Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 ~ Ikatan Yang Kau Tinggalkan
Sesampainya di depan gerbang kediaman besar itu, Hezlin mematikan mesin mobilnya. Ia duduk diam sejenak, menatap bangunan yang selama empat tahun ini menjadi tempat tinggalnya tempat yang menyimpan segelintir kebahagiaan kecil yang ia rahasiakan sendiri.
Dengan napas panjang yang terasa berat, ia turun dan melangkah masuk. Begitu menginjakkan kaki di ruang tengah, Bi Rum yang sedang merapikan perabotan langsung menoleh. Wajah wanita itu seketika berubah bingung dan khawatir saat melihat Hezlin melangkah menuju tangga dengan langkah yang terasa berbeda dari biasanya.
"Nyonya? Baru pulang dari mana?" tanyanya sambil segera menghampiri.
Hezlin berhenti sejenak, menoleh sekilas dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata.
"Dari luar, Bi. Aku ada urusan sebentar."
Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kamar utama. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Hezlin langsung membuka lemari besar dan menarik sebuah koper kosong dari bagian paling atas. Perlahan namun pasti, ia mulai memasukkan pakaian dan barang-barang miliknya sendiri. Tidak satu pun barang pemberian Garra atau yang bertanda nama keluarga Kingston ia sentuh.
Saat tangannya tanpa sengaja menyentuh kotak perhiasan di meja rias, ia berhenti sejenak. Di dalamnya ada kalung sederhana yang pernah diberikan Garra setahun lalu, hanya sebagai hadiah ulang tahun tanpa kata-kata manis apa pun. Hezlin menatapnya sebentar, lalu menutup kotak itu kembali dan mendorongnya ke sudut meja.
'Tidak perlu membawanya, ini bukan milikku,' batinnya.
Setelah sekitar satu jam, koper itu sudah terisi penuh. Hezlin menutupnya rapat, lalu menatap sekeliling kamar itu untuk terakhir kalinya, ranjang tempat mereka berbagi kehangatan, jendela tempat ia sering menunggu kepulangan Garra, hingga meja nakas yang masih menyimpan foto pernikahan mereka.
Ia mendekat, menatap foto itu dengan pandangan sayu.
'Selamat tinggal, Garra. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu.'
Dengan langkah mantap namun hati terasa teriris, ia mengangkat koper itu dan melangkah keluar kamar menuruni tangga.
Begitu sampai di lantai bawah, Bi Rum yang sudah menunggu di sana langsung terkejut melihat koper besar di tangan Hezlin. Wajahnya seketika pucat.
"Nyonya... ini kenapa bawa koper? Nyonya mau pergi ke mana?" tanyanya cepat, tangannya terulur seolah ingin menahan.
Hezlin menghentikan langkahnya, lalu menatap pelayan setia itu dengan tatapan lembut namun tegas.
"Aku tidak akan tinggal di sini lagi, Bi. Mulai hari ini, aku pergi."
"Pergi? Maksudnya pulang ke rumah orang tua sebentar? Atau ada urusan luar kota?" tanya Bi Rum makin bingung, raut wajahnya penuh kekhawatiran.
"Bukan sementara, Bi. Aku tidak akan kembali lagi ke sini," jawab Hezlin lirih namun jelas.
Mata Bi Rum terbelalak tak percaya. Ia segera melangkah lebih dekat.
"Tidak bisa begitu, Nyonya! Ini rumah Nyonya sendiri! Kalau Tuan pulang dan tidak menemukan Nyonya, beliau pasti akan sangat marah. Apa yang terjadi sampai Nyonya harus mengambil keputusan seberat ini?"
Hezlin menggeleng pelan, menahan rasa sesak yang kembali muncul di dadanya.
"Ada hal yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, Bi. Sampaikan saja pada Mas Garra nanti... bahwa aku sudah pergi, dan meminta agar proses perceraian segera diselesaikan. Jangan khawatir, aku sudah memikirkan semuanya."
"Tapi Nyonya—"
"Maafkan aku, Bi. Terima kasih atas kebaikan dan perhatianmu selama ini."
Hezlin melangkah melewati Bi Rum yang masih terpaku di tempat, lalu berjalan menuju pintu depan. Ia membukanya, melangkah keluar, dan tidak menoleh ke belakang lagi meski hatinya berteriak ingin berhenti, ingin tetap tinggal, ia tahu itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri lebih lama lagi.
Begitu mobilnya melaju menjauh, Bi Rum baru terbangun dari keterkejutannya. Ia segera meraih ponsel di saku celemeknya, tangannya gemetar saat menekan nomor Garra.
Tuutt...
Tuutt...
Tuutt...
Beberapa kali nada sambung terdengar, hingga akhirnya suara berat Garra menyapa dari seberang sana.
