Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GILIRAN UDIN?
Garis polisi berwarna kuning melintang di depan pintu Gudang C. Ceceran darah yang mengering di lantai semen tampak seperti lukisan abstrak yang mengerikan. Bau anyir bercampur dengan aroma oli mesin dan karat membuat beberapa buruh perempuan muntah di sudut luar gudang.
Udin berdiri di barisan paling belakang, di antara kerumunan karyawan yang berbisik-bisik. Ia menatap penasaran pada tubuh yang ditutupi kain biru di dekat mesin penggiling. Hanya sepatu bot warna hitam milik korban yang terlihat menyembul dari balik kain.
“Kasihan Pak Bejo,” bisik seorang buruh tua di samping Udin. “Orangnya rajin. Tidak pernah macam-macam. Kenapa harus dia yang jadi tumbal berikutnya?”
Tumbal. Kata itu membuat tengkuk Udin meremang. Ia teringat sosok berhelm proyek yang dilihatnya tadi malam. Ia ingat dengan jelas, tapi jika dia bicara, akankah orang-orang akan percaya?
Seorang polisi berseragam mendekat ke arah Pak Darman yang wajahnya pucat seperti mayat. “Kami sudah olah tempat kejadian perkara, Pak. Dugaan sementara, korban terpeleset saat memeriksa mesin dan tanpa sengaja menekan tombol aktif. Murni kecelakaan kerja, karena melanggar jam operasional. Tidak ada karyawan yang diizinkan lembur malam, benar?”
Pak Darman mengangguk kaku. “Benar, Pak. Sudah menjadi peraturan pabrik. Pukul lima sore semua harus keluar. Gudang C juga sudah saya gembok dari luar.”
Udin mengerutkan dahi. Gembok? Tadi malam pintu itu jelas sedikit terbuka. Dan ia melihat seseorang di dalam. Apakah Pak Darman berbohong? Atau ada orang lain yang memiliki kunci ganda?
"Baiklah, penyelidikan kana berlanjut ke meja otopsi, kami akan bekerja sebaik mungkin," ucap sang polisi.
Setelah polisi pergi membawa jenazah Pak Bejo, suasana pabrik menjadi sunyi dan mencekam. Produksi dihentikan sementara dan para buruh disuruh pulang lebih awal.
Udin memilih tidak langsung kembali ke mess. Ia berjalan mengelilingi gudang C, "Apa mungkin ada pintu lain yang memungkinkan seseorang masuk?" pikirnya. Tapi setelah ia berkeliling, ia tak menemukan apapun. Pintu masuk ke gudang C hanya satu dari arah depan.
Udin memutuskan menuju ruang administrasi dengan dalih ingin melihat jadwal piket keamanan.
Di ruang administrasi yang kosong, Udin menemukan buku absensi dan buku log lembur di atas meja. Dengan tangan gemetar, ia membuka buku log lembur bulan ini. Ia mencari tanggal hari ini. Nama Pak Bejo tidak tercantum di sana. Artinya, secara resmi Pak Bejo tidak lembur tadi malam. "Lalu mengapa ia berada di dalam Gudang C pukul dua dini hari?" gumamnya.
Sebuah kecurigaan muncul di benak Udin. Ia teringat koper ayahnya. Tadi malam ia baru sempat membukanya sedikit sebelum suara mesin itu terdengar. Di dalamnya ada buku tua.
Udin bergegas kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu, menutup gorden rapat-rapat, lalu membuka koper cokelat milik ayahnya. Di bagian paling atas terdapat seragam kepala pabrik yang sudah usang dan berbau apek. Di bawahnya, terdapat sebuah buku tebal bersampul kulit.
Buku Log Lembur PT. Maju Mundur Cabang Tulungagung, Tahun 2007.
"Tahun 2007" bisiknya. "Tahun dimana ayah meninggal dunia."
Jantung Udin berdegup kencang. Dengan hati-hati, ia membuka halaman demi halaman yang kertasnya sudah menguning dan rapuh. Tulisannya adalah tulisan tangan ayahnya, rapi dan tegas. Ia membalik hingga ke halaman terakhir yang terisi. Tanggalnya, 17 Agustus 2007.
Udin mengernyit. "Hari kemerdekaan, bukankah hari itu seharusnya libur?" tanyanya pada diri sendiri, kemudian melanjutkan membaca daftar.
