SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 PAGI YANG TIDAK LAGI SAMA
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.
Arkan baru tidur beberapa jam ketika suara azan subuh terdengar dari masjid dekat gang. Biasanya, ia akan membuka mata dengan tubuh berat, lalu memikirkan pekerjaan apa yang harus dikejar hari itu. Kadang proyek kecil. Kadang bantu angkut barang. Kadang hanya menatap langit-langit dan menghitung kekurangan yang tidak pernah habis.
Namun pagi ini berbeda.
Bukan karena rumah mereka berubah.
Rumah itu masih sama. Dindingnya masih kusam. Kipas angin tua masih menggantung dengan suara pelan. Rak buku Naya masih miring. Motor tua masih terparkir di depan seperti prajurit lama yang terlalu banyak selamat dari perang kecil.
Yang berubah adalah daftar hari ini.
Medical check-up Ibu.
Bertemu Olivia Tan.
Menghadapi pihak bank.
Melihat rumah baru.
Mengganti kendaraan.
Semua itu bukan rencana untuk “suatu saat”.
Semua itu rencana hari ini.
Arkan duduk di tepi kasur tipisnya, mengusap wajah perlahan.
Ponselnya menyala di samping bantal. Beberapa pesan sudah masuk. Satu dari Olivia berisi jadwal dan instruksi. Satu dari bank berisi konfirmasi layanan. Satu lagi dari sistem, tentu saja, dengan nada yang tidak pernah gagal merusak suasana.
[Selamat pagi, Tuan Rumah.]
[Agenda hari ini: naik kelas.]
[Catatan awal: baju Tuan Rumah perlu dipertimbangkan ulang agar tidak terlihat seperti sopir cadangan dari aset sendiri.]
Arkan menatap layar datar.
“Baru bangun sudah menghina.”
[Sistem hanya melakukan evaluasi penampilan.]
[Status pakaian tersedia: kurang layak untuk bertemu konsultan hukum, pihak bank, dan rumah sakit prioritas.]
Arkan melihat kaus yang sedang dipakainya. Kaus lama, sedikit pudar, masih bersih, tapi memang bukan pakaian yang membuat orang bank menundukkan kepala.
Ia menghela napas.
“Belum sempat beli baju.”
[Kesalahan hidup lama: menunda kebutuhan dasar karena terbiasa kekurangan.]
[Solusi: pembelian pakaian layak dijadwalkan setelah kendaraan.]
Arkan tidak menjawab.
Ia berdiri, mengambil handuk, lalu keluar dari kamar. Dari dapur kecil, ia melihat Bu Sari sudah bangun lebih dulu. Perempuan itu sedang memanaskan air, rambutnya tersembunyi di balik kerudung rumah, wajahnya masih pucat tetapi berusaha terlihat biasa.
Kebiasaan lama.
Sakit pun harus terlihat kuat.
Naya juga sudah bangun. Gadis itu duduk di ruang tamu dengan map dokumen di pangkuan, tetapi matanya justru tertuju pada ponsel. Sepertinya ia sedang mencari daftar universitas seperti yang Arkan suruh semalam.
“Bang,” Naya langsung menoleh saat melihat Arkan. “Beneran hari ini ke rumah sakit?”
“Beneran.”
Bu Sari menoleh dari dapur. “Sarapan dulu. Ibu bikin teh sama roti.”
Arkan melihat roti tawar di atas piring. Hanya beberapa lembar. Biasanya cukup untuk mereka bertiga jika dibagi tipis dengan margarin.
Sebelum Arkan bicara, sistem sudah lebih dulu muncul.
[Menu sarapan tidak sesuai agenda naik kelas.]
[Rekomendasi: sarapan layak sebelum pemeriksaan medis.]
Arkan menatap roti itu sebentar, lalu berkata, “Kita sarapan di luar saja, Bu. Sekalian jalan ke rumah sakit.”
Bu Sari langsung mengerutkan kening. “Tidak usah. Ini cukup.”
“Bu.”
Arkan tidak meninggikan suara, tetapi nada itu membuat Bu Sari berhenti.
“Kita tidak perlu menghemat sarapan hari ini.”
Kalimat itu sederhana.
Namun di rumah kecil itu, kalimat sederhana kadang terasa seperti pintu yang sulit dibuka.
Bu Sari menatap roti di piring, lalu menatap Arkan. Selama beberapa detik, wajahnya tampak ingin membantah. Namun ia akhirnya menghela napas pelan.
“Ya sudah. Tapi jangan yang mahal-mahal.”
Naya hampir tersenyum.
Arkan juga.
Sistem langsung memberi komentar.
[Kalimat “jangan yang mahal-mahal” terdeteksi.]
