Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marwa Hanya Sendiri
"Ma.. Marwa....
Tania medongak menatap Raski. Wajah pria itu terlihat sangat terkejut serta menegang. Raski mengurai pelukannya, Tatapannya tak lepas dari Marwa yang terdiam bak patung.
Jika Marwa sudah ada disana, Itu artinya Marwa pasti telah mendengar semua pembicaraan dua orang itu.
Yang bermasalah adalah kakinya bukan telinganya. Tentu saja Marwa tahu semuanya..
Tentang Raski yang melamarnya karena terpaksa. Tentang perhatian palsu dari pria itu. Tentang hubungan keduanya yang telah terjalin sejak lama. Tentang niat Raski yang katanya akan membuang Marwa nanti dengan rencana yang entah apa itu.
Jangan ditanya seperti apa perasaan Marwa saat ini. Jelas saja merasa sakit sekali. Bayangkan saja, Dia dibawa terbang keatas awan. Diajak melihat indahnya sinar rebutan dan bintang yang setiap malam menyinari buminya. Lalu setelah ia merasa sangat bahagia, Disitu pula dirinya dihempaskan kejurang yang paling bawah.
Terjun dalam kegelapan yang menakutkan. Merasakan rasa sakit yang mungkin tidak akan terobati lagi..
"Wawa..
Tania juga cukup terkejut. Marwa ada disana, Melihat dirinya sedang berpelukan dengan pria yang merupakan tunangannya. Apakah Marwa juga mendengar pembicaraannya?
Jangan beri pertanyaan seperti itu, Karena jawabannya sudah jelas adalah, Iya!
Raski sedikit mendorong tubuh Tania dan menjaga jarak terhadap wanita itu. Matanya tak lepas dari Marwa yang masih diam tanpa mengatakan apapun.
Memangnya apa yang harus dia katakan? Marwa tidak perlu mengatakan apapun karena semuanya sudah berkata dengan jelas.
"Wa.. Kamu disini?" Tanya Raski dengan lembut. Marwa masih diam tak menjawab, Namun air mata yang mengalir itu sudah dapat menjelaskan semuanya. Tanpa di jawab atau dijelaskan pun Raski sudah dapat menebak bahwa Marwa sudah tahu segalanya.
Apa yang dia sembunyikan dan apa yang dia rahasiakan selama ini terbongkar juga. Seperti pepatah, Sedalam-dalamnya mengubur bangkai pasti akan tercium juga.
Sama seperti rahasia Raski dan Tania ini. Mau serapi apa rahasia itu disembunyikan pasti akan ketahuan juga pada akhirnya.
"Wa..
Raski mendekat dan hendak meraih tangan gadis itu namun Marwa mundur. Sungguh dia tidak sudi disentuh oleh pria ini lagi.
Seorang pria yang menjadi harapan terakhir Marwa dalam segalanya termasuk menjaganya. Seorang pria yang sangat Marwa sayang. Seorang pria yang sangat Marwa percaya. Bahkan Marwa seolah berharap bahwa pria inilah yang akan menjadi pengganti ayahnya dalam menyayanginya hidup dan mati.
Tapi nyatanya? Semua itu hanya kebohongan semata. Pantas saja Raski tak pernah mengatakan ucapan kata cinta padanya. Setiap Marwa bertanya, Pria itu selalu mengalihkan pembicaraan atau menghindar. Dan sekarang Marwa tahu alasannya. Karena pria mencintai wanita lain bukan dirinya. Dan wanita itu adalah seorang yang sangat Marwa kenal, Yaitu Tania.. Kakak sepupunya..
Wanita yang selama ini selalu memberikan kasih sayang terhadap Marwa ketika Paman dan Bibinya tidak sayang padanya.
"Jangan sentuh aku.." Kata gadis itu dengan suara yang begitu lirih hampir tak terdengar.
"Wa..
"JANGAN SENTUH AKU!!!
Marwa berteriak. Dia tak peduli apakah ini sudah malam atau belum. Yang jelas, Rasa sakit hatinya sudah tak dapat dipertahankan lagi. Wanita mana yang tidak sakit kalau dipermainkan seperti ini. Apalagi ini menyangkut cinta dan perasaan.
"Tega kamu..." Ucapnya dengan lirih.
"Wa..
"Kalian..? Kenapa? Kenapa kalian tega ngelakuin ini? Apa salah aku sama kalian? " Tatapan mata Marwa tertuju pada Tania yang berdiri dibelakang Raski. Wanita itu menghela nafas panjang, Kalau sudah ketahuan seperti ini apa yang mau dijelaskan lagi?