Daftar nama karyawan yang lembur pada malam itu,
Budi Hartono – Kepala Pabrik
Anto Wijaya – Asisten Kepala Pabrik
Jono Subroto – Operator Senior
Bejo Santoso – Operator Senior
Darman – Keamanan
Udin menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Jono, Bejo, Darman, Anto. Empat nama tercatat lembur bersama ayahnya pada malam ayahnya meninggal. Dan sekarang, dua nama dari daftar itu, Jono dan Bejo, sudah tewas di Gudang C dengan cara yang sama, yaitu kecelakaan kerja pada malam hari.
"Ini bukan kebetulan. Mungkinkah Ini pola?" pikirnya menimbang sekaligus terkejut seolah menemukan kejanggalan.
“Anto Wijaya,” gumam Udin. "Nama kecil Pak Presdir. Jadi, tujuh belas tahun yang lalu, Pak Anto sudah berada di pabrik ini bersama ayah."
Saat Udin masih fokus menghubungkan beberapa informasi di kepalanya, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk keras. Udin terlonjak dan buru-buru menyembunyikan buku log itu di bawah bantal. Ia membuka pintu dan mendapati Sari berdiri di sana dengan wajah cemas.
“Kamu sudah dengar tentang Pak Bejo?” tanya Sari langsung, matanya terlihat sembap.
Udin mengangguk. “Iya. Turut berduka cita. Pak Bejo itu... teman kakakmu, kan?”
Sari menggigit bibir. “Bukan hanya teman. Pak Bejo, Kak Jono, Pak Darman, sama ayahmu... kudengar, mereka dulu satu tim. Tim inti ayahmu waktu masih jadi kepala pabrik di sini.”
Sari melangkah masuk tanpa dipersilakan dan menutup pintu. “Udin, kamu harus hati-hati. Setelah Kak Jono meninggal tahun lalu, sekarang Pak Bejo. Katanya, hantu kepala pabrik itu cuma ngincer orang-orang yang dulu kerja bareng ayahmu tahun 2007.”
“Kenapa kamu bisa bilang begitu?” tanya Udin pelan.
“Karena sebelum Kak Jono meninggal, dia sempat cerita ke saya,” jawab Sari. Suaranya bergetar. “Katanya, tahun 2007 itu bukan kecelakaan kerja biasa. Ada kebakaran di Gudang C. Tapi anehnya, yang ditemukan tewas kebakar bukan ayahmu, melainkan orang lain. Tapi perusahaan menutup kasusnya dan bilang ayahmu meninggal karena ceroboh. Setelah itu, pabrik ini ditutup sementara, lalu dibuka lagi dengan karyawan baru. Hanya Pak Darman, Pak Bejo, dan beberapa orang lama yang dipertahankan.”
Informasi itu seperti petir di siang bolong. Kebakaran? Mayat yang bukan ayahnya? Ditutup-tutupi? Semua itu bertentangan dengan cerita yang Udin dengar selama tujuh belas tahun.
“Jadi... ayahku...”
“Entah, Din,” potong Sari. “Tapi yang jelas, semua orang yang tahu kejadian malam itu, satu per satu mati. Sekarang tinggal Pak Darman dan Pak Anto di pusat.” Ia menatap Udin lekat-lekat. “Dan kamu. Anaknya Budi Hartono.”
.....
Malam itu, Udin tidak bisa tidur. Ia duduk di meja kayu, menatap buku log lembur di bawah lampu temaram. Pukul sebelas malam, ia memutuskan untuk ke kamar kecil di ujung lorong mess. Lorong itu gelap dan sepi, hanya lampu bohlam 5 watt yang menyala redup.
Saat Udin sedang mencuci muka, lampu di kamar kecil tiba-tiba berkedip, lalu padam.
Gelap total.
Udin meraba dinding untuk mencari saklar.
Trek... trek... trek...
Suara tetesan air. Namun, bukan dari keran. Baunya anyir, seperti darah.
Beberapa saat kemudian, lampu menyala lagi. Reflek Udin mendongak ke arah cermin di atas wastafel. Di sana, tertulis jelas dengan cairan kental berwarna merah, GILIRANMU, ANAK KORUPTOR.
Darah! Itu ditulis menggunakan darah segar.
Udin mundur terhuyung. Jantungnya seakan mau copot. Ia berbalik dan berusaha keluar dari kamar kecil.
Namun, seluruh lampu di lorong mess dan area pabrik tiba-tiba padam serentak. Situasi jadi gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela.
Di ujung lorong, berdiri sesosok tubuh yang tak asing. "P-pria dari dalam gudang C?!" lirih Udin menahan takut setengah mati.
"Dia berjalan kearahku?" Udin panik.