Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Deru mesin mobil van abu-abu yang dikemudikan Bram membelah jalanan lingkar luar Distrik Barat dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin belakang yang remang-remang, Aura duduk bersandar pada dinding jok dengan lutut yang ditekuk ke dada. Ia masih mengenakan kaos oblong putih longgar milik Devan, dilapisi kardigan abu-abu tebal yang kini terasa lembap oleh peluh dingin.
Di sampingnya, Devan sedang mengisi ulang magasin pistol semi-otomatirnya dengan gerakan mekanis yang konstan. Bunyi ketukan peluru logam yang masuk ke dalam selongsong besi menjadi satu-satunya ritme yang memecah ketegangan di antara mereka.
"Kenzo, bagaimana jalur ke rumah aman Distrik Selatan?" Devan membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari senjata di tangannya.
Kenzo, yang duduk di kursi penumpang depan dengan tiga layar mini-tablet yang terpasang di dasbor mobil, mengetik dengan kecepatan luar biasa. "Bersih untuk sementara, Dev. Tim pembersih kita sudah masuk ke penthouse untuk mengurus tiga orang Mahendra tadi. Masalahnya, Gavin sengaja memutus jaringan CCTV publik di radius dua kilometer sekitar apartemen lo sebelum serangan dimulai. Itu artinya, mereka punya orang di dalam dinas perhubungan kota."
"Gavin bergerak terlalu ceroboh," desis Devan, memasukkan magasin dengan bunyi klik yang tajam, lalu menyelipkan pistol itu ke dalam sarung tersembunyi di balik kemeja taktisnya. "Menembus penthouse gue berarti dia sudah siap untuk perang terbuka. Dia gak lagi peduli soal menyembunyikan konspirasi hukum di pelabuhan."
Aura mendongak, matanya yang sembap menatap Devan dengan tatapan yang campur aduk antara rasa takut dan menuntut kejelasan. "Lalu bagaimana denganku, Devan? Jika mereka bisa menemukan apartemen privasimu yang seketat itu, bagaimana dengan ibuku? Bagaimana jika mereka tahu rumah kos itu?"
Devan menghentikan pergerakannya. Ia menoleh, menatap tepat ke manik mata cokelat Aura yang tampak rapuh namun menyimpan api kemarahan yang tertahan. Devan mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menggenggam jemari Aura yang terasa sedingin es.
"Ibu lo sudah dipindahkan sejak dua jam lalu, Ra," kata Devan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan—sebuah intonasi yang hanya ia gunakan saat berbicara berdua dengan gadis ini. "Kenzo mendeteksi anomali sinyal di sekitar gang rumah lo sebelum apartemen kita ditembus. Bram langsung memerintahkan tim medis klan Bratadikara untuk mengevakuasi ibu lo ke rumah sakit privat milik keluarga gue di pinggiran kota. Dia aman di sana, di bawah nama samaran dan penjagaan berlapis."
Aura mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. "Kenapa... kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?"
"Karena gue gak mau lo panik di tengah jalan, Ra. Fokus gue tadi adalah mengeluarkan lo hidup-hidup dari penthouse," jawab Devan jujur. Tatapan matanya yang elang mengunci perhatian Aura, menyalurkan rasa aman yang aneh ke dalam dada gadis itu. "Di kampus, gue mungkin bilang lo adalah kelemahan gue buat ngecoh Gavin. Tapi di dunia nyata, gue gak akan ngebiarin siapa pun jadiin lo sebagai sandera untuk nekan gue."
Aura memalingkan wajahnya ke jendela van yang buram oleh embun malam dan rintik hujan. Pernyataan Devan terasa begitu ambigu di telinganya. Apakah semua perlindungan ini murni karena ia adalah "aset hukum" yang berharga bagi bisnis klan Bratadikara, ataukah ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh di balik dinding es hati sang mafia kampus?
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram ketika mobil van mereka memasuki sebuah kompleks gudang tua yang tersamar di pinggiran Distrik Selatan. Tempat itu tampak terbengkalai dari luar, namun begitu pintu gerbang besi besar terbuka, bagian dalamnya ternyata merupakan markas logistik sekunder klan Bratadikara yang dilengkapi dengan teknologi mutlak.
Bram menghentikan mobil tepat di depan sebuah bangunan paviliun kecil yang terletak di sudut kompleks.
"Turun di sini, Dev. Kamar untuk Aura sudah disiapkan. Jaringan internet di sini menggunakan satelit militer terenkripsi, Gavin gak akan bisa melacak aktivitas draf digital kalian dari sini," ujar Kenzo sambil mematikan perangkat tabletnya.
Devan mengangguk. Ia turun lebih dulu, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya untuk membantu Aura. Aura menerima uluran tangan itu, merasakan kehangatan yang familiar merambat ke tubuhnya yang lelah setelah terjaga semalaman.
Mereka melangkah masuk ke dalam paviliun yang sederhana namun sangat rapi dan aman. Hanya ada sebuah tempat tidur, meja kerja dengan komputer layar ganda, dan sebuah kamar mandi kecil.
"Lo istirahat di sini," kata Devan, berdiri di ambang pintu paviliun sementara Aura duduk di tepi tempat tidur. "Gue harus kembali ke pusat kota bersama Bram untuk menyelesaikan kekacauan di apartemen dan memastikan pergerakan bokap gue di firma hukum tetap stabil."
Aura menatap Devan yang bersiap untuk pergi kembali ke medan perang. Ada rasa kehilangan yang samar yang tiba-tiba merayap di hatinya—sebuah perasaan yang tidak masuk akal mengingat beberapa hari lalu ia sangat membenci cowok ini.
