NovelToon NovelToon
ISTRI MANDUL YANG DIKHIANATI

ISTRI MANDUL YANG DIKHIANATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Poligami / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: vhia azaira

Pernikahan sebuah komitmen yang panjang, istri cantik, pekerja keras, mapan, tetaplah dicari kurangnya. Suami yang tidak bersyukur tidak akan pernah merasa cukup sebaik apapun pasangannya.

***
Kania kehilangan rumah tangga bahagia yang dia bina selama 10 tahun, dia kalah, tersingkirkan bahkan dikhianati karena satu kekurangannya yang belum bisa memberikan keturunan.
Kekurangan itu menjadi alasan untuk membela dirinya saat dia sudah terdesak dari segala arah.

Ditengah badai, sepi, dan sakit, Kania bertemu malaikat cantik yang mandiri, kuat juga selalu memberikan kenyamanan. Pertemuan dengan Alia, alasan utama Nia jika dirinya juga istimewa dan pantas untuk punya kebebasan.

Lanjut baca ya kita lihat penyesalan Amer, kehancuran pelakor, dan jalan baru yang Nia lewati.
***

follow Ig vhiaazaira

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhia azaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEMBURU

Segelas coffe disodorkan, kepala Nia menoleh ke arah dokter yang sudah berjalan pergi.

Senyumannya lebar, dia mengambil coffe yang El berikan.

"Dokter, apa kamu mengenal Dokter Elber?" tanya perawat yang kepo.

"Tetangga," balasnya.

Kepala mengangguk, Nia beruntung sekali. El Dokter yang cukup dingin, dia hanya tersenyum kepada pasiennya, tapi kepada wali anak pasti bersikap dingin. Cara El bicara penuh intimidasi.

"Dia tidak sedingin itu, hanya terlalu sibuk," ucap Nia.

"Tapi Dok, kepada kita dia sedingin kutub es."

"Memangnya kamu pernah tinggal di kutub es?" Nia begegas pergi membawa coffe ke ruangannya.

Sepanjang jalan Nia hanya mendengar gosip soal Dokter Elber yang dingin, tampan dan mempesona. Rumah sakit mereka terlalu kecil untuk seorang El yang populer.

"Dokter El, terima kasih." Nia menujukkan coffe.

"Sama-sama Dokter Nia," balasnya.

"Ibu, tolong." Alia memanyunkan bibirnya.

Nia membuka pintu ruangan El cukup lebar, melihat kedua anaknya dipaksa belajar.

"Ibu, kita dijemput ayah terus diajak ke sini, padahal Lia berencana ke coffe shop. Tidak mau dijemput ayah lagi," keluhnya.

Senyuman El terlihat, dia hanya ingin Lia dan Dea belajar sebentar. Mengingat ulang pelajaran tidaklah salah.

"Belajar tidaklah salah, tapi mereka butuh istirahat," tegur Nia.

Kening El mengkerut, dia meminta maaf karena sudah membuat kedua anak Nia sedikit stres.

"Ayo ikut ibu, kita pindah ruangan."

"Bye ayah." Lia berlari sambil menarik tasnya.

"Ayah, Dea ikut ibu dulu." Dea mengendong tas miliknya.

Nia tersenyum menatap kedua putrinya yang berlari kecil. Nampak bahagia terbebas dari El yang super dingin.

Panggilan masuk, Nia menjawab telepon. Dea dan Lia menoleh ke belakang melihat ibu yang nampak serius.

"Lia, ibu ke kantin dulu, mau ikut tidak atau tunggu di ruangan?"

"Mau ikut," balasnya.

"Kantin ada jajan, Dea mau."

Nia mengangguk, mengajak keduanya ke kantin. Lia dan Dea duduk di meja yang berbeda sambil menunggu pesanan.

"Siang Bu," sapa Pengacara.

"Selamat siang, bagaimana prosesnya?" Nia mendengarkan dengan baik.

Senyuman lega terlihat, dia tersenyum kecil. Dia berharap semuanya benar-benar selesai, dirinya dan Amer resmi berpisah.

Tanpa harus saling menyulitkan, berpisah secara baik-baik jalan paling benar.

"Bu, saya rasa Pak Amer tetap keras kepala menolak berpisah," ucapnya.

