Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di untit
Malika menghentikan larinya saat melihat bangku kosong, ia membelokan dirinya ke arah kursi itu dan mendaratkan bokongnya pada bangku.
"Aduhh capekk. " setelah menetralkan nafasnya ia membuka botol air mineral dan meneguknya hingga sisa setengah.
Ia duduk cukup lama sebelum mengeluarkan handphone nya, menggulir media sosial dengan khusyuk.
Terlihat ia biasa saja sampai sebuah pesan masuk.
Ia menegakan punggungnya,"Lagi?. "
Langsung saja Malika membuka pesan itu
^^^Unknown number:^^^
^^^ "Cincinnnya pasti pas bukan? , desainnya sama persis seperti yang kamu inginkan dulu".^^^
" Nomornya beda lagi, sebenarnya nih orang Ngehubungin gue pake berapa ponsel?,gila.
"Malika bergumam dengan kening yang berkerut, saat akan menutup kembali ponselnya dan ingin lanjut lari ia melihat satu pesan lagi masuk.
^^^Unknown number:^^^
^^^" Aku tak suka kamu berinteraksi dengan pria tadi sayang, dan yah kamu terlihat cantik dengan rambut ponytail itu.Jangan mengerutkan keningmu kamu tidak suka dengan hadiah dan pesan dariku?."^^^
Setelah menerima pesan itu Malika langsung saja mengedarkan pandanganya pada penjuru arah.
'Gimana dia bisa tau model rambut gue, dan waktu gue ngerutin kening dia bisa tau, jangan bilang di nguntit gue? .'
Ia mengetikan jemarinya pada ponsel, dan menulis pesan balasan.
^^^You: ^^^
^^^Siapa lo? , beherti jadi pengecut, dan perlihatkanlah diri lo, lo tau gak sih lo itu ganggu sialan. ^^^
Setelah mengim pesan itu, malika beranjak dari kursi lalu memasukan ponselnya pada saku olahraganya dan mulai berlari meninggalkan tempat itu.
Sementara itu sosok asing yang mengirimi Malika pesan tadi hanya memyunggingkan smirik tipis.
"Sebentar lagi, aku akan menemuimu secara langsung, maaf jika aku menjadi pengecut begini. " Orang itu menghelakan nafasnya.
"Ku harap kamu memaafkan dan menerimaku lagi,saat kita bertemu nanti sayang. "
_____________
Malika mempercepat langkahnya hingga akhirnya keluar dari area taman.
Sejah lari tadi dia yang awalnya tak ingin mengunakan Aerphone malah menggunakannya untuk mengusir kekacauan yang sejak tadi memenuhi isi kepala.
Percuma dipikirkan.
Orang itu jelas tidak berniat memperlihatkan diri.
Beberapa menit kemudian ia tiba di depan rumah. Pagar masih terbuka, pertanda Ibu tiri jahanamnya tidak ada di rumah,sementara pembantu rumah tangga tengah menyiram tanaman di halaman.
"Non, sudah selesai larinya?" sapa perempuan paruh baya itu.
"Iya, Bi."
Malika menjawab singkat. Ia melangkah masuk setelah sempat berbasa-basi sedikit dengan Bi Inah.
Begitu sampai di kamar, ponselnya dilempar begitu saja ke atas kasur.
Ia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Suara air yang mengalir memenuhi ruangan.
Lima belas menit kemudian, Malika keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
Baru saja tangannya hendak meraih ponsel...
Layar itu menyala sendiri.
Bukan panggilan.
Bukan pula pesan WhatsApp.
Melainkan sebuah notifikasi dari aplikasi galeri.
Memori baru telah dicadangkan.
Kening Malika mengernyit.
Ia tidak merasa mengambil foto apa pun pagi ini.
Dengan rasa penasaran, ia membuka galeri.
Jemarinya berhenti.
Di antara foto-foto lama, terselip satu gambar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Foto itu memperlihatkan bangku taman yang tadi ia duduki.
Kosong.
Namun, di atas bangku itu tergeletak botol air mineral miliknya yang lupa ia dibawa.
Seseorang memotretnya dari jarak dekat.
Di bagian bawah foto terdapat
waktu pengambilan gambar.
Pukul 09:18. Hari Minggu
Empat menit setelah Malika meninggalkan taman.
Belum sempat mencerna apa yang sedang dilihatnya, sebuah pesan masuk lagi.
^^^Unknown Number:^^^
^^^"Kamu selalu lupa membawa barangmu sejak dulu sayang."^^^
Malika membeku.
Tatapannya tidak lagi tertuju pada isi pesan itu.
Melainkan pada dua kata terakhir.
Sejak dulu.
Kalimat itu terdengar seolah mereka pernah saling mengenal.
"Fiks ni orang bahaya, gila. Sampe nyadap ponsel gue. "
"Dalam cerita aslinya adegan ini gak pernah ada, siapa. Siapa dia, Kenapa jalan ceritanua lebih rumit dari yang gue bayangin. "
Malika memegang rambutnya lalu mengacak-ngacaknya.
"Gue bisa stres kalo kaya gini, gue gak
sanggup. "
'Kenapa jadi gini sih, hayalan gue kalau hidup jadi Malika ya ngejauh, itu udah jadi moto gue kalau hidup jadi sosok Malika ya cari aman. Tapi kenapa, kenapa jadi berabe begini'.
Malika membatin dalam hati.
________
For you🌺, and Thankyou.