Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tarian Pertama yang Membosankan
Angin laut bertiup perlahan, membawa buih air asin yang terhempas di batu karang hitam.
Madara duduk melipat kaki di atas puncak karang tertinggi. Posisinya cukup tinggi untuk memandang seluruh garis pantai dan lautan luas yang membentang tanpa batas. Rambut hitam panjangnya berkibar mengikuti arah angin. Armor merah di dadanya telah mengering, meninggalkan garis-garis tipis bekas garam laut.
Dia memejamkan mata. Fokusnya terpusat pada bagian dalam tubuhnya.
Madara mencoba mengalirkan energi melalui jalur chakra di dalam tubuhnya. Dia menelusuri setiap titik tenketsu yang ada. Hasilnya tetap sama. Aliran energi itu terasa sangat sempit. Seperti sebuah sungai agung yang dipaksa mengalir melalui celah batu kecil.
'Sangat memuaskan untuk mengetahui bahwa tubuh ini setidaknya masih bisa mengalirkan chakra,' batinnya.
Namun, kapasitasnya sangat jauh dari kata ideal. Aliran ini hanya setingkat Jonin biasa. Tidak ada chakra Ekor Sepuluh. Tidak ada energi Enam Jalur. Bahkan untuk merapal satu jutsu skala besar saja, chakranya akan langsung habis.
Madara membuka matanya. Iris hitamnya menatap lurus ke horizon.
Dunia ini penuh dengan keanehan. Udara yang dia hirup terasa sangat berbeda. Tidak ada jejak chakra dari shinobi lain di sekitar tempat ini. Tidak ada aura hangat milik Hashirama. Tidak ada chakra petir milik Tobirama. Hanya ada kehampaan yang diisi oleh aroma air asin dan suara ombak.
Namun, dia merasakan sesuatu yang lain. Ada energi asing yang terikat pada setiap benda hidup di tempat ini. Energi yang tidak menggunakan chakra sebagai perantara.
'Apakah ini jenis kekuatan yang berbeda?' tanya Madara dalam hati.
Pikirannya terputus ketika matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Sebuah titik hitam muncul di garis pertemuan antara laut dan langit. Titik itu perlahan membesar seiring berjalannya waktu. Gelombang laut membawa objek itu semakin mendekat ke arah pantai tempat Madara berada.
Itu adalah sebuah kapal layar.
Kapal itu memiliki tiga tiang utama dengan layar kain yang terkoyak di beberapa bagian. Kayu pelapis dindingnya terlihat lapuk dan berwarna gelap. Di puncak tiang tertinggi, sebuah bendera hitam berkibar kasar. Gambar tengkorak manusia dengan dua tulang bersilang dan taring yang tergores kasar terlukis di atas kain bendera tersebut.
Madara tidak mengalihkan pandangannya. Dia memperhatikan pergerakan kapal itu dengan tenang.
Langkah kaki para awak kapal terdengar tidak beraturan dari jarak jauh. Suara teriakan kasar dan tawa yang sumbang mulai terdengar menembus deru ombak. Kapal itu menurunkan jangkar di perairan yang dangkal, beberapa puluh meter dari garis pantai.
Sebuah perahu kayu kecil diturunkan ke air. Sekitar dua puluh orang melompat masuk ke dalam perahu tersebut, mendayung dengan tergesa-gesa menuju daratan.
Madara tetap duduk di atas batu karang. Dia tidak bergerak sedikit pun. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Perahu kayu itu menabrak pasir pantai. Para penderetanya melompat keluar, membiarkan air laut basah menyiram sepatu boot mereka yang kotor. Mereka membawa berbagai jenis senjata di tangan mereka. Pedang besi dengan bilah melengkung, tombak berkarat, dan senjata api berlaras pendek yang terbuat dari kayu dan besi tebal.
Seorang pria gemuk berjalan di depan rombongan tersebut. Pria itu mengenakan mantel berlapis bulu yang sudah kusam. Perutnya yang besar menyembul dari balik kemeja yang tidak dikancingkan. Saat dia menyeringai, beberapa gigi emas di dalam mulutnya memantulkan cahaya matahari.
“Cari air bersih dan kayu kering!” teriak pria gemuk itu dengan suara serak. “Kita tidak punya banyak waktu sebelum kapal Angkatan Laut melihat keberadaan kita!”
“Siap, Kapten!” sahut para anak buahnya serentak.
Mereka mulai menyebar di sepanjang garis pantai. Namun, langkah salah satu dari mereka terhenti saat pandangannya tertuju ke arah puncak batu karang hitam.
“Kapten! Lihat ke atas sana!” teriak pria kurus bermata satu sambil menunjuk ke arah Madara.
Pria gemuk yang dipanggil Kapten itu menoleh. Seluruh rombongan bajak laut bertaring berkarat itu kini menghentikan aktivitas mereka. Dua puluh pasang mata mendongak, menatap pemuda yang duduk tenang di atas batu karang.
Kapten bajak laut itu melangkah mendekat ke dasar batu karang. Dia memperhatikan penampilan Madara dari bawah ke atas. Pemuda berambut hitam panjang, mengenakan pelindung dada berwarna merah terang yang terlihat kokoh, dan celana hitam berkualitas tinggi.
Seringai lebar kembali menghiasi wajah pria gemuk itu. Gigi emasnya terlihat makin jelas.
“Oho? Apa yang kita miliki di sini?” Kapten itu tertawa terkekeh. “Seorang bocah bangsawan yang terdampar? Atau anak kaya yang melarikan diri dari rumahnya?”
Para anak buahnya ikut tertawa. Suara tawa mereka terdengar bising di pantai yang tenang itu.
“Lihat armor merah yang dipakainya, Kapten!” seru salah satu anak buahnya dengan wajah penuh keserakahan. “Bahan itu terlihat sangat mahal! Kita bisa menjualnya dengan harga tinggi di pasar gelap!”
“Bajunya juga terlihat bagus! Serahkan pada kami, Kapten!”
Kapten bajak laut itu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya diam. Dia melangkah makin dekat hingga berdiri di bawah batu karang Madara. Tangannya mengusap dagunya yang dipenuhi janggut kusam.
“Hei, Bocah!” teriak sang Kapten. “Kau dengar itu? Jika kau tidak ingin dijadikan umpan hiu di laut ini, turunlah sekarang! Serahkan armor merahmu, pakaianmu, dan semua barang berharga yang kau miliki!”
Madara masih tidak bergerak. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia menatap rombongan manusia di bawahnya dari ketinggian.
Dia tidak menjawab. Dia bahkan tidak mengubah posisi duduknya.
Kapten bajak laut itu menaikkan salah satu alisnya. Wajahnya berubah menjadi muram saat melihat respons dingin dari pemuda di atasnya. Rasa hormat dan ketakutan adalah hal yang biasa dia dapatkan dari orang biasa, tetapi pemuda ini menatapnya seolah-olah dia sedang melihat tumpukan batu di pinggir jalan.
“Kau tuli, Bocah?” bisik Kapten itu kasar. “Atau kau terlalu takut hingga tidak bisa bicara?”
Madara menghela napas pelan. Udara keluar dari hidungnya dengan sangat lambat.
Dia mulai mengamati postur tubuh orang-orang di bawahnya. Otot-otot mereka tegang tanpa arah. Cara mereka memegang senjata sangat amatir. Pusat gravitasi tubuh mereka goyah saat berdiri di atas pasir yang tidak rata.
'Langkah kaki mereka berat. Napas mereka tidak teratur. Tidak ada niat membunuh yang murni, hanya keserakahan kotor,' batin Madara.
Tidak ada aura berbahaya dari mereka. Tidak ada konsentrasi energi yang mengindikasikan bahwa mereka adalah petarung sejati. Mereka hanyalah sekumpulan sampah yang berkumpul karena rasa lapar dan keserakahan.
Madara menyandarkan dagunya pada telapak tangan kanannya. Siku tangannya bertumpu di atas lutut. Tatapannya menjadi makin dingin.
Sikap acuh tak acuh itu membuat Kapten bajak laut hilang kesabaran. Wajahnya memerah karena marah. Dia menarik sebuah pistol flintlock dari balik sabuk kulitnya yang tebal. Laras besi pistol itu diarahkan tepat ke kepala Madara.
“Aku tidak suka membuang waktu, Bocah!” bentak Kapten itu. “Turun dalam hitungan tiga, atau aku akan melubangi kepalamu!”
“Satu!”
Madara tidak bergeming.
“Dua!”
Anak buah bajak laut di sekitarnya mulai bersorak, menyemangati Kapten mereka untuk menarik pelatuk.
“Tiga!”
Ledakan kecil terdengar dari mekanisme pemantik pistol. Asap hitam menyembur dari laras besi bersamaan dengan percikan api. Sebuah peluru timah padat meluncur deras membelah udara, mengarah lurus ke titik di antara kedua mata Madara.
Kecepatan peluru itu sangat lambat di mata Madara.
Dia tidak perlu melompat. Dia tidak perlu menggunakan jutsu penjelajah ruang.
