❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 - Impossible
Malam itu udara terasa dingin, tapi kepalaku jauh lebih ramai.
Aku masih memikirkan semua yang terjadi antara aku dan Javier hari itu. Mulai dari rumah, pembicaraan di mobil, sampai ucapan-ucapannya yang terus terngiang di kepalaku.
Bahkan saat makan malam bersama kedua orang tuaku pun aku jadi tidak bersemangat. Nafsu makanku hilang entah ke mana.
“Nay... kamu kenapa?” tanya ibu sambil menatapku heran. “Kok makannya kayak nggak selera gitu?”
“Nggak apa-apa, Bu,” jawabku pelan.
“Kamu ada masalah?” kali ini ayah ikut bertanya.
“Nggak, Yah.”
“Oh iya...” Ayah meletakkan sendoknya. “Gimana tadi rumahnya?”
Aku langsung terdiam beberapa detik.
Jujur saja, aku sebenarnya malas membahas rumah itu lagi.
“Bagus,” jawabku singkat. “Bersih. Keamanannya juga bagus.”
Aku kembali mengambil nasi di piringku sebelum melanjutkan.
“Rumahnya tipe 36. Dua kamar.”
Ayah mengangguk pelan.
“Pas itu buat pasangan baru kayak kalian.” Ayah tersenyum santai. “Kamar satu buat kalian, kamar satunya nanti buat anak kalian.”
Seketika tubuhku menegang.
Anak?
Anakku dan Javier?
Oh tidak.
Aku langsung meletakkan sendok lalu menatap kedua orang tuaku serius.
“Ayah, Ibu...” ucapku hati-hati. “Aku sama Javier kan belum lama kenal. Jadi biarin kami saling kenal dulu.”
Ibu dan ayah langsung menatapku.
“Jangan langsung ngebebanin kami soal anak.”
Aku menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
“Dan setelah menikah nanti... aku mau tidur di kamar yang berbeda sama Javier.”
“Ya Allah, Naya!” Ibu langsung menegurku. “Kalau sudah menikah ya harus satu kamar dong!”
Aku langsung mengerutkan kening kesal.
“Ibu... aku sama Javier aja belum lama kenal.” Aku menatap ibu tidak percaya. “Masa langsung harus ngelakuin itu?”
“Itu kan tugas istri,” jawab ibu santai seolah hal itu biasa saja.
Aku langsung mendecakkan lidah pelan.
“Aku nggak mau disentuh sama orang yang nggak cinta sama aku.”
“Tapi kalian nanti suami istri,” balas ibu lagi.
“Nggak wajib langsung begitu juga kali...” gumamku pelan.
“Wajib,” jawab ayah tiba-tiba dengan wajah serius.
Aku langsung menatap ayah tidak percaya.
Namun beberapa detik kemudian ayah melanjutkan lagi.
“Tapi nggak harus cepat.”
Mataku langsung berbinar.
“Yes!” Aku langsung tersenyum lega. “Berarti aku nggak harus satu kamar sama Javier dong?”
“Satu kamar tetap harus.” Ayah kembali makan dengan santai. “Kan kalian sudah suami istri.”
Aku langsung cemberut lagi.
“Masalah mau ngapa-ngapain atau nggak, itu terserah kalian.”
“Yah... Ayah...” rengekku kecewa.
“Makanya diskusikan dulu sama Javier,” ucap ayah santai.
“Ah, nggak perlu didiskusikan.” Aku langsung menggeleng cepat. “Dia pasti sama kayak aku. Nggak mau.”
Aku mengambil minum lalu melanjutkan dengan nada yakin.
“Javier kan nggak suka sama aku.”
“Nay...” Ibu menatapku pelan. “Ada laki-laki yang meskipun belum cinta sama istrinya tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami.”
Aku langsung membelalak kaget.
Hah?
“Brengsek itu namanya,” ucapku kesal. “Belum cinta tapi malah ngelakuin begitu aja.”
“Brengsek kalau istrinya nggak mau terus dipaksa,” jawab ibu santai. “Kalau sama-sama mau ya beda lagi.”
Aku langsung terdiam, meskipun dalam hati masih kesal.
