Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.
Raka masih memegang buku catatan Bram.
Matanya terpaku pada satu nama.
Irma Mahendra.
Ibunya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Raka percaya ibunya adalah korban yang paling terpukul setelah kematian ayahnya.
Dia melihat sendiri bagaimana perempuan itu kehilangan suaminya.
Bagaimana ibunya membesarkannya seorang diri.
Bagaimana setiap kali nama ayahnya disebut, mata ibunya selalu berkaca-kaca.
Bagaimana ibunya selalu mengatakan satu hal yang sama:
“Ayahmu meninggal karena kecelakaan.”
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Alya berdiri di samping Raka.
“Raka…”
“Jangan.”
Alya diam.
“Saya perlu membaca ini lagi.”
Raka membuka halaman tersebut.
Nama itu tetap sama.
Irma Mahendra.
Tidak berubah.
Tidak salah baca.
Tidak mungkin kebetulan.
Reza mengambil buku itu.
“Saya juga tidak percaya ketika pertama kali melihatnya.”
Raka menatapnya tajam.
“Kamu sudah tahu?”
“Baru malam sebelum saya menemui kalian.”
“Kenapa tidak langsung bilang?”
“Karena saya juga ingin memastikan.”
Raka berdiri.
“Kita ke rumah ibu saya.”
SATU JAM KEMUDIAN
Rumah Irma masih sama.
Tenang.
Rapi.
Tidak banyak berubah sejak Raka kecil.
Ketika Raka datang bersama Alya, ibunya langsung menyambut.
“Kamu pulang malam sekali.”
Raka tidak menjawab.
Irma memperhatikan wajah anaknya.
“Ada apa?”
Raka masuk.
Alya dan Reza menunggu di luar.
Irma menatap Reza.
“Kenapa dia ikut?”
Raka menutup pintu.
“Ibu.”
Nada suaranya berbeda.
Irma langsung menyadarinya.
“Apa?”
Raka meletakkan buku catatan Bram di atas meja.
Wajah Irma berubah ketika melihatnya.
Dia tidak menyentuh buku itu.
Tidak perlu.
Dia sudah tahu apa isinya.
Raka melihat perubahan itu.
“Ibu tahu.”
Irma duduk perlahan.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Jadi benar?”
Irma menutup mata.
“Raka…”
“Jawab saya.”
Hening.
Kemudian Irma berkata,
“Ya.”
Raka seperti kehilangan tenaga.
“Kenapa?”
Air mata mulai mengalir di wajah Irma.
“Karena waktu itu saya tidak punya pilihan.”
“Pilihan untuk apa?”
“Untuk melindungi kamu.”
Raka tertawa pahit.
“Semua orang selalu mengatakan itu.”
Irma menatapnya.
“Karena memang itu kenyataannya.”
DUA PULUH LIMA TAHUN LALU
Irma akhirnya menceritakan semuanya.
Aditya, ayah Raka, memang menemukan penggelapan uang perusahaan.
Dimas terlibat.
Bram mengetahui sebagian.
Surya menjadi perantara.
Tetapi ada satu orang lain yang berada di balik semuanya.
Bukan Irma.
Melainkan seseorang yang memiliki kekuasaan lebih besar di perusahaan.
Komisaris utama saat itu.
Namanya Leonard Wijaya.
Leonard adalah salah satu investor terbesar Mahendra Group.
Dia memiliki pengaruh besar terhadap dewan.
Dimas bekerja untuknya.
Ketika Aditya menemukan penggelapan dana, Leonard memerintahkan Dimas untuk menghentikan penyelidikan.
Namun Aditya menolak.
Malam sebelum kecelakaan, Aditya menemui Bram.
Bram awalnya ingin membantu.
Tetapi Leonard mengetahui rencana mereka.
“Lalu kecelakaan itu?”
Irma mengangguk.
“Bukan kecelakaan biasa.”
Raka mengepalkan tangan.
“Siapa yang melakukannya?”
“Dimas yang mengatur kendaraan.”
Raka terdiam.
“Tapi perintahnya dari Leonard.”
