NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Petir yang Padam

Arena Akademi Langit Biru hening seketika saat nama-nama babak kedua ditampilkan di papan kristal raksasa.

Lin Fan vs Li Tianhao.

Sorakan gemuruh meledak, lebih keras dari sebelumnya. Ini bukan sekadar pertandingan; ini adalah balas dendam publik. Seluruh akademi tahu tentang insiden di gerbang kota, tentang ejekan Li Tianhao, dan tentang manipulasi undian yang transparan oleh Tetua Wang. Semua mata tertuju pada dua sosok yang kini berjalan menuju tengah arena.

Li Tianhao melangkah dengan angkuh. Ia tidak lagi mengenakan jubah putihnya, melainkan seragam tempur berwarna biru tua dengan garis-garis perak yang berkilau—artefak ringan yang meningkatkan konduktivitas Qi petirnya. Di tangannya, ia memegang pedang lurus bernama Guntur Biru, sebuah Artefak Spirit Tingkat Tinggi warisan keluarganya. Aura listrik statis mengelilingi tubuhnya, membuat rambut para penonton di barisan depan berdiri.

Lin Fan berjalan santai. Jubah biru mudanya masih rapi, wajahnya datar tanpa emosi. Ia tidak membawa senjata. Tangannya kosong.

"Kau berani datang tanpa senjata?" teriak Li Tianhao dari jarak sepuluh meter, suaranya bergema diperkuat Qi. "Apakah kau meremehkan aku, sampah Qingyun?"

Lin Fan berhenti. Ia menatap Li Tianhao dengan tatapan dingin yang menusuk.

"Aku tidak butuh senjata untuk menghancurkan egomu, Li Tianhao," jawab Lin Fan tenang. Suaranya tidak keras, tapi kejelasan artikulasinya membuatnya terdengar oleh seluruh arena. "Dan ingat, namaku Lin Fan. Bukan sampah."

Li Tianhao meraung marah. Wajahnya memerah karena penghinaan itu di depan ribuan orang.

"BERSIAP!" teriak wasit.

"MULAI!"

Sebelum kata "mulai" selesai diucapkan, Li Tianhao sudah melesat. Kecepatannya luar biasa, meninggalkan jejak cahaya biru di udara. Ia mengayunkan Guntur Biru ke arah kepala Lin Fan dengan kekuatan penuh. Angin petir menyambar, menciptakan suara desisan yang menakutkan.

Penonton menahan napas. Serangan pertama yang mematikan.

Tapi Lin Fan tidak menghindar ke belakang. Ia maju selangkah.

Dengan Persepsi Hampa-nya, Lin Fan melihat aliran Qi petir di pedang Li Tianhao. Petir itu kuat, tapi kacau. Li Tianhao mengandalkan kemarahan, bukan kontrol. Ada celah mikro di sisi kiri bilah pedang, di mana energi tidak terkonsentrasi dengan sempurna.

Lin Fan mengangkat tangan kirinya. Bukan untuk menangkis, tapi untuk menjepit.

Kling!

Suara logam berdenting tajam. Lin Fan berhasil menjepit bilah pedang Li Tianhao di antara telunjuk dan jari tengahnya. Tekanan Qi petir mengalir ke tangannya, membakar kulitnya sedikit, tapi Lin Fan mengabaikannya. Ia menggunakan Teknik Tubuh Naga Chaos untuk menyerap sebagian energi itu dan mengalirkannya ke tanah melalui kakinya.

Li Tianhao terbelalak. "Mustahil! Kau... kau menahan pedangku dengan jari?!"

"Pedangmu berat karena amarahmu," kata Lin Fan dingin.

"Dan amarah membuatmu lambat."

Dengan sentakan pergelangan tangan yang cepat, Lin Fan memutar pedang Li Tianhao ke samping, membuatnya kehilangan keseimbangan. Sebelum Li Tianhao bisa memperbaiki posisinya, Lin Fan sudah berada di depannya.

Satu tendangan cepat ke perut Li Tianhao.

BOOM!

Li Tianhao terpental mundur, napasnya tersengal. Ia jatuh berlutut di pasir, matanya penuh ketidakpercayaan.

Penonton terdiam kaget. Li Tianhao, siswa Level 5 dengan artefak tinggi, dipukul mundur oleh remaja Level 4 tanpa senjata dalam hitungan detik.

Di tribun VIP, Tetua Wang berdiri, wajahnya pucat pasi.

"Ini... ini kecurangan! Dia pasti menggunakan teknik terlarang!"

Direktur Feng menatapnya tajam. "Duduk, Tetua Wang. Tidak ada pelanggaran aturan. Itu murni keterampilan. Jika kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa muridmu kalah, mungkin kau yang perlu belajar lagi."

Tetua Wang duduk kembali, mengepalkan tinjunya hingga gemetar.

Di arena, Li Tianhao bangkit dengan susah payah. Rasa malu berubah menjadi kebencian murni. Matanya menyala merah.

"Kau... kau akan mati!" raungnya.

Ia melepaskan semua pengaman Qi-nya. Aura petir di sekelilingnya meledak, membentuk badai kecil di sekitar tubuhnya. Rambutnya berdiri tegak, dan matanya bersinar biru elektrik. Ini adalah teknik andalan keluarganya: Amukan Dewa Petir. Teknik ini meningkatkan kekuatan dan kecepatan dua kali lipat, tapi menguras energi dengan cepat dan berbahaya bagi pengguna jika tidak dikontrol.

