Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Gudang Nomer 9
Malam menyelimuti Pelabuhan Timur dengan kabut tipis yang menggantung di antara deretan kontainer.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh ketika iring-iringan mobil keluarga Alvaro berhenti sekitar lima ratus meter dari Gudang Nomor 9.
Raven turun lebih dulu.
Ia mengenakan jas hitam sederhana dan rompi antipeluru di balik pakaiannya. Luka di bahunya memang mulai membaik, tetapi Aurora tetap memaksanya memakai pelindung tambahan.
"Kau harus hati-hati," ujar Aurora sebelum Raven berangkat.
Raven menatapnya beberapa saat.
"Kau mulai terdengar seperti istriku."
Aurora langsung memalingkan wajah.
"Jangan bercanda."
"Aku serius."
Pipi Aurora memerah, sementara Leo hanya tersenyum kecil melihat perubahan sikap atasannya.
Kini, di depan gudang tua itu, Raven mengangkat tangannya memberi isyarat.
"Leo."
"Ya, Tuan."
"Kepung seluruh area."
"Jangan bergerak sampai aku memberi perintah."
Leo mengangguk.
"Siap."
Raven berjalan seorang diri menuju pintu gudang yang besar dan berkarat.
Saat pintu didorong, suara gesekan besi menggema di dalam ruangan yang gelap.
Gudang itu tampak kosong.
Hanya ada beberapa peti kayu tua dan debu yang menumpuk di lantai.
Namun insting Raven mengatakan ada seseorang yang sedang mengawasinya.
"Aku datang," ucap Raven lantang.
"Tunjukkan dirimu."
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Tiba-tiba...
Tepuk... tepuk... tepuk...
Suara tepuk tangan terdengar dari lantai dua gudang.
Seorang pria berjubah hitam keluar dari balik bayangan.
Wajahnya masih tertutup topeng perak.
"Selamat datang, Raven Alvaro."
"Kau utusan Black King?"
Pria itu mengangguk pelan.
"Tuan kami menyukai keberanianmu."
"Aku tidak datang untuk dipuji."
"Lalu untuk apa?"
"Aku ingin bertemu Black King."
Utusan itu tertawa kecil.
"Belum saatnya."
Raven mengangkat pistolnya.
"Kalau begitu kau yang akan bicara."
Belum sempat Raven menarik pelatuk, lampu gudang mendadak menyala terang.
Puluhan pria bersenjata keluar dari balik peti-peti kayu.
Mereka mengepung Raven dari segala arah.
Di luar gudang, Leo yang melihat situasi melalui teropong langsung mengepalkan tangan.
"Tuan dalam bahaya."
Salah satu anak buah bertanya, "Apa kita masuk sekarang?"
Leo menggeleng.
"Tunggu isyarat."
Ia mengenal Raven.
Jika belum memberi perintah, berarti Raven masih memiliki rencana.
Di dalam gudang, utusan Black King melangkah turun.
"Tuan kami ingin memberimu kesempatan."
"Kesempatan apa?"
"Bergabung dengannya."
Raven tersenyum sinis.
"Aku lebih memilih mati."
"Itu jawaban yang sudah kami duga."
Utusan itu mengeluarkan sebuah foto dan melemparkannya ke arah Raven.
Foto itu memperlihatkan Aurora sedang keluar dari rumah sakit beberapa bulan lalu.
Raven langsung membeku.
"Itu belum semuanya."
Utusan itu kembali melempar beberapa foto lain.
Foto Sofia.
Foto Elena.
Bahkan foto Leo.
"Mereka semua berada dalam pengawasan kami."
Tatapan Raven berubah sangat dingin.
"Kalau satu rambut mereka disentuh..."
"...aku akan membantai kalian semua."
Utusan itu tidak gentar.
"Ancamanmu tidak berarti bagi Black King."
"Karena sejak awal..."
"...kau hanyalah bidak dalam permainan kami."
Kalimat itu membuat Raven kehilangan kesabarannya.
Dor!
Ia menembak tepat ke arah utusan.
Namun pria itu lebih cepat menghindar.
Dalam sekejap, baku tembak kembali pecah.
Dor! Dor! Dor!
Di luar gudang, Leo akhirnya memberi perintah.
"Serbu!"
Puluhan anak buah keluarga Alvaro menerobos masuk.
Pertempuran berlangsung sengit.
Aurora yang diam-diam ikut bersama rombongan tetap berada di mobil ambulans lapangan, bersiap menangani korban.
Di tengah kekacauan, Raven berhasil mengejar utusan Black King hingga ke lantai dua.
Keduanya bertarung dengan tangan kosong.
Pukulan demi pukulan saling dilancarkan.
Raven akhirnya berhasil menjatuhkan lawannya.
Ia mencengkeram kerah baju pria itu.
"Siapa Black King?"
Pria itu justru tertawa.
"Kau akan segera bertemu dengannya."
"Tapi saat itu..."
"...hidupmu tidak akan pernah sama lagi."
Tiba-tiba terdengar bunyi bip pelan dari balik jaket pria tersebut.
Bip... Bip... Bip...
Raven langsung menyadari sesuatu.
"Bom!"
Ia segera melompat menjauh.
Ledakan dahsyat mengguncang lantai dua gudang.
Boom!
Api berkobar ke segala arah.
Raven terlempar hingga menghantam dinding.
"Raven!" teriak Aurora dari kejauhan saat melihat kobaran api membesar.
Asap hitam memenuhi seluruh gudang.
Semua orang panik mencari Raven di antara reruntuhan.
Ketika Leo akhirnya berhasil menerobos masuk ke pusat ledakan, wajahnya langsung pucat.
Di lantai yang dipenuhi puing-puing, hanya ditemukan jas hitam Raven yang berlumuran darah.
Sementara keberadaan Raven Alvaro...
...menghilang tanpa jejak.