NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Setelah Badai Reda

   Asap hitam dari sisa-sisa pertempuran udara di luar berangsur-angsur lenyap, tersapu oleh hembusan angin malam Samudra Langit yang bersih.

   The Sky Leviathan kembali berlayar dalam rute navigasi yang stabil, meski beberapa bagian pembatas perak di dek luar terlihat penyok akibat hantaman rantai sihir hitam Sekte The Obsidian Dawn. Namun, di dalam kabin utama, atmosfer ketegangan telah sepenuhnya digantikan oleh keheningan yang melegakan.

   Setelah memastikan ketiga anak tirinya berada di bawah penjagaan ketat para prajurit elite kapal dan dirawat oleh Bernet, Clara memilih untuk kembali ke kamarnya sendiri. Tubuhnya terasa sangat lelah. Menggunakan sarung tangan Sutra Laba-laba Salju untuk memicu energi penolak bala tanpa memiliki inti sihir murni ternyata menguras energi fisiknya dengan sangat drastis.

   Clara duduk di tepi ranjangnya yang empuk, perlahan-lahan melepaskan sarung tangan perak tipis dari tangan kanannya. Begitu sarung tangan itu terlepas, ia bisa melihat bahwa kulit telapak tangannya yang melepuh kemarin kini telah mulai memudar menjadi warna merah muda, tanda bahwa proses regenerasi sel berjalan dengan sangat baik berkat khasiat sutra mistis tersebut. Namun, rasa linu dan kaku di persendian lengannya masih terasa sangat nyata.

   Tok... Tok... Tok...

   Suara ketukan pintu yang pelan namun tegas memecah kesunyian kamar Clara.

   "Masuk," ujar Clara dengan suara yang sedikit serak karena kelelahan.

   Pintu kayu kamar bergeser terbuka, dan sosok tinggi Kapten Alden melangkah masuk. Pria itu telah menanggalkan kemeja militernya yang kotor oleh debu mesiu, menggantinya dengan jubah tidur panjang berwarna hitam longgar yang senada dengan warna rambutnya yang berantakan.

   Di tangan kirinya, Alden membawa sebuah mangkuk porselen kecil yang mengeluarkan aroma harum minyak esensial bunga es abadi, serta selembar kain handuk kecil yang bersih.

   Clara sedikit terkejut melihat suaminya datang sendiri ke kamarnya di larut malam seperti ini. Ia segera bersiap untuk berdiri dari tempat tidur untuk memberikan penghormatan. "Kapten... ada apa? Apakah ada masalah lagi dengan anak-anak di dek bawah?"

   "Tetaplah duduk, Clara. Jangan banyak bergerak," perintah Alden dengan nada suaranya yang berat namun kali ini terdengar sangat lembut, kehilangan aura militernya yang biasa mengintimidasi.

   Alden melangkah mendekati ranjang, lalu menarik sebuah kursi kayu kecil untuk duduk tepat di hadapan Clara. Jarak di antara mereka berdua kini menjadi sangat dekat, hingga Clara bisa mencium aroma samar kayu pinus dan besi maskulin yang menguar dari tubuh Alden.

   Sepasang mata abu-abu badai milik sang Kapten menatap lekat-lekat ke arah telapak tangan kanan Clara yang kaku.

   "Ulurkan tanganmu," titah Alden pelan.

   Clara ragu-ragu sejenak, namun akhirnya ia menurut. Ia mengulurkan tangan kanannya yang gemetar tipis ke arah Alden.

   Pria itu menyambutnya dengan sangat hati-hati. Telapak tangan Alden yang besar, kasar, dan dipenuhi kapalan akibat bertahun-tahun memegang kendali kapal perang dan pedang besi, kini memegang jemari Clara seolah-olah wanita itu adalah barang paling berharga dan rapuh yang ada di seluruh jagat raya.

