Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan Belas
Aruna terbangun dari tidurnya, pelan-pelan membuka kedua matanya dan melirik jam di atas meja yang menunjukkan pukul 7 malam. Ia tertidur cukup lama ternyata. Melihat sekeliling sebelum bangun terduduk dan sedikit meringis ketika gerakan kecil itu membuat kakinya sakit. Padahal sudah di pasang perban tapi tetap saja terasa nyeri jika bergerak.
"Ada orang di luar?" tanya Aruna dengan kuapan kecil.
Cklek.
"Anda butuh sesuatu, Nona?" Mia balik bertanya ketika ia membuka pintu dan mendapati anak itu tengah terduduk.
"Ya, siapkan air mandi juga makan malamku. Bawa ke sini," ucapnya.
Mia mengangguk paham, "Baik, Nona."
Sambil menunggu, Aruma mengecek ponselnya di atas meja. Ternyata ada beberapa pesan masuk juga 5 kali panggilan tak terjawab. Pertama ia mengecek pesan masuk lebih dahulu yang ternyata dari dua nomor baru.
Siapa?
Seingatnya yang tahu nomor ponselnya hanya Ganesha saja. Bahkan tak ada satu pun dari keluarga Adijaya yang tahu nomornya. Jadi, ia membuka salah satu pesan masuk dan ternyata itu dari Abas. Anak itu pasti memintanya pada Ganesha.
Isinya hanya menanyakan keadaannya saat ini, pasti ia sudah mendengar kabar yang terjadi padanya. Aruna tidak berniat untuk membalasnya. Maka ia keluar dan mengklik nomor lainnya lagi. Kali ini Aruna sampai terdiam kaget dan memelototi ponselnya sendiri.
Isi pesannya:
Dari : 0822xxxxxxxx
Aruna, kau baik?
Mahesa.
Darimana Mahesa tahu nomornya? Kalau Abas sih bisa ia tebak, tapi bagaimana dengan Mahesa? Lebih penting lagi, kenapa Mahesa sampai bisa mengiriminya pesan begini? Mereka bahkan tidak sedekat itu untuk saling bertukar pesan.
Tidakkah itu aneh?
Tapi kalau di pikir kembali, semenjak ia memutar waktu Mahesa memang sudah bertingkah aneh padanya. Bukan hanya Mahesa tapi juga Abaskara. Apa ini efek dari memutar waktu atau mereka punya alasan lain mendekatinya?
Sekali lagi Aruna mengabaikan dan menghapus pesan itu tanpa berfikir lagi. Ia tak ada waktu untuk meladeni kedua bocah itu. Cepat atau lambat keduanya akan menunjukkan maksud masing-masing. Kemudian ia membuka pesan dari Ganesha yang berisi kata-kata cemas dan khawatir dengan kondisinya.
Ternyata beberapa panggilan tak terjawab semua dari Ganesha. Maka Aruna mendial kembali nomor Ganesha dan menunggu hingga nada panggilan masuk terdengar. Senyuman Aruna mengembang ketika suara Ganesha terdengar antusias.
Setelah panggilan itu selesai, Aruna langsung mandi sementara Mia akan membawakan makan malamnya ke kamar. Ia tak ingin bertatap muka dengan anggota keluarga lainnya.
***
Esok harinya seperti biasa setelah ia bersiap dengan seragam barunya, Aruna akan keluar dari kamar sebelum ia lagi-lagi di kagetkan dengan kehadiran Abimanyu yang berdiri di sana.
Cklek!
"Ya Tuhan! Kak Abi!" Aruna memekik sebal karena kaget. Anehnya, Abi tidak tersenyum seperti biasa dan melontarkan kalimat candaan andalannya.
Pria itu terlihat lebih diam dengan raut wajah berbeda. Tanpa mengatakan apa pun, Abi berjongkok di hadapan Aruna dan sedikit mengangkat rok anak itu hingga perban yang baru di ganti terlihat.
"Kak Abi!" protes Aruna yang kaget dengan aksi tiba-tiba itu.
"Kakak sudah dengar dari Sammy. Siapa yang melakukannya?" tanya Abi sembari mendongak dan menatapnya.
"Bukan apa-apa," jawab Aruna acuh.
Abi menghela nafas dan berdiri lagi, "Aruna, katakan sejujurnya. Siapa yang selalu menyakitimu hingga tubuhmu dipenuhi luka begini?"
Baru saja Aruna akan mengatakan sesuatu, Sammy sudah datang mengiterupsi mereka.
"Selamat pagi Nona dan selamat pagi Tuan muda, Tuan besar menunggu anda berdua di ruang makan sekarang," ucapnya.
Aruma akan menolak sebelum Sammy kembali berucap, "Tuan besar memaksa kehadiran anda, Nona."
Decakkan pelan terdengar dari gadis kecil itu. Ia tak pernah punya kuasa untuk membantah Elvio. Biar bagaimana pun, ia menumpang di rumah mereka dan memakan makanan enak dari mereka. Seingin apa pun Aruna untuk pergi, ia tetap tak bisa terus-menerus mengabaikan Elvio.
"Baiklah," jawab Aruna malas. Lalu berjalan lebih dulu sebelum Abimanyu menggendongnga lagi seperti kemarin.
Mereka tiba di depan pintu ruang makan, Sammy membuka pintu tersebut setelah mengetuk sebanyak tiga kali. Ketika pintu terbuka, Aruna akan melangkah sebelum kakinya berhenti mendadak karena kaget mendapati Elvio, Alvaro bahkan Antares sudah berada di tempat mereka masing-masing tanpa ada yang menyentuh sarapan mereka lebih dulu.