Alya yang mendengar dari luar bersama Reza langsung menatap Reza.
Semua potongan akhirnya mulai tersusun.
Dimas adalah pelaksana.
Leonard adalah otaknya.
Bram mengetahui sebagian.
Surya mengetahui aliran uang.
Dan Irma—
Irma mengetahui semuanya setelah kejadian.
“Kenapa Ibu tidak melaporkannya?”
Irma menangis.
“Karena Leonard mengancam kamu.”
Raka membeku.
“Dia tahu kamu adalah satu-satunya kelemahan ayahmu.”
“Dia bilang kalau saya bicara, kamu akan menjadi target berikutnya.”
Raka menatap ibunya.
“Jadi Ibu diam selama dua puluh lima tahun?”
“Ya.”
“Dan membiarkan saya percaya ayah meninggal karena kecelakaan?”
“Saya ingin kamu hidup.”
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya kemarahannya runtuh.
Dia bukan sedang berbicara dengan pengkhianat.
Dia sedang berbicara dengan seorang ibu yang selama dua puluh lima tahun hidup dengan ketakutan.
SATU PERTANYAAN TERAKHIR
Raka duduk di depan ibunya.
“Leonard masih hidup?”
Irma mengangguk.
“Masih.”
“Di mana?”
“Singapura.”
Alya langsung memahami.
“Perusahaan asing itu.”
Irma menatap Alya.
“Ya.”
“Perusahaan yang menerima uang?”
Irma mengangguk.
“Perusahaan milik Leonard.”
Raka berdiri.
“Berarti dia masih mengendalikan semuanya.”
Irma menatap anaknya.
“Dia tidak pernah berhenti.”
“Dan Reza?”
Irma menatap ke arah pintu.
“Reza tidak tahu semuanya.”
Reza masuk.
“Sekarang saya tahu.”
Irma menatapnya.
“Maaf.”
Reza terdiam.
“Selama bertahun-tahun saya menyalahkan keluarga Mahendra.”
Raka berkata,
“Saya juga.”
Keduanya saling menatap.
Untuk pertama kalinya, tidak ada permusuhan.
Hanya kesadaran bahwa mereka berdua telah dimanipulasi oleh orang yang sama.
KEESOKAN PAGI
Raka mengambil keputusan.
Tidak ada lagi penyelidikan diam-diam.
Tidak ada lagi mengejar petunjuk satu per satu.
Mereka menyerahkan seluruh bukti kepada pengacara dan auditor independen.
Bukti transaksi.
Rekaman.
Surat Aditya.
Catatan Bram.
Kesaksian Irma.
Data perusahaan asing.
Semuanya.
Dalam waktu kurang dari satu hari, dewan menerima laporan lengkap.
Dan hasilnya jelas.
Leonard Wijaya adalah pihak yang mengendalikan jaringan penggelapan dana.
Dimas menjadi kaki tangannya.
Arkana Capital digunakan untuk mengakumulasi saham.
Reza tidak terlibat dalam penggelapan.
Dia hanya membeli saham menggunakan informasi yang diperolehnya dari keluarganya.
Kini semuanya berubah.
PUKUL 15.00
Rapat darurat dewan digelar.
Reza hadir.
Raka hadir.
Alya berada di belakang bersama tim hukum.
Dimas tidak datang.
Namun Leonard hadir melalui video conference.
Wajahnya tenang.
“Ini tuduhan yang sangat serius.”
Raka menatap layar.
“Karena buktinya juga serius.”
Leonard tersenyum.
“Kamu percaya surat tua dan rekaman yang tidak lengkap?”
Raka menjawab,
“Tidak.”
Dia meletakkan dokumen.
“Saya percaya audit.”
Layar menampilkan aliran dana.
“Dana perusahaan dipindahkan ke beberapa perusahaan perantara.”
Layar berikutnya.
“Dana kemudian digunakan untuk membeli saham Mahendra Group.”
Layar berikutnya.
“Dan sebagian besar perusahaan tersebut terhubung dengan Anda.”
Leonard diam.
