Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sisi Lain Alena
Malam harinya, kediaman megah keluarga Subroto yang terletak di kawasan perumahan elit Menteng tampak begitu sunyi. Gerimis tipis yang mengguyur Jakarta sejak sore tadi menyisakan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah jendela kaca besar. Di area taman belakang yang luas, dekat dengan kolam renang yang airnya memantulkan cahaya lampu temaram, suasana terasa jauh lebih sepi.
Sesuai dengan instruksi lembur dari Pak Subroto setelah insiden di kafe siang tadi, Mahesa tetap berjaga secara profesional di area paviliun belakang. Setelan jas hitam premiumnya masih melekat sempurna di tubuhnya yang tegap, walau kancing paling atas kemeja putihnya sudah ia buka sedikit untuk memberikan ruang bernapas. Sepasang mata elangnya terus bergerak dinamis, memantau kegelapan malam dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
Langkah kaki Mahesa yang seringan kapas mendadak terhenti di dekat rumah kaca kecil yang biasa digunakan untuk merawat tanaman. Telinga supernya menangkap suara isak tangis yang sangat halus, tertahan, dan sarat akan penderitaan batin yang mendalam.
Mahesa melangkah perlahan, menyibak tanaman rambat yang menjuntai di pintu masuk rumah kaca itu. Terlihat di sudut ruangan, duduk di atas bangku taman besi, sosok Alena tampak begitu rapuh. Tidak ada lagi gaun mahal atau blazer mewah yang biasa ia pamerkan dengan angkuh. Malam ini, ia hanya mengenakan sweter rajut kebesaran berwarna putih dan celana rumahan pendek. Rambut indahnya dibiarkan terurai berantakan, dan kedua lututnya ditekuk erat ke dada, menyembunyikan wajah cantiknya yang kini basah oleh air mata.
Di tangan kanannya, Alena mendekap sebuah bingkai foto perak kecil berwajah seorang wanita paruh baya yang memiliki senyuman sangat mirip dengannya. Itu adalah foto almarhumah mamanya.
"Mama... Alena kangen banget sama Mama," bisik Alena dengan nada suara yang bergetar hebat, air matanya menetes mengenai kaca bingkai foto tersebut. "Kenapa Mama harus pergi secepat ini? Alena kesepian banget di sini, Ma..."
Mahesa berdiri terpaku di kegelapan pintu masuk, tidak berniat mengintip, namun batinnya terusik melihat sisi lain dari sang nona besar yang biasanya meledak-ledak manja dan sombong. Di balik semua topeng keangkuhan dan kemewahan yang ia pakai sehari-hari, ternyata Alena hanyalah seorang gadis yang jiwanya mengalami kekosongan semenjak kehilangan sosok ibu.
Alena menyandarkan kepalanya ke dinding rumah kaca, menatap kosong ke arah rintik gerimis di luar. "Semua orang mikir hidup Alena enak karena punya segalanya... tapi mereka nggak tahu kalau Papa selalu nekan Alena buat jadi sempurna. Alena harus masuk jurusan bisnis yang Alena benci, Alena harus dengerin semua aturan Papa, dan sekarang... nyawa Alena bahkan terancam sampai nggak bisa keluar rumah dengan bebas," ratap Alena lagi pada kesunyian malam, suaranya terdengar sangat rapuh dan lelah. "Temen-temen geng Alena... Clarissa, Fanny, Kevin... mereka semua cuma ada kalau Alena lagi seneng, cuma mau numpang pansos dan pamer kemewahan. Nggak ada satu pun dari mereka yang bener-bener peduli kalau Alena lagi ketakutan kayak gini..."
Merasa kehadirannya sebagai pengawal harus tetap profesional namun humanis, Mahesa sengaja menggeser kakinya sedikit di atas lantai kerikil, menimbulkan suara gesekan halus sebagai tanda kedatangannya agar Alena tidak terkejut.
KREK.
Alena langsung tersentak, dengan cepat menghapus air matanya menggunakan ujung sweter dan menyembunyikan bingkai foto itu di belakang punggungnya. Ia menoleh ke arah kegelapan dengan sisa-sisa watak keras kepalanya yang terlihat jelas. "Siapa di sana?! Jangan macem-macem ya!" gertak Alena dengan suara yang di buat seolah terdengar galak, walau sebenarnya suaranya yang serak tidak bisa berbohong.
Mahesa melangkah masuk ke dalam area lampu rumah kaca, menundukkan kepala tegapnya sedikit dengan sikap hormat yang sangat tenang. "Ini saya, Nona Alena. Mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu pribadi Nona," tutur Mahesa dengan nada suara berat yang menenangkan batin.
Wajah Alena merona merah karena malu karena tertangkap basah sedang menangis sekasar itu oleh pria yang paling sering ia hina. "Lu... lu ngapain di sini, OB?! Sejak kapan lu nguping pembicaraan gua?! Kurang ajar banget ya lu!" amuk Alena dengan kalimat sarkas yang sengaja ditinggikan untuk menutupi rasa gengsinya yang runtuh.
Mahesa tidak mundur satu tapak pun. Aliran hawa murni di dalam dadanya memancarkan energi sejuk yang membuat batinnya tetap sedingin es, namun matanya memancarkan empati seorang ksatria sejati. "Saya tidak bermaksud nguping, Nona. Saya sedang melakukan patroli keliling berkala untuk memastikan keamanan rumah bagian belakang sesuai tugas saya," jelas Mahesa dengan intonasi yang sangat teratur dan lembut.
Alena membuang mukanya ke arah samping, menyembunyikan matanya yang sembab dan membengkak. "Halah, alesan aja lu! Pergi sana! Gua mau sendiri! Jangan berani-berani lu laporin apa yang lu lihat sekarang ke Papa, atau gua bakal bikin lu dipecat malam ini juga!" ancam Alena dengan sisa-sisa kesombongan topengnya yang sudah retak.