“Malah kadang...” lanjut ibu sambil tersenyum kecil, “gara-gara itu yang awalnya belum cinta jadi cinta.”
Hah?
Ada hubungan yang bisa seperti itu?
Apa Javier juga tipe laki-laki seperti itu?
Tidak!
Aku tidak mau melakukan hal seperti itu sebelum aku dan Javier benar-benar saling mencintai.
“Coba deh kamu tanya Javier,” ucap ibu lagi. “Dia tipe cowok yang kayak gitu nggak?”
“Nggak mau!” jawabku cepat. “Mau dia tipe kayak gitu atau nggak aku nggak peduli.”
Aku menatap ibu serius.
“Pokoknya aku nggak akan ngelakuin itu sebelum kami sama-sama saling cinta.”
“Naya...”
“Bu,” potongku cepat sebelum ibu kembali bicara. “Pernikahan itu bukan cuma soal itu, kan?”
Aku menarik napas pelan.
“Tapi soal saling mengerti, saling memahami, dan saling melengkapi.”
Ibu dan ayah langsung diam mendengarkanku.
“Ibu sama ayah kan udah nikah puluhan tahun. Harusnya lebih paham.”
Aku menatap ibu kecewa.
“Dan ibu juga harusnya lebih paham sama aku. Bukannya malah nyuruh aku ngelakuin sesuatu yang nggak aku mau.”
Dadaku mulai terasa sesak sendiri.
“Kalau aku trauma nanti gimana? Ibu mau tanggung jawab?”
Seketika ibu dan ayah terlihat terkejut mendengar ucapanku.
Aku langsung berdiri dari kursi makan.
“Udah ah... aku kenyang.”
Tanpa menunggu jawaban apa pun, aku langsung berjalan menuju kamar lalu merebahkan tubuh di atas kasur.
Aku memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan ucapan ibu tadi.
Apa Javier tipe laki-laki seperti itu?
Atau malah lebih parah?
Aku langsung menggeleng cepat.
Tidak.
Javier bukan orang seperti itu... kan?
Aku meraih ponsel di samping bantal lalu membuka aplikasi pesan.
Ruangan obrolanku dengan Javier langsung terlihat di layar.
Haruskah aku bertanya?
Jantungku mendadak berdebar aneh.
Perlahan aku menekan tombol panggil sebelum akhirnya suara sambungan terdengar.
Tak lama kemudian Javier mengangkat teleponnya.
—Halo, Nay. Ada apa?
Suaranya terdengar santai seperti biasa.
“Ehm...” Aku langsung gugup sendiri. “Itu... aku...”
Kenapa aku jadi susah bicara?
“Nggak jadi,” ucapku cepat lalu langsung menutup telepon.
Aku langsung memejamkan mata malu sendiri.
Astaga, Naya.
Memalukan.
Tak lama kemudian notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselku.
[ Ada apa, Nay? Apa ada hal penting yang mau kamu omongin? ]
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Harus jawab apa?
Apa aku harus bertanya:
“Mas, kamu tipe cowok yang tetap mau melakukan itu meskipun belum cinta nggak?”
Ish!
Aku langsung membalikkan tubuhku di kasur.
Tidak mungkin aku bertanya seperti itu.
Dan pada akhirnya aku memilih tidak membalas pesan Javier.
Aku lalu membuka aplikasi streaming dan mulai menonton ulang drama Lee Jun-ha.
Aku hanya ingin melupakan semua pembicaraan aneh hari ini.
Adegan demi adegan terus berjalan di layar ponselku. Namun entah sejak kapan mataku mulai terasa berat hingga akhirnya perlahan menutup sendiri.
Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu tertutup.
Aku langsung membuka mata.
Eh?
Aku menatap sekeliling bingung.
Aku sedang duduk di tepi kasur di kamarku.
Dan... Javier ada di sana.
Ia berjalan perlahan mendekat ke arahku.
Kenapa Javier ada di kamarku?
Bukankah tadi aku sedang menonton drama?
Javier duduk di sampingku.
Aku langsung diam, memperhatikan gerak-geriknya dengan waspada.
Entah kenapa suasana kamar terasa aneh. Terlalu sunyi. Terlalu dekat.
Tiba-tiba Javier mengangkat tangannya lalu memegang wajahku pelan.