Saat peluru timah itu berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, Madara hanya miringkan kepalanya sedikit ke arah kanan. Gerakannya sangat tipis. Sangat efisien.
Peluru itu lewat begitu saja di samping telinganya. Angin tipis bekas lintasan peluru menyapu beberapa helai rambut hitamnya. Peluru timah itu menabrak permukaan batu karang di belakang Madara, meninggalkan bekas goresan kecil dan percikan batu sebelum jatuh ke pasir.
Suara sorakan para bajak laut terhenti secara mendadak.
Asap dari laras pistol perlahan memudar di udara. Kapten bajak laut itu tetap mempertahankan posisinya, menatap ke arah puncak batu karang dengan mata terbelalak. Dia melihat pemuda itu masih duduk di posisi yang sama. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Pemuda itu bahkan tidak berkedip.
“M-Meleset?” gumam sang Kapten tidak percaya. Dia menatap laras pistolnya sendiri, lalu menatap kembali ke arah Madara. “Bagaimana bisa dari jarak sedekat ini?”
Madara perlahan menurunkan tangannya dari dagu. Dia menunduk, menatap langsung ke arah mata sang Kapten.
Iris mata hitam Madara mulai berubah.
Warna hitam pekat di matanya luntur, berganti dengan warna merah darah yang menyala terang. Di sekitar pupil matanya, tiga tanda koma hitam muncul dan berputar secara perlahan sebelum berhenti di posisi simetris.
Sharingan Tensei. Tiga Tomoe.
Persepsi Madara terhadap dunia di sekitarnya berubah seketika. Setiap pergerakan angin, setiap butiran pasir yang terbang, dan setiap detak jantung dari dua puluh orang di bawahnya terekam secara sempurna di dalam matanya. Dia bisa melihat aliran darah yang terburu-buru di leher para bajak laut itu. Dia bisa memprediksi ke mana arah pergerakan otot mereka sebelum mereka sempat melangkah.
Madara berdiri dari duduknya.
Dalam hitungan milidetik, keberadaannya di atas puncak batu karang hitam itu menghilang.
Dia tidak menggunakan Shunshin no Jutsu. Dia tidak menguras chakranya yang terbatas. Itu murni dorongan kekuatan fisik dari otot kakinya yang terlatih selama puluhan tahun di medan perang.
Para bajak laut bahkan tidak sempat melihat Madara melompat.
Suara dentuman keras terdengar di tengah-tengah rombongan mereka. Pasir pantai menyembur ke udara ketika tubuh Madara mendarat dengan mulus di tanah. Angin hempasan dari pendaratannya membuat mantel para bajak laut berkibar kasar.
“Di-Di mana dia?!” teriak seorang bajak laut dengan panik.
“Di tengah-tengah kita!”
Sebelum bajak laut di sebelahnya sempat memutar tubuh, Madara sudah bergerak.
Tarian Taijutsu khas Uchiha dimulai.
Madara melangkah ke depan. Gerakannya meluncur seperti bayangan di atas pasir. Dia menyusup ke dalam jarak tembak seorang bajak laut yang memegang tombak. Tanpa membuang energi, tangan kanan Madara menyambar bagian tengah gagang tombak tersebut, memutarnya dengan cepat, dan mendorong ujung kayu yang tumpul tepat ke rahang pemiliknya.
Suara retakan tulang terdengar nyaring. Bajak laut itu terangkat ke udara sebelum terhempas keras ke pasir, pingsan seketika dengan rahang yang bergeser.
Tanpa menghentikan momentumnya, Madara memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Kaki kirinya melayang ke atas, melakukan tendangan tumit melingkar yang menghantam rusuk bajak laut kedua.
Suara patahan tulang rusuk terdengar jelas. Pria itu memuntahkan udara dari paru-parunya dan roboh sambil memegangi dadanya yang retak.
“Tembak dia! Bunuh bocah ini!” teriak seorang bajak laut bermata satu sambil mengarahkan senapan laras panjangnya.
Tiga orang bajak laut menarik pelatuk senapan mereka secara bersamaan.
Mata merah Sharingan Madara berputar pelan. Lintasan peluru terlihat sangat jelas di matanya. Madara memiringkan tubuhnya ke kiri, membiarkan dua peluru melewatinya begitu saja. Peluru ketiga dia tangkap menggunakan sela-sela jari tangan kirinya yang dilapisi sedikit chakra.
Tanpa ragu, Madara melemparkan kembali peluru timah itu menggunakan jentikan jarinya.
