Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. NONA AROGAN
Robinson baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis dengan salah satu klien penting di sebuah hotel berbintang. Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang, ia memutuskan menikmati makan siang di restoran hotel sebelum kembali ke kantor.
Baru saja pelayan menghidangkan makanan, seseorang memanggil namanya dari arah belakang. "Robin?"
Robinson menoleh. Senyum tipis langsung terukir di wajahnya. "Ardan."
Pria itu menghampiri sambil tersenyum lebar, lalu menjabat tangan Robinson dengan erat, kemudian memeluknya. "Apa kabar, Rob?"
"Kabar gua baik. Lu sendiri gimana?" Pelukan dua lelaki itu terlepas.
"Gua juga baik. Sudah lama banget kita nggak ketemu."
"Hampir enam tahun," jawab Robinson.
"Iya. Sejak gua ikut bini menetap di Belgia." Ardan tertawa pelan.
"Kapan pulang dan ada urusan apa?" Robinson menepuk bahu Ardan.
"Baru minggu lalu. Ada urusan bisnis, sekalian nengok orang tua."
"Kalau begitu, kita makan siang bareng."
"Pas banget. Gua juga belum makan." Ardan pun duduk di hadapan Robinson. Setelah memesan makanan, obrolan mereka mengalir santai.
Mereka mengenang masa-masa kuliah, membahas perkembangan bisnis, hingga kehidupan Ardan di Belgia.
"Bagaimana kabar Rebeca?" tanya Ardan.
"Dia sudah kuliah."
"Wah ... ngggak kerasa ya. Rebeca udah kuliah aja."
Robinson mengangguk. "Iya."
"Dia masih keras kepala?"
Robinson tersenyum tipis. "Masih."
Ardan ikut tertawa. "Berarti sifatnya nggak berubah."
"Nggak sama sekali, Dan."
Tak lama kemudian makanan datang.
Di sela-sela makan, Ardan kembali membuka pembicaraan. "Robin, setelah perceraian lu dengan Giselle ... lu udah deket lagi sama perempuan, belum?"
"Belum."
"Masih sendiri?" Ardan menghentikan kunyahannya.
"Iya."
Ardan mengangguk pelan. "Jujur ya, Rob ... gua kaget banget. Gua nggak nyangka Giselle setega itu sama lu."
Robinson hanya tersenyum tipis. "Semua sudah lewat, Dan."
"Syukurlah lu sudah bisa berdamai dengan keadaan." Kemudian Ardan tersenyum jahil. "Soalnya kalau memang masih sendiri, sebenarnya gua mau mengenalkan seseorang."
"Oh ya?"
"Iya. Seorang dosen, temen baik bini gua. Dia janda satu anak. Orangnya baik, dewasa, cantik juga. Menurut gua kalian cocok."
Robinson menggeleng pelan. "Terima kasih. Tapi tidak perlu."
"Lho?"
"Gua sudah punya calon istri."
Ardan sampai membulatkan mata. "Serius? Tadi bilangnya belum deket lagi sama perempuan, kok sekarang udah punya calon istri? Gimana ceritanya, plin-plan lu!"
Robinson tertawa pelan. "Rumit kalau gua ceritain, Dan."
"Nggak papa. Gua mau denger. Buruan!" desak Ardan penasaran.
Karena Ardan adalah sahabat baiknya, Robinson pun menceritakan semuanya.
Tentang pertemuannya dengan Cika.
Tentang Sinta yang membutuhkan biaya pengobatan sangat besar. Tentang kesepakatan yang mereka buat.
Dan tentang rencana pernikahan yang akan berlangsung dua minggu lagi.
Ardan mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Setelah Robinson selesai bercerita, ia mengembuskan napas panjang. "Jadi ... lu mau nikah sama gadis seumuran Rebeca dan bukan karena cinta?"
"Yap. Betul." Robinson mengiris steak, menusuknya dengan garpu, lalu memasukannya ke dalam mulut.
Ardan mengangguk pelan sambil tersenyum. "Lu memang tetap Robinson yang dulu."
"Maksud lu?"
"Kalau sudah memutuskan membantu seseorang, lu akan melakukannya dengan sungguh-sungguh."
Robinson hanya tersenyum tipis. "Gua kan emang nggak tegaan orangnya. Terlebih lagi, Cika nggak mau menerima bantuan gua kalau cuma-cuma. Jadi, gua pun mengajukan tawaran itu. Dan ternyata dia mau. Meski gua tahu, kalau dia pasti sangat terpaksa menikah dengan pria tua macam gua. Bapak dari rivalnya di kampus lagi."
Ardan terkekeh. "Tapi lu belum kelihatan tua, Rob. Masih kayak pria umur tiga puluhan."
"Pala lu tiga puluhan." Robinson mencabut tisu dan melemparnya ke wajah Ardan.
Pecah tawa Ardan. "Serius, Rob. Tubuh lu masih kekar. Wajah lu juga nggak ada yang berubah. Cuma auranya lebih tegas dan matang." Robinson mendecak. Ardan kembali tertawa. Lalu ia berkata lagi. "Semoga keputusan lu ini menjadi jalan terbaik untuk semua."
"Aamiin," sahut Robinson sambil mengangkat gelasnya.
Ardan membalas mengangkat gelas miliknya, lalu keduanya kembali menikmati makan siang sambil membahas hal-hal lain.
Jika Robinson menikmati makan siang di restoran hotel berbintang, Cika justru berjalan kaki menuju sebuah warung nasi sederhana yang berada tak jauh dari kampus Satya Wisesa. Warung itu memang menjadi langganan para mahasiswa karena harganya ramah di kantong.
Begitu masuk, aroma masakan rumahan langsung menyambutnya.