Raka melanjutkan,
“Dua puluh lima tahun lalu, ayah saya menemukan transaksi tersebut.”
Leonard masih diam.
“Dia meninggal beberapa jam setelah bertemu Dimas.”
Tidak ada respons.
Raka menatap layar.
“Sekarang saya tahu siapa yang memberi perintah.”
Leonard akhirnya tersenyum.
“Kamu sudah dewasa.”
Raka mengerutkan kening.
“Apa?”
“Dulu ayahmu terlalu percaya pada orang.”
Leonard bersandar.
“Kamu berbeda.”
“Jadi Anda mengaku?”
Leonard tidak menjawab.
Namun kalimat berikutnya cukup.
“Buktikan.”
Rapat berakhir.
Tim hukum langsung bergerak.
DUA MINGGU KEMUDIAN
Kasus tersebut masuk proses hukum.
Dimas berhasil ditemukan.
Beberapa asetnya dibekukan.
Investigasi terhadap Leonard dimulai di dua negara.
Mahendra Group tidak jadi diambil alih.
Reza menarik proposal pengambilalihan.
Sebaliknya, dia mengembalikan sebagian saham yang sebelumnya dibeli melalui struktur yang dipermasalahkan.
Rapat pemegang saham menghasilkan keputusan baru.
Raka tetap menjadi Direktur Utama.
Namun kali ini dengan struktur tata kelola yang jauh lebih transparan.
Tidak ada lagi rahasia.
Tidak ada lagi kekuasaan yang terlalu besar pada satu orang.
Raka keluar dari ruang rapat.
Alya menunggu di lorong.
“Sudah selesai?”
Raka mengangguk.
“Untuk sekarang.”
Alya tersenyum.
“Berarti kita menang?”
Raka mendekat.
“Kita berhasil.”
Alya menghela napas lega.
“Bagus.”
Raka menatapnya.
“Sekarang tinggal satu masalah.”
“Apa?”
“Kamu.”
Alya mengerutkan kening.
“Saya kenapa?”
Raka tersenyum.
“Kamu pernah berjanji.”
“Janji apa?”
“Kalau semua ini selesai…”
Dia berhenti.
“Kita makan malam.”
Alya tertawa.
“Cuma makan malam?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Raka menatapnya.
“Saya ingin mengajakmu berkencan.”
Alya terdiam.
“Sebagai apa?”
Raka tersenyum.
“Sebagai Raka.”
Alya tertawa.
“Bukan direktur?”
“Bukan.”
“Bukan bos?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Laki-laki yang mencintaimu.”
Alya tersenyum.
“Kalau begitu saya mau.”
MALAM
Restoran kecil di tepi pantai.
Tidak mewah.
Tidak ada meja khusus.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada pembicaraan perusahaan.
Raka duduk berhadapan dengan Alya.
Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar berkencan.
Alya memandangnya.
“Aneh.”
“Apa?”
“Kita sudah melewati begitu banyak hal.”
“Dan?”
“Padahal dulu kita cuma bertengkar.”
Raka tertawa.
“Kamu memang menyebalkan.”
Alya langsung menunjuknya.
“Nah! Mulai lagi.”
Raka tertawa.
Alya ikut tertawa.
Kemudian suasana menjadi tenang.
Raka menggenggam tangannya di atas meja.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena tidak pergi ketika semuanya menjadi sulit.”
Alya tersenyum.
“Bukankah saya sudah bilang?”
“Apa?”
“Kalau kita menghadapi masalah, kita hadapi bersama.”
Raka mengangguk.
“Dan saya baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Dulu saya pikir saya kehilangan sesuatu ketika kamu tidak lagi bertengkar dengan saya.”
Alya tersenyum.
“Sekarang?”
“Sekarang saya tahu.”
“Apa?”
“Saya tidak membutuhkan pertengkaran itu.”
Raka menggenggam tangannya lebih erat.
“Saya hanya membutuhkan kamu.”
Alya tersenyum.
“Berarti saya boleh berhenti mengomel?”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Saya sudah terbiasa.”
