NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi ketika Evan sudah duduk di meja makan.

Di hadapannya tersaji secangkir kopi hitam dan beberapa lembar dokumen yang masih sempat ia baca sebelum berangkat.

Sesekali ia melirik jam dinding. Hari ini jadwal imunisasi Aurora. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah koridor.

Laras muncul sambil menggendong Aurora yang sudah rapi mengenakan gaun bayi berwarna krem. Rambut halus bayi itu disisir rapi, sementara pipinya tampak semakin berisi dibanding sebulan yang lalu.

"Selamat pagi, Tuan."

"Pagi, Laras." Evan tersenyum melihat putrinya. "Sudah siap berangkat?"

Laras mengangguk.

"Baby Aurora sudah mandi, sudah menyusu juga. Jadi kemungkinan nanti selama perjalanan dia akan tidur."

"Bagus," Evan bangkit dari kursinya. "Tunggu sebentar. Kita sarapan dulu."

"Baik, Tuan."

Laras baru saja hendak menarik kursi ketika suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari arah tangga. Carolin turun dengan pakaian kerja yang rapi. Tatapannya langsung jatuh kepada Laras.

"Kamu mau makan di sini?" Nada suaranya terdengar dingin.

Laras segera berdiri kembali. "Saya hanya mengikuti perintah Tuan."

Carolin melipat kedua tangannya.

"Kalau mau sarapan, makan di belakang saja bersama para pelayan. Kamu tetap karyawan di rumah ini."

Belum sempat Laras menjawab, Evan lebih dulu bersuara.

"Car."

"Apa lagi?"

"Laras ikut berangkat bersama kita. Biarkan dia sarapan di sini."

Carolin menatap suaminya tajam.

"Itu tidak perlu. Aturannya sudah jelas. Tempat makan karyawan ada di belakang."

Suasana mendadak canggung. Laras yang melihat keduanya saling menatap segera tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa, Tuan. Saya memang biasa makan bersama para pelayan. Saya ke belakang saja."

Tanpa menunggu jawaban, Laras menyerahkan Aurora dengan hati-hati kepada Carolin.

"Permisi." Ia lalu berjalan menuju dapur belakang.

Evan mengembuskan napas pelan, tetapi memilih tidak memperpanjang perdebatan. Sementara itu, Carolin menggendong Aurora dengan sedikit canggung. Ia memang jarang melakukannya.

Baru beberapa detik berada di pelukannya, posisi tangan Carolin tampak kurang menopang tubuh Aurora dengan nyaman. Bayi mungil itu langsung meringis.

"Oek...!" Tangisan Aurora pecah memenuhi ruang makan.

Carolin tampak panik.

"Sayang ... sudah ... sudah..."

Ia mencoba mengayun tubuh Aurora, tetapi tangisan itu justru semakin keras. Kening Evan langsung berkerut.

"Car..."

"Aku sudah menggendongnya. Tapi dia malah menangis."

Evan memperhatikan posisi tangan Carolin, lalu berkata pelan, "Coba topang kepalanya sedikit lebih tinggi."

Carolin mencoba mengikuti arahan itu. Namun, Aurora tetap menangis, bahkan tubuh kecilnya mulai gelisah mencari sesuatu yang terasa lebih familiar. Tangisannya semakin keras. Suara itu membuat Laras yang sedang berada di dapur belakang spontan menoleh.

Hatinya berdesir, dia mengenali tangisan putrinya. Namun, ia tetap berdiri di tempat, menahan diri untuk tidak berlari keluar.

Di ruang makan, Evan mulai tampak khawatir. Aurora yang biasanya tenang kini menangis tanpa henti. Ia menyadari bahwa putrinya telah begitu bergantung pada kehadiran Laras.

Tangisan Aurora semakin keras. Wajah mungilnya memerah, sementara kedua tangan kecilnya terus bergerak gelisah mencari rasa nyaman. Suara tangis itu terdengar hingga ke dapur belakang.

Laras yang sedang menyendok nasi untuk sarapannya langsung menghentikan aktivitasnya. Dengan langkah cepat, ia kembali ke ruang makan.

Begitu melihat Aurora menangis tanpa henti di pelukan Carolin, wajah Laras dipenuhi kekhawatiran.

"Nyonya..." Ucapnya hati-hati.

"Kalau berkenan ... biar saya yang menggendong Baby Aurora sebentar."

Carolin langsung menoleh tajam.

"Tidak perlu."

"Nyonya ... Saya hanya ingin menenangkannya."

Carolin memeluk Aurora lebih erat.

"Aku ibunya. Aku yang paling berhak menggendong anakku."

Tangisan Aurora justru semakin menjadi. Bayi itu melengkungkan tubuhnya sambil terus menangis, membuat para pelayan yang berada di sekitar ruang makan mulai saling berpandangan. Mereka tampak cemas, tetapi tidak ada satu pun yang berani bersuara.

Laras mengepalkan jemarinya pelan. Naluri keibuannya berteriak ingin segera memeluk putrinya. Namun, ia memaksa dirinya tetap berdiri di tempat. Ia tidak boleh gegabah, belum waktunya. Evan yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bangkit dari kursinya.

"Car." Nada suaranya terdengar tegas.