"Ada apa, Bi Rum?"
Suara Bi Rum terdengar gugup dan khawatir saat menjawab.
"Maaf mengganggu, Tuan... Tapi baru saja Nyonya pergi dari rumah. Beliau membawa semua barangnya, dan bilang tidak akan kembali lagi. Beliau juga pesan untuk menyampaikan bahwa proses perceraian itu agar segera diselesaikan."
Di seberang sambungan, suasana hening seketika. Angin laut yang berhembus kencang seolah berhenti bergerak. Garra berdiri kaku di dekat jendela vila, genggamannya pada ponsel makin erat hingga buku jarinya memutih.
Jantungnya berdebar kencang, bukan karena marah semata, tapi ada rasa yang sulit ia jelaskan.. campuran antara kesal, kecewa, dan rasa tidak rela yang ia paksa sembunyikan rapat-rapat.
Jadi benar-benar secepat itu dia pergi? Begitu tujuannya tercapai, dia langsung melangkah keluar tanpa ragu sedikit pun?
Garra menarik napas panjang, lalu mengembalikan nada bicaranya menjadi dingin dan datar, seolah kabar itu tidak berpengaruh apa pun padanya.
"Baik. Biarkan saja dia pergi. Jangan dicegah, jangan dihalangi. Biarkan dia merasakan sendiri rasanya hidup di luar sana tanpa nama dan perlindungan ini."
"Tapi Tuan—"
"Sudah cukup. Lakukan apa yang aku katakan," potong Garra tegas, lalu mematikan sambungan teleponnya dengan kasar.
Ia melempar ponsel itu ke atas meja, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya menatap lurus ke depan, penuh amarah dan tantangan.
"Pergi sesukamu, Hezlin. Tapi ingat satu hal.. statusmu sebagai istriku tidak akan berubah selama aku belum mengizinkannya. Kau pikir bisa lari begitu saja? Kita lihat saja nanti apakah kau sanggup bertahan sendirian, atau justru akan kembali merayuku memohon untuk dimaafkan."
Garra masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Ponselnya tergeletak di meja, dan wajahnya dipenuhi ekspresi dingin yang menyembunyikan gejolak di dalam hatinya. Ia melangkah mendekati meja kerja, lalu menekan tombol interkom untuk memanggil Ervan.
Tidak lama kemudian, asistennya masuk dengan raut waspada.
"Anda memanggil saya, Tuan?"
Garra menatapnya tajam, suaranya rendah dan penuh tekanan.
"Perbarui laporan. Aku ingin tahu setiap langkah yang diambil Hezlin mulai detik ini juga. Di mana dia menginap, apa yang dia lakukan, siapa yang dia temui.. semuanya harus sampai ke telingaku, tanpa ada yang terlewat."
Ervan mengangguk paham, meski dalam hatinya makin bingung. Tuannya membiarkan Nyonya pergi, tapi justru mengawasinya dengan ketat seolah tidak ingin melepaskannya sama sekali.
"Baik, Tuan. Akan saya atur segera."
"Satu lagi," tambah Garra sebelum Ervan sempat berbalik. "Jangan ada satu pun orang yang berani memberinya bantuan dalam bentuk apa pun. Jangan biarkan dia menyadari bahwa dia masih dalam pengawasan. Biarkan dia merasa dia benar-benar sendirian dan bebas."
Mendengar perintah itu, Ervan sedikit terkejut. "Tapi Tuan... jika dia kesulitan, apakah kita tidak perlu campur tangan?"
Garra mengangkat dagunya, matanya menyipit tajam.
"Biarkan dia merasakan kesulitan itu. Biarkan dia tahu betapa beratnya hidup tanpa sandaran apa pun. Kalau dia benar-benar kuat dan yakin dengan pilihannya, dia akan bertahan. Tapi kalau dia hanya berpura-pura dan sedang menguji batas kesabaranku... dia akan segera menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa hidup tenang tanpa aku."
Ada nada tantangan yang jelas terucap dari bibirnya. Dalam benaknya, ia masih meyakini bahwa Hezlin hanya ingin memanfaatkan situasi, menguji apakah ia akan mengejarnya kembali. Dan Garra tidak akan memberikan kepuasan itu — setidaknya belum saatnya.
"Paham, Tuan. Semua akan diatur sesuai perintah."
Ervan keluar meninggalkan ruangan, meninggalkan Garra yang kembali menatap ke luar jendela. Angin malam berhembus lebih kencang, membawa hawa dingin yang sama seperti perasaannya saat ini.
"Kau ingin kebebasan, Hezlin? Baiklah, aku berikan kebebasan itu. Tapi ingat... kebebasan yang kau dapatkan ini mungkin justru akan terasa lebih menyiksa daripada ikatan yang kau tinggalkan."
•
•
❤️