novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taupan Beraksi
"Yang harus kamu lakukan adalah masuk dan membujuk mereka agar membebaskan sandera," ucap letnan Anwar pada Taupan yang menyimak dengan seksama.
"Setelah semua sandera bebas, giliran timnya Dul Karim yang masuk, kamu mengerti?" tanya letnan Anwar. Taupan hanya mengangguk dan segera didandani oleh dua orang polisi.
Hati Taupan gamang bukan main. Ia memikirkan cara membujuk para perampok itu.
"Tapi kalo mereka tidak bisa di bujuk, apa yang harus saya lakukan?" tanya Taupan apa adanya.
"Lakukan ide kamu sendiri, daripada mereka membunuh sandera dan meledakkan gedung itu," jawab letnan Anwar. "Bunuh mereka semua."
suasana pusat kota jadi mencekam. Gedung bank Sentral di kepung kendaraan tempur dan huru-hara dan puluhan todongan senapan Laras panjang pasukan khusus anti-teror yang berpakaian serba hitam tertutup.
Diantara kerumunan warga yang sempat-sempatnya menonton dan membuat petugas kewalahan Taupan muncul bersama letnan Anwar. Keduanya menyeruak dan bertemu dengan kapten polisi bagian yang bertanggung jawab di lokasi.
Di antara berisik dan beberapa sorotan kamera wartawan, Taupan diijinkan masuk sambil mengangkat kedua tangan. Seorang rekan Karnali yang bertugas memantau cctv segera melapor dan memberikan radio HT. Karnali pun melongok layar dan segera menghubungi pihak kepolisian.
"Siapa yang kalian kirim itu?" tanya Karnali.
"Seperti yang kalian pinta, dia anak sulung direksi, dia yang tahu kode brangkas. Tapi sebelum dia masuk, kami minta kalian bebaskan dulu semua sandera," suara dari saluran radio HT itu.
Taupan tampak bingung dan berdiri mematung di depan pintu gerbang dengan tangan terangkat. Taupan mengenakan stelan kemeja warna hitam mengkilat dengan rambut panjang yang juga mengkilat tersisir rapi dan diikat. Taupan juga mengenakan anting emas yang agak besar
Teo yang memantau di ruangan khusus jauh dari lokasi turut heran melihat Taupan yang begitu asing baginya.
"Minta ijin untuk menggeladahnya," ucap Teo melalui microphone kecil dan langsung ke telinga Karnali lewat headset taktis khas militer yang Karnali kenakan.
"Kami perlu menggeladahnya," ucap Karnali dan segera dijawab oleh pimpinan polisi.
"Silahkan."
"Dua orang rekan Karnali pun keluar dengan todongan senapan mesin dan pakaian yang tak kalah tertutup dengan polisi-polisi yang menodongnya di kejauhan.
"Tenang, kamu hanya mau diperiksa," suara letnan Anwar lewat anting yang Taupan kenakan. Taupan pun mengerti dan membiarkan dua orang bersenjata itu meraba tubuhnya dari lengan hingga betis.
Setelah menggeladah, satu perampok itu menodong Taupan dan yang satunya lagi menodong kerumunan. Keduanya lantas membawa Taupan masuk.
Kepala polisi segera mengajukan komplain pada Karnali selaku pimpinan perampok.
"Hey! Mana sanderanya?"
"Kalian kira kami se-tol** itu! Nanti setelah pintu brangkas utama terbuka, baru kami lepaskan semua sandera!" gertak Karnali.
Taupan hanya menurut saja dan sesampainya di dalam ia mendapati pemandangan yang sudah tak asing lagi. Tatapan takut dari para sandera bank yang dikuasai perampok.
Karnali segera menyambut Taupan yang menatap tajam.
"Benar, kamu tau kode brangkas?" tanya Karnali.
"Ya, tapi jangan harap kau mendapatkannya, sebelum kalian bebaskan sandera."
"Berani sekali kamu, baik lah. Duduk yang manis, saksikan apa yang akan kami lakukan pada satu persatu sandera," ucap Karnali sambil membuka topeng dan memilih secara acak salah satu sandera yang duduk di lantai. Sandera itu seorang perempuan cantik berkemeja biru, Sepertinya teller bank tersebut. Jiwa pahlawan Taupan meronta-ronta, hidungnya mendengus menahan amarah.
"Mau kau apakan dia?" pekik Taupan.
"Lihat saja, ayo, sekarang bentangkan sepanduknya," jawab Karnali lalu menunjuk tiga rekannya untuk melakukan sesuatu.
"Sepanduk? sepanduk apa?" tanya letnan Anwar di kuping Taupan.
Karnali dan para perampok itu tampak sibuk, Taupan dibiarkan bersama para sandera yang lain.
"Entahlah, mereka membuka sebuah tas dan mengeluarkan kain. kain yang panjang."
Di luar, kerumunan polisi dan warga sekitar di buat heboh dengan sebuah spanduk besar yang tergerai di lantai tiga. spanduk itu bertuliskan 'GATOTKACA'. Tidak lama kemudian, Karnali muncul di balkon itu dengan seorang perempuan muda berpakaian jas biru itu. Perempuan cantik yang tampak ketakutan dalam todongan pistol Karnali.
Semua mata, kamera dan lampu sorot tertuju ke arah Karnali dan spanduk bertuliskan 'GATOTKACA' tersebut.
"Apa-apaan ini???" gumam kapten polisi itu di samping letnan Anwar.
Seorang rekan Karnali memberikan speaker Toa pada Karnali dan Karnali segera berkoar-koar seperti orator ulung. Suaranya berat dan menggeram seperti robot.
"Gatotkaca! Kami ingin Gatotkaca!!! selama dia tidak datang, kami akan menjatuhkan sandera setiap satu menit sekali, hahaha!" suara Karnali mendengung di sepinya malam dan bisunya khayalan. khalayak jadi ramai bergunjing dengan sesamanya.
"Benar kan, Gatotkaca itu ada!" ucap seseorang pada seseorang yang lain.
"bisa jadi ini kawanan perampok yang di hadang Gatotkaca dalam video itu."
"Iya, iya, bakal seru ini."
Beberapa stasiun TV menyiarkan kejadian itu secara langsung.
Letnan Anwar tampak bingung.
up
up