NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Gaun Sutra

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.

Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.

Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.

Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.

Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....

"Apa salahku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara tanpa batas waktu

Kegelapan adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Salsa ketika jiwanya perlahan-lahan ditarik kembali dari dasar sumur hampa yang tak berujung.

Rasa pening yang teramat sangat langsung menghantam dinding kepalanya, berdenyut-denyut dengan ritme yang menyiksa seolah-olah otaknya sedang dihujani ribuan jarum tak kasat mata.

Efek sisa dari zat kimia yang dipaksakan masuk ke dalam tubuhnya beberapa jam lalu masih tersisa banyak, meninggalkan rasa mual yang mengocok isi perutnya.

Salsa mencoba mengerjap-ngerjapkan, memaksa sepasang mata indahnya untuk menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya yang teramat minim. Keadaan di sekelilingnya tampak buram dan asing.

Tempat itu begitu gelap, pengap, dan berbau lembab yang menyengat, perpaduan antara aroma tanah basah, besi berkarat, dan cairan antiseptik yang menusuk hidung.

Ketika ia mengedarkan pandangan yang masih berkabut, ia hanya mendapati satu titik cahaya kecil yang menyusup masuk melalui sebuah lubang udara sempit di sudut atas dinding beton yang tampak retak-retak.

Salsa meringis, secara instingtif berniat mengangkat tangan kanannya untuk memegang pelipisnya yang berdenyut nyeri. Namun, tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Ada sebuah tahanan yang teramat kuat mengunci pergelangan tangannya.

Sentakan panik langsung menjalar ke seluruh sistem sarafnya. Salsa mencoba menggerakkan tangan kirinya, lalu kedua kakinya, namun hasilnya sama saja. Nihil....

Ia baru menyadari dengan tingkat kepanikan yang melonjak drastis bahwa kedua tangan dan kakinya telah diikat dengan tali kekang berbahan kulit tebal yang dilapisi kain kasar.

Posisinya yang kini terbaring telentang di atas sebuah brankar besi berkarat membuatnya sama sekali tidak berdaya, terjebak dalam pasungan yang mengunci setiap gerak tubuh lemasnya di dalam ruangan gelap terasing itu.

"Ada apa ini? S-siapa yang melakukan ini?!" Bisik Salsa dengan suara yang bergetar hebat.

Tenggorokannya terasa kering kerontang bagai padang pasir, membuat suaranya terdengar parau dan nyaris hilang. Rasa takut yang primitif mulai merayap dan mencengkeram dadanya hingga ia merasa sesak untuk sekadar menarik napas.

Sifat manja dan keangkuhan yang biasanya menjadi perisai Salsa seketika menguap, digantikan oleh kesadaran yang mengerikan bahwa dirinya saat ini sedang berada dalam bahaya yang sangat besar. Skenario terburuk tentang penculikan dan penyiksaan mulai berputar-putar di dalam kepalanya yang masih pening.

"Hey! Siapa pun di luar, keluarkan aku dari tempat sialan ini!" Teriak Salsa, mengumpulkan seluruh sisa tenaga di paru-parunya.

"Lepaskan aku! Punya hak apa kalian mengikatku seperti ini?! Lepaskan!"

Salsa terus berteriak histeris, suaranya melengking memecah kesunyian ruangan beton tersebut, berharap ada gema yang bisa memanggil seseorang, siapa saja, untuk datang dan mengakhiri mimpi buruk ini.

Tubuhnya bergerak-gerak liar di atas brankar, mencoba meronta dan mematahkan ikatan tali kulit di pergelangan tangannya hingga kulitnya yang halus mulai tergores dan memerah, namun besi brankar itu tetap bergeming kokoh.

Usaha histeris Salsa akhirnya membuahkan hasil. Setelah beberapa menit berteriak tanpa henti, terdengar suara dentum mekanisme kunci yang dibuka dari luar.

Pintu ruangan yang terbuat dari lempengan besi tebal mulai berderit terbuka, mengalirkan seberkas cahaya lampu lorong yang menyilaukan mata Salsa yang terbiasa dengan kegelapan.

Dari balik siluet cahaya tersebut, melangkah masuk dua orang pria bertubuh tegap.

Mereka mengenakan seragam putih khas seorang perawat rumah sakit, lengkap dengan masker medis yang menutupi separuh wajah mereka, hanya menyisakan sepasang mata yang menatap Salsa dengan pandangan dingin, datar, dan tanpa ekspresi kemanusiaan sedikit pun.

Langkah kaki mereka terdengar konstan dan beritme saat mulai mendekati brankar tempat Salsa terpasung.

"Kalian siapa?! Apa yang mau kalian lakukan padaku?! Lepaskan aku dari sini sekarang juga atau papaku akan menghancurkan kalian semua!" Ancam Salsa dengan kepanikan yang semakin menjadi-jadi, matanya bergerak liar menatap kedua perawat misterius itu bergantian.

