Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Serangan di Fajar Kelabu
Malam berlalu dengan relatif tenang, meski Lin Fan tidak tidur nyenyak. Ia duduk bersila di atas dahan pohon tinggi yang menghadap perkemahan, matanya setengah tertutup dalam keadaan Kehampaan Jiwa sebagian. Indranya menyebar seperti jaring tak terlihat, memantau setiap desiran angin dan patahan ranting di hutan sekitarnya.
Sekitar jam tiga pagi, saat bulan mulai tenggelam dan kegelapan sebelum fajar terasa paling pekat, Lin Fan merasakan getaran halus di tanah. Bukan langkah kaki manusia biasa. Ini adalah gerakan berat, terkoordinasi, dan mencoba untuk senyap—tanda profesionalisme militer atau pembunuh bayaran terlatih.
Lin Fan membuka matanya. Dua sinar dingin menyala di pupilnya.
Ia melompat turun dari dahan tanpa suara, mendarat di samping Bao Da dan Zhang Wei yang sedang menjaga shift terakhir.
"Mereka datang," bisik Lin Fan. Suaranya rendah namun tajam, langsung memotong rasa kantuk kedua temannya.
Zhang Wei segera bangun, tangannya sudah meraih pedang pendek di pinggangnya. "Berapa banyak?"
"Sembilan orang. Tiga di depan, tiga di sayap kiri, tiga di kanan. Mereka mengepung kita." Lin Fan menunjuk ke arah kegelapan hutan.
"terus ada satu sosok lagi di belakang... aura Qi-nya kuat. Setidaknya Tahap Pembukaan Meridian Tingkat 7. Mungkin pemimpin mereka."
Bao Da menggaruk kepalanya yang botak, lalu tersenyum lebar sambil meremas tinjunya hingga berbunyi. "Sembilan? Bagus. Aku butuh latihan pemanasan."
"Jangan ceroboh," tegur Zhang Wei dingin. "Jika mereka berani menyerang konvoi Akademi Langit Biru, mereka bukan bandit biasa. Mereka punya agenda."
syutt..
Syutt..
Tiba-tiba, sebuah panah berapi melesat dari kegelapan, menancap tepat di tengah api unggun yang hampir padam. Api itu meledak kembali, menerangi wajah-wajah para siswa lain yang baru terbangun karena keributan.
"Serangan!" teriak Pengawas Chen dari tenda utamanya. "Lindungi para siswa! Bentuk formasi defensif!"
Namun, sebelum pengawal akademi bisa sepenuhnya siaga, sembilan sosok bertopeng hitam melesat keluar dari semak-semak. Mereka tidak berteriak seperti perampok amatir. Mereka bergerak sunyi, efisien, dan mematikan. Senjata mereka—pedang pendek dan belati—berkilau biru kehijauan. Racun.
"Jauhkan diri kalian dari senjata mereka!" teriak Lin Fan pada teman-temannya. "Racun saraf!"
Salah satu penyerang menerjang ke arah Mei Ling dan Xiao Yu yang masih bingung. Gadis-gadis itu menjerit ketakutan.
Lin Fan tidak berpikir dua kali. Ia menggunakan Langkah Awan Hening, tubuhnya menjadi kabut putih yang meluncur di antara pepohonan. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Mei Ling.
Penyerang itu mengayunkan belatinya ke leher Lin Fan. Gerakan cepat dan licik.
Tapi Lin Fan tidak menghindar ke belakang. Ia justru maju selangkah, masuk ke dalam jarak jangkau lawan. Dengan tangan kirinya, ia menepis lengan penyerang itu ke samping, sementara tangan kanannya membentuk jari telunjuk dan tengah, lalu menusuk dengan presisi ke titik akupunktur di bahu lawan.
Tek.
