Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA UNTUK SALING MENJATUHKAN
Ponsel masih menempel di telinga Sari. Suara Bu Jinem terdengar bergetar.
Deg!
Darah Sari serasa naik ke kepala. Bukan karena apa yang baru saja dikatakan ibunya, tapi Sari menyadari sesuatu sedang dijalankan di sekitar ibunya.
“Bu, Bu tunggu dulu,” potong Sari cepat sambil mengatur napasnya sendiri. “Jangan percaya, Bu. Itu nggak benar," ucapnya kemudian menekan tombol loud speaker dan menatap sekilas pada Udin dan AKBP Raharja sebagai isyarat.
“Bagaimana Emak nggak percaya, Nduk?" ujar Bu Jinem dari seberang, masih dengan suara yang bergetar.
Udin dan AKBP Raharja yang berdiri di samping Sari langsung menegang. Keduanya menatap Sari dengan alis bertaut.
Sari menutup mata sejenak, lalu ia menarik napas. “Mak, dengarkan aku baik-baik.” Sari berusaha tetap tenang. “Sari melihat sendiri dari rekaman CCTV di toko es krim langganan Sari, Mak. Jadi tolong jangan mudah percaya sama omongan orang. Jangan ikut-ikutan membenci orang tanpa melihat fakta di dalamnya.”
Di seberang, Bu Jinem terdiam. Tapi Sari tahu ibunya sedang ketakutan.
“Waktu itu Bapak pulang kerja lembur, Mak. Bapak nyetir sendiri, Pak Budi juga bawa motornya sendiri. Sari lihat di CCTV. Mobil Bapak ngebut, terus oleng. Terus nabrak pembatas jalan.” Suara Sari mulai bergetar. “Bukan Pak Budi yang nyetir, Mak. Bapak yang bawa mobil ugal-ugalan."
“Jangan ngarang, Nduk!” bentak Bu Jinem. “Bapakmu orangnya hati-hati!”
"Mak, jujur aja, ada siapa di deketmu, sekarang? Bilang sama dia, kita nggak takut diancam, bilang juga sama dia, rumah kita diawasi polisi 24 jam. Kalau orang itu berani macem--macem, Sari bisa bikin keluarganya ketakutan juga!"
“Tapi Nduk...” Suara Bu Jinem gemetar hebat. “Mereka bilang mau melakukan sesuatu padamu jika kamu masih dekat dengan Udin.”
Dada Sari serasa dihantam, meski sudah menduganya, tapi rasa khawatir tetap menyergapnya. "Mak! Sadaro! Kamu itu punya ban item, dipake dong! lumayan buat pemanasan, berapa orang sih? Lagian depan rumah kita itu rumah pak Deri, orang kaya rumahnya tingkat dua, ada CCTV juga disana, kalau terjadi sesuatu sama Emak, gampang nangkep penjahatnya! Jangan takut, Mak! Kita lawan!"
Setelah ucapan Sari, samar-samar terdengar bunyi sepeda motor yang digeber keras lalu suara derunya terdengar semakin menjauh.
Udin langsung menoleh pada AKBP Raharja, dan dibalas dengan anggukan. AKBP Raharja mengulurkan tangan ke arah Sari. "Mbak Sari, bolehlah saya bicara langsung dengan ibu Anda?"
Meski ragu, tapi Sari menyerahkan ponselnya.
“Selamat malam, Bu Jinem. Saya AKBP Raharja dari Polsek Jakarta Timur, saat ini saya sedang bersama putri Anda.” ucapnya dengan suara tegas tapi menenangkan. “Saya dengar Ibu dapat ancaman. Tenang, Bu. Ini laporan resmi. Akan saya kirimkan petugas untuk menjaga rumah Ibu dan mencari tahu siapa pelakunya. Jangan buka pintu untuk orang yang tidak Ibu kenal. Kunci semua pintu dan jendela malam ini juga.”
“Polisi?” Suara Bu Jinem tercekat setengah tak percaya. “Iya... iya Pak."
“Bagus. Nanti ada Bripka Dedi yang akan ke sana dalam 2 jam. Tolong ceritakan ciri-ciri orang yang mengancam Anda. Kami akan segera memprosesnya." AKBP Raharja menutup panggilan lalu mengembalikan ponsel untuk Sari.
Sari langsung lemas. Lututnya hampir jatuh, beruntung Udin cepat menahan lengannya. “Kau hebat, Sar,” bisik Udin. “Kau berani.”
Sari menggeleng kecil, air matanya tetap saja jatuh. “Alu juga takut sebenarnya!" serunya sambil mengusap kasar air mata di pipinya.
............
Sutinah duduk di bangku perpustakaan, pura-pura membaca. Di pangkuannya ada buku bertajuk Sejarah Perempuan Menyulam yang tebal dengan ampul yang lusuh. Ia membuka halaman 47. Di sana terselip secarik kertas kecil.
—Sari gagal. Polisi turun tangan di mana-mana. Jaga jarak—
Jari Sutinah berhenti di kata 'gagal'. Bibirnya mengerucut, kesal tapi sorot matanya berbinar. Sutinah menutup buku itu, pelan. Lalu menyeringai dengan senyum yang mengerikan.
“Gagal satu, masih ada cara lain,” gumamnya. Ia menyelipkan kertas itu kembali, lalu mengembalikan buku ke raknya.
Seorang petugas lewat. “Bu Sutinah, saatnya kembali ke sel!"
“Baik, Pak,” jawab Sutinah lembut. Ia berjalan pelan, dengan punggung tegak. Di kepalanya sudah menyusun rencana B.
..........
Di waktu yang sama, di ruang kunjungan lapas, ada H. Karsiman duduk. Di seberang meja, duduk seorang laki-laki berkacamata dan map tebal di pangkuannya.
“Pak Wawan, apa oleh-oleh Anda” sapa Karsiman pelan.
“Pak Bupati,” jawab pengacara itu lalu membuka map. “Ini perkembangan banding kita.”
Karsiman bersandar. “Langsung saja. Peluangnya berapa persen?”
“40 persen, Pak. Kalau kita bisa melemahkan kesaksian Udin. Dan kalau opini publik berhasil dibangun bahwa ini murni masalah ketenagakerjaan.”
Karsiman mengangguk pelan, dan jarinya mengetuk meja. “Sutinah sudah bergerak?”
“Sudah, Pak. Tapi tim di lapangan bilang ada hambatan karena polisi juga bergerak terlalu cepat.”
Karsiman tertawa kecil. Tawa yang terasa kering dan terpaksa. “Polisi. Dulu mereka juga yang kita suap untuk proyek.”
Pak Wawan tidak menimpali. Ia hanya mendorong satu berkas. “Tanda tangani ini. Surat kuasa untuk ajukan saksi baru di sidang PK.”
Karsiman menandatangani tanpa membaca. “Pastikan Sutinah tidak melakukan hal bodoh. Kita butuh dia tetap bersih di depan umum.”
“Siap, Pak. Jika ini diterima, sidang banding mungkin satu Minggu lagi."
"Bagus, saat itulah kita jatuhkan Sutinah sedalam mungkin!" ujar Karsiman menyeringai tajam.
...****************...
Bersambung