Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Aisyah kemudian menoleh menatap bibinya dengan pandangan ingin tahu. “Tante, apakah Tante mengenalnya? Sepertinya dia juga menatap kita dengan cara yang aneh sekali.”
Samantha menggeleng pelan sambil tetap mempertahankan senyum tenang, meski di dalam hatinya penuh pertanyaan. “Tidak, Sayang. Tante tidak mengenalnya sama sekali. Mungkin dia hanya menatap karena merasa asing melihat orang baru saja.”
Sambil terus memantau Bima yang masih berdiri di tempat sambil menatap mereka dengan tatapan angkuh, Samantha segera menyuruh keponakannya masuk agar tidak berlarut-larut dalam situasi yang terasa tidak nyaman itu.
“Sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Ayo cepat masuk ke dalam, nanti kamu terlambat masuk kelas .” ujar Samantha lembut namun tegas.
“Baiklah, Tante. Sampai jumpa nanti pulang sekolah,” jawab Aisyah, lalu melambaikan tangan dan segera berjalan masuk melewati gerbang sekolah.
Samantha berdiri di tempatnya sejenak, memastikan Aisyah sudah benar-benar masuk dan hilang di antara kerumunan siswa lain. Selama itu, ia masih bisa merasakan tatapan Bima yang tidak lepas darinya tatapan yang terasa penuh rasa tidak suka dan penasaran sekaligus.
Setelah merasa cukup, Samantha memutar tubuhnya dan melangkah kembali menuju mobilnya. Sebelum masuk ke dalam, ia melirik sekilas ke arah Bima sekali lagi. Bima masih berdiri di tempat yang sama, dan saat mata mereka bertemu, ia justru tersenyum lagi dengan senyum sinisnya sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah masuk ke sekolah dengan langkah sombong.
Begitu duduk di kursi kemudi dan menutup pintu, Samantha menghela napas panjang untuk mengusir perasaan tidak nyaman yang menyelimuti hatinya. Ia segera menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan meninggalkan area sekolah, namun pikirannya sudah tidak bisa tenang lagi.
Bima Nugroho… namanya terus terngiang di kepalanya. Benar juga dugaanku kemarin, dia memang anaknya Samuel. Tapi mengapa sikapnya bisa jauh berbeda dari yang aku bayangkan? Apakah Samuel tahu bagaimana perilaku putranya di luar sana?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya sepanjang perjalanan pulang, membuatnya semakin penasaran sekaligus khawatir dengan keadaan keluarga yang baru saja mulai ia temukan sedikit demi sedikit.
Begitu tiba di lantai paling atas gedung perkantoran, Samuel dan Gio segera melangkah masuk dengan langkah tegas. Suasana kantor langsung hening saat mereka lewat, semua karyawan sibuk dengan tugas masing-masing, menghormati sifat tegas kedua atasannya itu.
“Silakan masuk , Pak. Saya akan panggil Susi untuk menyampaikan jadwal hari ini,” kata Gio dengan nada resmi, lalu berjalan menuju meja sekretaris.
Tak lama kemudian, Susi masuk ke ruangan dengan membawa buku catatan dan selembar kertas jadwal kerja. Ia berdiri di depan meja kerja Samuel dengan sikap rapi dan hormat.
“Selamat pagi, Pak Samuel. Izinkan saya membacakan jadwal kegiatan Bapak untuk hari ini,” ujarnya lembut namun jelas.
Samuel hanya mengangguk singkat sambil duduk bersandar, mendengarkan dengan perhatian.
“Pukul 09.00 rapat evaluasi proyek pembangunan gedung baru. Pukul 11.00 pertemuan dengan tim keuangan. Pukul 13.00 istirahat makan siang. Lalu pada pukul 14.00, ada jadwal pertemuan kerja sama dengan perwakilan dari Grup Perusahaan Alexander, yang akan diadakan langsung di kantor pusat mereka,” lanjut Susi membacakan satu per satu.
