Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11: Merawat Visha yang Sakit Demam
Ketika hubungan mereka sudah membaik selama beberapa waktu. Visha berinisiatif gantian mengajak Azka pergi ke tempat-tempat bersejarah yang pernah menjadi saksi kisah cinta mereka.
Mereka berangkat ketika weekend.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah taman kecil, tersembunyi di sudut kota. Tempat yang dulu kerap mereka kunjungi saat masih dalam masa-masa manis bermesraan.
Taman itu tak banyak berubah. Pohon-pohon masih berdiri teduh, rumput tumbuh liar namun tak mengganggu dan di tengahnya ada bangku kayu tua berdiri kokoh meski kelihatan rapuh. Walau catnya telah memudar dan beberapa bagian mulai lapuk dimakan waktu, bangku tetap utuh, seperti menolak runtuh, sama seperti kenangan yang pernah mereka ukir di sana.
Azka menatap sejenak, lalu melirik Visha di sisinya. Tak perlu kata-kata, keduanya tahu, tempat ini menjadi saksi dari tawa yang pernah mengisi hari-hari mereka.
“Kamu masih ingat? Dulu kita sering duduk di sana,” tanya Visha mengenang masa lalu.
“Iya, aku ingat. Waktu itu kamu hampir selalu membawa segelas kopi aroma jiwa kalau duduk di situ,” jawabnya.
Namun Visha kemudian menyinggung mengenai sosok dalam kenangan tersebut. “Tapi kamu ingatnya bukan aku ya? Sesilia?” tanyanya pelan.
Dengan kondisi ingatan sudah pulih, sebenarnya Azka mengingat Visha secara utuh. Melihat ini merupakan momen yang tepat, Azka kemudian memberitahu fakta sebenarnya bahwa ia telah sembuh.
“Visha, aku mau kasih tahu sesuatu,” ujar Azka serius.
Sambil menggenggam tangannya, ia menjelaskan apa adanya, “Aku sudah ingat kamu. Tidak ada lagi Sesilia.”
Mulut Visha seketika terbuka lebar. Ia merasa sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Azka. Ia masih tidak percaya tapi juga senang karena harapan selama ini telah terwujud.
Visha langsung memeluk Azka dengan begitu erat. Air mata menetes sendirinya.
“Azka! Kamu sudah ingat aku?” ucapnya sambil menangis tersedu.
***
Kini langkah mereka terhenti di sebuah bukit kecil di pinggir kota. Tempat yang tak pernah benar-benar ramai, tapi selalu terasa istimewa. Dari atas sini, angkasa terlihat lebih luas, dan angin membawa bau khas tanah serta dedaunan yang belum tersentuh kekacauan dunia.
Di kawasan inilah, langit senja yang dulu memerah perlahan, Azka pernah berlutut untuk pertama kalinya. Tanpa cincin mewah atau kata-kata puitis berlebihan, tapi lewat ketulusan yang tak bisa dibandingkan. Di bukit ini, ia melamar Visha, bukan untuk diumumkan ke dunia, tapi sekedar disampaikan lebih dulu kepada hati yang paling ia sayangi.
Sebelum prosesi resmi disaksikan oleh keluarga dan kerabat, mendahului janji-janji di hadapan orang banyak. Semuanya dimulai dari sini. Di sebuah gundukan tanah berumput yang diam-diam menyimpan awal dari sebuah perjalanan panjang.
Azka melirik ke arah Visha, berdiri di sampingnya dengan senyum samar. Mata mereka saling bertemu dan seolah tak butuh kalimat, mereka tahu kenangan di tempat ini akan selalu hangat, hidup dan masih bermakna.
Sekilas Visha terlihat sangat jauh berbeda. Ia tampak gembira. Senyuman tidak pernah lepas dari raut wajahnya.
Mereka mengenang detail proses lamaran.
Duduk berdua di atas tikar yang memang sudah dipersiapkan. Azka beralibi ingin mengajak Visha untuk piknik.
Visha membawa bekal makan di beberapa kotak serta sejumlah snack ringan. Di sela kegiatan itu, tiba-tiba saja Azka mengeluarkan cincin dari saku.
Ia kemudian mengeluarkan kata-kata yang umum diucapkan pria kepada pasangannya.
“Will you marry me, Visha Aurelia?” ucap Azka kala itu.
Tentu saja Visha mengiyakan.
Peristiwa berlanjut ke jenjang pernikahan dan hingga saat ini.
Namun yang mereka tidak sadari ketika sedang terbawa suasana dalam kenangan. Langit mulai berubah gelap.
Hujan pun turun sangat tiba-tiba. Deras sekali. Mereka berlari cepat menuju mobil, tapi sia-sia karena sekujur tubuh mereka telah basah.
Setelah sampai di dalam mobil, mereka langsung mengeluarkan handphone mereka dari kantong. Berharap agar tidak terlalu basah.
Tapi selanjutnya, mereka saling tatap.
“Apakah kamu memikirkan sama dengan apa yang aku pikirkan?” tanya Azka.
Visha hanya mengangkat kedua alisnya.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka keluar dari mobil seperti dua anak kecil sepakat melakukan hal gila. Dalam sekejap, mereka melompat keluar, membiarkan tubuh diterpa hujan yang turun deras tanpa ampun.
Tetesan air membasahi rambut, wajah dan pakaian mereka, namun tak satupun dari keduanya mengeluh. Justru di bawah langit kelabu, di tengah guyuran air mengalir deras dari langit, tawa mereka pecah tanpa henti.
Azka mengejar Visha yang berlari kecil di antara genangan air, sedangkan Visha membalas dengan senyum lebar nyaris tak pernah terlihat selama ini. Dunia seakan mengecil menjadi hanya mereka berdua di tengah hujan terus mengguyur.
Pada saat bersamaan, semua luka, keraguan dan duka yang pernah mereka simpan terasa seperti hanyut bersama air membasahi bumi. Hujan bukan lagi sekedar fenomena cuaca, melainkan menjadi penghapus meluruhkan semua beban hingga menyisakan hal paling murni, yaitu cinta sejati.
***
Keesokan paginya, hari minggu.
Azka terbangun dari tidur. Ia melihat Visha masih berada di sebelahnya, belum bangun.
Ia kemudian mengambil handphone dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia mulai merasa heran karena tidak seperti biasanya.
“Visha, bangun, sudah jam delapan,” kata Azka pelan.
Istrinya tidak merespon.
Tak kunjung digubris, ia mulai menggoyangkan tubuh Visha. “Hei, bangun dong cantik.”
Seketika itu juga, Azka baru mengetahui kalau kulit Visha terasa panas. Ia demam tinggi.
Azka bangkit dari tidurnya, lalu duduk. Ia memegang dahi dan leher Visha, juga terasa panas. Ia beranjak dari ranjang, menuju dapur mengambil sebuah baskom dan handuk kecil.
Setelah memeras beberapa kali, Azka meletakkan handuk ke atas dahi Visha yang masih belum tersadar. Ia kemudian mencari obat demam dalam sebuah kotak menempel di dinding kamar.
Ia kembali ke dapur untuk membawa segelas air putih. Begitu Azka masuk ke dalam kamar, ia membangunkan Visha.
“Visha, bangun dulu, minum obat,” bisiknya pelan, membantunya duduk bersandar di ujung ranjang.
Dengan setengah sadar, Visha membuka mata. Posisinya sekarang ia sudah terduduk agar bisa minum obat. Tak lupa, ia juga memberikan segelas air putih yang sudah disiapkan.
Sehabis meminum obatnya, Visha masih sempat memikirkan Azka.
“Kamu sudah sarapan?” tanyanya.
Azka meminta agar Visha tidak perlu khawatir, “Kamu fokus istirahat saja, aku bisa order sarapan sekalian beli bubur untuk kamu.”
“Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu,” ucap Visha merasa bersalah.
“Kamu ini bicara apa. Aku kan suamimu. Kalau aku sakit, kamu rawat aku, begitu juga sebaliknya,” jawab Azka membuat Visha bahagia karena merasa diperhatikan.
Dengan wajah pucat, Visha mengucapkan rasa terima kasih kepada Azka. “Aku bersyukur sekali, punya suami sebaik kamu,” ujarnya.
Azka hanya merespon dengan senyuman karena sekarang ia sedang memesan bubur ayam di aplikasi online untuk mereka berdua.
“Kamu buburnya tanpa santan ya?” tanya Azka meski sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.
Dua puluh menit kemudian, bubur ayam datang. Azka memutuskan tidak masuk kantor hari ini.
Kini Azka duduk di samping Visha, membawa semangkuk bubur hangat yang aroma rempahnya memenuhi ruangan. Ia meniup sendok perlahan, memastikan suhu tak terlalu panas, sebelum menyuapkan ke mulut Visha dengan penuh kehati-hatian.
Gerakannya tenang, mata tak lepas memandangi wajah perempuan yang kini tampak lebih lemah dari biasa. Azka tidak hanya menyuapi istrinya, ia sedang merawat, menjaga dan mencintai dalam bentuk paling sederhana, namun justru paling nyata.
Di momen itu, ia tak lagi menjadi Azka. Ia menjelma sebagai seorang suami yang sepenuhnya hadir dengan sigap, hati yang sabar penuh kasih, terasa dalam setiap sendok ia ulurkan.
Visha menatapnya lekat, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Mungkin tidak banyak yang bisa ia katakan sekarang, tapi di lubuk hatinya, ia merasa dicintai dengan cara paling spesial.
“Terima kasih ya,” kata Visha pelan.
Selepas makan, Azka kembali merebahkan tubuhnya, memberikan kompres ke dahi Visha dan mengganti setiap beberapa menit.
Hingga malam hari, Azka masih berada di dekat Visha. Ia selalu siaga memberikan makan, obat dan membopong Visha ketika ingin buang air.
Berkat ketelatenan Azka, kesehatan Visha terlihat mulai membaik. Sekarang Visha sudah bisa duduk dan berbincang meski masih dengan suara seraknya.