NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JOE & ARTHUR

Sepuluh Tahun Lalu

Matahari mulai terbenam di ufuk barat saat mereka tiba di sebuah kawasan yang jauh dari keramaian kota. Perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya berakhir di depan sebuah rumah yang tampak sederhana, tidak terlalu besar, namun terawat dengan rapi dan tenang. Dikelilingi halaman luas yang dipenuhi pepohonan rindang, tempat yang seakan sengaja disembunyikan dari pandangan dunia luar. Jalan menuju ke sini sepi dan berkelok, jauh dari hiruk-pikuk kendaraan maupun suara orang-orang yang lewat. Udara di sini terasa sejuk dan bersih, jauh berbeda dengan suasana kota yang bising dan penuh bahaya yang baru saja mereka tinggalkan.

Lelaki tua yang mendampingi Joe kecil — yang masih memegang erat tangan anak itu seakan takut kehilangan satu-satunya harta yang tersisa — mengangkat tangan dan mengetuk pintu kayu itu perlahan. Bunyi ketukannya terdengar pelan namun jelas di keheningan sore yang damai. Tak lama berselang, pintu terbuka perlahan. Seorang lelaki berbadan tegap dengan tatapan mata yang tajam namun tenang berdiri di ambang pintu. Punggungnya tegak, bahunya lebar, dan setiap gerakannya menunjukkan kedisiplinan yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Dialah Steven, pemilik rumah itu. Ia menatap keduanya dengan penuh tanda tanya, lalu pandangannya beralih dari wajah Anto ke wajah anak kecil yang berdiri di sampingnya.

"Anto... apakah benar kau?" tanyanya pelan namun tegas, suaranya rendah namun mantap. Lalu ia melirik kembali ke arah Joe kecil yang menatap lantai dengan wajah cemas. "Aku sudah mendengar kabar buruk soal apa yang menimpa Tuan Kevin dan istrinya... Kabar yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini. Tapi siapa anak kecil ini? Dia terlihat ketakutan sekali."

Lelaki tua yang dipanggil Anto itu menghela napas panjang, seakan seluruh beban dunia sedang dipikul di pundaknya yang sudah mulai membungkuk. Wajahnya tampak sangat lelah, kulitnya keriput dan matanya sedikit merah karena kurang tidur, namun matanya tetap waspada menatap ke sekeliling. "Panjang ceritanya, Steven. Perjalanan ke sini jauh dan berat, dan aku tidak berani berhenti di tempat mana pun sepanjang jalan. Yang jelas... aku beruntung bisa membawa diri keluar dari sana dengan selamat. Dan yang lebih penting lagi, aku berhasil membawa dia pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya."

Mendengar itu, Steven segera membuka pintu lebih lebar dan memberi isyarat dengan tangannya agar mereka segera masuk. Wajahnya yang tadinya penuh tanya kini berubah menjadi serius dan penuh perhatian. "Ayo masuk dulu ke dalam. Berbahaya jika kalian berdiri di luar terlalu lama. Siapa pun bisa lewat dan melihat kalian. Masuklah, di sini aman."

Sesampainya di ruang tengah yang sederhana namun nyaman, mereka duduk di bangku kayu yang keras namun kokoh. Ruangan itu tidak penuh hiasan mewah, hanya ada meja panjang, beberapa kursi, dan rak buku yang terisi penuh dengan buku-buku tebal. Udara di dalamnya terasa hangat dan menenangkan. Tanpa banyak basa-basi, Anto mulai menceritakan segala hal yang terjadi — dari awal mula hingga hari yang kelam itu datang. Ia bercerita tentang betapa besarnya pengkhianatan yang terjadi di dalam lingkaran terdekat Tuan Kevin sendiri, tentang kepercayaan yang dikhianati, rencana yang disusun secara diam-diam, dan betapa kejamnya cara mereka mengambil alih segalanya. Lalu dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menunjuk ke arah anak kecil yang duduk diam di sampingnya.

"Dan dia..." ucap Anto dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca saat menatap Joe, "dia adalah Tuan Muda kita. Anak kandung Tuan Kevin dan Istrinya. Satu-satunya warisan yang tersisa dari mereka berdua."

Steven terbelalak mendengar hal itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang-orang yang selama ini dipercaya dan diberi tempat ternyata adalah pengkhianat yang merencanakan semuanya sejak lama. Namun yang lebih mengejutkannya adalah kenyataan bahwa Tuan Kevin ternyata memiliki seorang anak — hal yang tidak pernah ia ketahui selama bertahun-tahun bekerja bersama. Ia menatap Joe kecil dengan pandangan yang berbeda sekarang — bukan sekadar anak biasa, melainkan harapan yang harus dijaga dengan nyawa sekalipun.

"Tuan Kevin sudah lama mencium adanya gelagat buruk dari sebagian rekan-rekannya," jelas Anto pelan, seakan mengingat kembali pesan terakhir yang diterimanya. "Beliau orang yang cerdas dan berhati-hati. Karena itulah beliau membatasi komunikasi dan merahasiakan keberadaan anaknya agar tidak ada yang tahu. Bahkan kepada kami pun beliau bercerita sedikit saja. Sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, beliau memerintahkanku untuk membawa anak ini pergi jauh — karena beliau sadar, bahaya sudah sangat dekat dan mereka tidak akan segan-segan menyakiti siapa pun, termasuk anak kecil sekalipun."