Peluru itu meluncur balik dengan kecepatan yang memecah udara, menghantam lutut bajak laut bermata satu. Pria itu menjerit histeris saat tempurung lututnya hancur, membuatnya langsung berlutut di atas pasir.
“Sialan! Dia monster!”
Dua orang bajak laut maju bersamaan, mengayunkan pedang melengkung mereka ke arah leher dan pinggang Madara dari dua sisi yang berbeda.
Madara tidak menarik pedangnya sendiri. Menggunakan senjata buatan orang-orang ini adalah sebuah penghinaan bagi ilmu pedang klan Uchiha.
Dia membiarkan kedua bilah pedang itu mendekat. Saat jaraknya tinggal beberapa sentimeter dari kulitnya, Madara menurunkan pusat gravitasinya. Dia menekuk lututnya, merendahkan tubuh hingga kedua bilah pedang besi itu hanya menebas udara kosong di atas kepalanya.
Dari posisi rendah, Madara mendorong kedua telapak tangannya ke atas. Pukulan telapak tangan ganda menghantam dada kedua bajak laut tersebut dengan presisi yang mematikan.
Tulang dada mereka retak seketika. Tekanan dari pukulan Madara menghentikan aliran udara di paru-paru mereka, melempar tubuh mereka sejauh beberapa meter ke belakang sebelum mendarat tidak berdaya di tepi air laut.
Serangan demi serangan terjadi tanpa ada satu pun gerakan yang terbuang.
Madara menari di antara sisa-sisa bajak laut yang mulai panik. Dia melangkah, memutar, dan mengeksekusi setiap gerakan Taijutsu dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap pukulan, setiap tendangan, dan setiap tangkisan selalu diakhiri dengan suara tulang yang patah atau jeritan kesakitan.
Dia tidak menggunakan Ninjutsu. Dia tidak membakar mereka dengan Katon. Chakranya terlalu berharga untuk dibuang pada makhluk-makhluk lemah ini.
Madara juga tidak membunuh mereka. Bukan karena rasa iba atau belas kasih. Bagi Madara, mencabut nyawa orang-orang yang bahkan tidak bisa menyentuh ujung pakaiannya adalah sebuah pemborosan tenaga. Menghentikan kemampuan bertarung mereka dengan mematahkan persendian adalah cara paling efisien untuk mengakhiri gangguan ini.
Seorang pria bertubuh tinggi mencoba menyerang Madara dari belakang dengan pisau belati.
Madara bahkan tidak menoleh. Mata Sharingan di belakang kepalanya seolah-olah bisa melihat pergerakan tersebut. Saat pisau itu diayunkan turun, Madara menggeser kaki kanannya ke belakang, menangkap pergelangan tangan pria itu, dan memutarnya ke arah yang berlawanan dengan arah sendi.
Suara retakan yang keras terdengar bersamaan dengan jeritan melengking pria itu. Madara mengakhiri gerakan itu dengan tendangan samping ke arah lutut musuhnya, mematahkan kaki pria itu sepenuhnya.
Dalam waktu kurang dari dua menit, pantai yang tadinya bising oleh tawa para bajak laut kini dipenuhi oleh erangan kesakitan.
Delapan belas orang terkapar di atas pasir. Ada yang memegangi tangannya yang bengkok ke arah yang salah, ada yang pingsan dengan rahang hancur, dan ada yang meringkuk memegangi lutut mereka yang pecah. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berdiri kembali.
Darah membasahi pasir pantai di beberapa titik, tetapi tidak ada satu tetes pun darah yang menyentuh pakaian atau armor merah milik Madara.
Madara berdiri di tengah-tengah kehancuran itu. Dia menarik napas pelan, merapikan posisi pelindung dadanya yang sedikit bergeser. Tiga Tomoe di matanya perlahan memudar, kembali menjadi iris mata hitam pekat.
Dia menoleh ke arah satu-satunya orang yang masih berdiri.
Kapten bajak laut gemut itu gemetar hebat. Pistol di tangan kanannya sudah jatuh ke pasir sejak tadi. Kedua matanya terbelalak lebar, menatap anak buahnya yang dibantai dalam hitungan detik oleh seorang pemuda tunggal.
Napas sang Kapten terdengar berat dan patah-patah. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya, membasahi janggut kusam dan kemejanya. Gigi emas yang tadinya dipamerkan dengan bangga kini bergemelutuk keras karena rasa takut yang luar biasa.
Dia melihat Madara melangkah mendekat.
Setiap langkah kaki Madara di atas pasir terdengar seperti detak lonceng kematian di dalam kepala sang Kapten.