Mendengar nama itu disebutkan, mata Samuel seketika terbuka lebih lebar. Detak jantungnya terasa berdebar sedikit lebih cepat. Ia langsung teringat: Perusahaan Alexander adalah kelompok usaha terbesar di kota ini, yang dikelola oleh keluarga Alexander keluarga tempat gadis yang selama ini ia simpan di hati berasal.
Samuel mengerutkan dahinya sedikit, menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah tenang yang biasa ia tunjukkan.
“Perusahaan Alexander?” ulangnya pelan, memastikan tidak salah dengar.
“Benar, Pak. Mereka mengirimkan undangan kemarin sore. Banyak perusahaan besar sudah lama mengajukan kerja sama dengan mereka, namun baru kali ini mereka menyetujui pertemuan dengan kita,” jawab Susi menjelaskan.
Samuel mengangguk perlahan, rasa ingin tahunya bercampur dengan rasa penasaran yang semakin membara. Ia tahu ini bukan hanya kesempatan bisnis yang sangat berharga, tapi juga bisa menjadi jalan untuk mengetahui lebih banyak hal yang selama ini tersembunyi.
“Baiklah, catat dengan baik dan pastikan persiapannya matang. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini,” perintahnya tegas.
“Siap, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Susi.
“Tidak ada lagi. Kamu boleh kembali ke tempatmu,” jawab Samuel.
Saat Susi berbalik hendak keluar, Samuel tiba-tiba memanggilnya lagi.
“Sebentar, Susi. Tolong buatkan saya secangkir kopi hitam tanpa gula, ya.”
“Baik, Pak. Segera saya antarkan sebentar lagi,” jawab Susi, lalu menutup pintu ruangan dengan rapi.
Sekarang ruangan itu hanya diisi oleh kesunyian. Samuel berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota. Tangannya memasukkan ke dalam saku celana, dan pikirannya langsung terbang kembali ke peristiwa beberapa jam yang lalu.
Ia mengingat dengan jelas pandangan mata yang bertemu di balik kaca mobil tadi. Wajah yang sempat terlihat, sorot matanya, bahkan ketenangan yang terpancar darinya semuanya terasa sangat akrab, sama persis dengan ingatan yang ia simpan selama bertahun-tahun.
Samuel menatap bayangannya sendiri di kaca jendela, lalu bergumam lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri:
“Apakah benar itu kamu, Samantha? Gadis yang sejak masa sekolah diam-diam aku kagumi dan rindukan? Wajah itu, tatapan itu… rasanya tidak mungkin hanya kebetulan semata. Tapi mengapa kau terlihat berbeda sekarang? Mengapa saat kita bertemu di kafe kemarin, kau berpura-pura tidak mengenalku?”
Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan tangan yang terasa sedikit tegang. Perasaannya campur aduk antara senang karena kemungkinan bertemu lagi, namun juga bingung dan ragu. Ia tidak ingin berharap terlalu tinggi lalu kecewa nantinya.
“Kalau benar nanti ini memang pertemuan yang ditakdirkan, maka pertemuan sore ini mungkin akan menjawab segala keraguan di hatiku,” gumamnya lagi dengan pandangan yang makin tegas.
Di dalam hatinya, ia sudah bertekad apapun yang terjadi dalam pertemuan nanti, ia akan berusaha mencari tahu kebenarannya apakah wanita yang baru saja sering terlintas dalam hidupnya itu benar-benar Samantha Alexander, wanita yang selama ini ia cintai dalam diam.
" Semoga kita bisa bertemu lagi , Samantha . Kalau saat itu aku mengungkap perasaanku , aku tidak akan menyesal seperti selama ini." gumam Samuel. sambil menatap foto kecil di dalam dompetnya .
Ternyata selama ini Samuel mempunyai foto Samantha yang dia sembunyikan di dalam dompet Samuel .
Tak lama kemudian, ketukan pintu terdengar, dan Susi masuk membawa secangkir kopi panas yang segera diletakkannya di atas meja kerja. Samuel berbalik, berusaha membuang segala lamunan itu dan kembali bersiap menjalani kesibukan hari ini, dengan satu tujuan baru yang tersembunyi di dalam hatinya.
Bersambung...