NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:21
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001 - Terlahir Kembali

Arga Bayu Pratama tersentak bangun dan langsung meraba bahu kirinya.

Tidak ada luka.

Padahal sedetik lalu, gigi Zombie Tingkat 8 sudah merobek dagingnya, dan suara tua berjubah putih masih bergema di kepalanya.

"Kau masih belum cukup kuat."

Arga menyambar ponsel di meja. Layar retak itu menampilkan tanggal yang membuat napasnya berhenti.

10 November 2040.

09.03.

Ia kembali.

Besok malam, 11 November, pukul 23.11, hujan pertama akan menenggelamkan Semarang. Tiga hari setelah itu, Hujan Api. Lalu Hujan Zombie. Setelah itu, manusia yang masih percaya pada aturan lama akan mati lebih dulu.

Arga tidak membuang waktu untuk panik. Enam tahun kiamat sudah membakar semua kebiasaan bodoh itu dari dirinya.

Ia membuka laci, memasukkan KTP, kartu ATM, uang tunai, pisau lipat, dan buku catatan ke ransel. Tubuhnya masih tubuh biasa, belum menjadi Evolver, tapi ia punya hal yang lebih mahal daripada otot.

Ia tahu masa depan.

Dari halaman bawah, suara ibu kos terdengar.

"Anak kamar atas itu belum bayar listrik tambahan..."

Lalu kalimat lain menusuk langsung ke kepala Arga.

Dasar bekas tentara miskin. Badan saja besar, duit pas-pasan. Kalau akhir bulan ini belum bayar, kusuruh pergi.

Arga berhenti.

Kalimat itu tidak keluar dari mulut siapa pun.

Telepati.

Nama kemampuan itu muncul dingin di benaknya. Ia memusatkan perhatian ke jalan depan gang. Seorang pengemudi ojek online melirik jam di ponsel.

Aduh, panas banget. Cepat keluar, Pak. Orderan berikutnya jauh.

Sudut bibir Arga terangkat tipis.

Jadi ini hadiahmu, Sang Tetua?

Ia turun dari kos. Ibu kos memasang senyum manis yang terlalu tipis.

"Mas Arga, mau keluar?"

"Ya, Bu."

Bayar listrik dulu, baru gaya jalan cepat begitu.

Arga melewatinya tanpa menoleh. Kalau dunia masih normal seminggu lagi, tagihan itu mungkin penting. Tapi dunia hanya punya kurang dari tiga puluh delapan jam sebelum semuanya runtuh.

Di pinggir jalan, ia memesan ojek online.

"Simpang Lima," kata Arga begitu duduk di jok belakang. "Hotel tertinggi di sana. Yang ada presidential suite."

Pengemudi itu meliriknya lewat kaca spion motor.

Orang aneh. Presidential suite? Paling juga cuma mau foto-foto di lobi.

Arga menutup mata. Pikiran kecil seperti itu tidak layak dibalas.

Tidak seorang pun di kota ini tahu bahwa besok malam air akan naik melewati pintu rumah mereka.

Arga tahu.

Dan kali ini, ia akan berdiri di tempat yang paling tinggi sebelum air datang.

Hotel yang dipilihnya berdiri di dekat pusat kota, lebih dari dua puluh lantai, dengan kaca biru gelap dan pintu putar yang berkilau. Lobi dingin oleh AC. Aroma pengharum ruangan mahal bercampur kopi dari lounge.

Begitu Arga masuk, dua staf keamanan memperhatikannya.

Salah satu dari mereka menilai sepatu Arga yang kusam.

Tamu? Kurir? Jangan-jangan salah masuk.

Arga berjalan lurus ke meja resepsionis.

Wanita muda di balik meja mengangkat wajah. Senyumnya rapi, terlatih, dan kosong.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

Di dalam kepalanya, suara lain muncul.

Aduh, jangan bilang mau tanya toilet. Dari bajunya saja kelihatan bukan tamu sini.

"Saya perlu presidential suite di lantai dua puluh satu," kata Arga. "Mulai hari ini. Minimal empat malam. Kalau bisa, opsi perpanjangan langsung disiapkan."

Senyum resepsionis itu hampir retak.

Presidential suite? Dia serius? Jangan-jangan mau bikin konten lalu kabur tanpa bayar.

"Untuk presidential suite, Pak, kami memerlukan deposit di awal," katanya tetap sopan. "Tarifnya cukup tinggi."

"Berapa?"

Resepsionis itu menyebut angka dengan nada yang dibuat hati-hati. Angka itu cukup untuk membuat sebagian besar orang menelan ludah.

Arga hanya membuka ransel, mengeluarkan amplop uang tunai, lalu meletakkannya di atas meja.

Suara lembaran uang menyentuh marmer terdengar kecil.

Tapi efeknya lebih keras daripada tamparan.