   Alden mencelupkan ujung jemarinya ke dalam mangkuk porselen, mengambil sedikit minyak esensial bunga es abadi yang berwarna biru bening, lalu mulai mengoleskannya secara merata di atas kulit telapak tangan Clara yang terluka.

   Sensasi dingin murni yang sangat menyegarkan langsung merambat dari ujung jari Alden, menembus pori-pori kulit Clara dan melumpuhkan rasa linu di persendiannya dalam sekejap. Clara menahan napasnya sekejap, bukan karena rasa sakit, melainkan karena debaran jantungnya yang mendadak berpacu liar saat merasakan pijatan lembut dari jemari suaminya.

   "Menggunakan sarung tangan perak itu tanpa memiliki inti sihir murni adalah tindakan yang sangat berbahaya, Clara," kata Alden tanpa mendongak, matanya tetap terfokus pada gerakan tangannya yang sedang memijat pergelangan tangan Clara dengan ritme yang teratur.

"Sutra Laba-laba Salju itu menyerap energi kehidupan fisikmu sebagai pengganti mantra sihir. Jika kau menggunakannya terlalu lama atau melepaskan gelombang energi sebesar tadi sore, kau bisa pingsan atau bahkan mengalami kerusakan permanen pada aliran darahmu."

   Clara tersenyum lemah, memandangi puncak kepala Alden yang berada dekat di depannya. "Saya tahu risikonya, Alden. Namun, di dalam ruangan tertutup tadi, ketika roh-roh hitam itu mulai membisikkan ketakutan ke dalam kepala Toby dan memicu kutukan Rin... saya tidak memikirkan keselamatan diri saya sendiri lagi. Yang ada di kepala saya hanyalah bagaimana cara memastikan anak-anak tidak terluka sedikit pun."

   Gerakan tangan Alden seketika terhenti. Pria itu mendongak perlahan, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih milik Clara dengan tatapan yang sarat akan gejolak emosi yang mendalam.

   Retakan di atas dinding es hati sang Kapten kini telah melebar menjadi sebuah kehancuran total. Rasa hutang budi dan kekaguman yang ia rasakan sejak kemarin kini telah resmi melebur menjadi sebuah perasaan baru yang jauh lebih kuat dan mengikat jiwanya sepenuhnya.

   "Kau benar-benar tidak egois, Clara," bisik Alden dengan nada suara yang bergetar samar menahan rasa haru. "Selama lima tahun ini, aku selalu berpikir bahwa dunia ini dipenuhi oleh orang-orang egois yang hanya mengincar posisiku atau menganggap anak-anakku sebagai monster pengganggu. Pernikahan kontrak kita ini... awalnya aku mengira kau hanya menerimanya demi menyelamatkan keluargamu dari jeratan hutang militer di Valenica."

   Alden mempererat genggaman tangannya pada jemari Clara, menundukkan kepalanya sedikit hingga dahinya hampir menyentuh tangan Clara yang telah selesai ia obati. "Namun hari ini, melihat bagaimana Leo menangis di pelukanmu dan meminta maaf karena telah bersikap tidak sopan kepadamu... aku menyadari satu hal. Kau dikirim ke kapal ini bukan sebagai beban politik, melainkan sebagai berkah terbesar yang pernah datang ke dalam hidupku yang hampa."

   Mendengar pengakuan jujur dan emosional dari pria sedingin es itu, air mata Clara hampir saja menetes. Ia merasakan ketulusan yang sangat dalam mengalir dari genggaman tangan Alden. Sisi rapuh dan kesepian dari sang Penakluk Badai Barat yang ia lihat tadi malam di dek pengamatan, kini terasa semakin nyata dan dekat di hadapannya.

   "Saya menerima pernikahan ini karena kewajiban pada awalnya, Alden," jawab Clara jujur, suara lembutnya terdengar seperti alunan melodi yang menenangkan di dalam kamar yang sunyi.

