NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 ~ Aku Kedinginan

Garra menahan napas sejenak, mencoba menarik lengannya pelan namun cengkeraman Felicia tak kendor sedikit pun. Ia menatap wajah wanita itu yang tampak pucat, lalu perlahan menghela napas berat.

"Lepaskan aku Felicia," ucapnya mencoba untuk tetap tenang, meski hatinya terus mengingat Hezlin. "Aku hanya akan mengambilkan minuman hangat untukmu."

Garra mencoba perlahan menggeser tubuhnya untuk bangun kembali, namun suara rintihan pelan Felicia langsung menahannya.

"Tolong... tetaplah di sini sebentar saja..." bisiknya lemah, matanya terpejam seolah menahan sakit yang kembali menyerang. "Aku takut kalau sendirian..."

Garra akhirnya mengurungkan niatnya. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur, membiarkan tangan Felicia tetap bertumpu di lengannya. Namun pikirannya sama sekali tak tenang, bayangan Hezlin terus mengganggunya.

"Aku akan menelfon dokter untuk memeriksamu sekarang," ucap Garra merogoh ponselnya.

Namun Felicia langsung menahannya. "Tidak!" dia menggeleng kuat. "Aku tidak butuh siapapun.. Aku hanya mau kamu yang menemaniku disini.. Sampai sembuh."

Di luar dugaan, Felicia perlahan menyusupkan kepalanya ke dada Garra, mendekap erat seolah takkan pernah melepaskannya lagi.

Garra menegang seketika, tangannya terangkat hendak menjauhkan tubuh wanita itu, namun ia kembali menahan diri melihat kondisi Felicia yang tampak rapuh, meski hatinya semakin gelisah dan tak tenang.

"Garra... kamu ingat, dulu setiap kali perutku tiba-tiba sakit seperti ini.. Kamu selalu datang dan meninggalkan seluruh pekerjaanmu demi menemaniku." ujarnya.

Garra terdiam beberapa saat. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya jatuh ke lantai. Kalimat itu berhasil menyeret ingatan yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun hanya sesaat.

Ia segera menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara datar, "Jangan mengungkit masa lalu lagi, Felicia."

Wanita itu mendongak perlahan. "Kenapa? Bukankah dulu kamu selalu bilang akan menjagaku?"

"Itu dulu." Jawaban singkat itu membuat Felicia membeku.

"Dulu aku memang pernah melakukan semua itu. Aku datang setiap kali kamu membutuhkanku. Aku meninggalkan pekerjaan, bahkan mengabaikan diriku sendiri demi memastikan kamu baik-baik saja." Garra berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih tenang. "Tapi semuanya sudah berubah."

"Berubah?" bisik Felicia lirih. "Karena Hezlin?!"

Garra menatapnya tajam. Lalu menggeleng. "Karena keputusanmu."

Felicia terdiam seribu bahasa. Dia tau.. diantara mereka yang paling bersalah adalah dirinya yang tega meninggalkan Garra dihari pernikahannya.

"Jadi... sekarang aku sudah tidak berarti apa-apa lagi bagimu? Lalu... Bagaimana janjimu pada mendiang ayahku?" tanya Felicia dengan suara bergetar.

Garra akhirnya menatap mata wanita itu dengan sorot yang tegas. "Tentang janji itu... aku sudah menepatinya. Tapi kamulah yang memilih jalanmu sendiri, Felicia.."

Felicia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Air mata Felicia akhirnya jatuh tanpa mampu lagi ia bendung.

"Kalau waktu bisa diputar..." bisiknya lirih. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu hari itu."

Garra memejamkan mata sejenak. Kalimat itu tidak lagi mampu menggoyahkan hatinya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

"Aku harap kamu segera sembuh, Felicia," ucapnya pelan. "Tapi setelah malam ini, jangan lagi bergantung padaku."

Perlahan Garra melepaskan tangan Felicia yang masih menggenggam lengannya. Ia bangkit dari tepi ranjang.

"Aku akan meminta dokter datang. Setelah itu, aku juga akan menghubungi seseorang untuk menemanimu."

Baru beberapa langkah menuju pintu, tubuhnya mendadak tertahan.

Dua lengan Felicia melingkar erat di pinggangnya dari belakang. "Jangan pergi..." isaknya pecah. "Aku mohon... jangan tinggalkan aku lagi."

Tubuh Garra menegang.

Ia memejamkan mata sejenak sebelum mengembuskan napas panjang.

"Felicia."

"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya." Suara wanita itu bergetar hebat. "Tapi beri aku kesempatan untuk memperbaikinya."

"Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki." Jawaban Garra terdengar tenang, tetapi begitu tegas. "Yang sudah berlalu... biarkan tetap berlalu."

Pelukan Felicia justru semakin erat. "Aku tidak bisa kehilanganmu lagi, Garra."

Dengan sabar, Garra mulai melepaskan jemari Felicia satu per satu dari pinggangnya. Gerakannya lembut, tetapi tidak menyisakan kesempatan bagi wanita itu untuk kembali menahan.

Saat Garra berhasil berbalik menghadapnya, Felicia menatap wajah pria itu dengan mata yang dipenuhi air mata.

"Garra..."

Tanpa memberi kesempatan Garra bereaksi, Felicia berjinjit dan mengecup singkat pipi pria itu.

Cup!

Mata Garra langsung membelalak. Ia spontan mundur selangkah.

"Felicia!" Suara Garra kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. "Jangan pernah mengulangi hal seperti itu lagi."

Tangannya mengusap pipinya sendiri, seolah ingin menghilangkan jejak kecupan itu. "Aku sudah punya istri."

