"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas di Balik Kuitansi
Pagi hari di sekretariat BEM terasa seperti berada di dalam ruang tunggu rumah sakit; sunyi, tegang, dan penuh kecemasan akan hasil diagnosa. Lyana sudah duduk di mejanya sejak pukul tujuh, mencoba menuntaskan sisa administrasi yang berantakan sejak insiden kuitansi Warkop Pak Jo kemarin sore.
Pintu terbuka, dan kali ini tanpa deru motor yang bising. Rumi masuk dengan langkah yang lebih tenang, meski penampilannya tetap sama: kemeja flanel yang lengannya digulung asal-asalan dan tas ransel yang disampirkan di satu bahu. Ia melirik Lyana sekilas sebelum mendaratkan tubuh di kursinya, tidak ada lagi candaan atau ledekan tentang "Mbak Bendahara".
Suasana hening itu bertahan selama satu jam, hanya diisi bunyi tuts keyboard Lyana.
"Lyan," panggil Rumi tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris seperti gumaman.
Lyana menghentikan aktivitasnya, namun ia tidak menoleh. "Ada apa?"
"Tadi malam, aku sudah bicara sama Pak Jo. Dia bilang sudah menyiapkan nota rincian buat mengganti kuitansi yang kemarin. Nanti siang bakal diantar ke sini."
Lyana terdiam. Ia menatap layar laptopnya, mencoba memproses informasi itu. Ia tidak menyangka Rumi benar-benar melakukan apa yang ia katakan kemarin. Namun, kelegaan itu tidak membuatnya luluh. Bagi Lyana, ini bukan soal nota yang diganti, ini soal prinsip kerja.
"Terima kasih," jawab Lyana formal, masih tetap menatap layar. "Tapi, Mas, bukan cuma soal nota. Ini soal transparansi organisasi. Kita sudah sepakat saat pelantikan kalau semua transaksi harus punya vendor yang jelas."
Rumi memutar kursinya menghadap Lyana. "Aku tahu, Lyan. Aku sudah bilang, katering kampus lagi penuh, jadi aku ambil jalan pintas. Ojo kaku-kaku temen to."
"Bukan kaku, Mas. Ini profesionalisme." Lyana akhirnya memutar kursinya, menatap Rumi tepat di mata. "Mas Rumi adalah wajah organisasi ini. Kalau Mas terus-terusan mengandalkan 'jalan pintas', gimana nanti pas kita harus menghadapi rektorat soal audit dana kegiatan yang lebih besar? Mereka nggak akan peduli kalau Mas Rumi punya alasan 'kasihan mahasiswa lapar'."
Rumi menatap Lyana cukup lama. Tidak ada seringai arogan di sana, yang ada hanya tatapan lelah yang nyata. "Mungkin bagi kamu, yang paling penting adalah catatan di buku besar. Tapi bagi orang-orang di luar sana, yang mereka pedulikan adalah aksi kita nyata dan berdampak."
"Dan apa gunanya aksi nyata kalau akhirnya dibubarkan cuma gara-gara masalah administrasi?" tantang Lyana.
Rumi tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju papan tulis putih di sudut ruangan, menghapus coretan jadwal yang lama, dan menulis agenda rapat koordinasi mingguan dengan spidol hitam.
"Rapat koordinasi jam satu siang. Bilang ke semua menteri, nggak ada alasan absen," ucap Rumi tanpa menoleh. Ia kemudian melangkah keluar sekretariat, meninggalkan Lyana dengan segunung pekerjaan yang belum selesai.
Lyana memijat pelipisnya. Pria itu benar-benar menguji batas kesabarannya setiap hari.
Siang harinya, rapat kabinet dimulai dengan atmosfer yang sangat berat. Rumi memimpin rapat dengan sangat serius, membahas rencana aksi untuk menuntut transparansi kebijakan kampus. Lyana mencatat setiap poin dengan teliti, memastikan bahwa setiap rencana Rumi memiliki dasar anggaran yang masuk akal.
Namun, saat rapat mencapai puncaknya, pintu sekretariat diketuk dengan sangat keras. Tanpa menunggu jawaban, seorang staf Biro Keuangan Kampus masuk dengan membawa sebuah amplop tebal.
"Arshaka Rumi?" suara staf itu dingin dan formal. "Saya diperintahkan oleh Pak Seno dari Biro Keuangan untuk menyerahkan ini. Rektorat telah menjadwalkan audit mendadak terhadap seluruh pembukuan BEM periode ini, dimulai besok pagi pukul 08.00."
Suara di dalam ruangan seketika hilang. Rumi mengambil amplop itu, sementara Dito, Sekretaris Umum, sudah mulai memucat.
Audit mendadak.
Itu adalah kata-kata yang paling ditakuti oleh setiap pengurus organisasi. Lyana menatap Rumi, lalu menatap tumpukan berkas-berkas di atas meja yang belum sepenuhnya rapi dan masih banyak kuitansi yang "tanda tanya".
Rumi membuka amplop itu, membaca isinya sejenak, lalu meletakkannya di atas meja dengan tenang. Meski wajahnya tampak santai, Lyana bisa melihat rahang Rumi yang mengeras.
"Besok jam delapan pagi," gumam Rumi. Ia menoleh ke arah Lyana. "Semua laporan keuangan yang ada di komputermu, apa sudah siap?"
Lyana merasa dadanya sesak. "Mas, audit itu bukan cuma soal laporan di komputer. Mereka akan memeriksa bukti transaksi asli. Kalau mereka menemukan nota warkop atau transaksi yang nggak punya vendor jelas seperti yang kita bicarakan kemarin..."
Lyana tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Rumi tahu persis apa artinya. Jika audit itu menunjukkan catatan yang tidak valid, bukan hanya jabatan mereka yang dicopot, tapi BEM akan dibekukan, dan mereka berdua akan dipanggil ke sidang etik rektorat.
"Siapkan semuanya malam ini, Lyan," ucap Rumi, suaranya kini tidak lagi santai, melainkan penuh dengan otoritas. "Kita lembur. Dito, panggil semua staf keuangan. Kita punya waktu dua belas jam untuk merapikan semuanya."
Lyana melihat Rumi yang kini bergerak cepat memberikan instruksi kepada staf lain. Untuk pertama kalinya, ia melihat Rumi dalam mode "Presiden BEM yang sebenarnya". Tidak ada lagi Rumi yang urakan atau suka bercanda. Yang ada hanyalah seorang pemimpin yang sedang mencoba menyelamatkan kapalnya yang sedang bocor.
Namun, di tengah kesibukan itu, Lyana menyadari satu hal yang membuatnya gemetar.
Saat Rumi meletakkan amplop surat panggilan audit itu di meja tadi, ia melihat ada sesuatu yang ganjil. Di balik amplop itu, ada sebuah tanda tangan samar yang ia kenali. Tanda tangan yang seharusnya tidak ada di surat audit resmi.
Tanda tangan itu milik seseorang yang seharusnya tidak terlibat dalam urusan keuangan.
Lyana menatap Rumi yang sedang sibuk, lalu menatap amplop itu lagi. Mungkinkah audit mendadak ini bukan sekadar prosedur rutin, melainkan sebuah jebakan yang sudah disiapkan untuk mereka sejak lama?
Apakah Lyana akan memberitahu Rumi tentang tanda tangan mencurigakan itu, atau dia memilih diam untuk memastikan apa sebenarnya yang disembunyikan oleh sang Presiden BEM?