Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: 24 Jam
Simulasi neuro-respons di dalam pod siber bukan sekadar memproyeksikan visual statis. Sistem Nexus Academy memanipulasi persepsi ruang dan waktu secara absolut. Di dalam kapsul logam tertutup itu, jam biologis tiga ratus dua puluh peserta dipaksa macet. Tidak ada siang, tidak ada malam. Hanya ada dengung frekuensi rendah konstan yang merusak fokus, serta temperatur ruangan yang sengaja diubah berkala dari dingin mencekam hingga panas yang menguras keringat.
Jam pertama berlalu dengan eliminasi massal.
Bagi remaja yang terbiasa dengan kepastian indikator angka, ketiadaan penanda waktu di dalam pod adalah siksaan terbesar. Otak mereka mulai berspekulasi. Apakah ini sudah jam kelima? Atau baru menit ketiga puluh? Rasa lapar yang mulai menggerogoti lambung serta kantuk berat yang menyerang akibat gelombang theta yang dipancarkan sistem membuat pertahanan mental mereka retak satu demi satu.
BZZZ. BZZZ. BZZZ.
Di ruang kontrol luar, lampu indikator merah pada puluhan pod menyala bergantian. Bunyi hidrolik pintu yang terbuka menandakan gugurnya peserta yang tidak lagi kuat menahan tekanan. Mereka keluar dengan wajah pucat, mata nanar, dan tubuh gemetar, langsung dievakuasi oleh tim medis sekolah ke luar koridor.
Di dalam pod nomor 412, Dimas Arvant Nugraha sedang bertarung melawan kegelapan isi kepalanya. Proyeksi visual di hadapannya terus menampilkan ruang keluarga rumahnya, di mana sang ayah sedang memberikan piala tiruan kepada siluet kakaknya, sementara Dimas sendiri digambarkan sebagai bayangan hitam tanpa bentuk yang duduk di pojok ruangan.
Dimas mencengkeram kepalanya sendiri. Napasnya pendek-pendek. "Ini cuma siber. Ini bukan asli," bisiknya berulang-ulang, mencoba menggunakan logika rasional untuk mematahkan simulasi.
Namun sistem Nexus mendeteksi perlawanan itu dan meningkatkan beban stres. Suara makian tiruan yang menyerupai suara ayahnya mendadak menggema dari segala arah. Dimas tahu ia tidak bisa mematikan audio itu. Maka, untuk mengalihkan otaknya dari pusaran trauma, ia mulai berbicara keras-keras. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan memanfaatkan sisa interkom tim lokal yang sengaja dibuka panitia dengan pembatasan statis.
"Hei... ada orang di faksi lokal tiga?" suara Dimas terdengar serak di jaringan audio darurat. "Kalau ada yang masih hidup, dengar aku. Ini cuma trik komputer kelas teri. Jangan biarkan mesin sialan ini menang."
Di pod nomor 520, Nabila Cendana Adiwijaya mendengar suara Dimas yang terputus-putus oleh distorsi frekuensi. Kondisi Nabila adalah yang terburuk di antara faksi beasiswa. Fisiknya yang sejak awal tidak seprima anak-anak faksi elite karena kurangnya nutrisi, kini berada di titik nadir. Kepalanya terasa seperti dihantam godam. Pandangan visual di hadapannya menampilkan hamparan sawah kering di kampung halamannya yang retak-retak, dengan surat tagihan utang bank yang melayang-layang memenuhi langit simulator.
Nabila hampir pingsan. Kesadarannya timbul tenggelam antara realitas pod yang dingin dan halusinasi siber. Tangannya yang dingin sudah melayang di atas tombol darurat berwarna merah di dinding pod. Satu tekanan kecil, dan semua siksaan ini akan berakhir. Ia bisa tidur. Ia bisa pulang.
"Nabila? Kamu di sana, kan? Aku tahu nomor podmu di sebelahku," suara Dimas kembali masuk, memotong keputusasaan Nabila. "Jangan tekan tombolnya. Ingat nilai biologimu di tahap dua. Kamu penyangga tim kita. Kalau kamu keluar sekarang, usaha kita dari pagi sia-sia."
Nabila menghentikan jarinya, tepat satu sentimeter di atas tombol merah. Air matanya menetes, membasahi sensor elektroda di pipinya. Kalimat Dimas menarik kembali kesadarannya yang hampir hanyut. "Aku... masih di sini, Dim," jawab Nabila dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Ia menarik kembali tangannya, mengepalkannya kuat-kuat di atas lutut, memaksa tubuhnya yang lemas untuk tetap tegak.
