Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pria yang dibawa anak buah Elvis langsung dipukul dan ditendang tanpa ampun.
“Argh!”
Jeritannya menggema di dalam rumah tua itu.
Bruk!
Buk!
Tendangan demi tendangan menghantam tubuhnya hingga ia tidak lagi mampu melawan.
Elvis berdiri dengan wajah datar sambil memutar cincin giok berwarna hijau tua yang melingkar di ibu jarinya.
“Berani mengikutiku dari belakang. Siapa yang mengirimmu?” tanyanya dingin.
Pria itu terbatuk mengeluarkan darah.
“Aku... hanya kebetulan lewat. Aku tidak mengikuti Tuan.”
Tatapan Elvis semakin dingin.
“Hajar dia sampai tidak bisa berjalan.”
“Baik, Bos!”
Bruk!
Buk!
Suara pukulan kembali memenuhi ruangan.
Ice yang berjongkok di bawah meja memejamkan mata rapat-rapat. Kedua tangannya menutup telinga, tetapi jeritan pria itu tetap terdengar jelas.
Beberapa saat kemudian, anak buah Elvis berhenti.
Pria itu tergeletak di lantai dengan wajah penuh darah.
Elvis melangkah mendekat.
“Kau hanya mengotori tempatku.”
Brak!
Ia menendang tubuh pria itu dengan keras.
Tubuh pria tersebut terpental beberapa meter dan berhenti tepat di depan meja tempat Ice sedang bersembunyi.
Jantung Ice langsung berdegup kencang.
Ia menggigit bibirnya, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Jika mereka melangkah beberapa langkah lagi...
Keberadaannya pasti akan terbongkar.
“Bos, pria ini pingsan!” lapor salah seorang anak buah.
Elvis melirik sekilas.
“Seret dia keluar.”
“Baik!”
Dua orang langsung menarik tubuh pria itu.
Saat tubuhnya diseret, salah seorang anak buah melihat sepasang kaki di balik meja.
Alisnya langsung berkerut.
“Siapa di sana?”
Ice menahan napas.
Ia menggenggam erat ujung bajunya.
Anak buah itu segera mengangkat taplak meja.
“Bos! Masih ada orang lain!”
Beberapa pria langsung mengelilingi meja.
Ice perlahan keluar dari persembunyiannya.
“Aku... aku hanya lewat,” ucapnya gugup.
“Lewat?” salah seorang pria mencibir.
“Siapa yang percaya?”
Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Ice.
“Akh... lepaskan!” seru Ice sambil berusaha melepaskan diri.
Namun tenaga pria itu jauh lebih kuat.
“Bos, wanita ini bersembunyi di sini sejak tadi.”
“Aku bukan mata-mata! Aku benar-benar tidak mengenal kalian!” jelas Ice.
“Diam!”
Pria itu menarik Ice dengan kasar.
Bruk!
Ice terdorong hingga terjatuh tepat di hadapan Elvis.
Telapak tangannya membentur lantai batu yang dingin.
Elvis menundukkan pandangannya.
Tatapannya yang tajam meneliti wajah Ice beberapa saat.
“Seorang gadis?”
Ice perlahan mengangkat kepalanya.
Jantungnya berdegup semakin cepat saat menatap pria paruh baya yang berdiri di depannya.
Elvis terdiam sejenak menatap kedua mata gadis itu.
"Matanya... kenapa begitu mirip dengan Xiao Feng?" batinnya.
“Siapa yang mengirimmu ke sini?” tanya Elvis.
Ice bangkit perlahan sambil menepuk debu di lengan bajunya. “Tidak ada. Aku datang sendiri untuk mencari sebuah alamat,” jawabnya.
“Semua orang tidak akan mengaku saat aku bertanya. Nona, usiamu masih muda. Katakan terus terang, siapa dirimu?”
“Namaku Ice Meng. Dan sekali lagi aku tegaskan, aku datang ke sini hanya mencari sebuah alamat.”
“Kurang ajar! Berani bicara dengan nada seperti itu kepada Bos kami!” bentak salah seorang anak buah Elvis sambil memelintir kedua tangan Ice ke belakang.
