Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evelin Hadir
Pagi - pagi sekali Adel sudah kembali ke polinya. Ketika dia bangun pukul lima, dia berada dalam pelukan Karel laki - laki yang mencintainya. Dan dengan gerakan pelan dia turun dari tempat tidur itu, dan kembali menyelimuti kekasihnya dengan selimut. Melihat infusnya.
Adel tidak sadar, bahwa mamanya Karel juga sudah bagun. Dan memperhatikan apa yang di lakukan olehnya.
"Eh... Selamat pagi tante."
"Selamat pagi ya dokter Adel."
"Mohon maaf, aku sudah membuat suasana menjadi sangat kaku semalam."
"Bukan kamu, tetapi anak nakal tante itu. (Adel dan mamanya Karel tersenyum) Tante mau ucapkan terima kasih, karena Adel sudah menolong Karel. Tante tahu semua kronologi didalam ruang operasi diceritakan oleh dokter Wibowo, kepala rumah sakit ini."
"Bukan Adel saja tante, ada dokter tim juga."
"Iya nak, tante tahu. Tetapi tante mau mengucapkan terima kasih. Boleh tante peluk kamu."
Adel pun langsung memeluk mamanya Karel. Dan dilihat oleh papanya Karel. Maka subuh itu kami bertiga semua menceritakan tentang Karel. Semua keburukan dan kelebihan Karel di buka kepada Adel.
"Tante mohon maaf, jika sewaktu - waktu, Karel rada cuek dengan hubungan kalian. Sebenarnya itu ada penyebabnya alasan utama dia melindungi kamu. Takut lawannya tahu siapa kamu sebenarnya."
"Karel itu sangat lemah, jika tahu orang yang dia cintai terluka atau menangis."
Akhir Adel sadar, bahwa semalam dia lakukan seperti itu memeluk, mencium kening dan memohon maaf, karena Karel tahu bahwa aku menangis saat melakukan operasi.
Adel sudah pamit ke ruangannya. Namun dia berjanji akan kembali untuk mengontrol Karel, karena Adel adalah dokternya. Biasanya pagi - pagi pukul tujuh mereka yang tidak berdinas malam, akan apel pagi di lingkungan rumah sakit, mendengarkan arahan dan kembali berdinas. Dan Apel pagi ini, mereka kedatangan salah satu dokter perempuan dia adalah polwan. Dokter Evelin Sabara selesai koas dia mengikuti seleksi perwira karier dan di lulus, selesai pendidikan dia ditempatkan di rumah sakit polri.
"Selamat pagi my boy."
"Eh... Evelin. Tahu dari mana Karel dirawat disini??"
"Selamat pagi tante. Tahu dari Jesika tante."
Kemudian Evelin mencium pipi kiri kanan mamanya Karel dan mencium serta memeluk Karel bersamaan dengan datangnya Adel bersama ners Dita mengunjungi pasiennya. Adel melihat aksi pelukan dan ciuman pipi yang di lakukan oleh Evelin dan Karel.
"Permisi....."
"Silahkan. Mau visit pasien ya. Dokter......???"
"Adel....."
"Adel???"
"Adel Emanuella Sanjaya spesialis bedah saraf dan pembulu." Adel langsung tersenyum.
Evelin mengira bahwa dokter yang kelakukan visit di ruangan Karel adalah dokter umum.
"Kenalkan Ev, ini Adel pacar saya."
"Kamu sudah move on???"
Karel tahu kemana ,arah pembicaraan Evelin. Karena hanya dua yang tahu, bahwa aku dulu mencintai Jesika yang sekarang sudah menikah dengan kakak ku Kaleb.
"Hidup berlanjut, tidak mungkin hanya diam di tempat dan meratapi hal yang bodoh."
"Permisi dokter, ijin saya mau jalankan tugas saya."
"Silahkan!!!." Evelin bergeser dari posisi di samping tempat tidur pasien. Karel menatap Adel. Dia tahu guratan mata itu. Karel mengusap tangan Adel. Dia terima jika Adel mau menyuntik obat tanpa memberi ketenangan kepadanya.
"Sayang......"
"Jangan ganggu mas. Aku masih mengunjungi pasien yang lain."