Bukannya pergi, Mahesa justru melangkah mendekat secara perlahan, lalu meletakkan sebuah sapu tangan kain putih bersih yang masih baru di atas meja besi di samping sofa Alena. Ia juga meletakkan sebuah botol air mineral yang belum di buka, sengaja ia bawa dari dapur paviliun tadi.
"Menangis bukanlah sebuah tanda kelemahan, Nona Alena. Kadang, air mata adalah satu-satunya cara bagi jiwa kita untuk membuang racun beban pikiran yang terlalu berat untuk dipikul sendirian," ucap Mahesa dengan kalimat yang penuh dengan kedalaman makna filosofis, menatap Alena dengan ketulusan yang murni tanpa ada sedikit pun nada mengejek.
Alena tertegun mendengarkan untaian kata-kata Mahesa. Dadanya kembali berdesir hebat. Ia melirik sapu tangan putih itu, lalu mendongak menatap postur tubuh Mahesa yang berdiri tegap laksana batu karang yang siap melindunginya dari segala badai, baik badai fisik maupun badai batin. Kesabaran dan kelembutan pria ini benar-benar kontras dengan semua perlakuan kasar yang ia berikan selama dua hari ini.
"Lu... lu nggak mikir kalau gua ini cewek manja yang cuma bisa cengengesan dan ngerepotin orang lain?" tanya Alena akhirnya dengan suara yang sangat pelan, ego keangkuhannya kini benar-benar melunak sepenuhnya di depan Mahesa.
Mahesa menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis yang sangat berwibawa di sudut bibir tegasnya. "Sama sekali tidak, Nona. Di mata saya, Nona Alena adalah seorang gadis yang sangat kuat. Tidak mudah untuk tetap berdiri tegak dan tersenyum di depan ribuan orang ketika di dalam hati Nona sedang merasakan kesepian yang teramat sangat berat akibat kehilangan sosok ibu," balas Mahesa dengan pemahaman psikologis yang mendalam, membuat pertahanan batin Alena hancur seketika.
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan menyentuh dari mulut pengawalnya, air mata Alena kembali merebak keluar tanpa bisa dibendung lagi. Segala rasa sesak karena tekanan Pak Subroto, rasa sepi di tengah keramaian teman-teman palsunya, dan rasa takut akan ancaman pembunuhan dari Wijaya Group seolah tumpah ruah malam itu.
"Papa... Papa selalu nuntut gua jadi penerus bisnis, Mahesa. Dia nggak pernah nanya gua capek atau enggak," tangis Alena akhirnya pecah sepenuhnya, ia mengambil sapu tangan milik Mahesa dan menekankannya ke wajah cantiknya sembari sesenggukan pasrah. "Gua... gua sebenernya takut banget sama orang-orang bertopeng kemarin. Gua takut mati sebelum bisa bikin Mama bangga di atas sana..."
Mahesa menarik napas panjang yang sangat teratur, membiarkan aliran hawa murninya memberikan efek ketenangan terselubung di sekitar ruangan rumah kaca agar emosi Alena bisa mereda secara alami. Ia mengambil posisi berdiri satu langkah di samping bangku, bertindak sebagai perisai kokoh yang siap menampung segala keluh kesah sang nona besar.
"Selama saya masih berdiri di sini mengemban mandat dari Pak Subroto, Nona Alena tidak perlu merasa takut lagi," ujar Mahesa dengan suara beratnya yang dipenuhi keyakinan mutlak tak tergoyahkan. "Pekerjaan bisnis atau tekanan dari Papa Anda, itu adalah proses pendewasaan. Namun untuk masalah keselamatan nyawa dan rasa takut akan kegelapan malam, serahkan semuanya kepada saya. Saya akan memastikan tidak akan ada satu pun bahaya yang bisa menyentuh Nona, dan saya tidak akan pernah membiarkan Nona menghadapi badai ini sendirian."
Alena menurunkan sapu tangannya, menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata elang Mahesa yang bersinar jernih di bawah temaram lampu taman. Rasa aman yang seutuhnya kini benar-benar merasuki seluruh aliran darah di tubuh Alena, menciptakan sebuah ikatan kepercayaan baru yang sangat kokoh di dalam lubuk hatinya. Sosok Mahesa yang semula ia anggap sebagai OB culun rendahan, kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi satu-satunya sandaran berwibawa yang bisa ia percayai di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan ini.
"Makasih... makasih banyak ya, Mahesa," tutur Alena dengan lembut dan tulus, sebuah kalimat apresiasi murni pertama yang keluar dari bibirnya untuk sang pengawal pribadi semenjak kontrak baru itu ditandatangani.
"Sama-sama, Nona Alena. Sekarang, sebaiknya Nona masuk ke dalam rumah dan beristirahat. Udara malam ini semakin dingin dan tidak baik untuk kesehatan Nona," saran Mahesa sembari membungkukkan sedikit tubuh tegapnya sebagai tanda penghormatan terakhir.
Alena mengangguk patuh tanpa ada bantahan manja sedikit pun. Ia berdiri dari bangku taman, mendekap erat foto mamanya, lalu melangkah perlahan keluar dari rumah kaca menuju bangunan utama mansion mewah tersebut. Mahesa berjalan konstan dua langkah di belakangnya, menjaga sang nona besar kembali ke kamarnya dengan selamat. Malam itu, di tengah kesunyian gerimis Jakarta, sekat keangkuhannya mulai runtuh, karena sebuah komitmen perlindungan yang mendalam dan tulus di balik keteguhan jiwa Mahesa yang sekeras baja karang.