“Akh... lepaskan!” seru Ice.
Elvis tetap menatapnya. “Menurutmu ini hanya kebetulan? Apa kau tahu, selama bertahun-tahun tidak ada orang yang berani datang ke tempat ini.”
“Aku datang dari kota lain. Aku juga tidak tahu rumah ini milik siapa. Kalau ingin mengikutimu, mana mungkin aku tiba lebih dulu daripada kalian?” jawab Ice.
“Kalau begitu beritahu aku, kenapa kau datang ke sini? Dan siapa yang sedang kau cari?” tanya Elvis.
“Bukan urusanmu,” jawab Ice tegas.
Elvis melangkah mendekat, lalu mencubit dagu Ice.
“Nona kecil, saat aku bertanya, seharusnya kau menjawab.”
Ice langsung memalingkan wajahnya.
“Singkirkan tangan kotormu... dasar pembunuh!”
“Diam!” bentak anak buah Elvis.
“Lepaskan tanganku!” teriak Ice.
Elvis malah tertawa pelan.
“Hahaha... baru kali ini aku melihat seorang gadis muda yang tidak takut padaku. Kau benar-benar mirip denganku saat masih muda.”
“Siapa juga yang ingin mirip denganmu,” balas Ice.
Senyum Elvis tidak menghilang.
“Lepaskan dia.”
Anak buah Elvis segera melepaskan kedua tangan Ice.
"Kalau Snow masih hidup... usianya mungkin sudah sebesar gadis ini, "batin Elvis.
Saat Ice mengusap pergelangan tangannya yang memerah, pandangan Elvis tanpa sengaja tertuju pada kalung yang tergantung di leher gadis itu.
Mata Elvis langsung menyipit.
"Kalung HW? Jangan-jangan... gadis ini adalah wanita yang disukai Howard.
“Dari mana asal kalung itu?” tanya Elvis.
“Kenapa? Tertarik pada kalung ini? Sayang sekali, ini bukan milikku,” jawab Ice.
Elvis menatapnya dengan tenang. “Nona Meng, karena kita sudah bertemu dan saling mengenal, namaku adalah Elvis Huang. Aku sangat mengenal pemilik kalung ini.”
“Anda mengenalnya?” tanya Ice.
“Benar. Ini juga sudah malam, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?” tanya Elvis.
"Baru saja menyiksa orang, sekarang ingin mengantarku pulang. Apa semua pembunuh memang suka berpura-pura baik?" batin Ice.
“Tidak perlu. Kalau Anda memang mengenalnya, sampaikan saja padanya untuk datang menemuiku,” jawab Ice lalu beranjak pergi.
Salah seorang anak buah Elvis langsung menghalangi langkahnya.
“Berhenti!”
“Biarkan,” perintah Elvis.
Anak buahnya segera mundur.
“Nona, kau yakin tidak ingin ikut denganku? Malam-malam begini sangat berbahaya kalau berjalan sendirian,” ujar Elvis.
“Menurutku ikut denganmu lebih berbahaya,” jawab Ice tanpa ragu sambil melangkah pergi begitu saja.
Anak buah Elvis menatap kepergian gadis itu dengan bingung.
“Bos, apakah tidak masalah membiarkannya pergi begitu saja?”
Elvis tersenyum kecil.
“Gadis itu adalah wanita yang disukai Howard. Jangan sentuh dia. Kalau sampai dia terluka sedikit saja, markas kita mungkin akan diratakan oleh Howard. Jangan lupa siapa Howard saat lima tahun lalu!"
Anak buahnya terdiam.
Elvis masih menatap arah kepergian Ice.
“Aku malah menjadi penasaran. Ice Meng memang hanya seorang gadis sederhana, tapi dia sama sekali tidak penakut. Pantas saja Howard tidak mudah mendekatinya. Seorang pria yang dikenal sebagai pembunuh nomor satu dan membuat banyak orang takut... ternyata justru mengalah di hadapan seorang gadis biasa.”
Elvis tersenyum tipis.
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya