seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecerobohan neta.
Perjalanan yang memakan waktu lebih dari dua jam membuat ke dua mata neta terpejam, james yang masih mengemudikan mobilnya tampak sesekali melirik melihat ke arah neta yang tertidur lelap. james yang merasa kesepian segera menekan tombol di audio mobilnya, musik instrumental mengalun menemani james.
[ jika kau tahu, aku mencintaimu dalam diamku. walau kamu adalah sahabatku, akan ada rasa cinta ini untukmu. terimalah cintaku, dan aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku.]
lirik lagu tiba tiba terdengar mengalun begitu saja, seakan liriknya mencurahkan isi hati yang james rasakan. james kembali menoleh ke arah neta yang masih tertidur, dia berfikir pasti neta sudah terbuai di dalam alam mimpinya. neta yang sebenarnya dari tadi tidak tertidur mendengarkan setiap lagu yang james putar, dia yang dari tadi tampapk canggung memilih menutup kedua matanya walau dirinya di sepanjang jalan tidak bisa tertidur.
"andai kau tahu isi hatiku dan mau menerima cintaku, aku akan menjagamu dengan segenap jiwa ragaku."
james mengikuti lirik lagu yang dia dengar, dia ingin mengisi kesepiannya. neta yang merasa tidak enak dengan james membuka kedua matanya pelahan, neta berpura pura menguap agar memastikan jika dia benar benar tertidur selama perjalanan.
"sudah bangun...?" tanya jame menatap neta sekilas.
"hmm..." jawab neta.
"kita berhenti di rest area dulu ya ta..." ucap james meminta ijin, rasanya kandung kemihnya sudah terasa penuh dari tadi.
"iya, aku juga mau ke toilet."
melihat rest area yang sudah terlihat, james segera menancapkangasnya agar cepat sampai ke tujuannya. setelah memarkirkan mobilnya james dan neta segera turun, mereka berjalan bersama menuju ke toilet.
james yang lebih dulu menyelesaikan hajatnya memilih menunggu neta di depan pintu masuk toilet, dia duduk bersama petugas yang berjaga di pintu toilet.
"nungguin istrinya ya mas...?" tanya petugas tersebut.
james yang tidak ingin memperpanjang pertanyaan petugas tersebut hanya menjawab dengaan anggukan kepalanya.
"cantik ya mas istrinya, mirip artis korea. cocok sama mas yang ganteng."
senyum lebar terlihat dari pertugas jaga toilet, james yang mendengar ucapan petugas tersebut entah kenapa merasa senang. james yang melihat neta keluar segera menggambil uang yang sudah dia siapkan di dalam saku celananya, dia segera menyerahkan uang yang berwarna biru tersebut ke atas meja di depan petugas jaga toilet.
"mas ini uangnya enggak ada kembalian." ucap petugas tersebut.
"udah kembaliannya ambil aja buat kamu."
neta yang melihat kebaikan james sampai mengkerutkan kedua alisnya, tidak biasanya james akan berbuat baik jika tidak ada sesuatu yang membahagiakan hatinya.
"ayo sayang..." ucap james sambil merangkul pundak neta.
"kamu apa apa an sih james." lirih neta yang meras sikap james terasa janggal.
"udah ayo kita segera masuk mobil." ajak james yang tidak ingin menjawab rasa penasaran neta.
neta yang sudah ada di dalam mobil masih penasaran dengan apa yang sudah terjadi di depan toilet, dia masih ingin mendengar penjelasan james akan panggilannya tadi.
"kenapa kamu tadi memanggilku dengan sebutan sayang...? sebenarnya apa yang sudah terjadi...?"
james melirik sekilas ke arah neta yang menatapnya, senyum samar terlihat di wajah tampan james. neta yang melihat respon dari james merasa kesal sendiri, tatapannya masih setia melihat ke arah james yang sedang menggemudi.
"aku tadi bilang kamu kamu istriku." jawab james tanpa beban.
"apa...!!! gila kamu james." jawab neta terdengar syok.
"emang salah ya..." tanya james dengan entengnya.
"jelas salah lah, kita bukan suami istri. kenapa kamu enggak bilang kalau aku saudara kamu, seperti yang kamu bilang ke teman teman dan para bawahan kamu itu."
james menelan ludahnya kasar, dia ingat jika di tanya sama teman teman atau bawahan james tentang status neta. dia pasti menjawab jika neta adalah adiknya, james selalu mengatakan hal yang sama setiap pertanyaan tentang status kedekatan mereka.
"lalu... apakah kamu mau menjadi istriku neta...?" tanya james yang membuat neta terdiam.
hening... itulah yang mereka rasakan, ucapan james membuat neta semakin awkward. neta masih diam, mulutnya rasanya seakan terkunci. tenggorokannya seakan tercekat untuk mengeluarkan suaranya, neta masih diam dengan seribu pemikiran yang ada di dalam pikirannya.
"aku hanya bercanda neta, kenapa kamu menjadi diam seperti itu."
james sebenarnya menunggu jawaban neta, tapi dia kecewa setelah melihat reaksi neta yang hanya diam seribu bahasa tanpa berkeinginan menjawabnya.
"oh... begitu." jawab neta sambil memutarkan kepalanya menatap pemandangan di samping jendela.
suasana kembali terasa canggung, james yang merasa tidak enak dengan neta memilih menatap fokus kedepan. bunyi dering ponsel milik james terdengar mengisi kesunyian di dalam mobill, nama clara terlihat di layar monitor di mobil james.
"clara..." batin neta setelah melirik sekilas ke arah mobitor kecil di audio mobil james.
james hanya diam, dia sengaja tidak mengangkat panggilan dari clara.
"kenapa enggak di angkat, apa kamu takut kalau dia tahu kamu pergi sama aku." tanya neta terdengar tidak suka dengan sikap james.
"apa boleh aku angkat...?" tanya james yang semakin membuat neta bingung.
"biasanya kamu angkatkan tanpa meminta persetujuan dariku." ketus neta terdengar kesal.
james memilih diam dari pada menjawab ucapan neta, dering ponsel berulang kali terdengar dari audio mobil. neta yang semakin kesal di buatnya segera mematikan bluetooh di dalam mobil, kini yang ada hanya getaran di ponsel james.
"lebih baik kamu angkat james, rasanya kepalaku pusing mendengar getaran ponsel milikmu."
neta menggambil ponsel milik james dan segera menyerahkan ke samping james.
"kamu tidak lihat aku sedang apa neta, lebih baik kamu yang angkat." james memberikan isyarat dengan dagunya agar neta mengangkatnya.
"enggak mau, aku enggak mau menjadi sarana amukan kekasihmu lagi."
james yang mendengar ucapan neta merasa terkejut, dia tidak menyangka jika selama ini neta menjadi sasaran kecemburuan clara.
"apa kamu bilang, clara sering memarahimu...!!!"
neta yang merasa salah bicara segera menutup mulutnya dengan satu tangannya, selama ini dia selalu menyembunyikan sikap kasar clara ke neta. tapi karena kekesalannya neta tidak sadar jika telah mengatakannya di depan james.
"maksud aku, anu itu james."
neta terlihat gugup, dia kini merasa semakin bersalah akan kecerobohannya sendiri.