Alya tertawa.
“Dasar.”
TIGA BULAN KEMUDIAN
Hubungan mereka sudah diketahui keluarga dan beberapa orang terdekat.
Alya tetap bekerja sebagai Executive Office Manager.
Tidak lagi menjadi bawahan langsung Raka.
Raka tetap memimpin perusahaan.
Namun kali ini ada aturan yang jelas.
Tidak ada perlakuan khusus.
Tidak ada keputusan yang dibuat karena hubungan pribadi.
Dan justru karena itu—
hubungan mereka menjadi jauh lebih sehat.
Suatu sore, Alya masuk ke ruang Raka membawa dokumen.
“Pak.”
Raka menatapnya.
“Sekarang kamu masih panggil saya Pak?”
“Di kantor.”
“Bagus.”
Alya meletakkan dokumen.
“Ini harus ditandatangani.”
Raka membacanya.
Kemudian berkata,
“Tidak setuju.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Angkanya terlalu besar.”
“Bapak sendiri yang minta.”
“Saya berubah pikiran.”
Alya menatapnya tajam.
“Jangan mulai.”
Raka tersenyum.
“Nah.”
“Apa?”
“Ini yang saya rindukan.”
Alya memutar mata.
“Kita baru ketemu tadi pagi.”
“Bukan itu.”
Raka berdiri.
“Pertengkaran kecil kita.”
Alya tertawa.
“Jadi sekarang Bapak sadar?”
“Ya.”
“Apa?”
“Kadang yang kita kira mengganggu justru menjadi bagian yang paling kita rindukan ketika tidak ada.”
Alya terdiam.
Kalimat itu mengingatkannya pada masa lalu.
Dulu Raka merasa ada sesuatu yang hilang ketika Alya berhenti bertengkar dengannya.
Sekarang mereka tidak perlu kehilangan apa pun untuk memahami nilainya.
EPILOG SEMENTARA — ENAM BULAN KEMUDIAN
Sore itu Raka berdiri di depan rumah Alya.
Dia membawa sebuah kotak kecil.
Alya keluar.
“Ada apa?”
Raka menyerahkannya.
Alya membuka.
Di dalamnya ada sebuah cincin sederhana.
Alya langsung menatap Raka.
“Ini apa?”
Raka tersenyum.
“Bukan lamaran.”
Alya menghela napas lega sekaligus kecewa.
“Lalu?”
“Janji.”
“Janji apa?”
“Bahwa kali ini saya tidak akan membiarkan pekerjaan menentukan hubungan kita.”
Alya menatap cincin itu.
“Dan?”
“Dan saya ingin suatu hari nanti, kalau kamu sudah siap…”
Raka berhenti.
“Saya ingin kamu menjadi bagian dari hidup saya bukan hanya sebagai seseorang yang saya cintai.”
Alya tersenyum.
“Lalu sebagai apa?”
Raka menjawab,
“Sebagai keluarga.”
Mata Alya berkaca-kaca.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius, Alya tersenyum.
“Kalau saya bilang belum siap?”
Raka mengangguk.
“Saya tunggu.”
“Kalau lama?”
“Saya tunggu.”
“Kalau saya menyebalkan?”
Raka tertawa.
“Itu sudah saya tahu sejak hari pertama.”
Alya memukul lengannya pelan.
Mereka tertawa bersama.
Dan untuk pertama kalinya, kisah mereka tidak lagi tentang seorang bos dan asistennya.
Bukan tentang rahasia.
Bukan tentang perebutan perusahaan.
Bukan tentang masa lalu keluarga.
Melainkan tentang dua orang yang pernah bertemu dalam keadaan yang salah—
kemudian memilih untuk memperbaiki keadaan itu bersama-sama.
Karena ternyata cinta mereka tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi nyata.
Dan mungkin, justru karena mereka pernah hampir kehilangan satu sama lain, mereka akhirnya tahu satu hal yang paling penting:
cinta bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan.
Cinta adalah tentang siapa yang tetap memilih tinggal setelah semua alasan untuk pergi sudah habis.