Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Topeng Penyesalan di Koridor Pengadilan
Langkah kaki Sarah Amelia menggema di koridor Pengadilan Agama yang ramai pagi itu. Tidak ada lagi keraguan dalam setiap pijakannya. Didampingi Rendra dan dua pengawal berbadan tegap, Sarah berjalan melewati kerumunan orang yang sedang mengurus perkara mereka.
Tepat di depan pintu ruang sidang utama, sebuah siluet pria yang sangat ia kenali tiba-tiba muncul dari balik pilar. Itu Ardi.
Penampilan Ardi jauh dari kata mentereng. Kemeja lamanya tampak agak longgar karena berat badannya yang menyusut, dan ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya. Menyadari taktik mangkirnya ditertawakan oleh pengacaranya sendiri yang memperingatkan tentang bahaya putusan verstek, Ardi terpaksa menurunkan egonya dan datang. Begitu melihat Sarah, matanya yang semula layu mendadak berbinar.
"Sarah..."
Ardi langsung menghambur ke depan, mencoba meraih tangan Sarah. Namun, dua pengawal Sarah dengan sigap memasang badan, membuat jarak yang aman di antara mereka. Rendra juga maju satu langkah, menatap Ardi dengan pandangan dingin yang memperingatkan.
"Tolong biarkan aku bicara dengan istriku. Sebentar saja," mohon Ardi kepada para pengawal, suaranya bergetar. Nada bicaranya kini berubah drastis—tidak ada lagi bentakan kasar atau kesombongan seorang CEO PT Reksa Tama.
Sarah mengangkat satu tangannya, memberi kode kepada pengawalnya untuk sedikit mundur. Dia menatap Ardi dengan tatapan kosong, seolah sedang melihat orang asing. "Ada apa, Ardi? Sidang akan segera dimulai."
Melihat celah itu, Ardi langsung mengambil langkah maju. Matanya mulai berkaca-kaca, menampilkan raut wajah paling merana yang bisa dia tunjukkan.
"Sarah, aku mohon... batalkan semua ini," bisik Ardi dengan nada parau yang menyayat hati. "Aku tahu aku salah. Aku khilaf, Sarah. Semua yang terjadi di The Grand Pinnacle, semua perlakuanku selama ini... aku benar-benar menyesal."
Ardi menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, badannya sedikit membungkuk seolah siap bersujud di lantai koridor yang dingin. "Rumah kita disita, Ma dan Mbak Rika harus tinggal di tempat yang tidak layak. Aku hancur, Sarah. Tapi yang paling membuatku hancur adalah kenyataan bahwa aku sudah menyia-nyiakan istri sebaik kamu. Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Kita bangun semuanya dari awal. Aku janji akan berubah."
Mendengar untaian kata manis itu, Rendra di samping Sarah hampir saja mendengus geli. Namun, Sarah tetap bergeming. Wajahnya sedatar air di dalam gelas. Dia tahu betul isi kepala pria di hadapannya ini. Penyesalan Ardi bukanlah karena dia menyadari kesalahannya pada Sarah, melainkan karena dia telah kehilangan kenyamanan, harta, dan kekuasaannya.
"Bangun dari awal?" Sarah mengulang kalimat itu dengan nada sinis yang teramat halus. "Lalu bagaimana dengan Tyas, Ardi? Bagaimana dengan semua uang perusahaan yang kamu pakai untuk membelikannya apartemen mewah?"
Wajah Ardi memucat mendengarnya. Dia menelan ludah dengan susah payah. "Itu... itu semua masa lalu, Sarah! Aku sudah mengusir Tyas. Dia perempuan ular yang memanfaatkan aku saat di atas! Hanya kamu yang tulus bersamaku sejak kita tidak punya apa-apa. Tolong ingat masa-masa sulit kita dulu, Sarah..."
Sarah menatap pria yang pernah ia cintai itu dengan rasa muak yang mendalam. Pengkhianatan manis yang Ardi lakukan di menara The Grand Pinnacle beberapa minggu lalu telah membunuh seluruh sisa rasa di hatinya. Ardi sedang memainkan kartu terakhirnya: memanipulasi emosi Sarah dengan menjual kenangan masa lalu.
"Ardi," potong Sarah, suaranya sangat tenang namun terdengar begitu mutlak. "Kamu datang dan memohon ke sini bukan karena kamu mencintaiku atau menyesali perbuatanmu. Kamu datang karena kamu takut miskin. Kamu takut menghadapi kenyataan bahwa wanita 'dasteran' yang selalu kamu dan keluargamu injak-injak ini, sekarang memegang kendali penuh atas hidupmu."
Ardi tertegun. Topeng penyesalannya retak dalam sekejap begitu mendengar ucapan Sarah yang tepat sasaran.
"Pernikahan ini sudah selesai sejak kamu mengizinkan ibumu memperlakukanku seperti budak, dan sejak kamu membawa wanita lain ke tempat tidurmu," lanjut Sarah, matanya berkilat tajam. "Simpan air mata palsumu untuk di depan hakim nanti. Karena setelah sidang ini, aku tidak hanya akan mengambil kebebasanku, tapi juga memastikan kamu membayar setiap rupiah dana perusahaan yang sudah kamu gelapkan."
Tepat saat itu, pintu ruang sidang terbuka dan petugas memanggil nama mereka.
"Pihak penggugat atas nama Sarah Amelia dan tergugat Ardiansyah, dipersilakan memasuki ruang sidang utama."
Sarah membalikkan badannya tanpa ragu, berjalan tegap memasuki ruangan. Sementara Ardi terpaku di tempatnya, tangan yang tadinya memohon kini mengepal erat. Rasa bersalah palsunya menguap, digantikan oleh ketakutan nyata saat menyadari bahwa Sarah tidak lagi bisa dimanipulasi dengan kata-kata manis.
.
.
.
.
.
. Rasain! Enak banget ya datang-datang langsung pasang muka melas setelah semua kejahatannya! 😤 Tim Sarah mana suaranya? Yuk, tekan tombol LIKE dan tinggalkan KOMENTAR kalian di bawah untuk menyemangati Sarah menghadapi si mantan narsistik ini! 👇✨