"Berikan Aurora kepada Laras dulu."

Carolin menggeleng. "Tidak! Aku bisa menenangkannya.

"Kamu lihat sendiri." Evan menunjuk Aurora yang kini menangis semakin keras.

"Dia sudah kehabisan tenaga menangis, kasihan."

"Aku bilang aku bisa!" Suara Carolin ikut meninggi.

Ia terus mencoba mengayun tubuh Aurora. Namun, bayi itu sama sekali tidak tenang. Tangisnya bahkan semakin memilukan.

Evan mengembuskan napas panjang.

"Carolin! Jangan keras kepala. Ini bukan soal siapa yang lebih berhak. Ini soal Aurora."

Tatapan Carolin mulai berkaca-kaca.

"Aku ibunya..." Bisiknya lirih. "Aku tidak mau anakku lebih memilih orang lain." Ucapan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Laras menundukkan kepalanya. Ada rasa nyeri yang menusuk dadanya.

'Dia memang memilihku...' batinnya.

'Karena akulah yang melahirkannya...'

Namun, tidak satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia hanya berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam, menahan air mata yang hampir jatuh.

Evan melangkah mendekati Carolin. Suaranya kini jauh lebih lembut.

"Car ... tidak ada yang sedang merebut Aurora darimu. Tapi sekarang dia sedang menangis. Kalau Laras bisa membuatnya tenang, biarkan dulu. Nanti setelah dia tenang, kamu bisa menggendongnya lagi."

Carolin menggigit bibirnya. Ia memandang Aurora yang masih menangis tanpa henti, lalu melirik Laras dengan sorot mata penuh kebencian. Beberapa pelayan hanya mampu menyaksikan pemandangan itu dalam diam.

Tak seorang pun berani ikut campur. Sementara Laras tetap berdiri di tempat. Tangisan Aurora tak kunjung mereda. Napas bayi mungil itu mulai tersengal karena terlalu lama menangis.

Carolin menggigit bibirnya. Wajahnya dipenuhi rasa kesal sekaligus kecewa. Beberapa detik ia masih bertahan memeluk Aurora. Namun, saat melihat bayi itu justru semakin gelisah, ia akhirnya mengembuskan napas kasar.

"Dengar baik-baik." Ujarnya sambil menatap Laras dingin.

"Aku memberikan Aurora bukan karena aku tidak bisa mengurusnya. Tapi karena aku tidak mau dia terus menangis."

Laras menundukkan kepala dengan hormat.

"Terima kasih, Nyonya."

Dengan hati-hati, Carolin menyerahkan Aurora ke pelukan Laras. Baru beberapa detik berada dalam pelukan Laras, tangisan Aurora perlahan mereda. Laras mengusap lembut punggung bayi itu.

"Sudah ... sudah, Sayang." "Ibu ... eh..." Laras segera mengoreksi ucapannya. "Mbak di sini."

Ia tersenyum tipis sambil mencium pucuk kepala Aurora. Tangisan itu berubah menjadi isakan kecil, lalu benar-benar berhenti. Aurora kembali memeluk dada Laras dengan tenang. Pemandangan itu membuat wajah Carolin semakin mengeras.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik.

"Aku berangkat." Suara pintu depan yang ditutup sedikit keras menandakan emosinya masih belum reda.

Evan hanya menghela napas panjang.

"Biarkan saja." Katanya pelan kepada Laras.

"Dia hanya sedang kesal. Nanti juga emosinya reda."

Laras mengangguk sopan. "Semoga saja begitu, Tuan."

Ia kembali menepuk-nepuk punggung Aurora dengan penuh kelembutan. Bayi itu bahkan mulai menguap kecil, seolah seluruh rasa gelisahnya telah hilang. Tak jauh dari sana, dua orang pelayan yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu saling berpandangan.

Salah satunya berbisik lirih.

"Nona Laras memang hebat, ya."

"Iya."

"Saya sering kali melihat Baby Aurora setenang itu di pelukan Nona Laras."

"Padahal tadi menangis sampai wajahnya merah."

Pelayan yang lain mengangguk pelan.

"Cara Nona Laras menggendong juga beda, lembut sekali."

"Seperti..." Ia menghentikan kalimatnya sejenak.

"Seperti seorang ibu yang benar-benar memahami anaknya."

Ucapan itu terdengar jelas oleh Evan. Pria itu menoleh ke arah Laras. Dilihatnya wanita itu sedang tersenyum lembut kepada Aurora, sesekali mengusap pipi mungil bayi tersebut dengan penuh kesabaran

Tanpa disadari, senyum tipis ikut terukir di bibir Evan.

Dalam hati, ia mengakui satu hal. Keputusan mempertahankan Laras di rumah itu, adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat demi Aurora.

Sementara Laras tetap menundukkan wajahnya. Tak seorang pun menyadari, kedua matanya mulai berkaca-kaca. Karena hanya dirinya yang tahu, kasih sayang yang ia berikan kepada Aurora bukanlah sekadar bentuk tanggung jawab sebagai ibu susu. Melainkan kasih seorang ibu kepada darah dagingnya sendiri.

1
Lianty Itha Olivia
dlm cerita slalu byk org jahatnya
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!