"Mama, Ev dan ners Dita bisa tunggu di luar sebentar aku butuh waktu berbicara dengan dokterku." Mamanya langsung mengajak Evelin keluar. Sedangkan Dita sudah keluar lebih dahulu. Seperti biasa, meskipun sakit, Karel masih punya kekuatan lebih untuk memeluk dan membawa tubuh dokter Adel dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Adel, i love you. Hanya kamu yang ada di hatiku."
Akhirnya air mata yang di tahan oleh Adel mengalir lewat pipinya.
"Jangan menangis sayang. Aku terluka. Mas akan jelaskan. Yang harus kamu tahu, hanya kamu perempuan yang sekarang aku cintai selain mamaku."
Adel merapikan baju dan jas dokternya. Kemudian dia memberikan obat lewat infus Karel. Sebelum Adel keluar, Karel memberikan ciuman mesra di kening dan bibir Adel.
"I love you."
"Love you too."
Waktu Adel keluar ruangan hanya ada Dita dan mamanya Karel di luar. Adel langsung pamit, karena harus mengontrol pasien satu lagi yang kemarin dia operasi. Kemudian ke poli karena sudah ada banyak pasien yang antri.
Sementara itu oleh kepala rumah sakit dokter Evelin di tempatkan di IGD karena dia adalah dokter umum.
"Jes, dokter yang menolong Karel itu pacarnya."
"Yes, sis. Kamu terlambat."
"Saya sudah perna janjian makan siang dengannya sialnya dia tidak datang alasan dia sibuk."
"Kamu tahu, semalam dengan manjanya dia meminta pacarnya tidur di rumah sakit."
"Ah segitunya seorang Karel Imanuel Barnabas."
"Dia itu so sweet, kamu aja yang tidak sadar."
"Dan kamu sadar??"
"Aku terjebak dengan pesona kedua kakak beradik itu. Sialnya aku tidak bermain cantik. Karel melihat aku berciuman dengan Kaleb."
"Kamu mau kakak beradik itu."
"Terus terang, iya."
"Kamu kelainan Jess. Sadar dan bertobat."
Evelin sekarang berada di IGD, dia bertugas malam ini. Baru pertama berdinas, dia sudah ditugaskan piket malam. Kira - kira pukul tujuh malam dia iseng bertamu di ruang rawat Karel. Disana ada mama, papa dan kakaknya Karel serta Jesika dan Dokter Adel.
"Masuk Ev....." Hanya Jesika yang mempersilahkan dia masuk. Sementara yang lain biasa - biasa saja.
"Dokter Adel dinas malam??"
"Sudah dari kemarin dia berdinas menjaga pacarnya."
"Dokter Adel ngak perlu jadwal dinas malam Ev. Tugasnya menjaga pacarnya yang sakit. Benarkan del." Adel hanya tersenyum. Karel yang iyakan pertanyaan kakaknya. Akhirnya Evelin tidak lama di ruangan ini.
Karena Kaleb juga adalah anggota intel, makanya dia membaca ada gerakan tidak bagus dari gestur tubuh Evelin. Maka dia menghubungi adenya lewat pesan.
"Dek, aku melihat Evelin ada gelagat tidak baik buat Adel. Kamu harus menjaga Adel dengan baik."
"Iya kak. Aku juga melihat itu."
Karel dan Kaleb kakak beradik ini jelas kenal betul dengan seorang Evelin Sabara, karena mereka tumbuh dan besar di asrama polisi yang sama. Papanya juga seorang perwira tinggi di kepolisian.
Sebagai anak tunggal, jelas Evelin sangat di manjakan. Namun banyak laki - laki di kompleks itu tidak terlalu tertarik dengannya, karena sombong.
Sekarang keluarga Barnabas sudah tidak tinggal di asrama, mereka sudah mempunyai rumah pribadi yang berada di sebuah perumahan elite yang dekat dengan markas polisi ini. Sedangkan keluarga Sabara masih menempati rumah dinas ini.
Sudah lima hari Karel dirawat di rumah sakit. Dan luka operasinya dirawat oleh Adel dengan baik. Hari ini oleh dokter Adel Emanuella Sanjaya , AKP Karel Imanuel Barnabas sudah di ijinkan pulang. Sekarang Karel sedang berada di ruangan kerja Adel di poli bedah saraf dan pembulu. Adel sedang menganti perbannya. Rencananya Karel akan membawa Adel makan malam di rumah mereka.
"Mas bisa membawa mobil dengan keadaan seperti ini??"
"Sakit saja, saya kuat mengendongmu."