Tatapan Felicia meredup. Ia ingin meraih Garra lagi, tetapi pria itu sudah melangkah mundur.

"Jaga dirimu baik-baik." Tanpa menunggu jawaban, Garra membuka pintu dan keluar dari kamar.

Sesaat setelah pintu tertutup, lampu indikator kecil berwarna merah yang tersembunyi di balik vas bunga di sudut kamar perlahan berkedip.

Sebuah kamera mungil yang sejak awal terpasang di sana masih terus merekam.

Beberapa detik kemudian, rekaman itu otomatis tersimpan ke aplikasi yang terhubung dengan ponsel pemilik kamera.

Di layar ponsel, hanya terlihat potongan momen saat Felicia memeluk Garra dari belakang dan mengecup pipinya.

Sementara bagian ketika Garra menolak, melepaskan pelukan Felicia, serta menegurnya tidak tertangkap jelas karena posisi tubuh Garra membelakangi kamera.

Felicia menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Jemarinya bergetar saat memilih potongan video tersebut.

Setelah menarik napas panjang, ia menekan tombol kirim. Tujuannya hanya satu, Hezlin.

"Maafkan aku..." gumam Felicia lirih.

Entah permintaan maaf itu ditujukan kepada Garra.. Atau justru kepada Hezlin yang sebentar lagi akan menerima sebuah video yang sangat mudah disalahartikan.

••

••

Hujan turun semakin deras, membasahi halaman rumah hingga menyisakan suara gemuruh yang memenuhi malam. Langit telah benar-benar gelap.

Jarum jam di ruang utama terus bergerak, sementara sosok Hezlin masih duduk diam di sofa, sesekali menoleh ke arah pintu depan yang tak kunjung terbuka.

Tatapannya dipenuhi kecemasan. Sejak sore, Garra belum juga pulang.

Langkah pelan terdengar dari arah dapur. Bi Rum datang membawa secangkir minuman hangat, lalu meletakkannya di atas meja dengan senyum lembut.

"Silakan diminum dulu, Nyonya mumpung masih hangat."

Hezlin mengangguk pelan. "Terima kasih, Bi."

Bi Rum ikut melirik ke arah pintu utama. "Tuan belum pulang, Nyonya?"

Hezlin menggeleng lirih. "Belum, Bi."

Pandangannya kembali jatuh ke jendela yang dipenuhi titik-titik air hujan.

Entah mengapa, dadanya terasa semakin sesak. Logikanya terus berkata bahwa ia dan Garra memang seharusnya mengakhiri semua ini. Pernikahan mereka sejak awal hanyalah sebuah keadaan yang tidak pernah direncanakan.

Namun, hatinya menolak untuk tidak perduli. Semarah apa pun ia pada Garra, secemburu apa pun yang memenuhi dadanya, tetap saja ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.

Ia masih mencemaskan suaminya.

Sangat mencemaskannya.

"Kalau begitu saya siapkan makan malam dulu, Nyonya," ucap Bi Rum pelan.

Hezlin memaksakan senyum tipis. "Iya, Bi. Terima kasih."

Bi Rum pun berlalu menuju dapur, meninggalkan Hezlin kembali tenggelam dalam pikirannya.

Ia meraih cangkir di atas meja. Baru saja hendak menyesap minuman hangat itu, suara notifikasi dari ponselnya memecah keheningan.

Ting...

Hezlin menoleh.

Layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

Keningnya berkerut. Dengan ragu, ia membuka pesan tersebut.

["Maaf membuatmu menunggu.. Karena suamimu harus menemaniku disini."]

Jantung Hezlin mendadak berdegup lebih cepat. Jemarinya yang memegang ponsel mulai terasa dingin.

Perlahan ia menekan video yang dikirimkan itu. Beberapa detik pertama, layar hanya menampilkan sebuah kamar dengan pencahayaan redup.

Lalu tubuh Garra terlihat berdiri membelakangi kamera. Sesaat kemudian, Felicia memeluknya dari belakang.

Hezlin membeku. Napasnya tertahan. Belum sempat pikirannya mencerna apa yang terjadi, adegan berikutnya membuat cangkir di tangannya terlepas.

Terlihat jelas Felicia berjinjit dan mengecup pipi Garra.

Video itu berhenti. Tak ada kelanjutan, tak ada penjelasan. Hanya potongan singkat yang terus berulang di kepala Hezlin.

Deg!

Suara mobil yang memasuki halaman rumah membuat Hezlin tersentak. Ia buru-buru menghapus air mata yang nyaris jatuh, lalu menoleh ke arah pintu utama.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Garra masuk dengan tubuh basah kuyup. Kemeja putih yang dikenakannya menempel di tubuh, rambutnya basah oleh air hujan yang masih menetes ke lantai. Ia langsung menutup pintu, lalu mengembuskan napas panjang.

Hezlin hanya diam. Tatapannya terpaku pada wajah tampan suaminya. Namun semakin lama ia memandang, semakin jelas pula bayangan video itu memenuhi pikirannya.

"Garra..." lirihnya hampir tak terdengar.

Pria itu mengangkat kepala.

Begitu melihat Hezlin berdiri di hadapannya, langkahnya langsung menghampiri tanpa mengatakan apa pun.

Dalam sekali gerakan, Garra menyusupkan kedua tangannya ke balik cardigan yang dikenakan Hezlin, telapak tangannya langsung menyentuh kulit hangat di pinggang wanita itu.

Hezlin sontak terkejut. Tubuhnya refleks menegang, Garra justru merapatkan tubuhnya sambil menundukkan kepala di dekat telinga Hezlin.

"Aku kedinginan..." bisiknya lirih.

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!