"Devan," panggil Aura sebelum cowok itu berbalik.
Devan menghentikan langkahnya, menoleh kembali dengan sebelah alis yang terangkat. "Ya?"
"Kamu... kamu harus kembali ke kampus besok?" tanya Aura, mencoba menyamarkan rasa khawatirnya sebagai pertanyaan taktis. "Maksudku, jika kamu tidak muncul, sandiwara kita akan berantakan dan Gavin akan tahu kita sedang bersembunyi."
Sebuah senyuman miring yang khas—tajam namun kali ini terasa sangat hangat—muncul di wajah tampan Devan. Ia berjalan mendekati tempat tidur, menunduk sedikit hingga wajahnya sejajar dengan Aura.
"Gue pasti kembali ke kampus, Good Girl," bisik Devan rendah, suaranya yang berat memberikan getaran halus di dada Aura. "Gue punya reputasi sebagai pacar yang protektif yang harus dijaga, kan? Kalau gue bolos, nanti siapa yang bakal ngusir Bianca dan jagain kursi lo di baris depan?"
Aura tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum tipis mendengarnya. "Pergilah. Dan... berhati-hatilah."
Devan tertegun sejenak melihat senyuman Aura yang tampak begitu tulus di tengah situasi yang kacau ini. Untuk seorang pria yang dibesarkan di tengah intrik darah dan pengkhianatan klan, senyuman sederhana dari seorang mahasiswi kutu buku ini terasa lebih berharga daripada seluruh denda kargo di pelabuhan Utara.
"Gue pergi, Ra. Ponsel khusus lo tetap aktif, kan? Jangan pernah matikan," pesan Devan sebelum akhirnya benar-benar melangkah keluar dan menutup pintu paviliun dengan rapat, menyisakan Aura sendirian di dalam keheningan rumah aman yang baru.
Keesokan paginya, Universitas Ganesha kembali digemparkan oleh berita baru. Namun kali ini, bukan tentang perundungan akademik, melainkan tentang ketidakhadiran Gisela Aura di jam kuliah pertama.
Di koridor Fakultas Hukum, Bianca Valerie tampak sedang berkumpul bersama gengnya di dekat mading utama, berbisik-bisik dengan wajah yang dipenuhi rasa puas yang jahat.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Si Aura itu paling cuma mainan instan buat Devan," cibir Bianca sambil memeriksa kukunya yang dicat merah. "Baru sehari dideklarasikan jadi pacar, hari ini udah bolos. Pasti udah didepak sama Devan karena bosan."
"Atau jangan-jangan dia ketakutan karena draf skripsinya beneran dihapus sama rektorat?" timpal salah satu temannya sambil tertawa kecil.
"Siapa yang bilang Aura didepak?"
Sebuah suara dingin yang berat tiba-tiba menginterupsi dari arah belakang kerumunan. Suasana koridor seketika jatuh ke dalam titik beku yang mencekam.
Devanandra Bratadikara berjalan membelah kerumunan mahasiswa dengan aura kegelapan yang jauh lebih pekat daripada biasanya. Pagi ini, ia kembali mengenakan jaket kulit hitamnya, kaos oblong gelap, dan kacamata hitam yang menyembunyikan kelelahan di matanya setelah pertempuran semalam. Di belakangnya, Bram berjalan dengan wajah datar yang sangat mengintimidasi.
Bianca langsung pucat pasi, melangkah mundur hingga punggungnya membentur mading. "D-Devan... aku cuma—"
Devan berhenti tepat di depan Bianca, melepas kacamata hitamnya dengan gerakan lambat, menampilkan sepasang mata elang yang memancarkan ancaman pembunuhan yang sangat nyata.
"Aura gak masuk hari ini karena dia sedang sakit, dan gue sendiri yang menyuruh dia istirahat di rumah," kata Devan, suaranya yang tenang justru terdengar ribuan kali lebih mengerikan daripada teriakan kemarahan. Ia maju satu langkah, membuat Bianca gemetar ketakutan. "Gue rasa gue udah bilang kemarin dengan sangat jelas: siapa pun yang membicarakan hal buruk tentang Aura, berarti berurusan langsung sama gue. Apa telinga lo butuh draf format ulang dari klan Bratadikara, Bianca?"
Bianca menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya. "N-Gak, Devan. Maaf... aku gak bakal ngomong gitu lagi."
"Bagus," desis Devan. Ia kembali memakai kacamata hitamnya, berbalik, dan berjalan menuju ruang kelas Hukum Pidana II tanpa memedulikan tatapan seisi koridor yang kini semakin yakin bahwa posisi Gisela Aura sebagai "wanita milik Bratadikara" adalah sesuatu yang absolut dan tidak bisa diganggu gugat.
Namun, di ujung selasar yang gelap di dekat tangga darurat, seorang pria dengan topi pet hitam merunduk, berbicara berbisik melalui ponsel pintarnya yang terenkripsi.
"Tuan Gavin, Devan Bratadikara baru saja tiba di kampus sendirian. Cewek itu tidak bersamanya. Berita dari tim lapangan menyatakan penthouse Distrik Barat kosong dan ada jejak pertempuran kecil subuh tadi. Tampaknya Devan sudah menyembunyikan cewek itu di tempat lain."
Di seberang saluran telepon, terdengar suara tawa renyah yang licik dari Gavin Mahendra. "Dia menyembunyikannya? Itu berarti tebakan kita seratus persen akurat. Cewek itu adalah kelemahannya yang paling berharga saat ini. Cari tahu ke mana tim medis klan Bratadikara bergerak subuh tadi. Kita potong jalur mereka dan ambil gadis itu sebelum Devan menyadari pertahanannya telah bocor."