Sementara itu, di pod nomor 201, Gavin Arsenio Mahardika menghadapi simulasinya dengan metode yang sangat berbeda. Sistem memproyeksikannya berada di tengah ruang hampa udara dengan rumus-rumus fisika yang bergerak acak dan patah. Gavin tidak panik. Ia justru memanfaatkan rumus-rumus yang berantakan itu untuk melatih otaknya. Ia mulai menghitung ulang deformasi spasial di dalam simulator tersebut secara manual di dalam kepalanya. Dengan mengalihkan fokus mutlak pada perhitungan matematis, sistem neuro-respons Nexus gagal menemukan celah emosional untuk menyerang mentalnya. Grafik gelombang otak Gavin di ruang kontrol luar terbaca sangat stabil, hampir menyerupai garis tidur nyenyak.
Di sebelahnya, Nareswara di pod 205 justru sedang sibuk menganalisis frekuensi gelombang theta yang dikirimkan oleh helm sensor. "Frekuensi 4.5 Hertz," gumam Nareswara dengan mata terpejam. "Mereka mencoba memaksa otakku masuk ke fase REM secara instan untuk memicu mimpi buruk." Nareswara memanipulasi ritme napasnya secara konstan, menolak sinkronisasi gelombang otak yang dicoba dipaksakan oleh sistem pod. Bagi Nareswara, ini adalah duel antara sistem biologis manusia melawan sistem mekanis buatan manusia.
Di faksi teratas, pertarungan berjalan jauh lebih intens.
Keisya di pod 102 terus dihantam oleh proyeksi dokumen kematian ayahnya yang sengaja dimanipulasi oleh sistem menjadi bukti bahwa ayahnya adalah seorang pengecut yang bunuh diri. Kata diproyeksikan dalam ukuran raksasa di dinding laboratorium siber tersebut.
"Bukan... Papa tidak begitu," Keisya menggeram, giginya berantuk rapat. Matanya yang merah menatap tajam ke arah teks digital di hadapannya. Ia tahu ini adalah tes etika dan mental. Sistem sedang mencoba memicu kemarahannya agar emosinya mengambil alih seluruh fungsi logika. Keisya mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Kalian menggunakan memori Papaku untuk menjatuhkanku? Murahan sekali, Nexus." Keisya memaksa matanya tetap terbuka lebar, menantang visualisasi horor siber itu tanpa berkedip.
Di pod nomor 101, Atharva duduk seperti patung batu. Proyeksi sosok kakaknya, Alvaro, yang memiliki wajah rata tanpa mata kini telah berubah. Sosok itu kini duduk di hadapan Atharva, menyodorkan sebuah lembar dokumen berlogo yang berlumuran cairan hitam menyerupai oli atau darah kental.
"Ini akhir dari mereka yang mencari tahu, Athar," suara Alvaro tiruan itu menggema, terdengar distorsi mekanis yang berat.
Atharva menatap sosok tiruan kakaknya dengan pandangan kosong. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Tidak ada kepanikan pada detak jantungnya.
"Kak Alvaro yang asli tidak akan pernah menggunakan bahasa formal seperti itu padaku," kata Atharva dengan suara dingin yang memotong narasi simulasi. "Kalian mengumpulkan data emosional dari arsip lama, memformulasikannya menjadi gambar, dan berharap aku akan menyerah seperti peserta lainnya?"
Atharva memajukan tubuhnya, menatap tepat ke arah wajah rata sosok tiruan tersebut.
"Aku datang ke sini bukan untuk ditakut-takuti oleh program komputer fiktif. Tampilkan yang lebih nyata dari ini, atau biarkan aku menyelesaikan dua puluh empat jam ini dalam kenyamanan," tantang Atharva secara langsung pada sistem algoritma Nexus.
Di ruang kontrol, Profesor Adrian berdiri dari kursi utamanya. Ia berjalan mendekati layar pemantau pod 101. Grafik ketahanan mental Atharva tidak menunjukkan lonjakan sekecil apa pun, bahkan setelah sistem menaikkan intensitas stimulasi trauma hingga batas maksimal 95%.
"Anak ini... dia tidak menolak trauma itu," ujar salah satu pengawas dengan nada ngeri. "Dia membiarkan trauma itu masuk, mengenalinya sebagai program, dan mengabaikannya. Tingkat detasemen emosionalnya berada di level yang tidak masuk akal untuk remaja tujuh belas tahun."
Profesor Adrian menatap tajam pada nomor peserta Atharva: 000-001. "Dia tidak mendetoksifikasi ketakutannya. Dia memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk tetap terjaga. Naikkan parameter waktu simulasi untuk sisa peserta menjadi mode akselerasi psikologis. Kita lihat siapa yang benar-benar layak berdiri di puncak piramida ini saat pintu pod dibuka besok pagi."
Di dalam kegelapan pod yang tidak pernah berakhir, dua puluh empat jam terasa seperti keabadian yang mematikan. Namun bagi mereka yang bertahan, setiap detik penderitaan ini adalah harga yang harus dibayar demi selangkah lebih dekat dengan kebenaran yang disembunyikan di balik dinding kokoh Nexus Academy.