Tania melangkah maju. Ia meraih tangan adiknya itu..
"Wa.. Dengerin aku dulu.. Aku bisa jelasin kok..
"Apanya yang mau dijelasin? Aku udah denger semuanya kak.. Aku udah tahu. Apa yang mau dijelasin lagi?" Tania menghembuskan nafasnya kasar. Ia melepaskan tangannya dari tangan Marwa.
"Kanapa kakak tega?" Tania menatap Marwa..
"Tega? Enggak.. Aku gak tega kok.. Aku cuma wujud in apa yang kamu mau. Kamu suka Raski, Ya aku kabulin.. Tega dari mananya? Bukankah aku udah kasih kamu kesempatan buat bareng sama dia. Kamu bisa berduaan sama dia.. Apanya yang tega?" Marwa menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka bahwa jawaban itu yang akan keluar dari bibir Tania.
"Kak, Aku memang mengagumi Kak Raski.. Tapi aku gak pernah minta untuk dia cintai. Aku gak pernah minta untuk dilamar bahkan untuk dinikahi.. Aku gak pernah minta itu semua.. Kak Raski datang ke aku, Dia bilang suka dan kagum ke aku.. Kita mulai pendekatan, Lalu dia lamar aku, Janji bakalan nikahi aku.. Aku gak minta itu semua kak.. Tapi ternyata? Yang dia lakuin ke aku selama ini cuma palsu. Semua yang dia lakukan itu hanya sandiwara semata. Semua diatur oleh kakak.. Dan selama ini kalian punya hubungan dibelakang aku. Kalau kalian memang saling mencintai kenapa tidak bilang sejak awal? Kenapa harus sekarang? Kenapa disaat aku udah menaruh harapan sama kalian, Kalian justru giniin aku.. KENAPA!! Aku kecewa sama kamu kak.. Kakak ternyata tidak sebaik yang aku kira.. Kakak khianati aku! Kenapa kakak ngelakuin ini??!
"Ya, Karena kami saling mencintai Wawa! Kita gak mengkhianati kamu. Kita saling mencintai, Apa itu salah?" Tania maju, Dia berdiri dihadapan Marwa. Tatapan itu, Bukan lagi tatapan kasih sayang seorang kakak tapi tatapan seseorang pada rivalnya.
"Kamu udah denger semuanya kan? Karena kamu udah denger, Maka gak perlu ada yang disembunyikan lagi.. Aku dan Raski memang saling mencintai sudah sejak lama.. Dan memang aku yang minta dia buat ngelamar kamu.." Raski menatap Tania, Melihat Marwa yang menangis dia tidak tega.
"Nia stop... Ini udah malam.." Raski meminta Tania untuk berhenti. Pria itu seakan tidak sanggup melihat Marwa lebih sedih lagi. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam diri Raski saat melihat wanita yang selalu ia beri perhatian itu menangis.
"Biar aja.. Biar dia tahu diri.. Dengar! Aku dan Raski itu saling mencintai. Pria yang selalu kamu puji-puji ini adalah pria yang sangat mencintai aku..
"Nia udah Nia!" Pekik Raski tak ingin Marwa semakin sakit.
"Aku minta dia buat ngelamar kamu itu karena aku merasa kasihan Marwa.. Coba aja kamu bayangin, Kalau bukan karena aku? Kamu gak bakalan dilamar sama Raski.. Kalau bukan karena aku, Kamu gak akan pernah dapat perhatiannya. Dan kalau bukan karena aku?.Apakah ada pria yang mau sama kamu.. " Tania menggelengkan kepalanya.
"Gak ada.. Bahkan Raski sendiri udah bilang kan kalau kamu itu nyusahin banget.. Selama ini aku itu selalu ngalah. Kamu cerita ini dan itu tentang Raski apa kamu pikir aku gak sakit? Apa kamu pikir aku gak cemburu? Apalagi semenjak sama kamu, Raski ke aku mulai berubah.. Dia selalu kasih perhatian sama kamu tapi sama aku enggak.. Aku capek Wa! Aku capek selama ini melihat kalian selalu mesra dihadapan aku.. Aku yang kasih kamu peluang tapi aku pula yang sakit..Aku udah gak tahan lagi.." Tania tak perlu berpura-pura lagi. Lagipula semua sudah terlanjur bukan? Untuk apalagi ditutup-tutupi.
Benar kata ibunya, Raski itu adalah miliknya. Dia yang berhak dan pantas merebut kembali pria itu.
