NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Infiltrasi Pipa Hidrolik

   ​Langkah kaki senyap empat orang itu menyusuri dinding beton berlumut di kedalaman jalur air bawah tanah Sektor Anggrek Barat. Suara gemercik air yang mengalir konstan di dalam pipa-pipa besi raksasa menciptakan gema statis yang menyamarkan pergerakan mereka.

   Kapten Alden berjalan di barisan paling depan, memegang lentera energi bercahaya redup dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap bersiaga di atas hulu pedang The Zephyr Blade.

   ​Di belakangnya, Clara melangkah dengan penuh kehati-hatian. Meskipun rasa nyeri di lengan kanannya yang diperban sudah mulai mereda berkat ramuan medis kuno, medan yang licin dan lembab ini menuntut kehati-hatian dan konsentrasi penuh dari tubuh manusianya yang tanpa kekuatan supranatural.

   Dua prajurit elite kapal berzirah ringan menutup barisan belakang, menjaga arah pandangan mereka ke setiap sudut kegelapan.

   ​"Dua menit lagi menuju waktu eksekusi Mayor Cakra," bisik Alden sembari melirik jam saku mekanis di pergelangan tangan kirinya. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru mesin pompa hidrolik istana yang mulai terdengar di ujung terowongan.

   ​"Mayor Cakra dan Hana pasti berhasil," jawab Clara penuh keyakinan. "Sistem logistik istana memiliki celah rotasi setiap pergantian paruh malam. Dengan lencana otoritas Mayor miliknya, sistem tidak akan mencurigai manipulasi manual di ruang pemindai utama."

   ​Tepat ketika kata-kata itu selesai diucapkan, semburat merah dari lampu-lampu sensor pelacak aura yang terpasang di langit-langit terowongan mendadak berkedip tiga kali, lalu padam sepenuhnya.

   Kegelapan total sempat menyelimuti mereka selama satu detik sebelum lentera redup Alden kembali menjadi satu-satunya sumber cahaya.

​"Radar pemindai mati. Kita punya waktu tepat sepuluh menit sebelum sistem melakukan reboot otomatis," desis Alden tegap. "Bergerak!"

   ​Mereka mempercepat langkah, setengah berlari menuju sebuah katup hidrolik raksasa berdiameter dua meter yang menjadi gerbang masuk utama ke pipa pasokan air menara barat istana. Katup besi itu tampak sangat kokoh dengan engsel-engsel baja kuno yang dikunci oleh segel sihir mekanis berlogo elang kekaisaran.

   ​Alden melangkah maju, meletakkan telapak tangan kirinya di atas panel kristal pengunci. Ia menyalurkan sedikit kekuatan supranatural badai safirnya secara konstan, memicu getaran frekuensi tinggi yang beresonansi dengan kode akses bypass yang sebelumnya telah disalin oleh Mayor Cakra ke dalam perangkat komunikasi taktis mereka.

   ​KREEEEDUUUT... BREEES!

   ​Pintu katup besi itu bergeser naik secara perlahan, menyemburkan uap air bertekanan tinggi yang hangat ke udara. Di balik katup tersebut, terbentang jalur pipa hidrolik vertikal yang menanjak lurus ke atas menuju lantai dasar utilitas aula sidang agung. Jalur ini dilapisi oleh tangga besi darurat yang sempit di dinding dalamnya.

   ​"Aku yang naik pertama. Clara, mendaki tepat di bawah posisiku. Jika langkahmu goyah, tubuhku akan menopangmu," perintah Alden dengan sangat protektif yang tidak menerima bantahan.

   ​Clara mengangguk tegap, menyampirkan tongkat komando elang peraknya di punggung dengan posisi menyilang agar tidak mengganggu pergerakannya. Mereka mulai mendaki tangga besi yang basah itu satu per satu di dalam kegelapan pipa raksasa.

   Udara di dalam pipa terasa sangat tipis dan dipenuhi aroma besi berkarat, membuat napas Clara mulai memburu setelah mendaki beberapa puluh meter. Setiap kali kaki Clara sedikit tergelincir di anak tangga yang licin, tangan kokoh Alden dengan sigap mencengkeram jubahnya, memberikan dorongan stabilitas yang instan.

