NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar yang Terlalu Besar

Setelah sidang selesai, seluruh istana tampaknya sudah mengetahui bahwa Aelora menjadi putri bahkan sebelum ia kembali ke kamar.

Pelayan yang berpapasan dengannya membungkuk lebih dalam daripada biasanya. Dua penjaga di dekat tangga memanggilnya “Yang Mulia”, lalu saling menyalahkan karena mengucapkannya pada saat bersamaan. Di ujung lorong, seorang pelayan muda begitu gugup sampai menjatuhkan vas bunga ketika Aelora tersenyum kepadanya.

Aelora berhenti dan membantu memungut bunga yang berhamburan.

“Maaf, Putri,” kata pelayan itu.

“Aku yang membuatmu kaget.”

“Bukan salah Putri.”

“Aku cuma tersenyum.”

Pelayan tersebut tampak semakin gugup, seolah tersenyum juga merupakan salah satu kemampuan berbahaya milik anak malaikat.

Kael mengambil satu tangkai bunga dari lantai, lalu menyerahkannya kepada pelayan itu.

“Pergilah sebelum kau menjatuhkan vas kedua.”

Pelayan tersebut membungkuk, meraih vas, dan bergegas pergi.

Aelora berjalan di samping Kael sambil memainkan cincin kerajaan yang tergantung di lehernya. Rantai peraknya sedikit terlalu panjang sehingga batu bulan merah pada cincin terus membentur dada setiap kali ia melangkah.

“Semua orang jadi aneh,” katanya.

“Mereka sedang menyesuaikan diri.”

“Karena aku putri?”

“Karena kemarin kau anak manusia yang ditemukan di hutan. Hari ini namamu terikat pada takhta.”

“Besok apa?”

Kael menoleh sekilas. “Semoga kau hanya sarapan dan minum obat.”

Aelora tidak menjanjikan apa-apa.

Ketika mereka tiba di kamar, Orin sudah menunggu bersama tiga penjahit. Gulungan kain memenuhi kursi dan meja. Ada kain hitam, ungu, biru malam, serta satu gulungan putih yang langsung dijauhkan dari perapian oleh seorang penjahit bertanduk kecil.

“Nona—maksud saya, Putri,” kata Orin. “Karena kedudukan Anda sudah ditetapkan, para penjahit perlu mengukur pakaian resmi.”

Aelora melihat tiga orang yang memegang pita ukur.

“Sekarang?”

“Tidak akan lama.”

“Semua orang selalu bilang begitu.”

Kael melepas sarung tangannya. “Ukur besok.”

Penjahit tertua terlihat hendak pingsan. “Yang Mulia, upacara pengenalan dapat dilakukan dalam beberapa hari. Kami membutuhkan waktu untuk membuat pakaian yang sesuai.”

“Upacara apa?” tanya Aelora.

Orin menjawab dengan hati-hati, “Pengenalan resmi kepada keluarga bangsawan dan pegawai istana.”

“Harus?”

“Biasanya.”

Aelora menatap Kael.

Kael memandang Orin.

Orin menatap buku catatannya.

“Biasanya bukan berarti harus,” kata Aelora.

Kael menyembunyikan sedikit senyum. “Kau belajar cepat.”

Penjahit tertua menyela, “Namun hukum istana—”

“Besok,” putus Kael. “Dia demam.”

Aelora langsung menyentuh dahinya sendiri. “Aku sudah tidak demam.”

Kael menempelkan punggung tangannya pada kening Aelora.

“Masih.”

“Mungkin tanganmu memang dingin.”

“Alasan itu tidak menjadi lebih baik meski diulang.”

Para penjahit akhirnya pergi setelah Orin berjanji mereka boleh kembali pagi-pagi. Aelora memandangi gulungan kain yang dibawa keluar dengan lega.

“Apakah semua putri harus diukur setiap hari?”

“Tidak,” jawab Orin. “Hanya saat pertama kali tiba, tumbuh, menghadiri upacara, mengganti musim, dan ketika penjahit merasa potongan pakaian sudah tidak sesuai.”

“Itu terdengar seperti setiap hari.”

Orin mempertimbangkannya. “Hampir.”

Kael berjalan menuju meja dan menuangkan air ke dalam gelas. Aelora memperhatikan noda abu putih yang masih tersisa pada kulit dekat pergelangan tangannya.

“Kau belum diperiksa Eirna.”

“Sudah.”

“Kapan?”

“Di ruang sidang sebelum ritual.”

“Dia bilang apa?”

“Katanya aku keras kepala.”

“Itu bukan pemeriksaan.”

“Menurut Eirna, itu diagnosis.”

Aelora mendekat. Luka tersebut hanya berupa garis merah tipis, tetapi kulit di sekitarnya tampak lebih pucat.

“Apakah sakit?”

“Tidak.”

“Kau bohong.”

Kael mengangkat alis.

“Aku tahu wajahmu kalau menahan sakit,” kata Aelora.

Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.

Kael menurunkan lengan bajunya untuk menutupi luka. “Kau terlalu banyak mengetahui wajahku.”

“Aku pernah melihatnya setiap hari.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Aelora buru-buru memandang Piko yang diletakkan di atas ranjang, berharap Kael tidak akan melanjutkan pertanyaan.

Tentu saja harapan itu sia-sia.

“Di masa depan?”

Ia mengangguk pelan.

“Apakah kita tinggal di istana ini?”

“Ya.”

“Berapa lama?”

Aelora tidak menyukai pertanyaan tersebut karena jawabannya selalu berakhir pada kematian.

“Cukup lama.”

Kael menunggu, tetapi Aelora tidak menambahkan apa-apa.

Akhirnya ia berkata, “Kita akan membicarakannya setelah kau beristirahat.”

“Kau selalu menunda.”

“Karena kau selalu memilih waktu bicara saat demam, lapar, atau sedang dikejar pembunuh.”

“Tidak selalu.”

“Kemarin kau membicarakan kematianku saat utusan dewan mengetuk pintu.”

Aelora tidak punya bantahan.

Orin pamit setelah memastikan makan malam akan dikirimkan. Kael juga hendak pergi, tetapi Aelora memegang ujung mantelnya.

“Kau ke mana?”

“Memeriksa para tahanan.”

“Sekarang?”

“Mereka mungkin membawa informasi tentang orang yang mengirimnya.”

“Boleh aku ikut?”

“Tidak.”

Jawaban itu sudah diperkirakan.

Aelora melepaskan mantelnya. “Kau kembali nanti?”

Kael memandang wajah kecil yang berusaha terlihat tidak peduli.

“Aku akan kembali sebelum kau tidur.”

“Kalau aku tidur lebih dulu?”

“Aku tetap akan memeriksa kamar.”

“Jangan diam-diam.”

“Kenapa?”

“Aku bisa kaget.”

Kael tampak ingin mengatakan bahwa orang yang sedang tidur tidak akan tahu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

Setelah ia pergi, kamar terasa jauh lebih besar.

Aelora berdiri di tengah karpet dan memandang sekeliling. Tirai ranjang menjulang seperti dinding. Perapian cukup besar untuk dimasuki dua orang dewasa. Jendela menghadap taman gelap yang dipenuhi bunga bercahaya, tetapi dari tempat Aelora berdiri, kaca itu hanya terlihat seperti lubang hitam.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah tinggal di kamar ini.

Namun saat itu usianya lebih besar dan barang-barangnya sudah memenuhi sebagian ruang: tumpukan buku di lantai, peta di dinding, pita rambut yang tidak pernah disimpan, serta kursi dekat perapian tempat Kael sering duduk tanpa diundang.

Sekarang kamar itu terlalu rapi.

Terlalu kosong.

Seperti kamar yang disiapkan untuk seorang putri dalam cerita, bukan untuk dirinya.

Aelora membawa Piko ke tempat tidur. Ia mencoba naik sendiri, tetapi kasurnya terlalu tinggi. Setelah dua kali gagal, ia menarik bangku kecil dari meja rias dan menggunakannya sebagai pijakan.

“Jangan tertawa,” katanya kepada Piko.

Boneka itu tidak menjawab.

Aelora menyandarkannya pada bantal.

“Sekarang aku putri.”

Piko tetap diam.

“Aku juga tidak tahu bagaimana bisa begitu.”

Ia menyentuh cincin kerajaan di lehernya. Logam itu hangat, mungkin karena sejak tadi menempel pada kulit. Nama Vesperion masih terasa asing jika disandingkan dengan namanya sendiri.

Aelora Vesperion.

Ia mencobanya dalam hati beberapa kali.

Tidak buruk.

Namun nama baru tidak serta-merta membuat ketakutannya hilang. Ia masih dapat membayangkan Mareth datang membawa surat kerajaan dan menuntut dirinya kembali. Ia juga tahu Dewan Bulan belum benar-benar menerima kehadirannya. Mereka hanya tidak mampu menolak keputusan Kael.

Jika Kael berubah pikiran, apakah nama itu ikut hilang?

Aelora menarik selimut hingga menutupi kaki.

Pintu diketuk tidak lama kemudian. Dua pelayan membawa makan malam: sup bening, telur, roti hitam, dan susu hangat tanpa asap ungu. Mereka menyiapkannya di meja kecil dekat ranjang.

Salah seorang pelayan meletakkan sebuah bel perak.

“Kalau Putri membutuhkan sesuatu, bunyikan ini.”

“Benar-benar apa saja?”

“Selama kami mampu menyediakannya.”

“Bagaimana kalau aku ingin ayam?”

“Kepala dapur dapat memasaknya.”

“Bukan untuk dimakan.”

Pelayan itu berkedip.

“Aku hanya bertanya.”

Setelah mereka pergi, Aelora makan setengah mangkuk sup dan satu potong roti. Ia menyimpan potongan kedua di bawah serbet, lalu menyadari apa yang sedang dilakukan.

Tidak ada yang akan mengambil makanannya.

Ia mengeluarkan roti itu lagi dan memakannya perlahan.

Menjelang malam, Eirna datang untuk mengganti perban dan memberinya obat. Tabib itu juga membawa salep untuk luka di kaki.

“Kael belum kembali?” tanya Aelora.

“Masih di ruang tahanan.”

“Apakah para pemburu bicara?”

“Salah satunya.”

“Apa katanya?”

Eirna mengoleskan salep tanpa menjawab.

Aelora langsung tahu ada sesuatu yang disembunyikan. “Tentang aku?”

“Sebagian besar tentang Gereja Fajar.”

“Berarti juga tentang aku.”

“Kau harus beristirahat.”

“Itu bukan jawaban.”

Eirna mengikat perban baru, lalu duduk di tepi ranjang. “Mereka percaya darahmu dapat membuka sesuatu yang disebut Kunci Langit.”

“Aku bukan kunci.”

“Saya tahu.”

“Mereka tidak.”

“Karena itu Kael mencari tahu siapa yang memberi perintah.”

Aelora menatap tanda di pergelangan tangan. “Apa mereka akan terus datang?”

“Mungkin.”

Jawaban jujur itu membuatnya lebih takut, tetapi ia tetap lebih menyukainya daripada kebohongan.

Eirna menyelimutinya. “Pintu dijaga empat orang. Jendela dilindungi rune. Tidak ada yang bisa masuk tanpa diketahui.”

“Menara juga dilindungi rune.”

“Menara berbeda.”

“Semua orang bilang begitu.”

Eirna memadamkan dua lampu, menyisakan satu dekat ranjang dan cahaya dari perapian.

“Cobalah tidur.”

“Aku belum mengantuk.”

“Kau menguap tiga kali.”

“Itu karena obat.”

“Bagus. Berarti obatnya bekerja.”

Aelora berbaring sambil memeluk Piko. Eirna menunggu sampai matanya mulai tertutup, kemudian berjalan menuju pintu.

“Eirna?”

Tabib itu menoleh.

“Bisa biarkan pintunya sedikit terbuka?”

“Tentu.”

Pintu tidak ditutup sepenuhnya. Cahaya dari lorong membentuk garis tipis di lantai.

Aelora mendengarkan langkah Eirna menjauh.

Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Kael akan datang. Empat penjaga berada di luar. Istana ini aman.

Namun kamar tetap terasa terlalu besar.

Setiap bunyi kayu dari perapian terdengar seperti ranting patah di Hutan Hitam. Tirai ranjang bergerak sedikit karena angin, menyerupai jubah putih pendeta. Saat menutup mata, Aelora melihat lambang matahari pada kain para pemburu.

Ia membalikkan badan.

Piko terjepit di bawah dagunya.

“Kalau kau mau bicara,” bisiknya, “sekarang waktu yang bagus.”

Boneka itu tidak membantu.

Aelora menghitung napas, seperti yang pernah diajarkan Kael pada kehidupan lain. Tarik empat hitungan. Tahan. Keluarkan perlahan.

Pada hitungan ketujuh, ia tertidur.

Dalam mimpinya, Istana Bulan Merah terbakar.

Aelora berdiri di aula utama, tetapi tubuhnya sudah bukan tubuh anak-anak. Tangannya lebih panjang. Gaunnya berubah menjadi pakaian perang berwarna hitam-putih. Rambutnya dipenuhi abu.

Di lantai terdapat pecahan kaca, senjata, dan tubuh orang-orang yang ia kenal.

Ryn terbaring dekat tangga.

Nira berada di bawah pilar yang runtuh.

Orin masih memegang buku catatannya meskipun dadanya tertusuk tombak cahaya.

Aelora mencoba memanggil mereka, tetapi tidak ada suara keluar.

Di ujung aula, Gerbang Tiga Dunia terbuka.