Steven mengangguk pelan, lalu menatap Joe kecil dengan senyum yang ramah namun penuh wibawa. Ia melangkah mendekat dan duduk di hadapan anak itu, menatapnya dengan lembut. "Joe... dengarkan aku baik-baik, Nak," ucapnya pelan agar tidak menakuti anak itu. "Dulu, sebelum kau lahir bahkan sebelum kau ada di dalam kandungan ibumu, aku bekerja untuk Ayahmu — Tuan Kevin. Aku adalah orang yang selalu berdiri di belakangnya, melindunginya dari segala bahaya yang mengancam. Aku adalah pengawal pribadinya, orang kepercayaannya yang paling setia. Setiap ada masalah yang datang mengganggu, setiap ada orang yang berniat jahat, aku yang menyelesaikannya. Aku menyingkirkan setiap bahaya yang mendekat, apa pun caranya, agar Ayahmu bisa bekerja dengan tenang dan aman."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. "Namun beberapa tahun yang lalu, aku meminta izin kepada Ayahmu untuk berhenti. Aku ingin memulai hidup baru, membangun keluarga sendiri, dan hidup dengan tenang tanpa harus selalu waspada setiap detik. Ayahmu mengerti dan merestui keputusanku. Sejak saat itu aku tinggal di sini, hidup damai, dan membesarkan anakku sendiri. Tapi sampai kapan pun, kesetiaanku kepada Tuan Kevin tidak pernah berubah. Dan sekarang... kesetiaan itu aku berikan juga kepadamu, Joe."

Joe kecil mendengarkan dengan lekat-lekat, matanya yang besar menatap Steven dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus harapan yang mulai tumbuh perlahan.

Steven lalu menoleh ke arah Anto dan tersenyum ramah. "Kalian tidak perlu pergi ke mana-mana lagi. Tinggallah di sini bersama kami. Mulai hari ini, kita akan mendidik mereka berdua di tempat ini. Rumah ini cukup luas, tanahnya cukup untuk bercocok tanam dan berlatih. Tidak ada yang akan menemukan kalian di sini."

Anto menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk mantap dengan rasa haru yang mendalam. "Baik. Terima kasih banyak, Steven. Kau sungguh sahabat sejati Tuan Kevin."

Steven lalu menoleh ke arah pintu belakang dan berseru dengan suara lembut namun tegas. "Arthur! Sini Nak, kemarilah sebentar!"

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki kecil yang berlari mendekat. Seorang anak laki-laki seusia Joe muncul di ambang pintu, wajahnya bersih dan matanya berbinar ceria. Ia berhenti di samping ayahnya, menatap kedua orang asing itu dengan pandangan penasaran namun tetap sopan dan tenang.

Steven meletakkan tangannya dengan lembut di bahu anaknya. "Arthur, dengarkan Ayah baik-baik. Ini Paman Anto — orang yang sangat baik, jujur, dan setia kepada keluarga yang telah lama kami layani. Dan di sampingnya ada Joe. Mulai hari ini, Joe akan tinggal bersama kita. Dia adalah Tuan Muda yang harus kita hormati, sayangi, dan jaga baik-baik sebagaimana kau menjaga dirimu sendiri."

Anak laki-laki yang bernama Arthur itu tersenyum lebar, senyum yang tulus dan hangat. Ia melangkah maju selangkah, lalu menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan kepada Anto. "Selamat datang, Paman Anto," ucapnya dengan suara yang jernih dan ramah. Lalu ia berbalik menghadap Joe dan mengulurkan tangannya dengan senyum yang tidak berkurang sedikit pun. "Halo Joe. Namaku Arthur. Senang sekali bisa berkenalan denganmu. Mulai sekarang kita tinggal bersama, makan bersama, dan bermain bersama. Kita teman baik, ya? Jangan sedih lagi. Aku akan selalu menemani dan menjagamu di sini."

Joe kecil yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dengan kepala tertunduk, sedikit terkejut melihat keramahan anak itu. Perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap mata Arthur yang bersahabat, lalu mengangkat tangannya yang kecil dan dingin untuk menyambut uluran tangan itu. Saat tangan mereka bersalaman, terasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Arthur. Wajah Joe yang sedih dan murung perlahan berubah menjadi senyum tipis yang lembut — senyum pertama yang ia tunjukkan sejak hari yang mengerikan itu terjadi.

"Halo Arthur... terima kasih," jawabnya pelan namun jelas dan tulus.

Anto menatap mereka berdua dari samping dengan mata yang berkaca-kaca. Di dalam hatinya, ia bersyukur kepada Tuhan — setidaknya di tempat yang jauh dan tersembunyi ini, Tuan Mudanya tidak akan tumbuh sendirian. Ia punya teman, pelindung, dan keluarga baru yang akan mendampinginya hingga ia dewasa dan siap menghadapi dunia yang kejam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!