"Tapi kenapa kakak setega itu kak.. Kakak adalah orang yang aku sangat sayang dan aku percayai.. Aku gak menyangka kakak setega ini.. Kalian itu pengkhianat tahu gak??
"Ada apa ini sih, Malam-malam malah ribut..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keributan yang terjadi terdengar hingga kedalam rumah. Haris dan Dartik yang memang belum tidur pun langsung turun saat mendengar ada keributan dibawah.
Keduanya mendekat ke arah tiga anak muda itu. Marwa menatap Paman dan Bibinya..
"Kalian? Ngapain malam-malam kesini? Bukannya tidur malah ribut..." Tanya pria paruh baya itu.
"Paman, Bibi.. Kak Tania.. Selama ini ternyata Kak Tania dan Kak Raski punya hubungan. Mereka..
"Emang kenapa kalau mereka punya hubungan?
Deg!
Marwa terkejut mendengar ucapan itu. Gadis itu tak dapat berkata apapun. Ucapan Bibinya seakan tamparan keras yang menampar batinnya..
"Bibi? Aku dan kak Raski itu udah tunangan.. Dan mereka punya hubungan selama ini dibelakangku..." Wanita paruh baya berwajah judes itu menatap angkuh keponakannnya itu.
"Ya terus kenapa kalau mereka punya hubungan? Ada yang salah?
Air mata Marwa kembali menetes. Rasa sakit kakinya tidak sesakit hatinya saat ini. Jawaban Bibinya sudah membuktikan kalau semua orang sudah tahu dan dia hanya dipermainkan.
"Marwa.. Masalah sepele seperti ini untuk apa dibuat ribut.. Yaudah lah, Kalau tunangan kamu selingkuh dan suka sama Tania kenapa? Ya berarti kamu yang membosankan.." Ucap Haris enteng. Marwa menatap Pamannya tak percaya. Pria itu mendukung putrinya..
"Masalah sepele? Paman! Kak Tania berselingkuh dengan tunanganku.. Bagaimana bisa Paman menilai semua ini adalah hal yang sepele? Atau jangan-jangan memang benar.. Kalau kalian sudah tahu tentang hubungan mereka sejak lama?" Tanya Marwa dengan nada lirih.
"Kalau iya kenapa?
Marwa mundur satu langkah. Tangannya meremas pakaian dibagian dadanya dimana satu lagi kenyataan yang membuat ia rasanya tak sanggup lagi untuk berdiri..
"Wa.. Kamu gapapa?" Raski menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Namun Marwa menepis kasar tangan pria itu. Marwa sudah sudi lagi disentuh oleh pria pembohong ini.
Marwa menatap nanar Paman dan Bibinya. Kalau Paman dan Bibinya ini sudah tahu dari awal, Berarti hanya dia yang tidak tahu. Berarti sejak awal semua sudah masuk rencana.
"Paman dan Bibi udah tahu dari awal? Kalian tahu mereka salah tapi kenapa kalian tetap mendukung.. Dan kenapa kalian hanya diam saja?" Bibi melipat kedua tangannya didada tanpa merasa bersalah.
"Ya karena Tania adalah anak kami.. Dan yang buat kami menyembunyikannya dari kamu ya, Karena kamu itu gak baik sama kita. Gak kayak Tania, Dia itu baik.. Setiap terima gaji kita dikasih.. Lah kamu? Kamu juga kerja kan? Tapi mana? Kamu gak pernah kasih kita uang.. Padahal kita ini udah rawat kamu dengan baik.. Dasar gak tahu balas budi.." Marwa mengerti sekarang, Jadi semua ini karena uang..
"Oh jadi gitu ya.. Semua ini hanya karena uang?" Marwa menatap satu persatu orang yang ada disana. Bahkan orang yang katanya punya ikatan keluarga pun tak bisa menganggapnya keluarga. Dan sekarang Marwa benar-benar sendiri..
"Kamu itu sadar diri dong.. Dalam kondisi kamu yang pincang seperti ini emang pria mana yang mau? Bukannya kasih untung yang ada malah bikin buntung.. Kamu itu pincang, Gak punya orang tua.. Apa yang mau dilihat dari kamu.." Ucapan Dartik sungguh sangat menusuk sekali.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Marwa masuk kedalam. Dia tak mau berdebat lagi, Tenaganya sudah habis untuk mereka..
"Marwa!
Raski ingin mengejar gadis itu namun ditahan oleh Tania.
"Kamu mau kemana?" Raski menatap kesal Tania lalu menghempaskan tangan Wanita itu kasar.
"Aku pulang!
"Raski!!!
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,