksa oleh ahli, bukan dipercaya begitu saja." Alexander mengambil ponselnya dan menampilkan foto cek dari restoran. "Sebagai tambahan, semalam Saudara Anthony menyerahkan cek bermasalah kepada saya di tempat umum. Saya menolak dan mendokumentasikan. Ada CCTV, saksi tamu, dan manajer restoran. Laporan pemerasan yang dibuat pagi ini muncul setelah saya membongkar cek itu."

Polisi pertama mengambil ponsel Alexander, melihat foto tanpa menyentuh layar terlalu lama. Sikapnya berubah sedikit. Ia tetap kaku, tetapi tidak lagi meremehkan.

"Anda punya kronologi tertulis?"

"Ada. Sudah saya buat sebelum Bapak datang."

Anthony menegang.

Alexander masuk sebentar, mengambil satu lembar cetak dari meja. Ia memang belum sempat mencetak banyak, tetapi printer kecil milik penghuni kos sebelah semalam dipakainya setelah membayar beberapa ribu rupiah. Kertas itu masih hangat ketika ia menaruhnya di map plastik.

"Ini kronologi awal. Salinan digital sudah dicadangkan. Saya bersedia datang ke Polres untuk klarifikasi, dengan catatan rekaman Saudara Anthony diamankan sebagai barang bukti dan tidak hanya disimpan di ponsel pribadinya."

Polisi muda membuka mulut, tetapi polisi pertama mengangkat tangan.

"Cukup." Ia menatap Alexander lebih lama. "Saudara akan kami undang klarifikasi. Tidak perlu dibawa paksa sekarang. Tapi jangan meninggalkan Kota Cahaya."

"Saya tidak berniat lari, Pak."

Anthony tidak bisa menahan diri. "Pak, dia memutarbalikkan fakta! Kalau dibiarkan, dia akan menghilangkan bukti."

Alexander menatapnya. "Bukti yang mana? Rekaman editan di ponselmu, atau cek yang semalam kamu minta aku terima?"

Wajah Anthony memerah.

Di lorong, seorang ibu kos yang sejak tadi mengintip berbisik cukup keras, "Kalau benar tidak salah, kenapa takut CCTV?"

Kalimat sederhana itu menusuk lebih tajam daripada argumen panjang.

Anthony menoleh, tetapi tidak berani membentak orang tua itu di depan polisi.

Polisi pertama memasukkan kronologi Alexander ke map. "Kami akan hubungi Anda lagi hari ini."

"Baik, Pak."

Sebelum pergi, polisi muda masih sempat menatap kamar kos Alexander. Meja lipat, kipas tua, kasur tipis, jas hitam yang menggantung di paku.

"Pengacara tinggal di sini?" gumamnya, tidak cukup pelan.

Alexander mendengarnya.

Ia tersenyum tipis. "Untuk sementara."

Dua kata itu membuat polisi muda diam. Entah mengapa, ia merasa orang di depannya tidak sedang membela keadaan miskinnya. Ia sedang menandai titik awal.

Anthony pergi terakhir. Ketika melewati Alexander, ia berbisik, "Kau akan menyesal."

Alexander menjawab tanpa menoleh, "Simpan kalimat itu untuk BAP."

Pintu kos ditutup.

Baru setelah lorong kembali sepi, Alexander membiarkan napasnya keluar. Tekanan pertama sudah datang, tetapi belum pecah. Anthony memakai polisi sebagai palu, dan palu itu untuk sementara tertahan oleh prosedur.

Panel Status muncul.

Ting! Ancaman hukum formal terkonfirmasi.

Misi lanjutan aktif: Bersihkan nama dari laporan pemerasan palsu.

Tujuan: buktikan rekaman diedit, kunci sumber cek bermasalah, dan balikkan status dari terlapor menjadi pelapor.

Hadiah: progres skill Pengumpulan Bukti dan Argumentasi Hukum.

Alexander menatap misi itu lama.

"Baik," katanya. "Kita main sesuai hukum."

Malam harinya, jauh dari kos Alexander, Herlina Halim duduk sendirian di ruang tamu rumah kecil keluarga Wijaya. Lampu dinding menyala redup. Di atas meja, ada foto lama yang warnanya mulai pudar.

Herman Wijaya berdiri dalam foto itu, lebih muda, mengenakan kemeja putih dan senyum yang tenang. Di sampingnya, Herlina yang masih muda memeluk bayi Alexander.

Jari Herlina menyentuh wajah Herman di foto.

"Anakmu mulai mirip kamu," bisiknya.

Di laci meja, sebuah amplop tua terselip di bawah kain. Herlina membukanya setengah, memperlihatkan sudut dokumen yang sudah menguning. Ada nama Herman di sana. Ada cap institusi. Ada satu tanggal yang selama bertahun-tahun ia coba lupakan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Alexander masuk.

Bu, aku baik-baik saja. Kalau ada orang tanya soal aku, jangan panik. Aku sedang menangani masalah kecil.

Herlina membaca pesan itu, tetapi bukannya tenang, matanya justru berkaca-kaca.

Masalah kecil.

Herman dulu juga selalu menyebut badai sebagai masalah kecil.

Herlina menutup amplop itu lagi. Tangannya ragu di atas laci, seolah ingin mengunci masa lalu kembali, tetapi sesuatu di wajah Alexander dalam foto membuatnya tidak sanggup.

"Belum waktunya, Alex," bisiknya. "Tapi mungkin... sebentar lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!