Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di Tengah Malam
Di salah satu kamar hotel mewah di Surabaya, Kenan Aditya Hartmann berdiri tegak di dekat jendela kaca, menatap ribuan lampu kota yang berkelip redup di kejauhan. Di tangannya, ponsel sudah tersambung ke nomor asisten kepercayaannya yang masih berada di Jakarta.
*Tuuut… tuuut…*
Panggilan segera terjawab.
“Selamat malam, Pak.”
Suara Rizky Pratama terdengar tenang dan sigap dari seberang sambungan telepon.
“Rizky, kamu masih di kantor?” tanya Kenan langsung.
“Masih, Pak. Saya baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen penting.”
Kenan menghela napas pelan, lalu berbicara dengan nada tegas namun tetap terukur.
“Baik. Dengarkan baik-baik, aku ingin kamu menjalankan beberapa langkah penting untuk Hartmann Aditya Group di Jakarta, terhitung mulai malam ini juga.”
Rizky langsung memfokuskan perhatiannya, siap mencatat perintah.
“Siap, Pak. Silakan sampaikan.”
“Pertama, pastikan setiap divisi mengirimkan laporan harian ke meja kamu paling lambat pukul delapan pagi. Aku butuh ringkasan lengkap mengenai kondisi keuangan, jalannya operasional, serta perkembangan setiap proyek yang sedang berjalan.”
“Baik, Pak. Sudah saya catat.”
“Kedua, panggil kepala divisi hukum dan keuangan besok pagi. Aku ingin ada evaluasi ulang terhadap semua kontrak yang belum disahkan, terutama yang berkaitan dengan kerja sama baru yang akan kita mulai di wilayah Jakarta.”
“Siap. Saya akan atur jadwal pertemuannya segera.”
“Ketiga, periksa kembali sistem keamanan data perusahaan. Aku tidak ingin terjadi kebocoran informasi apa pun, apalagi yang menyangkut rencana ekspansi besar yang sedang kita susun saat ini.”
“Mengerti, Pak. Saya akan langsung berkoordinasi dengan tim teknologi informasi dan bagian keamanan.”
Kenan terdiam sejenak, seolah memastikan tidak ada hal yang terlewat, sebelum melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih rendah namun tetap tegas.
“Keempat, untuk sementara waktu aku ingin semua keputusan strategis tetap disaring melalui kamu terlebih dahulu sebelum dibawa ke rapat direksi. Jika ada hal yang sangat mendesak dan membutuhkan persetujuan langsung, hubungi aku kapan saja.”
“Baik, Pak. Saya pastikan setiap keputusan diambil dengan pertimbangan matang dan tersaring dengan rapi.”
Kenan kembali menatap ke luar jendela, lalu menambahkan satu hal lagi.
“Ada satu hal penting lain, Rizky.”
“Apa itu, Pak?”
“Mulai minggu depan, aku akan menjalankan tugas dari kantor cabang Surabaya untuk sementara waktu.”
Di seberang sambungan, Rizky terdiam sesaat sebelum menjawab dengan nada hati-hati.
“Berarti Bapak akan menetap dan bekerja penuh di Surabaya selama satu minggu ke depan?”
“Benar. Aku ingin memusatkan perhatian di sini dulu. Jadi, siapkan segala kebutuhan untuk koordinasi jarak jauh, jadwal pertemuan daring, serta akses aman ke semua dokumen yang mungkin aku perlukan sewaktu-waktu.”
“Siap, Pak. Saya akan pastikan semuanya sudah tersedia dan siap digunakan sebelum Bapak mulai bekerja dari cabang Surabaya.”
“Bagus. Juga sampaikan kepada seluruh tim di kantor pusat agar tetap bekerja seperti biasa. Jangan sampai karena aku berpindah lokasi, ritme kerja perusahaan menjadi terganggu atau melambat.”
“Tenang saja, Pak. Saya akan menjaga agar segala sesuatunya tetap berjalan stabil dan terkendali.”
Kenan mengangguk pelan, meski tidak terlihat oleh Rizky.
“Kalau nanti ada masalah atau kendala apa pun, jangan menunggu lama. Segera kabari aku.”
“Siap, Pak. Saya akan memantau setiap perkembangan dengan saksama.”
Kenan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu nadanya melunak sedikit.
“Aku percaya penuh pada kemampuanmu, Rizky.”
Suara Rizky terdengar mantap dan penuh rasa hormat.
“Terima kasih atas kepercayaannya, Pak. Saya tidak akan mengecewakan.”
“Bagus. Besok pagi aku tunggu laporan pertamamu tepat waktu.”