Cahaya putih dan hitam berputar di tengahnya. Dari balik cahaya terdengar suara ibunya.

Aelora, kemarilah.

Ia melangkah.

Seseorang memegang pergelangan tangannya.

Kael berdiri di belakangnya. Wajahnya penuh darah, tetapi ia masih hidup.

Jangan buka gerbang.

“Ibu ada di sana.”

Itu bukan ibumu.

“Aku bisa menyelamatkan semuanya.”

Kau tidak bisa menghidupkan orang mati dengan mengorbankan orang yang masih hidup.

Suara dari gerbang berubah.

Sekarang suara itu menggunakan suara Kael.

Buka, Aelora.

Ia menoleh.

Kael yang memegang tangannya masih berdiri di belakang. Namun dari dalam gerbang, Kael lain berjalan keluar dengan dada utuh dan senyum yang sangat dikenalnya.

Buka gerbang dan aku akan kembali.

Aelora menggenggam pedang.

Kael yang asli menarik tangannya.

Kael dari gerbang mengulurkan kedua lengan.

Ia tidak tahu mana yang harus dipercaya.

Lalu seseorang berdiri di belakangnya dan menutup jemari Aelora pada gagang pedang.

Tusuk dia.

Aelora menjerit.

Kael membuka pintu kamar saat jeritan itu terdengar.

Ia baru kembali dari ruang tahanan. Mantelnya masih berbau hujan dan ruang bawah tanah. Seorang penjaga mencoba mengikuti, tetapi Kael memberi isyarat agar tetap di luar.

Aelora meronta di atas ranjang. Selimutnya jatuh ke lantai, sedangkan Piko terlempar ke dekat bantal. Wajahnya basah oleh keringat.

“Tidak,” gumamnya. “Bukan Ayah.”

Kael mendekati ranjang dan menyentuh bahunya.

“Aelora.”

Anak itu tidak bangun.

Ia justru meraih pergelangan Kael begitu kuat sampai kukunya menekan kulit.

“Jangan buka gerbang,” katanya dalam tidur. “Tolong jangan mati lagi.”

Kael duduk di tepi ranjang.

“Aku di sini.”

Napas Aelora tetap cepat.

Kael mengangkatnya sedikit dan menyandarkan tubuh kecil itu pada dadanya. Ia tidak pandai menenangkan anak. Seluruh pengalaman hidupnya lebih banyak berisi perang, perundingan, dan cara membunuh orang tanpa mengotori karpet.

Namun ia ingat sesuatu yang pernah dilakukan ibunya saat dirinya sakit.

Kael menepuk punggung Aelora perlahan.

Sekali.

Diam sejenak.

Lalu sekali lagi.

Napas Aelora mulai melambat.

“Tidak ada gerbang di sini,” katanya. “Kau berada di kamarmu.”

Jari-jari yang mencengkeram pergelangannya mulai lemas.

Kael hendak membaringkannya kembali ketika cahaya tipis muncul dari balik pakaian tidur Aelora.

Awalnya ia mengira tanda di pergelangannya kembali bereaksi. Namun cahaya tersebut berasal dari punggung.

Kael membuka sedikit kain di bagian bahu.

Dua garis putih tumbuh di bawah kulit Aelora, membentuk lengkungan kecil di antara tulang belikat. Cahaya itu menembus kain dan menyebar seperti bulu.

Kael menahan napas.

Dari punggung anak yang tertidur, muncul dua sayap kecil seukuran telapak tangan.

Sayap itu belum padat. Bentuknya nyaris transparan, tersusun dari cahaya putih dengan ujung keemasan. Keduanya bergerak lemah setiap kali Aelora bernapas.

Kael tidak menyentuhnya.

Ia hanya duduk diam, memandangi sesuatu yang seharusnya tidak mungkin tumbuh pada anak manusia.

Salah satu sayap kecil terbuka.

Sebutir cahaya jatuh ke telapak tangan Kael dan berubah menjadi bulu putih.

Di pangkal bulu tersebut terdapat noda darah emas.

Kael mengenali jenis darah itu.

Ia pernah melihatnya tujuh tahun lalu, pada malam Mirael datang ke istana sambil membawa bayi yang tidak berhenti menangis.

Kael menutup jemarinya di sekitar bulu tersebut.

“Seraphiel,” bisiknya.

Sayap Aelora menguncup kembali, lalu menghilang ke dalam punggung seolah tidak pernah muncul.

Namun bulu bercahaya itu tetap berada di tangan Kael.

Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Aelora di hutan, ia tahu dengan pasti siapa ayah kandung anak tersebut.

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!