Suara tumpul terdengar. Penyerang itu meraung kesakitan, lengannya mendadak lumpuh total. Belatinya jatuh. Sebelum senjata itu menyentuh tanah, Lin Fan menangkapnya dengan kaki, menendangnya balik ke arah dada penyerang, membuatnya terpental mundur dan pingsan seketika karena syok racun yang mungkin terhirup dari lukanya sendiri (atau sekadar trauma benturan).
"Satu," gumam Lin Fan.
Di sisi lain, Bao Da sedang dikeroyok oleh dua penyerang. Ia tertawa keras, otot-otot besarnya mengeras seperti batu granit. Pedang-pedang musuh membentur kulitnya, meninggalkan goresan dangkal tapi tidak menembus.
"Iseng sekali kalian!" Bao Da meraih leher salah satu penyerang, mengangkatnya seperti boneka kain, lalu membantingkannya ke tanah. DUG! Tanah bergetar. Penyerang kedua mencoba menusuk punggung Bao Da, tapi Zhang Wei muncul dari bayangan, pedangnya berkilat cepat, memotong tendon Achilles penyerang itu.
"Terima kasih, kurcaci!" teriak Bao Da pada Zhang Wei.
"Jangan panggil aku kurcaci," balas Zhang Wei datar, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.
Sementara itu, Pengawas Chen sedang bertarung sengit melawan sosok bertubuh besar di belakang—the leader dengan Qi Tingkat 7. Setiap benturan senjata mereka menghasilkan percikan api Qi yang menerangi area pertempuran. Pengawas Chen tampak terdesak; usia dan kelelahan perjalanan membuatnya kalah dalam hal stamina.
"Guru Chen kewalahan!" teriak Mei Ling, wajahnya pucat.
Lin Fan melihat situasi itu. Jika Pengawas Chen jatuh, seluruh konvoi akan hancur. Para siswa lain belum siap bertarung mati-matian.
"Bao Da, Zhang Wei! Lindungi yang lain!" perintah Lin Fan. "Aku akan menangani si pemimpin."
Tanpa menunggu jawaban, Lin Fan melesat menuju duel utama.
Pemimpin penyerang itu, seorang pria bertubuh raksasa dengan topeng besi, melihat Lin Fan mendekat. Ia tertawa kasar, suaranya serak. "Anak kecil? Kau mau mati lebih cepat?"
Ia mengayunkan pedang besarnya ke arah Lin Fan. Ayunan itu membawa angin kencang yang bisa membelah batu.
Lin Fan tidak memblokir. Memblokir berarti kematian bagi tubuh remaja seusianya. Ia menggunakan Persepsi Hampa-nya untuk membaca aliran Qi di pedang raksasa itu. Ia melihat celah mikro di tengah ayunan—titik di mana momentum pedang sedikit melambat sebelum berubah arah.
Lin Fan menyusup masuk ke dalam celah itu. Jaraknya hanya beberapa sentimeter dari bilah pedang yang berputar.
Dengan Jari Naga Sunyi, ia tidak menyerang tubuh raksasa itu. Ia menyerang pedangnya.
Ia mengetuk bagian pangkal bilah pedang tepat di titik keseimbangan energinya.
Kling!
Getaran resonansi merambat melalui pedang besi itu, mencapai tangan si raksasa. Karena si raksasa sedang mengerahkan seluruh tenaganya, getaran balik itu menghantam sendi pergelangan tangannya dengan kekuatan ganda.
Retak!
Si raksasa meraung, pedangnya terlepas dari genggamannya dan terbang jauh ke dalam hutan.
Sebelum si raksasa bisa bereaksi, Lin Fan sudah berada di hadapannya. Ia menempatkan ujung jari telunjuknya di tenggorokan si raksasa, tepat di bawah dagu.
"Gerak lagi, dan trakeamu hancur," kata Lin Fan dingin. Matanya kosong, tanpa emosi, membuat si raksasa merasa seperti menatap kematian itu sendiri.