"Lalu, apa dia punya hak untuk menolak?"

"Tidak, segala bukti sudah kuat. Pak Amer tidak bisa melakukan protes, bahkan soal harta gono-gini," balasnya.

Nia paham, Pengacara mengkhawatirkan tindakan Amer. Pria keras sepertinya tidak akan pernah menerima keputusan sepihak sekalipun sudah masuk sidang. Tidak ada yang bisa membuatnya paham.

"Pak Amer ditahan selama setengah tahun, itu bukan waktu yang lama."

"Iya saya tahu."

Pengacara meminta Nia datang besok pagi untuk sidang cerai, dia sudah bebas berpisah dari Amer.

"Bu, saya hanya ingin memperlihatkan video ini." Pengacara menujukkan ponselnya.

Sebelum sidang, pengacara menemui Amer. Dia marah besar, mengamuk tidak akan pernah menyetujui keputusan pengadilan.

Sekalipun sudah resmi bercerai, bagi Amer sampai mati Kania tetap istrinya. Tidak akan ada yang memisahkan kedua karena mereka saling mencintai.

"Kirimkan videonya padaku," pinta Nia.

"Mungkin setelah dia bebas, bisa melakukan tuntutan soal harta, ibu harus siap?"

"Pasti, aku sudah siap mental." Kania benar-benar siap menghadapi Amer, dia hanya butuh Alia dan Dea di sisinya untuk sedikit mengalihkan masalahnya.

Meskipun kehadiran Dea akan menyulitkan, tapi Nia yakin dia bisa mengatasi masalah ini. Selama ini terlalu santai makanya dia diberikan ujian yang rumit, juga pengalaman baru baginya. Cinta tidak selalu tentang bahagia, bisa juga luka.

"Ibu, kenapa melamun?" Lia mendekatkan wajahnya.

"Sedang berpikir, tapi kita harus makan dulu." Nia menyentuh hidung Lia yang merasa geli.

Seorang perawat berlari, memberitahu Nia ada pasien darurat. Sikap Nia masih seperti biasanya, dia tidak terburu-buru lebih pilih santai.

"Lia, Dea, ibu pergi dulu. Kalian jangan main jauh, ingat pulang bersama ayah," pesannya.

Jempol keduanya terangkat, menatap ibu Nia yang bergegas ke ruangan medis.

Tangan Lia terlipat di dada, mereka tidak bisa menunggu. Lia sudah biasa menunggu ayahnya yang selalu terlambat, kemungkinan ibu juga sibuk karena ada pasien darurat.

"Dea, ayo kita pulang."

"Ibu berpesan pulang bersama ayah," balasnya.

"Ahh kelamaan, kita punya banyak jadwal." Lia mengandeng tangan adiknya.

Melalui ponselnya, Lia memesan taksi. Menunggu beberapa saat sampai taksi sampai.

"Pesanan atas nama Pak Elber?" tanya supir.

"Betul, anaknya." Lia memotret mobil, begitupun dengan plat mobil yang langsung dikirimkan kepada ayahnya.

Supir nyengir memberikan gaya foto dua jari, Lia juga tersenyum begitupun dengan Dea yang berfoto bertiga.

"Ayo Pak, kita pulang."

"Okey, kamu cerdas." Supir melajukan mobilnya.

Sepanjang jalan Lia mengoceh, supir yang mendengar sampai sakit kepala. Dea pilih tidur, tidak sanggup meladeni Lia.

"Komplek perumahan itu, nah benar." Lia melihat taksi melintas masuk ke dalam kawasan rumah elite.

Pintu mobil terbuka, Lia membangunkan adiknya mengajak masuk ke rumahnya.

"Nia, keluar kamu." Gerbang rumah digedor.

Tatapan Lia tajam, dia melihat dari gerbang rumahnya. Pasangan tua yang menganggu.

"Nenek, berisik."

"Diam kamu, anak kecil berani menegur."

Hembusan napas Lia terdengar, dia membuka pintu kandang anjing penjaga rumahmu.

Suara gonggongan anjing terdengar kencang, Dea berlari masuk karena takut.

"Mau berhenti, atau aku biarkan Blakki yang memberikan efek jera," ancam Lia.