   ​Sementara itu, di Sektor Barat bagian atas istana, Mayor Cakra berdiri tegap di ruang kendali logistik utama bersama Hana yang menyamar dengan memakai seragam pelayan istana berpola bunga dahlia putih.

   Mayor Cakra melipat kedua tangannya di dada, menatap dingin ke arah operator sihir menara yang tampak bingung melihat layar monitor yang mendadak mati total.

   ​"Mayor Cakra, terjadi fluktuasi energi mendadak di jalur pipa barat. Sistem pemindai aura kehilangan kontak," lapor sang operator dengan nada cemas.

   ​"Jangan panik, Sersan," jawab Mayor Cakra dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh wibawa seorang perwira tinggi yang mengintimidasi. "Itu hanyalah pemeliharaan berkala untuk sistem hidrolik menjelang Sidang Agung besok malam. Aku sendiri yang menandatangani surat perintah pengalihan dayanya satu jam yang lalu. Fokus saja pada pemindaian gerbang utama."

   ​Operator tersebut langsung menundukkan kepala, tidak berani mempertanyakan lebih lanjut otoritas dari seorang Mayor Komando Utama.

   Hana yang berdiri di balik bayang-bayang tiang ruangan sembari memegangi nampan teh herbal penyamarannya melepaskan napas lega, bersyukur gertakan penuh siasat Mayor Cakra berhasil mengulur waktu berharga bagi Alden dan Clara di bawah sana.

   ​Kembali ke dalam pipa vertikal, Alden telah mencapai ujung atas jalur pendakian. Sebuah penutup jeruji besi utilitas menghalangi jalan mereka. Melalui celah jeruji, terlihat ruang bawah tanah aula sidang yang sepi dan remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lampu dinding berbahan bakar minyak esensial.

   ​Alden menggunakan kekuatan fisiknya untuk mendorong jeruji besi itu tanpa suara, lalu melompat keluar dengan keanggunan seorang ksatria langit berpengalaman. Ia segera berbalik, mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Clara keluar dari lubang pipa hidrolik dengan sangat hati-hati.

   ​Tepat saat kaki Clara menapak di lantai marmer ruang utilitas, jam saku Alden berbunyi pelan, sepuluh menit telah berlalu.

   Di dalam pipa, suara dengung mesin pertahanan istana kembali terdengar menyala, menandakan bahwa sistem pemindai telah aktif kembali secara normal.

   ​"Kita berhasil menerobos area dalam," bisik Clara sembari merapikan pakaian wolnya yang sedikit basah oleh uap air. Ia menatap ke arah dinding partisi kayu ek besar di depan mereka, di balik dinding itulah Aula Sidang Agung Kekaisaran berada.

   Gema suara langkah kaki dari para pelayan istana yang sedang mempersiapkan kursi para menteri mulai terdengar samar.

​Alden berjalan mendekati celah dinding penyamaran, sepasang mata abu-abu badainya berkilat tajam memantulkan tekad yang membara.

   Di dalam saku jubah perangnya, ia meraba botol kristal berisi sisa esensi kutukan hitam yang dikumpulkan Clara dari tubuh Rin dan Toby, sebagai bukti fisik yang akan meruntuhkan seluruh kebohongan Marsekal Vane dan faksi sekte hitam.

   ​"Besok malam, di balik dinding ini, kita akan menyelesaikan apa yang mereka mulai, Clara," ujar Alden rendah, meremas jemari istrinya dengan kehangatan yang penuh kasih. "Dan di hadapan Kaisar Tertinggi, dunia langit akan tahu bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi mereka yang mencoba menyentuh keluarga kita."

   ​Dengan keberhasilan infiltrasi yang mulus berkat pengalihan penuh siasat dari Mayor Cakra dan bantuan penyamaran Hana, babak akhir dari konfrontasi politik di jantung Kekaisaran bawah kini telah siap diledakkan oleh sang Kapten Langit dan sang Ibu Tangguh.

Mohon dukungannya, sepi banget.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!