Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Pak Kades Turun Tangan
Pak Waluyo sudah menunggu di beranda ketika rombongan tiba.
Entah siapa yang berlari lebih dahulu untuk melapor, beberapa kursi plastik telah disusun di depan rumah kepala desa. Bu Sri berdiri di pintu, sedangkan Melati mengamati dari balik jendela.
“Ada apa ramai-ramai begini?” tanya Pak Waluyo.
Bu Marni mendahului semua orang. “Ucok dipukul hanya karena mengambil nasi, Pak Kades. Keluarga Reksonegoro selalu merasa paling benar.”
“Tidak dipukul,” kata Laras.
Arya meletakkan baskom berisi empat bungkus rusak di atas meja. Sekar menyerahkan catatan pesanan. Ucok masih memegang tulang ayam yang telah bersih.
Pak Waluyo melihat benda-benda itu, lalu berdeham. “Kita ini tetangga. Masalah anak sebaiknya tidak dibesar-besarkan. Keluarga Pak Guntur juga baru tinggal di sini, tentu perlu menyesuaikan diri.”
Laras memahami arah kalimat itu. Pendatang diminta mengalah agar warga lama tidak kehilangan muka.
“Kami bersedia menyesuaikan diri,” katanya. “Namun sebelum berdamai, bukankah kita harus tahu siapa yang merusak dan siapa yang dirugikan?”
“Anak kecil tidak mengerti untung rugi.”
“Karena itu orang tuanya yang mengajari.”
Bu Marni memukul sandaran kursi. “Dengar cara dia menggurui saya!”
Pak Waluyo mengangkat tangan. “Sudah. Laras, mungkin kamu ganti saja pesanan itu. Bu Marni, nanti nasihati Ucok. Selesai.”
“Pesanannya sudah kami ganti,” jawab Laras. “Yang belum selesai adalah tuduhan bahwa Sekar memukul dan kami membiarkan anak kelaparan.”
Arya berdiri di samping istrinya. “Kami tidak meminta perlakuan khusus. Kami meminta fakta dicatat dengan benar.”
Suara lelaki itu rendah, tetapi Pak Waluyo memperbaiki posisi duduknya.
“Baik. Siapa yang melihat dari awal?”
Bu Sari mengangkat tangan. “Saya melihat Ucok mengambil dua bungkus. Sekar hanya menahan tangannya setelah meja ditendang.”
Seorang pemesan ikut maju. “Empat bungkus itu memang pesanan kami. Mereka sudah menggantinya dengan telur supaya tidak terlambat.”
“Ucok, betul kamu menendang meja?” tanya Pak Waluyo.
Anak itu menunduk. Bu Marni mencubit pelan punggungnya dari belakang.
“Tidak,” katanya.
Laras menunjuk sisa ayam di tangannya. “Lalu itu dari mana?”
Ucok refleks menyembunyikan tangan. Seorang anak lain di tepi kerumunan berseru, “Aku lihat dia buang ayam pertama karena kecil!”
Orang-orang tertawa pendek. Wajah Bu Marni memerah.
Ningsih datang bersama Jarwo. Ia berjalan melewati kerumunan dan melihat isi baskom.
“Ucok pernah mengambil pisang goreng di rumah saya tanpa izin,” katanya. “Waktu saya mengadu, Mbak Marni juga bilang namanya anak-anak.”
“Kamu adik iparku atau musuhku?” bentak Bu Marni.
“Saya keluarga yang tidak suka anak dibiasakan mengambil milik orang.”
Bu Sri hendak menegur Ningsih, tetapi Jarwo berdiri di samping istrinya. Ia tidak banyak bicara. Sikap itu sudah cukup.
Pak Waluyo mengusap wajah. Kini terlalu banyak saksi untuk diabaikan. “Ucok memang salah mengambil dan merusak makanan. Bu Marni harus menasihatinya.”
“Hanya itu?” tanya Arya.
Pak Waluyo menatapnya. “Apa lagi?”
“Ada lima pesanan yang rusak. Ada tuduhan memukul di depan seluruh kampung. Kerugian diganti dan tuduhan ditarik.”
“Kalian sudah mengganti pesanannya sendiri.”
“Karena pelanggan tidak seharusnya menanggung keterlambatan akibat masalah keluarga lain.” Laras membuka catatan. “Biaya lima porsi dua puluh lima ribu rupiah. Kami tidak menagih tenaga memasak ulang.”
Jumlah itu membuat orang-orang berbisik. Tidak besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Laras tidak mencari keuntungan.
Pak Waluyo akhirnya mengangguk. “Bu Marni, ganti dua puluh lima ribu. Ucok minta maaf kepada Sekar dan Bu Laras. Kamu juga tarik ucapan soal pemukulan.”
“Dan bagaimana kalau anak itu mengulanginya?” tanya Bu Sari.
Pak Waluyo tampak tidak senang karena keputusan sederhana itu terus diperjelas, tetapi semua mata menunggunya.
“Kalau terulang, orang tuanya tetap mengganti kerugian dan saya panggil lagi,” katanya. “Ucok tidak boleh masuk halaman orang tanpa izin.”
Laras mengangguk. Batas itu penting. Permintaan maaf tanpa perubahan hanya akan menjadi pertunjukan yang sama pada hari berbeda.
Rukmini yang sejak tadi diam kemudian berkata, “Kami juga akan menegur anak keluarga kami kalau mereka salah. Aturan yang sama cukup untuk semua.”
Kalimatnya membuat beberapa warga kembali mengangguk. Mereka tidak meminta keistimewaan, hanya ukuran yang tidak berubah menurut nama keluarga.
“Pak Kades!”
“Saksinya jelas.”
Bu Marni memandang sekeliling, mencari dukungan. Tidak seorang pun maju. Bahkan suaminya berdiri paling belakang, pura-pura sibuk dengan rokok.
Dengan gerakan kasar, ia mengeluarkan uang dari dompet kain dan meletakkannya di meja.
“Maaf,” gumamnya.
“Yang jelas,” kata Ningsih.
Bu Marni menatap tajam, lalu memaksa Ucok berdiri di depannya.
“Maaf sudah mengambil nasi dan menendang meja,” kata Ucok cepat.
Bu Marni mengatupkan gigi. “Saya tarik ucapan bahwa mereka memukul Ucok.”
Laras mengambil uang itu, menghitungnya di depan saksi, lalu mencatat penggantian di bawah daftar pesanan. Tidak ada penghinaan tambahan. Tidak ada kemenangan yang ia pamerkan.
“Masalah selesai kalau tidak diulangi,” katanya.
Bu Marni menarik anaknya pergi. Kerabat yang tadi datang untuk menambah suara ikut bubar tanpa menoleh.
Pak Waluyo menghela napas lega. “Nah, begini lebih baik. Kita semua tetap rukun.”
Arya belum bergerak. Ia menghadap warga yang tersisa.
“Kami datang ke Girimulyo untuk hidup tenang,” katanya. “Kami ikut kerja bakti, antre air, membayar sewa, dan menghormati aturan. Kami tidak mencari masalah.”
Tatapannya menyapu kerumunan.
“Namun istri saya sedang hamil. Ibu dan adik saya bukan sasaran yang boleh ditekan hanya karena keluarga kami sedang kesulitan. Kalau ada masalah, bawa fakta. Jangan sentuh mereka dan jangan membuat fitnah.”
Tidak ada ancaman kekerasan. Justru karena disampaikan tenang, peringatannya terasa lebih tegas.
Beberapa lelaki mengangguk. Bu Sari berkata pelan bahwa keluarga Reksonegoro memang selalu membayar tepat waktu. Pemesan nasi menambahkan bahwa makan siang mereka tetap tiba sesuai janji.
Nama keluarga yang semula hanya dibicarakan sebagai pejabat jatuh mulai disandingkan dengan hal lain: tertib, bekerja, dan tidak mudah diinjak.
Dalam perjalanan pulang, Ningsih menyusul Laras.
“Besok datanglah ke rumahku,” katanya. “Aku sudah selesai membuat contoh baju hamil. Sekalian kita hitung pesanan jahit berikutnya.”
Laras tersenyum. “Terima kasih sudah bicara tadi.”
“Aku tidak membelamu. Aku membela yang benar.”
“Itu sebabnya aku berterima kasih.”
Ningsih tertawa dan berbelok bersama Jarwo.
Arya berjalan lebih lambat agar Laras tidak kelelahan. Ketika rumah mereka terlihat, ia baru membuka telapak tangannya. Ada bekas kuku pada kulit, tanda ia menahan amarah sepanjang pertemuan.
Laras menggenggam tangan itu. “Sudah selesai.”
“Untuk hari ini.”
Di belakang mereka, Pak Waluyo masih berdiri di beranda. Bu Sri berbisik sesuatu di telinganya, lalu keduanya melirik ke arah jendela tempat Melati tadi mengamati.
Laras tidak mendengar percakapan mereka.
Namun ia tahu, orang yang dipaksa berlaku adil belum tentu berubah menjadi orang yang adil.