Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Setelah Bu RT dan warga pergi, Arin menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di dadanya. Ia berbalik menatap Bu Tari yang masih berdiri di dekatnya dengan wajah khawatir.
"Bu makasih banyak sudah membela kami," ucap Arin tulus, suaranya parau.
Bu Tari mengusap bahu Arin pelan. "Sama-sama, Rin. Ibu gak tahan lihat dia sewenang-wenangan begitu sama kalian."
Arin menoleh pada putranya yang masih sesenggukan. "Zayyan, hapus air matanya. Sekarang masuk ke kamar, masukkan baju-baju kita ke dalam tas, ya?"
Zayyan mendongak, matanya yang sembap menatap Arin dengan cemas. "Tapi... kita mau kemana malam-malam begini, Bu?"
Arin tersenyum getir, mengusap pipi anaknya. "Nanti kita cari tempat tinggal yang lain. Yang penting sekarang kita kemasi barang dulu."
Mendengar itu, Bu Tari tidak tega. "Rin, jangan di luar. Ayo masuk dulu," ajaknya. Bu Tari bersama Rania dan menantunya ikut melangkah masuk ke dalam rumah petak yang sempit itu.
Di dalam ruang tengah yang sepi, Bu Tari langsung bertanya, "Rin, jujur sama Ibu. Kamu mau bawa Zayyan kemana malam-malam begini? Uangmu kan sudah habis untuk biaya pengobatan tadi."
Arin menunduk, meremas jemarinya yang dingin. "Saya juga belum tahu, Bu. Mungkin malam ini kami numpang tidur di emperan toko swalayan di depan gang dulu. Besok pagi baru saya cari kontrakan kecil yang harganya pas."
Mendengar jawaban pasrah itu, air mata Bu Tari seketika luruh. Ia tidak tega membayangkan Zayyan harus tidur di jalanan. Sambil terisak, Bu Tari menoleh ke arah putri dan menantunya, Fahri, yang sejak tadi berdiri diam menyimak.
Bu Tari mendekati Fahri, memegang lengan menantunya itu dengan tatapan memohon.
"Fahri... di restoran tempat kamu kerja, apa masih ada lowongan?" tanya Bu Tari diselingi tangisnya.
Fahri, yang merupakan seorang manajer di sebuah restoran besar di Jakarta, tampak terkejut.
Bu Tari beralih menatap Rania, lalu kembali pada Fahri. "Ibu mohon, bawalah Arin dan Zayyan ke kota bersama kalian. Kalau mereka berdua tetap tinggal di kampung ini, mereka akan terus dihina dan dikucilkan. Zayyan anak baik, Ibu gak mau masa depannya hancur karena omongan jahat orang-orang di sini," ratap Bu Tari sambil menyeka air matanya.
Rania dan Fahri saling berpandangan. Sebagai suami istri, mereka berkomunikasi lewat tatapan mata. Rania memberikan anggukan pelan, mengisyaratkan bahwa ia juga tidak tega melihat kondisi Arin dan Zayyan.
Fahri menghela napas pendek, lalu mengangguk mantap. Ia menatap Bu Tari dan Arin bergantian. "Kebetulan di restoran sedang kurang tenaga, tapi posisinya hanya sebagai Office girl atau bagian bersih-bersih, Mbak Arin. Kalau Mbak Arin tidak keberatan, untuk tempat tinggal, di mes karyawan belakang restoran masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempati."
Mendengar hal itu, tangis Bu Tari langsung berubah menjadi kelegaan. "Alhamdulillah... makasih banyak, Fahri, Rania."
Bu Tari segera mendekati Arin yang terpaku mendengar percakapan mereka. "Rin, kamu dengar sendiri, kan? Kamu mau, ya, ikut Rania dan Fahri ke Jakarta? Di sana kamu bisa kerja, Zayyan juga bisa sekolah dengan tenang tanpa ada yang tahu masa lalu kalian."