"Siang, Mbak Cika," sapa pemilik warung dengan ramah.
"Siang, Bu."
"Seperti biasa?"
Cika mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, Bu. Nasi sama telur dadar. Minumnya teh hangat."
"Baik, sebentar ya."
"Iya." Cika memilih duduk di sudut warung dekat jendela. Di sekelilingnya, beberapa mahasiswa tampak asyik mengobrol sambil menikmati makan siang mereka.
Tak lama kemudian, sepiring nasi putih hangat dengan telur dadar dan sedikit sambal disajikan di hadapannya. Segelas teh hangat mengepul di samping piring itu. "Silakan, Mbak."
"Terima kasih, Bu." Cika mengucapkan doa pelan sebelum mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Sederhana.
Namun baginya, makanan seperti ini sudah lebih dari cukup.
Dulu, saat orang tuanya masih lengkap, ia nyaris tak pernah memikirkan harga makanan. Kini, setiap lembar uang yang keluar selalu ia hitung dengan cermat.
Bukan karena pelit. Melainkan karena setiap rupiah yang berhasil dihemat bisa digunakan untuk membeli kebutuhan Sinta atau menambah biaya pengobatan adiknya.
Saat sedang mengunyah, pandangannya tanpa sadar jatuh pada beberapa mahasiswa di meja sebelah yang menikmati ayam goreng, ikan bakar, dan aneka lauk lainnya sambil bercanda riang. Cika hanya tersenyum kecil. Tidak ada rasa iri. Ia justru bersyukur masih bisa makan siang dengan layak dan tetap melanjutkan kuliah.
Usai beberapa suap, ucapan Sinta sebelum ia berangkat ke kampus kembali terngiang di telinganya.
"Jangan lupa makan, ya. Kakak selalu nyuruh Sinta makan, tapi Kakak sendiri sering lupa."
Senyumnya mengembang tipis. "Iya, Bos kecil," gumamnya pelan. "Kakak lagi makan, kok." Ia kembali melanjutkan makan siangnya dengan tenang.
Pikirannya berkelana lagi ke pesan dari Robinson beberapa menit lalu.
"Setelah selesai kuliah, kamu tunggu saya di rumah sakit. Kita pergi ke butik milik istri Hasan untuk mencari kebaya pernikahan."
Cika menelan makanannya yang sedikit kehilangan rasa. "Ya Tuhan, dua minggu lagi," gumamnya tanpa suara.
***
Rebeca yang memutuskan bolos kuliah sejak kejadian memalukan di kampus kini berada di apartemen milik Mili. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan sedotan di gelas minumannya dengan wajah masih ditekuk. "Kalau ingat Cika, bawaannya pengen ngamuk," gerutunya.
Mili yang sedang membereskan meja hanya menggeleng. "Lo dari tadi ngomong itu terus."
"Ya gimana nggak kesel? Satu kampus lihat gue jatuh, Milimeter."
Bel apartemen tiba-tiba berbunyi.
"Itu pasti Putra," ujar Mili sambil bergegas menuju pintu.
Rebeca memutar bola matanya, menyoraki sahabatnya. Huuuu! Dasar bucin!"
Tak lama kemudian, Mili kembali dengan dua pemuda tampan mengikutinya dari belakang.
Rebeca yang melihat kedatangan mereka langsung tersenyum ramah. "Hai, Putra. Hai William."
"Hai, Beca." Putra mengangguk sambil tersenyum.
Tatapan William kemudian bertemu dengan Rebeca. "Hai juga, Beca." William lalu tersenyum. Meski berusaha terlihat biasa saja, sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa kagum yang selalu muncul setiap kali melihat Rebeca.
Perasaan itu bukan hal baru. Sejak pertama kali dikenalkan Putra beberapa tahun lalu, William sudah menaruh hati pada gadis cantik itu. Sayangnya, sampai sekarang perasaannya hanya ia simpan sendiri. Ia sadar, Rebeca berasal dari keluarga konglomerat, sementara dirinya hanya anak seorang dosen dan pengusaha kontraktor berskala menengah. Meski keluarganya berkecukupan, ia merasa masih ada jurang yang cukup lebar di antara mereka. Karena itu, William memilih menjadi teman. Setidaknya untuk saat ini.
"Muka lo kenapa kusut gitu, Bec?" tanya Putra sambil duduk di sofa.
Belum sempat Rebeca menjawab, Mili sudah lebih dulu menyahut. "Dia habis mengalami kesialan memalukan di kampus."
Putra menaikkan sebelah alis. "Kesialan apa? Kok kita berdua nggak tahu, iya kan, Wil?" Ia melirik William.
William mengangguk. "Iya. Kesialan apa?" Rasa penasaran muncul.
Rebeca menyilangkan tangan di dada. "Nggak penting."
Mili justru terkekeh. "Nona arogan ini tadi mau jambak rambut si Cika, eh malah terpeleset sendiri sampai tengkurap di tanah."
"Mili!" pekik Rebeca.
Putra spontan tertawa. "Hahaha ... serius?"
William yang semula berusaha menahan diri akhirnya ikut tertawa kecil.
Melihat kedua pria itu ikut tertawa, wajah Rebeca langsung memerah. "Kalian teman apa musuh, sih? Tega banget ngetawain gue!" dengusnya.
Putra buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke. Maaf."
William pun mengulum senyum. "Maaf, Bec. Gue cuma ngebayangin aja ..."
Rebeca memelototinya. "Jahat lo, Will!"
William langsung menggeleng sambil masih menyisakan senyum tipis di bibirnya. Meski ikut tertawa, jauh di dalam hatinya ia tetap merasa kasihan melihat Rebeca begitu kesal. Ia tahu gadis itu sangat menjaga gengsi dan harga dirinya.