Si raksasa membeku. Napasnya tercekat. Ia menyadari bahwa anak muda di depannya bukan sekadar jenius akademi. Dia adalah monster yang menyembunyikan diri sebagai manusia.
Pertempuran di tempat lain juga berakhir. Dengan pemimpin mereka ditahan, sisa penyerang kehilangan moral. Beberapa mencoba lari, tapi dikejar oleh Bao Da dan Zhang Wei. Yang lain menyerah.
Pengawas Chen, yang napasnya tersengal-sengal, berjalan mendekat. Ia menatap Lin Fan dengan kekaguman yang mendalam.
"Luar biasa," kata Pengawas Chen. "Teknikmu... sangat tidak konvensional. Siapa yang mengajarimu cara melumpuhkan lawan sekelas itu dengan satu jari?"
Lin Fan melepaskan tekanannya, lalu menendang perut si raksasa hingga ia pingsan. Ia berbalik menghadap Pengawas Chen.
"Otodidak, Guru. Saya hanya mengamati kelemahan struktur."
Pengawas Chen menggelengkan kepala, tersenyum pahit. "Otodidak... Kota Qingyun benar-benar melahirkan anomali tahun ini."
Ia memerintahkan pengawalnya untuk mengikat para penyerang. Saat topeng si raksasa dilepas, wajah yang terlihat bukanlah wajah asing. Itu adalah mantan penjaga klan Lin yang dipecat setahun lalu karena kekerasan berlebihan.
Lin Hao.
Lin Fan menatap wajah itu. Tidak ada kejutan. Hanya konfirmasi. Lin Zheng memang menggunakan aset lama yang tidak terhubung secara langsung dengannya untuk melakukan pekerjaan kotor.
"Cepat, kita harus segera pergi" kata Lin Fan tiba-tiba. "aku yakin yang barusan cuma tim penyapu, tim kedua yang lebih besar akan datang"
Pengawas Chen mengangguk serius. "Kau benar, lin fan"
"Semua nya! Kemasin barang-barang! Kita tinggalkan kereta yang rusak. lanjutkan dengan kuda cadangan ,kita akan berjalan kaki melewati jalur sempit"
Para siswa, termasuk Mei Ling dan Xiao Yu yang masih gemetar, segera berkemas. Mereka menatap Lin Fan dengan rasa hormat yang baru lahir. Ia bukan lagi sekadar "si jenius teori". Dia adalah pelindung mereka.
Zhang Wei mendekati Lin Fan saat mereka mempersiapkan kuda.
"Kau menyelamatkan nyawaku tadi," kata Zhang Wei singkat. "Aku berhutang budi."
"Gak usah di fikirkan," jawab Lin Fan. "Jangan mati di jalan. Aku masih butuh saingan di akademi nanti."
Zhang Wei tersenyum tipis, senyuman pertama yang tulus. "bersiap lah Lin Fan. Di ibu kota, Level 5 hanyalah sampah. Kita masih sangat lemah."
"Aku tahu," kata Lin Fan, menatap ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Makanya bagaimanapun cara nya aku gak boleh mati di sini.
Konvoi yang kini berjumlah lebih kecil dan lebih cepat bergerak melanjutkan perjalanan mereka. Matahari mulai terbit, mewarnai langit dengan merah darah—pertanda buruk bagi hari-hari berikutnya.
Celah Naga Hitam semakin dekat. Dan Lin Fan tahu, ujian sesungguhnya belum dimulai. Ujian di akademi hanyalah formalitas. Ujian kehidupan yang sebenarnya ada di jalanan berdarah ini.
* Hook: Rute diubah menuju jalur sempit yang lebih berbahaya. Celah Naga Hitam tinggal beberapa jam lagi. Apakah Lin Zheng akan mengirimkan kekuatan utama di sana? Dan bagaimana kondisi mental para siswa lain setelah serangan pertama?
Cari tau di Bab berikut nya.