Aku langsung membeku.
“Naya...” ucap Javier lirih.
Dan tanpa aba-aba wajahnya semakin mendekat lalu—
Cup.
Bibirnya menyentuh bibirku.
Mataku langsung membelalak lebar.
Apa ini?!
Kenapa jadi seperti ini?!
Aku langsung mendorong tubuh Javier lalu berdiri menjauh dengan napas tidak beraturan.
“Apa yang kamu lakukan, Mas?!”
“Ini malam pernikahan kita,” jawab Javier tenang.
Hah?
Malam pernikahan?
Kapan kami menikah?!
Javier perlahan berdiri dari kasur.
Refleks aku langsung berlari menuju pintu kamar lalu mencoba membukanya buru-buru.
Namun pintu itu tidak terbuka.
Aku semakin panik.
“Kenapa pintunya nggak bisa dibuka?!” ucapku sambil terus memutar gagang pintu. “Bu! Ibu! Buka pintunya, Bu!”
“Nay...”
Aku langsung menoleh ke arah Javier yang perlahan berjalan mendekat.
“Jangan mendekat!” teriakku panik.
Tapi Javier tetap berjalan ke arahku seolah tidak mendengar ucapanku.
Aku langsung jongkok sambil menutup kepala dengan kedua tangan.
“Arrggghhh!”
Aku langsung terbangun.
Napasmu memburu.
Aku terduduk di atas kasur sambil memegangi dada yang naik turun cepat.
Tidak ada Javier.
Tidak ada malam pernikahan.
Ternyata itu hanya mimpi.
Aku langsung mengucap istigfar berkali-kali sambil mengatur napas.
Astaga...
Apa maksud mimpi tadi?
Kenapa aku bisa mimpi seperti itu?
Padahal sebelum tidur aku menonton drama Lee Jun-ha. Kenapa yang muncul di mimpiku malah Javier?
Aku langsung menatap jam di dinding.
Tengah malam.
Namun entah kenapa ada sesuatu yang terus mengganjal di hatiku.
Seolah aku harus memastikan sesuatu sekarang juga.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil ponsel lalu menelpon Javier.
Nada sambung terdengar cukup lama sebelum akhirnya telepon itu diangkat.
—Halo...
Suara Javier terdengar lirih dan berat, seperti orang yang baru bangun tidur.
“Mas, aku mau tanya,” ucapku cepat.
—Naya?
Hening beberapa detik.
—Hei... kamu tahu nggak sekarang jam berapa? Kenapa tengah malam begini kamu nelpon? Emang kamu belum tidur?
“Ini aku baru bangun.” Aku menggigit bibir pelan. “Dan ada hal yang mau aku tanyain.”
—Tanya apa?
Aku diam beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.
“Kalau... kita nikah nanti...”
Jantungku kembali berdebar aneh.
“Kita benar-benar bakal tidur di kamar terpisah, kan?”
—Hm.
Aku menghela napas kecil, tapi rasa tidak tenang itu masih ada.
“Dan... kita nggak akan ngelakuin yang seharusnya suami istri lakuin, kan?” tanyaku pelan.
Hening.
Cukup lama sampai aku mulai berpikir Javier tertidur lagi.
—Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?
“Jawab aja, Mas,” ucapku cepat.
Javier kembali diam beberapa detik.
—Iya, nggak akan. Aku kan nggak suka sama kamu.
Aku langsung diam mendengarnya.
Namun Javier kembali melanjutkan ucapannya dengan suara setengah sadar.
—Kalaupun nanti aku suka sama kamu... aku juga nggak bakal maksa kamu.
“뭐?! (Apa?!)” ucapku spontan kaget. “Maksudnya gimana?”
Namun Javier malah terdengar menghela napas pelan.
—Udah ya... aku mau tidur lagi.
Tut. Tut. Tut.
Telepon langsung terputus begitu saja.
Aku langsung menatap layar ponselku tidak percaya.
Eh?
Kenapa dia tiba-tiba menutup telepon?
Dan... maksud ucapannya tadi apa?
Kalau nanti dia suka sama aku?
Javier bisa suka sama aku?
Tidak mungkin.
Tidak mungkin pria seperti Javier menyukai perempuan sepertiku.