Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19•Batas Yang Dilanggar Sendiri
Malam itu Arkan tidur di ranjang yang sama dengan Naya. Tapi jarak di antara mereka selebar lautan. Tidak ada suara, tidak ada sentuhan. Punggung Arkan membelakangi Naya. Selimut membentang di tengah seperti garis yang tidak boleh dilanggar.
Sudah tiga bulan Arkan tidak menyentuh Naya. Malam pertama yang seharusnya jadi awal, justru jadi akhir dari segala kedekatan.
Hidup Naya di rumah itu hambar. Ia bukan istri yang diratukan. Ia ada di sudut ruangan, tapi tidak pernah dilihat. Diam, tapi tidak pernah didengar.
Arkan memejamkan mata lebih dulu. Napasnya teratur. Punggungnya tetap membelakangi Naya sampai pagi.
Tapi kepala Naya dipenuhi satu ingatan. Ciuman Bara. Hangatnya masih terasa di bibir. Napasnya masih menempel di kulit. Panas itu merambat, tidak mau hilang, mengisi dinginnya ruangan antara dirinya dan suami.
Naya memejamkan mata. Mencoba tidur. Rasa itu tetap tinggal, membakar sampai fajar.
Pagi datang lewat celah gorden. Cahaya jatuh tepat di wajah Naya.
Ia bangun lebih dulu. Arkan masih tidur, punggungnya masih membelakangi, seperti malam itu tidak pernah berubah. Naya menatap garis punggung itu lama. Dulu ia suka membelai punggung itu saat Arkan pulang kerja. Dulu ia suka bersandar di sana dan merasa aman.
Sekarang ia hanya merasa kosong.
Ia turun dari ranjang pelan. Kakinya menyentuh lantai dingin. Di luar kamar, rumah masih sepi. Hanya suara ketukan kecil dari dapur.
Bara sedang menyeduh kopi.
Naya berhenti di ambang pintu. Seharusnya ia kembali ke kamar. Seharusnya ia berpura-pura tidak mendengar. Itu batas yang ia buat sendiri.
Tapi kakinya bergerak juga.
“Pagi,” ucapnya pelan.
Bara menoleh. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya berantakan. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk dan menggeser satu cangkir ke arah Naya.
Uap kopi naik di antara mereka. Hangatnya mengenai wajah Naya. Tiba-tiba ia teringat lagi. Napas Bara yang dekat. Tangan yang tidak menolak saat ia menempel.
Garis itu mulai kabur.
“Terima kasih,” kata Naya, mengambil cangkir.
Tangannya hampir bersentuhan dengan tangan Bara. Hampir. Tapi ia menarik mundur lebih cepat dari yang seharusnya.
Ia naik ke kamar dengan kopi yang belum disentuh.
Arkan sudah bangun saat ia masuk. Tidak bertanya dari mana ia datang. Tidak peduli.
Naya duduk di tepi ranjang, menatap cangkir di tangannya. Panasnya sudah hilang. Tapi rasa di kepalanya belum.
“Tumben minum kopi,” kata Arkan dari kamar mandi. Handuk kecil masih melingkar di leher.
Naya mengangkat wajah. “Aku lagi coba hal baru. Kalau ketagihan, gak masalah kan, Mas?” Di balik kalimat itu ada maksud yang hanya ia sendiri paham.
Arkan mengangkat alis. “Cuma kopi. Ya gak masalah lah, Nay.” Jawabnya datar, lalu mengambil kemeja kerja dari lemari.
Tiba-tiba ponsel Arkan berdering. Ia langsung angkat. Wajahnya berubah serius. Ia berjalan ke jendela.
“Iya, aku ke sana sekarang.”
Ponsel masuk ke saku. Dengan cepat ia memakai kemeja. Terburu-buru. Tidak menjelaskan.
“Siapa yang telepon, Mas?” tanya Naya.
Arkan masih menyisir rambut. Mengambil tas. Ada jeda beberapa detik sebelum ia jawab.
“Ada kepentingan mendadak. Aku sarapan di luar aja.”
Ia langsung keluar. Pintu tidak ditutup. Langkahnya lebar menuruni tangga.
Naya berdiri. Melihat punggung Arkan menjauh. Lalu ia berlari kecil menuruni tangga, mengejar. Tapi suara mobil Arkan sudah hilang dari garasi.
“Mau ikuti dia?” Suara serak Bara di belakang Naya.
Naya berbalik. Mengangguk pelan.
Bara tidak menunggu. Ia mengambil kunci mobil, membuka pintu garasi. Naya mengikutinya tanpa bicara.
Mobil melaju membuntuti mobil Arkan dari kejauhan. Naya diam. Hanya menatap lampu rem di depan yang sesekali menyala.
Mereka berhenti di depan sebuah apartemen. Bara parkir cukup jauh, mematikan mesin.
Mereka menunggu.
Belum sepuluh menit, pintu lobi terbuka. Arkan keluar. Di gendongannya ada Dewi. Kaki Dewi dibalut perban, tangannya melingkar di leher Arkan. Wajah Dewi meringis, tapi matanya mencari tatap Arkan.
Arkan membuka pintu mobil, menurunkan Dewi pelan, lalu mengangkat tubuhnya ke kursi penumpang. Gerakannya hati-hati. Wajahnya serius, tapi tidak sedingin saat menghadapi Naya.
Pintu tertutup.
Naya diam di kursinya. Tangannya menggenggam sabuk pengaman sampai buku jari memutih. Ia melihat semuanya. Cara Arkan menunduk memastikan Dewi nyaman. Cara Dewi menyentuh lengan Arkan sebelum pintu ditutup.
Bara tidak menyalakan mesin. Ia menatap ke depan, menunggu Naya bicara.
Tapi Naya tidak bicara. Ia menunduk, menahan napas yang terasa terlalu berat.
Pintu mobil Arkan tertutup. Mesin menyala, lalu melaju keluar dari area apartemen.
Di dalam mobil Bara, waktu seperti berhenti.
Naya tidak menangis. Tidak berteriak. Ia menatap lurus ke depan sampai bayangan mobil Arkan hilang. Dadanya naik turun. Bukan karena marah. Tapi karena sesuatu di dalam dirinya runtuh.
Lalu perlahan ia menoleh.
Bara masih menatap ke depan. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Ia belum berani menatap Naya.
Naya tidak memberi peringatan. Ia mendekat. Tangannya menyentuh rahang Bara, memaksa wajah itu berbalik.
Dan ia mencium Bara.
Bara membeku sejenak. Matanya melebar, napasnya tertahan. Tapi Naya tidak mundur. Bibirnya menekan, seolah menuntut jawaban atas semua luka yang ia telan hari ini.
Butuh beberapa detik bagi Bara untuk sadar. Lalu ia membalas. Tangannya naik, menahan tengkuk Naya, memperdalam ciuman itu. Seolah ia juga sudah terlalu lama menahan.
Tapi Naya tersentak.
Kesadarannya menghantam. Ia mendorong dada Bara, memutus ciuman itu.
“Gak,” ucapnya cepat, suaranya pecah. “Kita gak boleh begini.”
Bara masih menatapnya, napasnya kacau. Rahangnya mengeras lagi, kali ini karena menahan sesuatu yang lain.
“Mereka aja boleh begitu, masa kita gak boleh, Nay?”
Naya tidak menjawab. Ia menunduk. Tangannya menutup mulut sendiri, seolah menyesali apa yang baru saja ia lakukan.
“Antar aku pulang, Bar,” katanya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar.