Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Malam mulai larut. Kamar Kanza Arumi yang biasanya ramai dengan dentuman musik atau celotehannya sendiri kini hanya diisi oleh dengusan napas dan tatapan kosong ke arah langit-langit.
Lampu meja menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan muram di dinding.
Sebuah bantal tergencet erat di dada, seolah menjadi satu-satunya tempat pelarian dari rasa yang terlalu sesak untuk dibiarkan begitu saja.
Di sisi lain, ponsel yang sejak tadi tergeletak diam di samping bantal akhirnya ia raih.
Jemarinya mengetik pelan, membuka percakapan dengan satu-satunya manusia yang bisa ia ajak bicara seperti orang gila tanpa takut dihakimi: Yuma.
Kanza: "Yum, lo tau rasanya pengen ketawa tapi juga pengen nangis, terus akhirnya diem doang sambil ngunyah udara?"
Yuma: "Lah, kenapa lagi si Kanza ini? Gak jadi ditunangkan apa gimana?"
Kanza: "Jadi, Yum.Tadi sore gue resmi dikasih cincin. Sah. Bukan nikah, tapi cukup bikin gue mikir mau lompat dari atap rumah tetangga."
Yuma: "Walah. Ya ampun. Ciyeee udah bertunangan!"
Kanza: "Tolong, ini bukan momen buat ciye-ciye-an. Gue tuh kayak… diseret ke altar perjodohan dalam keadaan sadar tapi hati gue nolak. Gue ngerasa kayak tawanan perang yang harus senyum di depan kamera".
Yuma: "Cowoknya kenapa sih? Buruk rupa? Bau tanah?"
Kanza: "Bukan… ganteng sih. Rapi. Sopan. Cuma auranya kaku banget, pasti nggak romantis. Tapi... ya bukan tipe gue, Yum. Lo tahu sendiri tipe gue kegimana, kan?"
"Gue pengen cowok yang ngajak gue naik motor malem-malem buat beli indomie di warkop. Ini? Dosen! Dosen, Yum! Bayangin, dosen!"
Yuma: "Tunggu, dosen?"
Kanza: "Iya. Dosen. Jalan pake pantofel, bukan sneakers."
"Ngajak ngomong tuh kalem banget. Kayak ngajarin gue ngaji tiap kali buka suara. Gue berasa lagi sidang skripsi tiap dia nanya kabar."
Yuma: "Lah itu bagus dong. Dapet yang alim, bisa ngajarin lo jadi istri shalihah. Bisa dapet bimbingan gratis."
Kanza: "Gue tuh..."
"Gue tuh belum siap jadi istri siapa pun, apalagi istri dosen paham agama. Gue masih pengen main, masih pengen drachin sampe subuh."
"Bayangin Yum, gue salah ucap dikit bisa langsung diceramah sejam tentang akhlak dan adab."
Yuma: "Hahaha gue gabisa! Lo digampar kata-kata hikmah tiap pagi. "Istriku, marilah kita bermuhasabah..."
Kanza: "Makanya gue curhat ke lo. Gue tuh bukan gak bersyukur, tapi... kok kayak dunia ikut kompak buat ngejodohin gue sama seseorang yang hidupnya udah tertata rapi, sedangkan gue masih sering bingung mau sarapan pake sereal atau mi instan. Gue ngerasa jadi beban yang harus dia lurusin."
Yuma: "Kanza..."
Kanza: "Gue ngerasa ini terlalu cepet. Gue bahkan belum ngerti diri gue sendiri. Gimana bisa ngerti orang lain dan jadi teman hidupnya?"
Yuma: "Dan lo belum cinta."
Kanza: "Bener. Gue gak cinta. Gue cuma... gak enak nolak. Gue takut ngecewain Umi sama Abi. Tapi hati gue rasanya mau meledak."
Gema lonceng pertama baru saja membahana ke seluruh penjuru sekolah, mengakhiri ketenangan pagi secara seketika.
Satu demi satu murid mulai memasuki ruang kelas; sebagian besar masih tampak lesu sembari menahan kantuk yang amat sangat, sementara yang lainnya sibuk mematut diri di depan layar ponsel yang menyala.
Namun, pemandangan berbeda terlihat pada Kanza Arumi.
Ia duduk mematung di kursinya dengan kepala tertunduk dalam di atas meja.
Kerudung abu-abunya tampak kusut dan tidak teratur, dampak dari ketidaksengajaannya tertidur di atas sepeda motor sepanjang perjalanan, akibat terjaga semalam suntuk memikirkan garis takdirnya.
Parasnya tampak kusam dan kehilangan semangat. Perasaannya sedang diliputi kemelut yang bercampur aduk; antara keinginan untuk menangis, kekesalan yang mendalam, hingga rasa kantuk yang luar biasa.
Bahkan, sempat terlintas di benaknya keinginan untuk pergi menjauh ke tempat yang tak terjangkau demi menghindari kenyataan. Rasanya, beban hidup yang begitu berat tengah menghimpit pundaknya yang kecil.
"Assalamu’alaikuuuum... mana tunangan baruuu yang super heboh ituuu?" suara Yuma langsung menggelegar memenuhi ruang kelas, membuat beberapa teman menoleh penasaran.
Kanza otomatis menegakkan tubuh dan melempar tatapan tajam mematikan.
"Sssssttt... Yum! Biasa aja napa! Gak usah pakai toa mesjid!"
"Eh, lo pikir gue bisa biasa aja dengar kabar bom nuklir kayak gitu? Gila lo, Za! Sahabat gue yang absurd dan ajaib ini ternyata sudah ditandain orang, pakai cincin emas pula di jari manisnya! Mana fotonya, sini tunjukin! Jangan pelit!" Yuma langsung nyelonong duduk di sebelah Kanza, menyandarkan tubuhnya tanpa dosa, mengabaikan tatapan sinis sang sahabat.
Kanza mendengus ketus.
"Gue buang tuh fotonya ke tong sampah digital paling dalam, permanen!"
"Yaaa elaaah, segitunya amat," Yuma menggulingkan badannya ke meja Kanza, menopang dagu.
"Kenapa sih? Bukannya cowok lo itu, siapa namanya? Hanan Arkan, kan? ganteng, alim, mapan, dosen, maskulin pula. Paket lengkap tipikal menantu idaman sejuta umat. Gue aja kalau disuruh ganti posisi sama lo mau banget, serius, tanpa tapi!"
Kanza menoleh perlahan dengan wajah datar sedatar papan tulis.
"Silakan ambil. Gue kasih ke lo sekarang juga, gratis tis tis! Tuker cincin sana di parkiran, biar lo yang jadi nyonya besar pesantren, bangun subuh tiap hari buat ngurusin santri."
Yuma terbahak keras, tawanya renyah.
"Anjir. Sakit lo, Za. Hatinya sakit ketiban takdir perjodohan, tapi omongannya masih tajem kayak silet karatan."
"Ya gue harus gimana lagi, Yum?" suara Kanza mulai lirih, keputusasaan tersirat jelas.
"Gue tuh beneran gak suka. Gak pernah ada rasa sedikit pun, nol koma nol persen. Ngeliat muka dia tuh... rasanya kayak ngeliat ustaz kondang di layar YouTube yang langsung gue skip setiap lima detik karena bosan."
"Buset, parah banget perumpamaan lo."
"Dia terlalu tenang, terlalu sopan, terlalu... lurus kayak penggaris besi. Gue? Gue tuh kayak jalanan kampung habis hujan badai, Yum. Banyak lubangnya, rusak parah, berisik, random, dan hancur lebur." Kanza mengacak kerudungnya frustrasi, membayangkan betapa tidak cocoknya mereka berdua.
"Eh tapi emang dia ngomong apa pas momen sakral ngelamar kemarin? Lo digombalin pakai ayat-ayat cinta gitu gak? Atau minimal dibilang 'kamu cantik'?"
"Ngga lah, mimpi lo ketinggian. Dia cuma bilang dengan nada super datar, ‘Semoga ini langkah baik yang diridhai Allah’. Terus senyum. SENYUM, Yum. Gitu doang! Flat banget! Kayak abis ngajarin anak-anak TK ngaji ngebahas alif ba ta." Kanza menirukan gaya Hanan dengan wajah masam, membuat Yuma makin terpingkal.
Yuma meledak ketawa lagi, sampai memegangi perutnya yang kaku.
"GUE NGGAK KUAT! Ya Allah Gusti, sahabatku tercinta... ternyata luar biasa sekali penderitaan batinmu! Tragis tapi kocak!"
Kanza hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah.
"Lo liat sendiri nanti penderitaan gue. Kalau dia datang lagi ke rumah bareng keluarganya, lo ikut ngumpet di balik kulkas dua pintu. Biar lo denger langsung nada-nada doa dan wejangan agamis yang bikin jiwa muda gue kering kerontang seketika."
Yuma tepuk-tepuk bahu Kanza menenangkan, meski sisa tawa masih ada.
"Tenang beb. Lo masih punya gue, sahabat sejati dunia akhirat. Kita lawan sistem perjodohan kuno ini bersama-sama, pakai cara kita!"
"Lo masih bisa ketawa puas sih, Yum. Gue? Setiap denger kata 'pernikahan' atau 'calon imam', dada gue rasanya sesek banget, kayak ketiban batu gajah. Bukan karena romantis terharu, tapi karena beneran sesak napas akut. Pengen rasanya pake tabung oksigen beneran, call ambulans," bisik Kanza sambil menunduk dalam, tangannya pura-pura menulis asal-asalan di buku tulis agar dikira rajin belajar kalau ada guru lewat.
Yuma menyandarkan tubuhnya ke meja, masih cekikikan pelan.
"Makanya jangan kebanyakan nonton drama komedi romantis. Ini real life, beb. Skenarionya lebih plot twist. Cowok lo bukan anak CEO kaya raya pewaris tahta, tapi anak kiai karismatik."
Baru aja mereka tertawa bersama meratapi nasib Kanza, suara langkah sepatu formal berbunyi mendekat dari arah pintu kelas.
Irama langkahnya tegas dan menakutkan bagi para siswa yang sedang asyik mengobrol.
Deg!
Jantung Kanza serasa berhenti berdetak.
"Anak-anak, selamat pagi semuanya."
Mendadak kelas sunyi senyap bak kuburan. Ceria pagi langsung sirna.
Kanza dan Yuma refleks duduk tegak sempurna, punggung lurus, tangan Kanza spontan balik halaman bukunya ke halaman Matematika penuh angka rumit, walau otaknya masih sibuk mikirin drama pertunangan kemarin sore.
Bu Lilis, guru Bahasa Indonesia yang terkenal killer, melangkah masuk dengan wajah datarnya yang legendaris, kacamata bertengger di hidung mancungnya.
Beliau memindai seisi kelas dengan tatapan elang yang mengintimidasi, lalu matanya berhenti tepat di dua gadis yang duduk di pojok dekat jendela, tampak paling 'rajin'.
"Kanza... Yuma... sepertinya dari tadi Ibu perhatikan kalian paling semangat ya diskusinya, sampai suaranya terdengar keluar."
Kanza tersenyum maksa, kaku.
"I-iy-iya, Bu. Lagi bahas... ehm... tata bahasa materi kemarin."
"Tata bahasa cinta, maksud kamu? Sampai bawa-bawa istilah tunangan segala?"
Satu kelas langsung pecah ketawa riuh, mengonfirmasi gosip yang sudah beredar.
Wajah Kanza langsung memerah padam sampai ke telinga, menahan malu yang amat sangat.
Yuma hampir terguling dari bangkunya menahan tawa yang meledak di dalam hati, tapi berusaha tetap pasang wajah serius.
"Maaf ya Bu Lilis, Kanza Arumi ini baru... baru ditunangkan kemarin sore sama anak kiyai ganteng. Jadi tadi tuh kita... bahas kosakata baru yang mendadak muncul karena... fenomena budaya perjodohan di era modern," Yuma mencoba menjelaskan dengan cengar-cengir tanpa dosa, sok pinter pakai istilah keren.
Bu Lilis menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi, lalu tersenyum tipis yang misterius.
"Bagus. Sangat kontekstual. Berarti materi diskusinya bisa jadi bahan tugas minggu ini untuk kalian berdua. Kanza, kamu bikin karangan bebas bertema ‘Cinta Tak Disangka, Jodoh Tak Terduga’. Minimal tiga halaman folio, dikumpulkan minggu depan tanpa tapi."
Kanza langsung terdiam seribu bahasa, dunianya runtuh. Penderitaannya bertambah lagi, nyata dan tertulis.
"Bu... boleh saya mengajukan permohonan mundur dari sekolah sebentar buat nenangin diri?" pintanya dengan nada memelas yang tersisa.
"Tidak. Masuk kelas sekarang atau tugasnya ditambah."
"Baik, Bu." Kanza pasrah, mengutuk nasibnya yang malang hari ini.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, memecah ketegangan pelajaran terakhir yang terasa seperti selamanya.
Kanza Arumi langsung berdiri dengan lemas, tas selempangnya sudah siap digeret keluar gerbang seolah-olah ia sedang melarikan diri dari penjara.
Di belakangnya, Yuma masih sibuk mengelap sisa boba di sudut mulutnya sambil membuntuti dengan langkah riang.
"Lo mau langsung cabut, Dek calon nyai? Buru-buru amat, takut diculik malaikat?" ledek Yuma tanpa ampun.
"Yum, jangan bikin gue pengen pingsan di depan gerbang sekolah sekarang juga. Sumpah, kepala gue udah berat banget mikirin hidup yang mendadak jadi drama religi begini," sahut Kanza dengan nada nelangsa.
Baru saja Kanza melangkah keluar halaman sekolah, suara deru mesin mobil yang halus berhenti tepat di depannya.
Satu suara klakson terdengar pelan, sopan, tapi cukup untuk membuat jantung Kanza meloncat hingga ke tenggorokan. Ia spontan menoleh dengan mata membelalak.
Sebuah mobil hitam elegan berhenti di depan pagar sekolah, mengilap tertimpa cahaya matahari sore.
Dari pintu kemudi, keluarlah seorang laki-laki mengenakan kemeja putih bersih yang lengannya digulung rapi hingga siku, celana bahan hitam, dan sepatu formal yang sangat mengkilap.
Tangannya membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus kain batik bermotif cantik.
Itu adalah... Hanan Arkan.
"Uztad kaku?!" jerit Kanza lirih, suaranya hampir hilang.
Ia langsung bersembunyi di balik pilar pagar beton seolah sedang melihat razia rambut mendadak dari guru BK.
Yuma melongo lebar, matanya tak berkedip.
"Gila... itu mobil siapa? Mewah amat! Itu calon lo, Za? Serius? Itu sih bukan calon suami, itu spek pangeran berkemeja putih!"
Kanza berbisik panik dari balik pilar.
"Ya bukan cowok gue, Yum! Calon doang! Calon sumber trauma batin gue!"
Hanan berdiri tenang di samping mobilnya, menatap ke sekeliling dengan wibawa yang membuat beberapa siswi lain ikut menoleh penasaran.
Lalu pandangannya jatuh ke arah gerbang. Tatapan matanya yang teduh itu menyisir area sekitar, hingga akhirnya ia tersenyum tipis saat menangkap ujung jilbab Kanza yang menyembul dari balik tiang.
"Ketahuan lo, Za. Wong badannya mungil gitu mau ngumpet di mana," bisik Yuma sambil menahan tawa.
Hanan berjalan pelan mendekat dengan langkah mantap. Dengan gaya yang sangat sopan dan tatapan lembut yang sulit ditebak, ia berdiri tepat di depan dua gadis yang sedang kasak-kusuk itu.
"Assalamu’alaikum, Kanza."
Kanza keluar dari persembunyiannya dengan cengiran panik yang sangat kaku.
"Wa-wa'alaikumsalam... Uztad."
Hanan menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terhibur.
"Abang saja, nggak usah panggil Uztad. Tapi terserah kamu, kalau sebutan itu memang membuatmu merasa lebih nyaman."
Yuma yang berada di samping Kanza langsung merasa 'meleleh' melihat aura Hanan secara langsung.
"Aduh, Mas Uztad... bisa nggak kalau bimbingannya pindah ke hati saya saja?" bisiknya genit.
Kanza menyolek pinggang Yuma dengan keras agar sahabatnya itu sadar.
"Yum, jangan ganggu! Itu... anu, itu sesajen buat Umi gue ya?" tanya Kanza sambil menunjuk kotak di tangan Hanan dengan canggung.
Hanan mengangguk tenang.
"Iya. Umah yang menitipkannya. Ini untukmu dan Umi di rumah. Katanya, ini camilan favorit kamu."
"Y-ya, makasih banyak," Kanza nyengir lemah, bingung harus merespons apa.
"Doanya saja Uztad, semoga camilannya nyambung ke hati Umi, bukan malah bikin hati aku makin deg-degan nggak jelas."
Hanan tersenyum sabar, sebuah senyuman yang terlihat sangat dewasa.
"Aamiin... semoga kamu suka."
"Ma-makasih... Wassalamu’alaikum!"
Dan sebelum Hanan sempat membalas salamnya dengan lengkap, Kanza sudah lebih dulu ngacir lari sekencang mungkin sambil menyeret lengan Yuma.
Di belakang, Yuma tertawa terpingkal-pingkal sampai napasnya ngos-ngosan karena harus mengikuti lari maraton mendadak sang sahabat.
"LO LARI KENAPA SIH, ZA? DIA CUMA NGASIH KUE, BUKAN NGASIH BOM WAKTU!"
"SSSSTTTT!!!"
~~~NEXT~~~