Dua orang tua yang melempari rumah Nia dengan batu terhenti, tidak berani teriak, memilih mundur perlahan.

Gerbang rumah ditutup, Lia berjalan masuk ke rumahnya. Menatap maid yang pamit pulang setelah membersihkan rumah.

"Nona Lia," panggilnya.

"Iya Bibi."

"Ibu tadi ke sini, dia mencarimu." Bibi membungkukkan badannya melangkah pergi.

Senyuman kecil terlihat, Lia duduk di sofa sambil tiduran. Menyalakan televisi menonton film kartun kesukaannya.

"Kak Lia, itu ada cake."

"Makan saja, bebas." Lia menatap ke arah meja, dia baru sadar itu kue pemberian seseorang.

Dea membuka cake, menatap kue yang sangat indah. Rasanya tidak tega jika dipotong.

"Habiskan saja, jika tidak buang," ucap Lia.

"Dea mau, ini enak."

Senyuman Lia terlihat, dia lebih suka minum coffe daripada makan cake. Terlalu menyakitkan baginya, bayangan cake bersimbah darah.

"Halo Ibu, ini Dea. Kakak Lia masih menonton televisi, tapi wajahnya murung." Dea terpaksa menghubungi ibunya karena takut dengan wajah Lia.

Kania yang berniat lembur langsung diurungkan, dia lebih mengkhawatirkan Lia. Tidak ada yang lebih penting saat ini, dan pekerjaan bukan prioritas nya.

"Elber," panggilnya saat melihat El lewat.

"Ya, kenapa?"

"Hal apa yang bisa merusak mood Lia?" tanyanya.

El mengerutkan keningnya, pertanyaan Nia nampak serius dan El tahu karakter putrinya.

"Mama," ucap El pelan.

Mata Nia melotot, ada rasa menyesal bertanya. Wanita di masa lalu El, ibu yang melahirkan Lia. Wanita yang selalu punya tempat khusyuk.

"Gila, mustahil aku cemburu," batinnya.

***

Follow Ig vhiaazaira

1
new07
authornya gak ada niatan dilanjut kah????🤭
new07
apa hanya aku aja yg nunggu up nya😌.
kapan mau dianjut pasti othornya males nulis karna gak ada yg komentar menyemangati padahal ceritanya bagus
5Cucu: 🤣🤣 iya sepi banget 😭 tunggu mood balik kak, nanti aku lanjutin
total 1 replies
new07
kapan up lagi ya😢
new07
laah Elber merajuk kayak Lia🤣. apa apaan km El🤣🤣🤣
new07
akhirnya saaaah.
peperangan baru mau dimulai.. si amer bakalan shock kalau lihat kalian nikah
new07
kapan up lagi kak vhi
new07
kenapa kalian tidak tinggal disitu saja ya. perusahaan pusatnya dialihkan ke situ.. tapi gimana juga dengan pasien2nya mereka /CoolGuy/
segera otw dpat SIM
new07
habis dari luar negri langsung gas SiM🤣
Uthie
Liaa lucu 👍😂
Uthie
Sukkkaaa ceritanya 👍👍👍👍👍
Uthie
Sukkaaa bangettt sama kepintaran dan kedewasaan nya Alia👍😍
Uthie
andai yg khianat memiliki problem permasalahan yg demikian 😂
Uthie
Suka di awal mampir 👍👍👍
new07
ngadepin si amer bisa setenang itu.. mungkin nia sudah antisipasi sama pamanya...
weeeh mau malemingguan ber 2
new07
ayolah pak dokter langsung bawa ke KuA saja ..biar cepet selesai masalah🤣
new07
ku tengok lagi belum ada up.
ayoo kak vhia lanjutin dong
new07
itu tandanya apa nia. yg ngisruh si amer napa ngamuknya ke elber🤣.
new07
tadi galak sama vero giliran ketemu fatah radak gimana gitu🤣🤣🤣. kaya saja tidak cukup..kania🤣🤣🤣
new07
ayo pak dokter elber...kamu sudah dilamar bu kania. tuj secara langsung tanpa babibu🤣
new07
gassss kaniaa.. tar kalau dah sama elber jangan terlalu mandiri..😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!