Nama Brahmantyo ia sebut sebagai tameng terakhirnya, tanpa tahu bahwa sang papa kini telah melarikan diri ke luar negeri.

Namun, kedua orang itu hanya diam membisu. Mereka sama sekali tidak menanggapi gertakan ataupun jeritan histeris dari Salsa. Kehadiran Salsa di atas brankar itu seolah-olah dipandang tidak lebih dari sekadar objek uji coba yang tidak memiliki suara.

Salah satu perawat yang berdiri di sisi kanan Salsa dengan gerakan tak acuh membuka sebuah kotak peralatan medis kecil.

Jemari berbalut sarung tangan lateksnya mengambil sebuah tabung suntikan berukuran sedang, mengetuk permukaannya perlahan untuk menghilangkan gelembung udara, lalu mengarahkannya tepat ke jalur pembuluh darah di lengan Salsa yang terekspos.

Melihat ujung jarum perak yang berkilat tajam di bawah temaram cahaya, seluruh bulu kuduk Salsa berdiri. Ketakutannya meledak menjadi histeria massal.

"Apa yang akan kalian lakukan padaku?! Apa isi cairan itu?! Jangan berani-berani menyuntikku!! Jauhkan benda itu dariku!!"

"Jangan! Tidaaakkk!!"

Sekeras apa pun Salsa berteriak, sekuat apa pun ia menggeliatkan tubuhnya untuk menghindar, usahanya terbukti sia-sia di hadapan cengkeraman tangan perawat satunya yang menahan bahunya dengan sangat kuat, mengunci pergerakannya hingga tak menyisakan ruang sedikit pun.

Jleb...

Rasa nyeri yang tajam menusuk permukaan kulit lengannya saat jarum suntik itu meluncur masuk tanpa belas kasihan. Cairan bening di dalam tabung didorong masuk perlahan, mengalir menyusup ke dalam aliran darah Salsa, membawa bersamanya sebuah sensasi dingin yang menjalar dengan cepat menuju ke pusat sarafnya.

Hanya dalam hitungan detik setelah cairan itu bersarang di tubuhnya, efek destruktifnya langsung bekerja dengan efisiensi yang mengerikan. Seluruh otot di tubuh Salsa yang tadinya menegang akibat meronta mendadak lemas, kehilangan kekuatannya secara instan.

Suara teriakan Salsa yang melengking langsung melemah, menyusut menjadi bisikan parau yang tersendat-sendat di tenggorokan.

"S-siapa yang meminta kalian melakukan ini padaku...?" Tanya Salsa dengan sisa kesadarannya yang mulai terkoyak, matanya menatap sayu ke arah perawat yang kini sedang merapikan kembali alat suntiknya.

Perawat itu terdiam sejenak, menatap Salsa dari balik maskernya sebelum akhirnya sebuah kekehan sinis yang dingin lolos dari bibirnya.

"Siapa lagi kalau bukan orang yang paling membencimu di dunia ini, Nyonya?" Jawab perawat itu dengan nada suara yang teramat santai namun sarat akan kekejaman yang menusuk.

"Dia ingin kau berada rumah sakit jiwa ini selamanya. Dia ingin kau membusuk di sini karena kau sudah menghancurkan seluruh hidup dan masa depannya"

Mendengar penuturan itu, otak Salsa yang mulai melambat dipaksa bekerja keras. Orang yang paling membencinya di dunia ini... menghancurkan hidupnya...

Hanya ada satu nama yang seketika mencuat dan terpatri kuat di dalam dinding pikirannya. Sebuah nama yang menjadi pusat dari seluruh obsesi dan alasan di balik segala tindakan nekatnya selama satu tahun ini.

Arkan....

"Tidak... tidak mungkin..." Bisik Salsa, air mata hangat mulai mengalir melewati pelipisnya, membasahi bantal brankar yang berdebu.

"Mas Arkan... tidak mungkin melakukan hal sekeji ini padaku... tidak mungkin..."

Pikiran Salsa langsung tertuju pada Arkan karena memang suaminya itulah satu-satunya orang yang berulang kali meneriakkan kata benci tepat di depan wajahnya.

Ingatan subuh tadi, saat Arkan menyeretnya dengan kasar dan melemparnya ke atas aspal jalanan dengan tatapan mata yang penuh dendam, seolah menjadi kepingan teka-teki yang kini terpasang dengan sempurna.

Arkan membencinya karena malam persetubuhan paksa itu. Arkan membencinya karena ia telah merusak janjinya dengan Nabila.

"Apakah Mas Arkan benar-benar tega menyewa orang untuk membuangku ke dalam rumah sakit jiwa ini agar ia tidak bisa mengganggu hidupnya lagi?"