"Namun, setelah saya melangkah di atas dek The Sky Leviathan, setelah saya melihat bagaimana Anda bertarung sendirian demi melindungi anak-anak... hati saya tergerak. Saya menyayangi Leo, Rin, dan Toby seolah mereka adalah darah daging saya sendiri. Dan saya... saya juga ingin menjadi tempat bagi Anda untuk membagikan beban Anda."

   Alden mendongak kembali, menatap wajah Clara yang merona merah di bawah temaram cahaya lentera sihir kamar. Perlahan, tangan kiri Alden yang bebas terulur ke atas, menyentuh pipi Clara dengan gerakan yang sangat lembut, menghapus sebutir air mata kecil yang sempat lolos di sudut mata wanita itu.

   Jarak di antara wajah mereka semakin terkikis. Di bawah siraman cahaya malam yang menembus jendela kamar, Alden bisa melihat dengan jelas bibir pucat Clara yang sedikit terbuka. Ada tarikan magnetis yang kuat yang tidak bisa ia tahan lagi.

   Dengan kepasrahan penuh pada perasaan baru yang telah bersemi di hatinya, Alden menundukkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Clara dalam sebuah ciuman yang sangat lembut, dalam, dan sarat akan rasa terima kasih serta janji perlindungan seumur hidup.

   Clara membelalakkan matanya sesaat karena terkejut, namun sedetik kemudian kelopak matanya terpejam lambat. Ia membalas ciuman Alden dengan kelembutan yang sama, melilitkan tangan kirinya yang sehat di sekeliling leher tegap suaminya, membiarkan seluruh debaran jantung dan rasa hangat di dadanya menyatu di dalam keheningan malam pascabadai.

   Ciuman itu tidak dipenuhi oleh nafsu liar yang membakar, melainkan sebuah ikatan batin yang sakral di antara sepasang suami istri yang akhirnya menemukan belahan jiwa mereka di atas samudra awan yang luas.

   Benih cinta yang awalnya diprediksi baru akan disadari di paruh kedua cerita, malam ini telah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang jauh lebih cepat akibat desakan situasi pertempuran yang menguji ketulusan hati mereka.

   Ketika Alden perlahan melepaskan tautan bibir mereka, pria itu menyandarkan keningnya pada kening Clara, napasnya terdengar memburu halus dengan sepasang mata abu-abu badai yang kini memancarkan binar kehangatan yang luar biasa murni.

   "Istirahatlah, Clara. Mulai besok, kita akan menghadapi jalan yang lebih panjang," bisik Alden rendah, jemarinya masih mengelus rambut pirang lembut Clara dengan penuh kasih sayang. "Aku akan meminta Bernet untuk menjaga kamarmu agar tidak ada kru yang mengganggumu. Masa lalu yang mengincar anak-anak kita... aku bersumpah akan menghancurkannya bersama denganmu."

   "Ya, Alden. Kita akan menghadapinya bersama," jawab Clara dengan senyum tulus paling indah yang membuat hati Alden terasa utuh kembali setelah lima tahun lamanya mati rasa.

   Malam itu, di dalam pelukan hangat Kapten Alden yang protektif sebelum pria itu pamit keluar dari kamarnya, Clara akhirnya bisa tertidur dengan sangat lelap tanpa bayang-bayang ketakutan lagi.

   Mereka berdua kini tahu, pertempuran melawan Sekte The Obsidian Dawn mungkin baru saja dimulai, namun dengan hati yang telah menyatu, tidak ada satu pun badai langit atau sihir hitam yang akan mampu memisahkan keluarga sejati yang baru saja lahir di atas The Sky Leviathan.

Lanjut gak nih? Tapi, sepi. Siapapun yang baca, jangan lupa like dan komen serta kalau punya gift, jangan segan berikan gift di karya ini. Follow juga akun Author, biar kalian bisa tahu kapan saya up bab. Makasih...

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!