Serius, ada apa dengan mereka?
Aruna tidak mengerti kenapa mereka berubah seperti ini?
Mereka yang selalu menghindarinya, menolak bertemu dengannya bahkan mengabaikannya kini malah bersikap sebaliknya. Apa ini juga merupakan efek dari memutar waktu?
Atau mereka punya maksud lain tentang hal ini?
"Aruna, ayo duduk," kata Abimanyu yang berjalan melewatinya dan menarik kursi untuk Aruna.
Anak itu tak mengatakan apa pun dan menurut.
"Terima kasih," ucapnya pada Abi.
Abi tersenyum lalu duduk di sebelah Aruna yang kosong. Mereka mulai memakan sarapannya setelahnya. Namun, Aruna tidak menyentuh makanannya sama sekali karena ia tak memiliki nafsu makan saat ini.
"Aruna, kenapa tidak—"
"Apa yang ingin Tuan bicarakan?" potong Aruna cepat ketika Elvio akan berbicara. Sekali lagi gerakan Elvio terhenti mendengar pertanyaan dengan nada dingin itu.
"Apa maksudmu?" tanya Elvio.
"Anda memaksaku datang, bukankah anda ingin membicarakan sesuatu padaku, Tuan?"
"Aruna, Ayah hanya ingin kita sarapan bersama. Apa itu salah?"
Aruna mengerjap beberapa kali sebelum anak itu hampir melontarkan tawa mengejeknya. Ia menatap Elvio dengan tatapan tak percaya.
"Haruskah anda masih bertanya?"
"Aruna!" kali ini suara Alvaro yang terdengar. Putera sulung keluarga Adijaya itu menatap Aruna tajam. Sayangnya, Aruna tidak merasa takut atau tertekan. Anak itu malah terkesan tidak perduli.
"Aku tidak mengerti kenapa kalian lakukan ini padaku. Jika kalian membenciku, bukankah lebih baik langsung mengatakannya saja? Berpura-pura bersikap baik dan perduli begini bukan sesuatu yang pantas di lakukan oleh keluarga terhormat seperti kalian."
"Aruma, Ayah tidak bermaksud begitu. Kenapa kau bicara seperti itu?" Antares bersuara pelan. Menatap Aruna seolah mengatakan apa pun yang ia katakan tidak benar.
Aruna menghela nafas berat, "Suatu hari kalian mengabaikanku, tidak menganggapku, mengasingkanku, bahkan membenciku," ucapnya sambil menatap Antares dan Alvaro terang-terangan ketika kata terakhir terucap lalu kembali menatap Elvio, "Lalu hari berikutnya kalian bersikap baik dan mulai memperdulikanku seolah aku memang benar-benar bagian dari keluarga ini," lanjutnya sembari melirik Abi yang hanya bisa diam.
"Aku tidak mengerti, kenapa lakukan itu? Kenapa memperlakukanku begitu?! Memangnya aku yang meminta untuk di adopsi?! Memangnya aku yang meminta semua ini?! Memangnya salahku Aaira meninggal?! Aku tidak pernah meminta apa pun! Aku tidak pernah menginginkan menggantikan posisi Aaira! Aku hanya ingin merasakan memiliki keluarga! Aku hanya ingin di perlakukan selayaknya! Lalu kenapa memperlakukanku begini! Kenapa?!" Aruna berteriak kuat disetiap kalimat yang ia lontarkan seolah melampiaskan perasaan marah yang selama ini ia pendam.
Ia tak tahu kenapa sampai bisa hilang kendali begini. Bahkan hingga air matanya keluar membasahi wajah kecilnya, tapi tak ada suara isakkan yang keluar selayaknya tangisan anak kecil.
Semua orang terdiam.
Tidak ada yang bersuara sama sekali untuk menanggapi Aruna.
Aruna turun dari kursinya dan menatap Elvio dengan tatapan yang tidak dipahami.
"Jika memang membenciku, biarkan aku kembali pulang ke tempat di mana seharusnya aku berada, Ayah. Aku lebih memilih kelaparan di Panti Asuhan kecil itu bersama anak-anak yang lain ketimbang berada di tempat dingin seperti ini. Aku ingin pulang, aku ingin memeluk ibu panti, aku ingin merasa di cintai. Jangan menyiksaku lagi, aku takut, aku tidak ingin merasakan sakit lagi, aku tidak ingin mati, hiks! aku ingin hidup. Hiks! Biarkan aku hidup. Hiks! Aku mohon..hiks!" tangisan Aruna pecah begitu saja setelah ia menyuarakan isi hatinya.
Ia tak ingin terlihat lemah begini di hadapan mereka, tapi ia kelelahan. Ia lelah menghadapi semua ini sendirian tanpa ada yang bisa melindunginya. Dirinya lelah dan sudah hampir mencapai batasnya. Banyak hal yang ia alami dan tubuhnya terlalu kecil untuk menanggung semua rasa sakit itu. Meski sudah mengalaminya dulu, bukan berarti ia akan terbiasa dengan semuanya. Bahkan rasanya Aruna akan gila jika ia terus memendam perasaannya selama ini. Ia tak perduli dengan reaksi mereka, karena sejujurnya Aruna sudah tidak memperdulikan apa pun lagi selain pergi jauh dari rumah ini.
Mungkin karena tubuhnya masih kelelahan ditambah ia menangis untuk melampiaskan emosinya, tiba-tiba saja matanya terasa berkunang-kunang. Hingga akhirnya Aruma terjatuh kelantai begitu saja dan tidak sadarkan diri.
"Aruna!"