"Buktinya sekarang kau ada di tempat ini, Nyonya. Nikmati sisa hidupmu di sini" Kata perawat itu dingin sebagai kalimat penutup, sebelum akhirnya berbalik bersama rekannya dan melangkah keluar dari ruangan.

Brak....

Pintu besi tebal itu kembali ditutup dengan bantingan keras, disusul oleh suara putaran kunci yang mengunci mati kebebasan Salsa.

Ruangan itu kembali terjerumus ke dalam kegelapan yang pekat dan absolut, menyisakan Salsa yang sendirian dalam keheningan yang mencekam.

Cairan obat yang mengalir di tubuhnya kini telah mengambil alih seluruh kendali biologisnya. Kesadaran Salsa berada di titik terendah, merosot tajam ke dalam jurang kantuk yang tak tertahankan.

Berat kelopak matanya terasa seolah ditindih oleh bongkahan batu, perlahan-lahan mulai terpejam dengan rapat menolak cahaya kecil dari dinding yang berlubang.

Di ambang kesadarannya yang kian menipis, di antara batas antara realita yang kejam dan kegelapan yang membius, bibir pucat Salsa bergerak membentuk sebuah bisikan lirih yang teramat getir, sebuah rintihan putus asa yang lahir dari hati yang telah hancur berkeping-keping.

"Apa aku salah kalau aku hanya menginginkan cintamu, Mas...?" Gumam Salsa dengan suara yang nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya kegelapan total menelan habis kesadarannya, mengubur jeritan hatinya yang tak pernah tersampaikan di dalam sunyinya ruang pasungan itu.

1
Nita arsela
tuh kan papa Arkan juga salah sejak awal GK mau jujur sama Arkan,, coba kalau papa Arkan itu jujur dr awal GK bakalan kayak gini critanyaa,,
mamayasna
/Cry//Sob//Whimper/
mmh nengmuti
nah kan BPK Lo sendiri yg salah
Agunk Setyawan
mampus mu kpn arkan🤣🤣🤣
Jumi🍉
Makin menjadi rasa bersalahmu Arkan, duh kayak luka segar habis itu dibasuh sama air garam🤣/Joyful//Joyful//Joyful/
Linda Gunawan
sekarang apa mau dikata. semua terlambat. cari nabila hukum dia, rayu ayu agar mau menganggap kalian keluarga nya. rawat salsa walaupun kemungkinan sembuh nyaris tak ada
natali
kan benar...semua rahasia di pegang oleh ayahnya arkan.... meski gak sesuai dgn prediksi awal...tapi tetap ayah arkan yg jadi saksi kuncinya....

mampus kau arkan...rasain kan, ngaku pintar tapi oooooonnnnnnnnnnn, setelah tau rahasia sebenarnya makin dalamlah itu penyesalanmu, makanya jangan jadi orang bucin....bucin sich boleh tapi jangan 100 % ma manusia. rasain lah kau arkan....

pusing pusinglah kau sendiri bagaimana cara mencari cara menyembuhkan salsa...sekarang tugasmu lagi itu. mbake update lagi dong 🤣🤣
dyah EkaPratiwi
nah semakin menyesal kan kamu arkan
Agnezz
nah lo tambah ruwet, knapa Papa Dirgantara gak ngomong dari dulu. Arkan keburu jadi besar kepala, dikira Salsa ngemis cintanya. btw papa Dirgantara sudah sembuh dari sakit jantungnya?🤔🤔
Anna Anni
apa?apa? menyesal sampai dasar hati, jadi cowok kok bodoh gitu bisa ditipu ama cewek model Nabila gitu.
Nurminah
mampus
pecinta novel lealistis
bukan si salsa aja yang gila aku juga ikutan gila nungguin ini,
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
Agnezz: sambil nunggu up, baca koment2 kak
total 2 replies
pecinta novel lealistis
tumben belum up jam segini kk
santi.santi: otw nih, maaf yaaa tadi sibuk banget 🤭
total 1 replies
Jumi🍉
Terlalu sesumbar sih dulunya kamu Arkan.../Speechless/
Rina Wati.S
bawangnya kpn habisnya kak San.
🌿🌺WINA🌸🌿
Arkan itu karma buat kamu dulu tega sekali mengusir salsa tanpa belas kasian, katanya kuat arkan menerima kebencian dari salsa dan ayu menebus semua kesalahanmu...
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...

Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...

Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....

salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...

kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
Felycia Fernandez
😭😭😭😭😭😭😭😭
🌿🌺WINA🌸🌿: 😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
Cahaya
lanjut
Cahaya
aduhh ayu 😭😭😭😭 ngga kuat tisu sampay habis ini 😭😭😭😭😭
🌿🌺WINA🌸🌿: nanti aku kasih tisu kak😀
total 1 replies
mb peppy
ketidak berdayaan salsa dan penolakan ayu adalah hal yg teramat menyakitan buatmu arkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!