Mata resepsionis itu melebar sepersekian detik.

Uang tunai? Banyak sekali. Jadi dia benar-benar punya uang?

Senyumnya langsung berubah menjadi ramah, rapi, dan terlalu cepat.

"Baik, Pak Arga. Mohon KTP-nya. Kami akan segera proses. Apakah Bapak membutuhkan bantuan porter?"

Arga menyerahkan KTP.

"Tidak perlu."

"Untuk lantai dua puluh satu, presidential suite kami memiliki akses lift khusus, pintu utama reinforced door, smart lock, dan jendela panorama menghadap kota," jelas resepsionis itu, kini jauh lebih antusias. "Cocok untuk tamu yang membutuhkan privasi."

Privasi.

Arga hampir tertawa.

Dalam dua hari, kata itu akan berubah arti. Privasi berarti pintu yang cukup kuat untuk menahan orang lapar di luar.

"Pintu suite itu bisa dikunci manual dari dalam?" tanya Arga.

Resepsionis itu berkedip. "Bisa, Pak. Ada deadbolt tambahan."

"Akses tangga darurat?"

"Ada di ujung koridor, tapi hanya bisa dibuka dari dalam area lantai tamu dengan kartu."

"Kamera koridor aktif?"

"Aktif, Pak."

Terlalu detail. Orang ini mau menginap atau mau merampok hotel?

Arga membaca pikiran itu dan tetap datar.

"Bagus," katanya.

Proses administrasi selesai dalam beberapa menit. Resepsionis itu menyerahkan kartu akses hitam dengan kedua tangan.

"Selamat menikmati masa menginap Anda, Pak Arga."

Sekarang percaya, kan?

Arga mengambil kartu itu. "Simpan nomor saya. Setelah saya masuk kamar, saya akan butuh bantuan untuk menghubungi pemasok barang."

"Tentu, Pak. Barang seperti apa?"

"Nanti saya beri daftar."

Lift khusus membawanya naik. Angka lantai bergerak satu demi satu. Sepuluh. Lima belas. Dua puluh. Dua puluh satu.

Pintu terbuka ke koridor sepi berkarpet tebal. Lampu kuning hangat menuntun ke pintu besar di ujung lorong.

Arga menempelkan kartu.

Bip.

Pintu presidential suite terbuka.

Ruangan itu luas, terlalu luas untuk satu orang. Sofa besar, meja makan, kamar tidur terpisah, dapur kecil, kamar mandi dengan bathtub, dan jendela kaca dari lantai ke plafon yang menghadap Semarang.

Di kehidupan sebelumnya, Arga pernah melewati hotel ini setelah banjir surut. Lantai bawahnya penuh mayat mengambang. Tangga daruratnya bau busuk. Lantai dua puluh menjadi garis kematian. Orang-orang yang naik terlambat berkelahi di sana sampai darah bercampur air.

Lantai dua puluh satu tetap kering.

Itulah alasan ia memilih tempat ini.

Arga berjalan ke jendela. Dari sini, kota terlihat kecil. Mobil-mobil bergerak seperti mainan. Manusia di trotoar tidak lebih dari titik-titik gelap. Mereka sibuk dengan rapat, cicilan, pacar, makan siang, pesan masuk, dan hal remeh lain yang besok akan lenyap nilainya.

Ia menempelkan telapak tangan ke kaca.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia merangkak di kota ini seperti anjing selama enam tahun.

Mencuri sisa makanan. Menukar darah dengan Kristal. Tidur sambil memegang pisau karena orang hidup sering kali lebih berbahaya daripada Zombie.

Kali ini berbeda.

Kali ini ia berdiri di tempat yang tinggi sebelum air datang.

Kali ini ia tahu siapa yang akan menjadi kuat, di mana Airdrop Box pertama jatuh, kapan Hujan Api berhenti, dan berapa banyak Kristal yang dibutuhkan untuk menjadi Evolver Tingkat 1.

Kali ini ia bahkan bisa mendengar niat busuk orang sebelum mereka membuka mulut.

Ponselnya bergetar. Pesan dari pihak hotel masuk, menanyakan kebutuhan tambahan.

Arga melihat tanggal sekali lagi.

10 November 2040.

Kurang dari tiga puluh delapan jam menuju kiamat.

Ia mengangkat telepon kamar. Suara resepsionis terdengar dari seberang, kini manis dan penuh hormat.

"Resepsionis. Ada yang bisa kami bantu, Pak Arga?"

Arga memandang kota di bawah sana. Matanya tenang, tapi di dalam ketenangan itu ada sesuatu yang jauh lebih tajam daripada ketakutan.

"Hubungi pasar grosir terbesar yang kalian kenal," katanya tanpa menoleh. "Saya mau membeli barang. Banyak barang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!