“M-Monster...” bisik Kapten itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Kau... kau ini monster apa?!”
Pria gemuk itu secara refleks menarik pedang besar dari pinggangnya dengan tangan yang gemetar. Dia mengayunkan pedang itu secara liar ke depan, mencoba menjaga jarak antara dirinya dan pemuda berambut hitam itu.
“Jangan mendekat! Jangan mendekat, Bajingan!” teriaknya histeris.
Madara terus melangkah maju. Dia tidak melambat. Dia tidak menghindar.
Saat bilah pedang besar itu terayun ke arah lehernya, Madara hanya mengangkat tangan kanannya. Dua jarinya—jari telunjuk dan jari tengah—menjepit bilah pedang besi itu tepat di tengah-tengah ayunan.
Gerakan pedang besar itu terhenti seketika. Seolah-olah menabrak dinding baja yang tak terlihat.
Kapten bajak laut itu menahan napas. Dia mencoba menarik pedangnya kembali dengan kedua tangan, menggunakan seluruh berat tubuhnya. Pedang besi itu tidak bergerak seilimeter pun dari jepitan dua jari Madara.
Madara memutar sedikit dua jarinya.
Suara nyaring besi patah terdengar di udara. Bilah pedang besar itu terputus menjadi dua bagian. Potongan besi yang terputus jatuh dan tertancap di pasir.
Sebelum Kapten itu sempat menyadari apa yang terjadi, Madara menggerakkan kaki kanannya. Sebuah tendangan lurus yang cepat menghantam bagian depan lutut pria gemuk itu.
Tempurung lutut sang Kapten hancur seketika.
Pria gemuk itu menjerit keras. Beban tubuhnya yang berat membuat kakinya yang patah tidak mampu menopang diri. Dia jatuh terjerembap ke depan, berlutut di atas pasir di depan Madara.
Madara melangkah ke depan. Dia mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya tepat di atas dada pria gemuk itu.
Dia memberikan sedikit dorongan. Tubuh tambun Kapten itu terhempas telentang ke pasir. Madara tetap mempertahankan kaki kanannya di atas dada pria itu, menginjaknya dengan tekanan yang cukup kuat hingga membuat sang Kapten kesulitan untuk bernapas.
Pasir basah menempel di muka dan pakaian mewah sang Kapten. Dia terengah-engah, matanya yang dipenuhi ketakutan menatap lurus ke arah wajah Madara yang berada di atasnya.
Madara menunduk. Pandangan matanya sedingin es di puncak gunung. Tidak ada rasa marah di sana. Tidak ada kebencian. Yang ada hanyalah kebosanan yang mendalam.
Angin laut kembali bertiup, mengibarkan rambut hitam panjang Madara dan ujung armor merahnya.
Madara menekankan telapak sepatunya lebih dalam ke dada pria itu. Suara retakan kecil terdengar dari tulang rusuk sang Kapten, membuatnya merintih kesakitan.
“Kau bahkan tidak layak melihat telapak sepatuku,” kata Madara. Suaranya tenang, datar, namun bergema dengan dominasi absolut yang membuat udara di sekitar mereka terasa makin berat.
Kapten bajak laut itu tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa menatap mata hitam pemuda itu sambil gemetar.
Madara membuang mukanya, menatap ke arah kapal layar yang berlabuh tidak jauh dari pantai. Kapal kayu lapuk yang kini tidak memiliki awak yang berguna.
Dia menghela napas pelan. Kebosanan di hatinya terasa makin menjadi-jadi. Dia telah mengharapkan sesuatu yang lebih dari pertarungan pertamanya di dunia ini. Dia membayangkan akan bertemu dengan petarung yang menggunakan kekuatan asing yang dia rasakan sebelumnya, atau setidaknya seseorang yang memiliki teknik bertarung yang layak untuk diamati.
Namun, apa yang baru saja dia lalui bahkan tidak bisa disebut sebagai pemanasan.
Madara kembali menatap pria di bawah kakinya.
“Jika ini adalah standar petarung di dunia ini...” bisik Madara pelan, kalimatnya dipenuhi oleh kekecewaan yang mendalam. “... betapa membosankannya.”
Dia menarik kakinya dari dada sang Kapten. Pria gemuk itu terbatuk-batuk keras, memegangi dadanya sambil menghirup udara dengan serakah.
Madara berbalik, tidak lagi memedulikan manusia-manusia yang terkapar di sekitarnya. Langkah kakinya membawa dirinya berjalan menyusuri pantai, meninggalkan jejak-jejak ketakutan di atas pasir basah yang perlahan terhapus oleh sapuan ombak laut.