"Lin Fan! Aku akan mengubahmu menjadi abu!"

Li Tianhao menerjang lagi, kali ini dengan kecepatan yang hampir tak terlihat. Tiga bayangan pedang muncul, menyerang dari tiga arah sekaligus: kepala, dada, dan kaki.

Lin Fan menutup matanya.

Dunia menjadi gelap. Hanya ada suara.

Desisan petir di sebelah kiri. Gemuruh langkah kaki di kanan. Hembusan angin panas di depan.

Persepsi Hampa bekerja maksimal. Lin Fan tidak melihat serangan; ia merasakan niat pembunuhan.

Saat Li Tianhao berada tepat di depannya, Lin Fan membuka matanya. Pupilnya berkontraksi tajam.

Ia tidak menyerang tubuh Li Tianhao. Ia menyerang pedangnya.

Dengan gerakan tangan yang presisi seperti ahli bedah, Lin Fan menepuk bagian pangkal bilah pedang Li Tianhao tepat di titik nodal getarannya.

Tring!

Getaran resonansi merambat melalui pedang, mencapai tangan Li Tianhao. Karena Li Tianhao sedang mengerahkan tenaga penuh, getaran balik itu menghantam saraf-saraf di lengannya dengan kekuatan ganda.

AHHH!

Li Tianhao menjerit kesakitan. Jari-jarinya terbuka paksa. Pedang Guntur Biru terlepas dari genggamannya dan terbang tinggi ke udara.

Sebelum pedang itu jatuh, Lin Fan sudah melompat. Ia menangkap pedang itu di udara, lalu mendarat dengan elegan di hadapan Li Tianhao yang masih memegang pergelangan tangannya yang mati rasa.

Ujung pedang Guntur Biru kini menempel di leher Li Tianhao.

Listrik di tubuh Li Tianhao padam seketika, digantikan oleh keringat dingin dan rasa takut yang mendalam.

"Hentikan," kata Lin Fan dingin.

"Atau aku potong arteri kristolismu. Darahmu akan menyembur sampai ke tribun VIP."

Li Tianhao membeku. Napasnya tercekat. Ia menatap mata Lin Fan dan melihat sesuatu yang mengerikan: ketenangan mutlak. Lin Fan benar-benar siap melakukannya.

"Aku Kalah" Jelas Li Tianhao

Wasit, yang terpaku kagum, segera sadar dan berlari masuk.

"Pemenang: Lin Fan!"

Sorakan meledak lebih keras dari sebelumnya. Kali ini, bahkan beberapa siswa dari klan lain ikut bersorak. Mereka menyaksikan kejatuhan sang tiran kecil.

Lin Fan melemparkan pedang Guntur Biru ke kaki Li Tianhao. Clang.

"Jaga barang berhargamu, Tuan Muda Li," kata Lin Fan sambil berbalik pergi.

"Kekuatan tanpa kontrol hanyalah bencana yang menunggu waktu. Dan kau... kau adalah bencana yang belum matang."

Ia berjalan keluar dari arena, meninggalkan Li Tianhao yang berlutut di pasir, menangis karena rasa malu dan sakit fisik.

Di tribun, Bao Da dan Zhang Wei saling pelukan, bersorak gila-gilaan. Mei Ling menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca karena haru.

Gu Yichen, yang duduk di pojok tribun, menatap punggung Lin Fan yang menjauh. Ia menyentuh topengnya pelan.

"Dia tidak hanya menang," gumam Gu Yichen.

"Dia menghancurkan fondasi mental Li Tianhao. Itu lebih kejam daripada membunuhnya."

Sementara itu, Tetua Wang menatap Lin Fan dengan tatapan yang bisa membunuh. Ia tahu, setelah kekalahan ini, pengaruh Li Tianhao di akademi akan hancur. Dan itu berarti pengaruhnya sendiri juga tergerus.

"Lin Fan..." bisik Tetua Wang, suaranya beracun.

"Kau telah melampaui batas. Aku akan memastikan kau tidak pernah merasakan kedamaian lagi di akademi ini."

Lin Fan, yang sedang berjalan menuju ruang istirahat, merasakan tatapan itu. Ia tidak menoleh. Ia hanya tersenyum tipis.

Babak ketiga menanti, pikirnya. Dan aku merasa semakin lapar akan tantangan.

Kemenangan ini bukan akhir. Ini adalah pernyataan perang. Dan Lin Fan baru saja menembakkan tembakan pembuka.

1
Ihya Ilmi
Ayo thor cepat update
Ihya Ilmi
Jenius apanya🤣🤣dibandingkan dgn Lin Fan gak ada apa-apa nya mereka itu🤣🤣
Ihya Ilmi
Ceritanya terlalu janggal, kuda masih ada setelah kena amukan naga dicelah sempit, kereta juga masih ada(celah sempit bisa kah lewat kereta?), terus Pengawas Chen ngapain ngebiarin Lin Hao ada padahal tau bapaknya yg ngirim penjahat?
Kartini Aniya: jangan kan kereta kuda bisa lewat celah sempit, Terpedo rudal Scud aja bisa masuk ke celah sempit 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!