Arin termenung, lalu perlahan menggelengkan kepala. "Bu Tari, Mbak Rania, suaminya mbak ... terima kasih banyak atas kebaikannya. Tapi, sepertinya saya tidak bisa ikut ke Jakarta," ucap Arin pelan, matanya menatap lantai dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rania mengerutkan kening. "Kenapa, Mbak? Di sini Mbak Arin sudah tidak punya tempat tinggal, apalagi tabungan Mbak habis untuk kejadian sore tadi. Jangan memikirkan soal ongkos, biar kami yang tanggung."
"Bukan begitu, Mbak Rania," sela Arin cepat, merasa tidak enak. "Saya sungguh tidak mau menyusahkan Mbak Rania dan suaminya mbak lebih jauh lagi. Masuk ke lingkungan baru di kota besar itu pasti sulit, apalagi membawa saya dan Zayyan."
Namun, di balik alasan tersebut, ada ketakutan lain yang berkecamuk di dalam dada Arin. Jakarta adalah kota yang sangat luas, sekaligus tempat di mana masa lalu kelam yang selama sembilan tahun ini ia kubur rapat-rapat berada. Di kota itulah laki-laki yang paling ia benci hidup. Berada di kota yang sama dengan pria itu membuat sekujur tubuh Arin mendadak dingin karena cemas.
Melihat keraguan yang mendalam di wajah Arin, Rania maju dan menggenggam tangan wanita itu.
"Mbak Arin, dengar saya. Mbak sama sekali tidak menyusahkan kami," ucap Rania dengan nada yang tulus dan menenangkan. "Mas Fahri memang benar-benar sedang mencari pekerja di restorannya, jadi Mbak Arin di sana bekerja, bukan menumpang cuma-cuma. Soal Zayyan, nanti kita urus kepindahan sekolahnya pelan-pelan. Anak sekecil Zayyan butuh lingkungan yang sehat untuk tumbuh, Mbak. Kasihan dia kalau harus terus menerima tekanan di sini."
Bu Tari ikut menggeser duduknya, menepuk pundak Arin yang tegang. "Benar apa kata Rania, Rin. Anggap saja ini jalan yang sudah dibuka sama Gusti Allah buat kamu dan Zayyan. Kamu mau bertahan di sini pakai apa? Bu RT sudah mengusir kalian, warga lain juga telanjur kemakan omongan miring. Apa kamu tega setiap hari melihat Zayyan pulang sekolah sambil menangis karena dihina terus?"
Kata-kata Bu Tari seperti hantaman telak yang menyadarkan Arin. Ia menoleh ke arah ambang pintu kamar, melihat Zayyan yang sedang memeluk tas ransel hitamnya dengan tatapan kosong dan sisa air mata di pipi.
Ketakutannya pada bayang-bayang masa lalu di Jakarta seketika mencair, dikalahkan oleh rasa cintanya yang begitu besar pada sang putra. Arin tahu, demi masa depan Zayyan, ia harus berani melangkah, meski harus menuju kota yang paling ia hindari seumur hidupnya.
Arin menarik napas panjang, menatap bergantian wajah tulus Bu Tari dan Rania, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Bu, Mbak Rania... Saya ikut ke Jakarta. Terima kasih banyak sudah menyelamatkan hidup kami."
Bu Tari langsung bernapas lega dan mengucap syukur, sementara Rania tersenyum hangat dan segera bangkit untuk membantu Zayyan mengemasi sisa barang di dalam kamar.
Di sudut ruangan yang agak remang, Fahri yang sejak tadi lebih banyak diam menyaksikan interaksi mereka perlahan meraba saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel. Matanya menyipit tajam, menatap lurus ke arah Arin yang kini sedang menunduk merapikan ikatan tas kainnya.
Tanpa menimbulkan suara, Fahri mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera tepat ke arah wajah Arin yang tampak samping, lalu... cekrek.
Fahri segera membuka aplikasi pesan singkat. Ia mencari sebuah nama di kontak teratasnya, lalu mengirimkan foto Arin yang baru saja diambilnya. Di bawah gambar tersebut, jemarinya bergerak cepat mengetikkan sebaris pesan singkat.
“Tebak, siapa yang baru saja aku temukan di kampung terpencil ini?”
Pesan terkirim. Fahri memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan senyum penuh arti yang tersembunyi.