“Siap, Pak. Akan saya kirimkan sesuai jadwal.”
Kenan mengakhiri percakapan itu dengan singkat namun sopan.
“Baiklah. Istirahatlah jika pekerjaan sudah selesai.”
“Baik, Pak. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Sambungan telepon pun terputus.
Kenan menurunkan ponselnya perlahan, lalu meletakkannya di atas meja samping tempat tidur. Di tengah keheningan kamar hotel itu, pikirannya tak hanya tertuju pada urusan besar perusahaan yang harus diurusnya. Keputusan untuk pindah ke Surabaya bukan semata-mata urusan bisnis—di balik langkah itu, ada satu alasan utama yang terus berputar di kepalanya: ingin berada lebih dekat, mengawasi, dan memastikan keselamatan wanita serta anak yang sedang dikandungnya.
Tanpa sadar, tangannya mengepal pelan.
Ia tahu bahaya mungkin saja mengintai, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Kinasih dengan niat buruk selagi ia masih bisa melindungi.
Malam itu, suasana di lingkungan rumah kontrakannya terasa begitu tenang, hanya diiringi suara jangkrik sesekali yang terdengar dari balik semak-semak.
Setelah selesai makan malam, Kinasih yang terasa sangat lelah segera beristirahat dan terlelap pulas di kamarnya. Usia kandungannya yang sudah memasuki enam bulan membuat tubuhnya terasa lebih berat dan cepat lelah dibandingkan biasanya.
Sementara itu, Reyna yang memiliki kebiasaan tidur lebih larut, sudah bangun dan berjalan menuju dapur untuk memeriksa keadaan rumah seperti rutinitas setiap malamnya.
Baru beberapa langkah melangkah, hidungnya langsung mengernyit kuat.
“Ini… bau apa?” gumamnya, lalu mengendus udara di sekitarnya sekali lagi.
“Bau gosong…?”
Belum sempat ia berpikir panjang dan mencari sumbernya, samar-samar terlihat kepulan asap berwarna hitam yang mulai naik dan menyebar dari arah bagian belakang rumah.
Mata Reyna langsung membesar kaget.
“Ya Allah… kebakaran!”
Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia segera berlari menuju kamar Kinasih.
*Tok! Tok! Tok!*
“Dokter Kinasih! Bangun, Dok!”
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Dok! Tolong bangun! Ada bahaya!”
Suasana tetap sunyi, seolah wanita itu tidur terlalu pulas hingga tidak mendengar suara ketukan.
Wajah Reyna mulai memucat dan diliputi rasa panik.
“Astaga… jangan-jangan asapnya sudah mulai masuk dan membuatnya pingsan.”
Benar saja, saat itu asap hitam mulai merayap masuk memenuhi lorong rumah, membuat pandangan semakin kabur.
Tanpa berpikir panjang lagi, Reyna berteriak sekuat tenaga agar didengar tetangga sekitar.
“Tolong! Tolong! Ada kebakaran! Ada orang di dalam!”
Beberapa warga yang masih terjaga segera keluar rumah mendengar teriakan itu.
“Ada apa, Rey? Kenapa berteriak?” tanya salah seorang tetangga.
“Dokter Kinasih masih ada di dalam kamar! Pintunya terkunci dan tidak bisa dibuka!” jawab Reyna tergesa-gesa.
Dua orang warga yang berbadan tegap segera melangkah mendekat.
“Minggir sedikit, kita paksa buka pintunya!”
*Brak!*
Pintu berguncang keras, namun masih tertutup rapat.
“Sekali lagi!”
*Brak!*
Dengan tenaga yang dikumpulkan, akhirnya pintu itu jebol dan terbuka lebar.
Di dalam kamar yang sudah dipenuhi asap tebal, Kinasih masih terlelap hingga suara pintu yang roboh itu membuatnya tersentak kaget dan terbangun.
“Hah… apa ini?”
Begitu membuka mata dan menghirup udara, ia langsung terbatuk-batuk hebat.
“Uhuk… uhuk… asap…”
“Ya Allah…”
Reyna segera melangkah masuk mendekatinya sambil menutupi hidung dan mulutnya sendiri.
“Dok, ayo! Kita keluar sekarang juga, tidak aman di sini!”
“Rey… kenapa bisa begini?” tanya Kinasih dengan suara serak, masih dalam keadaan linglung.
“Nanti dijelaskan di luar! Sekarang pegang tangan saya erat-erat!”
Kinasih berusaha bangun dengan hati-hati, wajahnya terasa pusing.
“Pelan-pelan… perut saya terasa agak tidak nyaman…”
“Iya, kita jalan pelan saja. Saya pegangi.”