[Status: kebiasaan keluarga belum pulih.]
[Estimasi pemulihan: membutuhkan makanan layak berulang.]
Arkan menahan diri agar tidak tertawa.
Setelah mandi dan berganti pakaian terbaik yang ia punya—kemeja biru tua yang sudah sering dipakai untuk urusan kampus—Arkan keluar dari kamar. Kemeja itu tidak baru, tetapi masih rapi. Ia menyisir rambut seadanya, lalu memasukkan ponsel dan dompet ke saku.
Naya mengenakan baju sederhana dan kerudung rapi. Bu Sari memakai gamis lama yang biasa ia pakai kalau ke tempat penting. Arkan melihat ibunya menyematkan peniti dengan tangan sedikit gemetar.
Ia mendekat.
“Bu, takut?”
Bu Sari tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tas kecil di tangannya.
“Bukan takut rumah sakit,” katanya pelan. “Ibu cuma belum biasa semuanya diurus secepat ini.”
Arkan mengangguk.
“Arkan juga belum biasa.”
Bu Sari menatapnya.
Kali ini, Arkan tidak berpura-pura menjadi orang paling tenang di dunia.
“Tapi kita jalani saja. Satu per satu.”
Naya berdiri di dekat pintu, lalu mengangkat mapnya sedikit. “Naya bawa dokumen sekalian, Bang. Siapa tahu habis rumah sakit kita bahas kampus.”
Arkan menatap adiknya. Ada semangat kecil di mata Naya. Semangat yang kemarin masih tertutup rasa bersalah.
“Bawa saja.”
Mereka keluar rumah bersama.
Begitu pintu dibuka, udara pagi gang menyambut mereka. Beberapa tetangga sudah beraktivitas. Ada yang menyapu halaman, ada yang menjemur pakaian, ada yang membeli sayur dari pedagang keliling.
Dan seperti yang Arkan duga, mata-mata itu menoleh.
Tiga orang keluar rumah pagi-pagi dengan pakaian rapi bukan hal luar biasa. Tapi setelah kabar kemarin, semua hal tentang keluarga Arkan menjadi bahan bacaan baru.
Bu Lilis muncul dari depan rumahnya sambil membawa sapu. Gerakannya terlalu cepat untuk disebut kebetulan.
“Pagi, Bu Sari. Mau ke mana pagi-pagi rapi sekali?”
Bu Sari tampak hendak menjawab panjang, tetapi Arkan lebih dulu tersenyum sopan.
“Ke rumah sakit, Bu. Periksa kesehatan Ibu.”
Wajah Bu Lilis berubah sedikit. Rasa ingin tahunya tertahan oleh kata rumah sakit.
“Oh, sakit apa?”
“Cek rutin saja,” jawab Arkan singkat.
“Rumah sakit mana?”
Arkan membuka pagar kecil sambil menjawab tenang, “Yang dekat.”
Jawaban itu tidak memberi apa pun.
Bu Lilis jelas tidak puas, tetapi Arkan sudah membantu Bu Sari naik ke motor. Naya duduk di belakang ibunya. Tiga orang di satu motor tua, seperti biasa. Bedanya, hari ini motor itu tidak lagi membawa mereka karena tidak ada pilihan lain.
Hari ini motor itu hanya mengantar mereka ke titik terakhir sebelum hidup baru mulai mengambil alih.
[Sistem menilai formasi kendaraan tidak ideal.]
[Tiga manusia menuju layanan kesehatan prioritas menggunakan kendaraan yang berstatus prasejarah.]
[Rekomendasi: pembaruan kendaraan dipercepat sebelum sistem mengalami malu struktural.]
Arkan menyalakan motor.
Mesinnya batuk keras.
Bu Lilis dan dua tetangga lain langsung menoleh.
Sistem menambahkan:
[Mesin ikut menyebarkan informasi.]
Arkan hampir mendengus.
Motor melaju keluar gang.
Pagi Pontianak terasa lebih padat. Jalan mulai ramai oleh orang berangkat kerja, anak sekolah, pedagang, dan motor yang bergerak rapat. Bu Sari duduk di tengah, sesekali memegang bahu Arkan. Naya di belakang memegang map dengan hati-hati.
Biasanya, perjalanan seperti ini membuat Arkan tegang karena banyak hal harus dihitung. Bensin. Parkir. Uang makan. Biaya pendaftaran. Obat. Kemungkinan biaya tambahan. Semua angka kecil itu dulu selalu mengejar dari belakang.
Hari ini, untuk pertama kalinya, angka kecil itu tidak mengejar.
Namun bukan berarti pikirannya tenang.
Justru angka besar yang kini menunggu.